Amalan Yang Disyariatkan Bagi Orang Tua Untuk Si Buah Hati Ketika Lahir

Febri Hidayan
05 March 2020 - 00:00


Ahamdulillah wa shalaatu wa salaamu โ€˜ala Rasulillah wa โ€˜ala aalihi wa shahbihi ajmaโ€™in.

Amalan yang disyariatkan atau dituntunkan bagi orang tua untuk si buah hatinya ketika ia lahir?

*Pertama men-Tahnik Bayi*

Al Imam An Nawawi _rahimahullah_ mengatakan:

โ€œPara pakar bahasa menyatakan bahwa tahnik adalah mengunyah kurma atau semacamnya, kemudian menggosokkannya ke langit-langit mulut si bayi. (๐Ÿ“š Al Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al Hajjaj, 3/194)

Al Hafidz Ibnu Hajar _rahimahullah_ menjelaskan:

Tujuan mentahnik di sini adalah agar si bayi terlatih mengunyah makanan dan menguatkannya untuk makan. (๐Ÿ“š Fathul Bari, 9/588)

Dalil disyari'atkan-nya mentahnik bayi:

โœ“ Hadits dari Abu Musa -radhiyallahu 'anhu-, beliau berkata:

ูˆูู„ูุฏูŽ ู„ูู‰ ุบูู„ุงูŽู…ูŒ ููŽุฃูŽุชูŽูŠู’ุชู ุจูู‡ู ุงู„ู†ูŽู‘ุจูู‰ูŽู‘ -ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…- ููŽุณูŽู…ูŽู‘ุงู‡ู ุฅูุจู’ุฑูŽุงู‡ููŠู…ูŽ ูˆูŽุญูŽู†ูŽู‘ูƒูŽู‡ู ุจูุชูŽู…ู’ุฑูŽุฉู.

โ€œ(Suatu hari) aku memiliki anak yang baru lahir, kemudian aku mendatangi Nabi -shallalahu โ€˜alaihi wa sallam-, kemudian beliau memberi nama padanya dan beliau mentahnik dengan sebutir kurma.โ€ (๐Ÿ“š HR. Bukhari no. 5467,  Fathul Bari, Muslim no. 2145, Nawawi, Ahmad 4/399, Al-Baihaqi dalam Al-Kubra 9/305)

โœ“ Hadits dari โ€˜Aisyah -radhiyallahu 'anha-, beliau berkata:

ุฃูŽู†ูŽู‘ ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู -ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…- ูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูุคู’ุชูŽู‰ ุจูุงู„ุตูู‘ุจู’ูŠูŽุงู†ู ููŽูŠูุจูŽุฑูู‘ูƒู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู…ู’ ูˆูŽูŠูุญูŽู†ูู‘ูƒูู‡ูู…ู’.

โ€œRasulullah -shallallahu โ€˜alaihi wa sallam- didatangkan anak kecil, lalu beliau mendoakan mereka dan mentahnik mereka.โ€ (๐Ÿ“š HR. Al Bukhari no. 5468 dan Muslim no. 286. Redaksi hadits ini adalah milik Imam Muslim)

Mentahnik bayi adalah sunnah menurut kesepakatan para ulama, seperti yang disebutkan oleh Al Imam An Nawawi -rahimahullah- dalam (๐Ÿ“š Al Minhaj Syarh Shahih Muslim 14/ 99)

Beliau Al Imam Nawawi -rahimahullah- juga berkata:

โ€œDalam hadits-hadits ini ada faidah, di antaranya: Dianjurkan mentahnik anak yang baru lahir, dan ini merupakan sunnah dengan ijmaโ€™. Hendaknya yang mentahnik adalah orang yang shalih dari kalangan laki-laki atau wanita. Tahnik dilakukan dengan kurma dan ini mustahab, namun andai ada yang mentahnik dengan selain kurma maka telah terjadi perbuatan tahnik, akan tetapi tahnik dengan kurma lebih utama. Faidah lain diantaranya menyerahkan pemberian nama untuk anak kepada orang yang shalih, maka ia memilihkan untuk si anak nama yang ia senangi.โ€ (๐Ÿ“š Al Minhaj Syarhu Muslim 14/372, dinukil dengan sedikit perubahan)

