Hukum Wanita Memakai Parfum atau Wewangian Baik Lajang atau Bersuami

Febri Hidayan
02 March 2020 - 17:00


Untuk pembahasan wewangian bagi wanita ada rincianya;

✓ Hukum wanita keluar rumah memakai wewangian; *Mutlak*

عَنْ الْأَشْعَرِيِّ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " أَيُّمَا امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ عَلَى قَوْمٍ لِيَجِدُوا مِنْ رِيحِهَا فَهِيَ زَانِيَةٌ

Dari shahabat Abu Musa Al Asy’ari, ia berkata :

“Wanita mana saja yang memakai wangi-wangian, lalu melewati satu kaum agar mereka mencium baunya, maka ia adalah pezina” (HR. Abu Dawud no. 4173, An Nasa’i, no. 5126, dan yang lainnya; dihasankan oleh Asy Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan An Nasa’i, 3/372)

Ketahuilah bahkan, ketika menuju keluar masjid sekalipun seorang wanita tetap dilarang memakai wewangian:

عَنْ زَيْنَبَ امْرَأَةِ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَتْ: قَالَ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:  إِذَا شَهِدَتْ إِحْدَاكُنَّ الْمَسْجِدَ، فَلَا تَمَسَّ طِيبًا

Dari Zainab istri ‘Abdullah, ia berkata : Rasulullah ﷺ pernah bersabda kepada kami :

“Jika salah satu kalian, para muslimah, mau pergi ke masjid maka janganlah dia memakai wewangian” (📚 HR. Imam Muslim no. 443) lihat juga Tafsir Al Hafizh Ibnu Katsi pada Tafsir surah An Nur ayat ke 31.

Akan tetapi seorang istri (wanita bersuami) dianjurkan memakai wewangian di hadapan suaminya, berdasarkan Hadits dibawah ini;

عَنْ أُمِّ حَبِيبَةَ بِنْتِ أَبِي سُفْيَانَ، لَمَّا جَاءَهَا نَعِيُّ أَبِيهَا دَعَتْ بِطِيبٍ، فَمَسَحَتْ ذِرَاعَيْهَا، وَقَالَتْ: مَا لِي بِالطِّيبِ مِنْ حَاجَةٍ، لَوْلَا أَنِّي سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: " لَا يَحِلُّ لِامْرَأَةٍ تُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ تُحِدُّ عَلَى مَيِّتٍ فَوْقَ ثَلَاثٍ إِلَّا عَلَى زَوْجٍ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا "

Dari Ummu Habibah bintu Abi Sufyan -radhiyallahu 'anha-:

Ketika datang berita kematian ayahnya, ia meminta wangi-wangian. (Setelah didatangkan), ia pun mengusapkannya pada kedua hastanya seraya berkata :

“Sebenarnya aku tidak membutuhkan wangi-wangian ini seandainya aku tidak mendengar Nabi ﷺ bersabda :

"Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir berkabung pada seorang mayit lebih dari tiga hari, kecuali pada suaminya yaitu selama empat bulan sepuluh hari” (📚 HR. Al Bukhari, no. 5345)

Ada dua keadaan lagi bagi seorang wanita dilarang secara *Mutlak*

☝ Di-saat  Ihram.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ رَجُلًا سَأَلَهُ مَا يَلْبَسُ الْمُحْرِمُ؟ فَقَالَ: " لَا يَلْبَسُ الْقَمِيصَ وَلَا الْعِمَامَةَ وَلَا السَّرَاوِيلَ وَلَا الْبُرْنُسَ وَلَا ثَوْبًا مَسَّهُ الْوَرْسُ أَوِ الزَّعْفَرَانُ،

Dari Ibnu Umar, dari Nabi ﷺ, bahwasannya ada seorang laki-laki bertanya kepada beliau apa yang apa yang dikenakan oleh orang yang melakukan ihram. Lalu beliau ﷺ bersabda :

“Ia tidak boleh memakai qamish, surba, sarawil (celana panjang), burnus, serta pakaian yang diolesi minyak wars dan za’faran…..” (📚 HR. Al Bukhari, no. 134)

✌Di-saat berkabung

Berdasarkan hadits Ummu Habibah -radliyallaahu ‘anha- di atas, dan hadits:

عَنْ أُمّ عَطِيَّةَ، " نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَا تَمَسَّ طِيبًا إِلَّا أَدْنَى طُهْرِهَا إِذَا طَهُرَتْ نُبْذَةً مِنْ قُسْطٍ وَأَظْفَارٍ ". قَالَ أَبُو عَبْد اللَّهِ: الْقُسْطُ وَالْكُسْتُ مِثْلُ الْكَافُورِ وَالْقَافُور

Dari Ummu Athiyah, ia berkata : “Nabi ﷺ melarang memakai wewangian (saat berkabung) kecuali di akhir masa sucinya (dari haidh). Jika ia telah suci, ia boleh memakai qusth (sejenis kayu yang wangi) dan minyak wangi adhfar” (📚HR. Al Bukhari, no. 5343)

Al Imam Al Hafizh Ibnu Hajar -rahimahullah- menjelaskan :

Maksud perkecualiannya ini adalah diberikan keringanan bagi wanita (yang berkabung) memakai wewangian sekedar untuk menghilangkan aroma tak sedap selepas haidh dengan cara mengusap bekas darahnya, bukan bermaksud untuk berhias dengan memakai wewangian (📚 Fathul Bari, 9/492)

Dalam riwayat lain disebutkan:

لَمَّا جَاءَ نَعْيُ أَبِي سُفْيَانَ مِنْ الشَّأْمِ دَعَتْ أُمُّ حَبِيبَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا بِصُفْرَةٍ فِي الْيَوْمِ الثَّالِثِ، فَمَسَحَتْ عَارِضَيْهَا وَذِرَاعَيْهَا

“Ketika datang kabar kematian Abu Sufyan dari Syam, Ummu Habibah -radliyallahu ‘anha- meminta shufrah (sejenis wangi-wangian) pada hari ketiga, lalu mengusapkan pada kedua pipinya dan kedua lengannya...” (📚 HR. Al Bukhari, no. 1280)

Lihat juga: Apakah Perbedaan Antara Parfum atau Wewangian Wanita Dan Laki-Laki


Fiqih Wanita Fiqih Laki-Laki Fiqih Nikah Pernikahan Hukum Parfum