*Akan tetapi tidak ada diriwayatkan dari sunnah kecuali tahnik dengan kurma _(boleh diganti dengan yang lain-pent)_  sebagaimana telah lewat penyebutannya tentang tahnik Ibrahim bin Abi Musa, Abdullah bin Az Zubair dan Abdullah bin Abu Thalhah, maka tidak pantas mengambil yang lain* (๐Ÿ“š Ahkamul Maulud Fi Sunnatil Muthahharah)

*Apa Hikmah Tahnik*

Adapun Tentang hikmah mentahnik bayi, sebagian ulama mengatakan bahwa hal itu sebagai bentuk harapan agar si anak nantinya beriman. Sebab, kurma adalah buah dari pohon yang Rasulullah -shallallahu โ€˜alaihi wa sallam- serupakan dengan seorang mukmin. Beliau juga menyerupakan seorang mukmin dengan buah kurma dari segi manisnya. Selain itu, ilmu kedokteran telah membuktikan manfaat yang besar dari tahnik, yaitu memindahkan sebagian mikroba ke dalam usus untuk membantu pencernaan makanan. Terlepas dari benar atau tidaknya, yang jelas tahnik adalah sunnah yang mustahab (disenangi) secara pasti dari Rasulullah -shallallahu โ€˜alaihi wa sallam-. Inilah pegangan kita, bukan yang lainnya. Sebab, tidak ada nash (dalil) yang menerangkan hikmahnya, maka hanya Allah -โ€˜azza wa jalla- yang mengetahuinya. (๐Ÿ“š Ahkamul Maulud fis Sunnah Al Muthahharah karya Salim Ali Asy Syibli dan Muhammad Khalifah Ar Rabah, hlm. 33-34)

Al Imam Al Aini -rahimahullah- dalam Umdatul Qari menjelaskan:

โ€œBila engkau bertanya apa hikmah tahnik?

Aku jawab:

Berkata sebagian mereka:

Tahnik dilakukan sebagai latihan makan bagi bayi hingga ia kuat. Sungguh aneh ucapan ini dan betapa lemahnya โ€ฆ dimana letaknya waktu makan bagi bayi dibanding waktu tahnik yang dilakukan ketika anak baru dilahirkan, sedangkan secara umum anak baru dapat makan-makanan setelah berusia kurang lebih dua tahun.?!

Sebenarnya hikmah tahnik adalah untuk pengharapan kebaikan bagi si anak dengan keimanan, karena kurma adalah buah dari pohon yang disamakan oleh Rasulullah -shallallahu โ€˜alaihi wa sallam- dengan seorang mukmin dan juga karena manisnya. Lebih-lebih bila yang mentahnik itu seorang yang memiliki keutamaan, ulama dan orang shalih, karena ia memasukkan air ludahnya ke dalam kerongkongan bayi. Tidaklah engkau lihat Rasulullah -shallallahu โ€˜alaihi wa sallam- tatkala mentahnik Abdullah bin Az Zubair, dengan barakah air ludah Nabi -shallallahu โ€˜alaihi wa sallam- Abdullah telah menghimpun keutamaan dan kesempurnaan yang tidak dapat digambarkan. Dia seorang pembaca Al-Qurโ€™an, orang yang menjaga kemuliaan diri dalam Islam dan terdepan dalam kebaikan. (๐Ÿ“š Umdatul Qari bi Syarhi Shahih Al Bukhari 21/84)

*Kami _(pemilik kitab Ahkamul Maulud fis Sunnah Al Muthahharah-red)_ katakan:*

Ini adalah ludahnya Rasulullah -shallallahu โ€˜alaihi wa sallam- adapun selain beliau maka tidak boleh bertabarruk dengan air ludahnya.โ—

Al Imam An Nawawi -rahimahullah- menyebutkan : ... Hendaknya yang melakukan tahnik adalah orang shalih sehingga bisa diminta doโ€™a keberkahannya, terserah yang mentahnik tersebut laki-laki atau perempuan.

Jika orang shalih tersebut tidak hadir, maka hendaklah bayi tersebut yang didatangkan ke orang shalih tersebut. (๐Ÿ“š Al Minhaj Syarhu Shahih Muslim, 14/122-123)

โœ“ Adapun yang men-tahnik dibolehkan laki-laki atau perempuan, sebagaimana disampaikan Ibnul Qayyim -rahimahullah- bahwa Al Imamus Sunnah Ahmad bin Hambal -rahimahullah-  pernah memiliki anak dan yang mentahniknya adalah wanita. (๐Ÿ“š Tuhfatul Maudud, hlm. 66)

------

Wallahu 'Alam ana pribadi cenderung kepada pendapat yang menyatakan bahwasanya :

------

โœ“ Bahwa ini ini khusus untuk Nabi kita -shallallahu โ€˜alaihi wa sallam- dan tidak qiyas/dianalogikan kepada selain Beliau -shallallahu โ€˜alaihi wa sallam- ; karena Allah Azza wa Jalla telah menjadikan keberkahan pada diri Nabi -shallallahu โ€˜alaihi wa sallam- dan mengkhususkannya untuk Beliau -shallallahu โ€˜alaihi wa sallam- tidak untuk lain. Juga karena para Shahabat tidak melakukan hal tersebut bersama selain Nabi -shallallahu โ€˜alaihi wa sallam-. Padahal mereka orang yang paling mengetahui syariat sehingga mereka wajib dicontoh. Juga karena jika hal seperti ini dibolehkan kepada selain Nabi -shallallahu โ€˜alaihi wa sallam-, maka itu bisa mengantar kepada perbuatan syirik. (๐Ÿ“š Fathul Bari, karya Al Hafidz Ibnu Hajar -rahimahullah- 1/327)

โœ“ Asy Syaikh Sulaiman At Tamimi -rahimahullah- juga menyatakan:

Bahwa sebagian orang mutakhirin (belakangan) menyebutkan bahwa tabarruk (mencari berkah) pada bekas orang-orang shalih adalah mustahab (dianjurkan), seperti minum minuman bekas mereka dan membawa bayi ke salah seorang dari mereka untuk mentahniknya dengan kurma sehingga yang masuk pertama kali kedalam perutnya adalah ludah orang-orang shalih. Ini adalah kesalahan besar, karena beberapa alasan:

*1).* Mereka tidak bisa mendekati apalagi setara dengan Nabi -shallallahu โ€˜alaihi wa sallam- dalam keutamaan dan keberkahan.

*2).* Keshalihan mereka adalah perkara yang belum pasti, karena keshalihan tidak terwujud kecuali dengan keshalihan hati. Ini adalah perkara yang tidak diketahui kecuali dari nash syariat, seperti para Shahabat yang dipuji oleh Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya juga imam para tabiโ€™in, orang-orang yang terkenal dengan keshalihan dan agamanya seperti imam Syafiโ€™i, Abu Hanifah, Malik dan Ahmad bin Hambal dan yang semisal dengan mereka. Adapun selain mereka kita hanya bisa (sekadar) menduga dan berharap mereka adalah orang-orang shalih.

*3).* Seandainya kita sudah menganggap dia orang shalih, tetapi tidak ada yang bisa menjamin bahwa orang itu tidak akan diwafatkan oleh Allah matikan dalam keadaan suโ€™ul khatimah, padahal amalan seorang manusia itu tergantung amalannya yang terakhir, sehingga tidak berhak dijadikan tempat mengambil berkah.

*4).* Para Shahabat tidak pernah melakukannya kepada selain Nabi -shallallahu โ€˜alaihi wa sallam-, baik disaat Beliau -shallallahu โ€˜alaihi wa sallam- masih hidup maupun setelah wafat. Seandainya (perbuatan tersebut) baik tentu mereka telah lebih dahulu melakukannya sebelum kita.

*5).* Perbuatan ini (jika dilakukan) pada selain Rasulullah -shallallahu โ€˜alaihi wa sallam-, maka tidak aman dari fitnah sehingga mengakibatkan ujub dan sombong, sehingga ini termasuk seperti pujian didepannya bahkan lebih besar lagi. (๐Ÿ“š Taisir Al โ€˜Aziz Al Hamid Fi Syarhi Kitab At-Tauhid, hlm 185-186)

*Adapun waktu mentahnik*

Para Ulama ahli fikih menyatakan waktu tahnik bayi itu dilakukan disaat bayi baru lahir.

Dalil yang menunjukkan agar bayi yang baru lahir segera ditahnik adalah hadits Anas bin Malik -radhiyallahu anhu- :

ููŽูˆูŽู„ูŽุฏูŽุชู’ ุบูู„ุงูŽู…ู‹ุง ู‚ูŽุงู„ูŽ ู„ููŠ ุฃูŽุจููˆ ุทูŽู„ู’ุญูŽุฉูŽ: ุงูุญู’ู…ูŽู„ู’ู‡ู ุญูŽุชูŽู‘ู‰ ุชูŽุฃู’ุชููŠูŽ ุจูู‡ู ุงู„ู†ูŽู‘ุจููŠูŽู‘ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ: ุฃูŽู…ูŽุนูŽู‡ู ุดูŽูŠู’ุกูŒุŸ ู‚ูŽุงู„ููˆุง: ู†ูŽุนูŽู…ู’ ุชูŽู…ูŽุฑูŽุงุชูŒ. ููŽุฃูŽุฎูŽุฐูŽู‡ูŽุง ุงู„ู†ูŽู‘ุจููŠูู‘ ููŽู…ูŽุถูŽุบูŽู‡ูŽุง ุซูู…ูŽู‘ ุฃูŽุฎูŽุฐูŽ ู…ูู†ู’ ูููŠู‡ู ููŽุฌูŽุนูŽู„ูŽู‡ูŽุง ูููŠ ุงู„ุตูŽู‘ุจููŠูู‘ ูˆูŽุญูŽู†ูŽู‘ูƒูŽู‡ู ุจูู‡ู ูˆูŽุณูŽู…ูŽู‘ุงู‡ู ุนูŽุจู’ุฏูŽ ุงู„ู„ู‡ู.

Maka Ummu Sulaim pun melahirkan seorang anak laki-laki. Lalu Abu Thalhah berkata kepadaku (Anas bin Malik),

โ€œBawalah anak ini sehingga engkau mendatangi Nabi -shallallahu โ€˜alaihi wa sallam-:

Beliau -shallallahu โ€˜alaihi wa sallam- bertanya:

โ€œApakah ada sesuatu yang menyertainya (ketika di bawa kesini?โ€™ Mereka menjawab: โ€œYa, beberapa biji kurmaโ€

Kemudian Nabi -shallallahu โ€˜alaihi wa sallam- mengambil kurma itu, lantas mengunyahnya, lalu mengambilnya kembali dari mulut beliau dan meletakkannya di mulut anak tersebut kemudian mentahniknya dan memberinya nama โ€˜Abdullah.โ€ (HR. Al-Bukhรขri no. 5470 dan Muslim no. 2144)

Apakah Dikumandangkan Azan dan Iqamat pada Telinga Bayi Ketika Lahir?

Hadits-hadits tentang mengucapkan adzan dan iqamah di telinga bayi saat lahir diriwayatkan dari beberapa sahabat Rasulullah -shallallahu 'alaihi wa sallam-  Diantaranya:

Pertama: Hadits Abu Rafi' -radhiyallahu 'anhu-:

ุนูŽู†ู’ ุณููู’ูŠูŽุงู†ูŽุŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ: ุญูŽุฏูŽู‘ุซูŽู†ููŠ ุนูŽุงุตูู…ู ุจู’ู†ู ุนูุจูŽูŠู’ุฏู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูุŒ ุนูŽู†ู’ ุนูุจูŽูŠู’ุฏู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุจู’ู†ู ุฃูŽุจููŠ ุฑูŽุงููุนูุŒ ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠู‡ูุŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ: ุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชู ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ยซุฃูŽุฐูŽู‘ู†ูŽ ูููŠ ุฃูุฐูู†ู ุงู„ู’ุญูŽุณูŽู†ู ุจู’ู†ู ุนูŽู„ููŠูู‘ ุญููŠู†ูŽ ูˆูŽู„ูŽุฏูŽุชู’ู‡ู ููŽุงุทูู…ูŽุฉู ุจูุงู„ุตูŽู‘ู„ูŽุงุฉูยป

Abu Rafi' berkata:

Aku melihat Rasulullah -shallallahu 'alaihi wa sallam- membacakan adzan di telinga Al Hasan bin 'Ali ketika dilahirkan oleh Fatimah dengan lafadz azan untuk shalat. (Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam (๐Ÿ“š As Sunan 4/328 no.5105, Imam At Tirmidzi 4/97 no.1514, Imam Ahmad dalam Al Musnad 39/297 no. 23869)

Hadits ini lemah karena pada sanadnya ada Pe-rawi yang bernama 'Ashim bin Ubaidillah bin 'Ashim. ```(Lihat keadaan _Ashim bin Ubaidillah_ dalam kitab: Adh Dhu'afa' Al-Kabir karya Al-'Uqaily 3/333, Al Majruhin karya Ibnu Hibban 2/127, Al Kamil karya Ibnu 'Adiy 5/225, Adh Dhu'afa' karya Ibnu Al Jauzi 2/70, Miizan Al I'tidaal karya Adz Dzahabi 4/8, Taqrib At Tahdzib karya Ibnu Hajar hlm. 285)```

Periwayatan haditsnya dilemahkan oleh Imam Malik, Yahya bin Ma'in, An-Nasa'iy, Ibnu Hajar dan yang lainnya.

โœ“ Al Imam At Thabarani meriwayatkan juga:

ุนู† *ุญู…ุงุฏ ุจู† ุดุนูŠุจ* ุนู† *ุนุงุตู… ุจู† ุนุจูŠุฏ ุงู„ู„ู‡* ุนู† ุนู„ูŠ ุจู† ุงู„ุญุณูŠู† ุนู† ุฃุจูŠ ุฑุงูุน : ุฃู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุฃุฐู† ููŠ ุฃุฐู† ุงู„ุญุณู† ูˆ ุงู„ุญุณูŠู† ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ู…ุง ุญูŠู† ูˆู„ุฏุง ูˆุฃู…ุฑ ุจู‡

Sesungguhnya Rasulullah -shallallahu 'alaihi wa sallam- mengumandangkan adzan di telinga Al Hasan dan Al Husain -radhiyallahu 'anhuma- ketika keduanya dilahirkan dan Rasulullah memerintahkan hal itu.

Hadits ini sangat lemah, selain karena ~'Ashim bin Ubaidillah~ juga karena ada perawi Hammad bin Syu'aib Al Himmani yang periwayatan haditsnya dilemahkan oleh Yahya bin Ma'in, Abu Hatim, Abu Zur'ah, An-Nasa'iy, dan yang lainnya

Hadits Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma.

Diriwayatkan oleh Tammaam Ar-Raziy (414H) dalam kitabnya "Al-Fawaid", sebagaimana disebutkan dalam kitab "Ar-Raudh Al-Bassam" 3/447 no.1219:

ุนู† ุงู„ู‚ุงุณู… ุจู† ุญูุต ุงู„ุนู…ุฑูŠ ุซู†ุง ุนุจุฏ ุงู„ู„ู‡ ุจู† ุฏูŠู†ุงุฑ ุนู† ุงุจู† ุนู…ุฑ ุฃู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุฃุฐู† ููŠ ุฃุฐู† ุงู„ุญุณู† ูˆุงู„ุญุณูŠู† ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ู…ุง ุญูŠู† ูˆู„ุฏุง

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam azan di telinga Al-Hasan dan Al-Husain radhiyallahu 'anhuma pada ketika keduanya dilahirkannya.

Hadits ini sangat lemah karena pada sanadnya ada rawiy yang bernama Al-Qasim bin Hafs Al-Umariy[8], nama lengkapnya Al-Qasim bin Abdullah bin Umar bin Hafs; Abu Hatim, Abu Zur'ah, An-Nasa'iy dan Ibnu Hajar mengatakan: Haditsnya ditolak (matruuk). Imam Ahmad menuduhnya sebagai pembohong.

Hadits Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma.

Diriwayatkan oleh Al-Baehaqiy (458H) dalam kitabnya "Syu'ab Al-Iman" 11/106 no.8255:

ุนู† ู…ูุญูŽู…ูŽู‘ุฏู ุจู’ู†ู ูŠููˆู†ูุณูŽุŒ ุญูŽุฏูŽู‘ุซูŽู†ูŽุง ุงู„ู’ุญูŽุณูŽู†ู ุจู’ู†ู ุนูู…ูŽุฑูŽ ุจู’ู†ู ุณูŽูŠู’ูู ุงู„ุณูŽู‘ุฏููˆุณููŠูู‘ุŒ ุญูŽุฏูŽู‘ุซูŽู†ูŽุง ุงู„ู’ู‚ูŽุงุณูู…ู ุจู’ู†ู ู…ูุทูŽูŠูŽู‘ุจูุŒ ุนูŽู†ู’ ู…ูŽู†ู’ุตููˆุฑู ุงุจู’ู†ู ุตูŽูููŠูŽู‘ุฉูŽุŒ ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠ ู…ูŽุนู’ุจูŽุฏูุŒ ุนูŽู†ู ุงุจู’ู†ู ุนูŽุจูŽู‘ุงุณูุŒ ุฃูŽู†ูŽู‘ ุงู„ู†ูŽู‘ุจููŠูŽู‘ ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ุฃูŽุฐูŽู‘ู†ูŽ ูููŠ ุฃูุฐูู†ู ุงู„ู’ุญูŽุณูŽู†ู ุจู’ู†ู ุนูŽู„ููŠูู‘ ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ูˆูู„ูุฏูŽุŒ ููŽุฃูŽุฐูŽู‘ู†ูŽ ูููŠ ุฃูุฐูู†ูู‡ู ุงู„ู’ูŠูู…ู’ู†ูŽู‰ุŒ ูˆูŽุฃูŽู‚ูŽุงู…ูŽ ูููŠ ุฃูุฐูู†ูู‡ู ุงู„ู’ูŠูุณู’ุฑูŽู‰

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam azan di telinga Al-Hasan bin 'Ali pada hari dilahirkannya, maka beliau azan di telinga kanannya dan iqamah di telinga kirinya.

Sanad hadits ini sangat lemah, karena pada sanadnya ada beberapa rawiy yang periwayatan haditsnya sangat lemah:

a)      Muhammad bin Yunus Al-Kudaimiy[3] (286H); Al-Azdiy mengatakan: Haditsnya ditolak (matruuk). Ibnu 'Adiy mengatakan: Ia dituduh sebagai pemalsu hadits. Ibnu Hibban mengatakan: Ia memalsukan hadits dari orang-orang tsiqah dan sepertinya ia sudah memalsukan 1000 hadits lebih.

b)      Al-Hasan bin 'Amr bin Saif Al-Bashriy[4]; Ibnu Al-Madiniy mengklaimnya sebagai pembohong. Imam Bukhari mengatakan: Ia seorang pembohong.

Lihat: Silsilah Al-Ahaadiits Adh-Dha'ifah 13/271 no.6121.

E.     Hadits Ummu Al-Fadhl bint Al-Harits radhiyallahu 'anha.

Diriwayatkan oleh Ath-Thabaraniy dalam kitabnya "Al-Mu'jam Al-Ausath" 9/101 no.9250:

ุนู† ุฃุญู…ุฏ ุจู† ุฑุดุฏ ุจู† ุฎุซูŠู… ุงู„ู‡ู„ุงู„ูŠ ุญุฏุซู†ูŠ ุนู…ูŠ ุณุนูŠุฏ ุจู† ุฎุซูŠู… ุนู† ุญู†ุธู„ุฉ ุจู† ุฃุจูŠ ุณู„ูŠู…ุงู† ุนู† ุทุงูˆุณ ุนู† ุนุจุฏ ุงู„ู„ู‡ ุจู† ุนุจุงุณ ุญุฏุซุชู†ูŠ ุฃู… ุงู„ูุถู„ ุจู†ุช ุงู„ุญุงุฑุซ ุงู„ู‡ู„ุงู„ูŠุฉ ู‚ุงู„ุช: ู…ุฑุฑุช ุจุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆ ุณู„ู… ูˆู‡ูˆ ุฌุงู„ุณ ุจุงู„ุญุฌุฑ ูู‚ุงู„: ูŠุง ุฃู… ุงู„ูุถู„ . ู‚ู„ุช: ู„ุจูŠูƒ ูŠุง ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ! ู‚ุงู„: ุฅู†ูƒ ุญุงู…ู„ ุจุบู„ุงู… . ู‚ู„ุช: ูŠุง ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ูˆูƒูŠู ูˆู‚ุฏ ุชุญุงู„ูุช ู‚ุฑูŠุด ุฃู† ู„ุง ูŠุฃุชูˆุง ุงู„ู†ุณุงุก . ู‚ุงู„: ู‡ูˆ ู…ุง ุฃู‚ูˆู„ ู„ูƒ ูุฅุฐุง ูˆุถุนุชูŠู‡ ูุฃุชู†ูŠ ุจู‡ ู‚ุงู„ุช ูู„ู…ุง ูˆุถุนุชู‡ ุฃุชูŠุช ุจู‡ ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆ ุณู„ู… ูุฃุฐู† ููŠ ุฃุฐู†ู‡ ุงู„ูŠู…ู†ู‰ ูˆุฃู‚ุงู… ููŠ ุฃุฐู†ู‡ ุงู„ูŠุณุฑู‰ ... ุงู„ุฎ

Ummu Al-Fadhl berkata: Aku melewati Rasulullah yang sedang duduk di atas batu dan berkata: Wahai Ummu Al-Fadhl!

Aku menjawab: Aku memenuhi panggilanmu Ya Rasulullah!

Rasulullah berkata: Engkau sedang mengandung seorang anak!

Aku menjawab: Ya Rasulullah, mau bagaimana lagi sedangkan kaum Quraisy telah berjanji kalau mereka tidak boleh mendatangi wanita.

Rasulullah berkata: Lakukan apa yang aku katakan kepadamu, jika engkau telah melahirkannya maka bawalah ia kepadaku.

Ummu Al-Fadhl berkata: Setelah aku melahirkannya aku membawanya kepada Rasulullah kemudian beliau membacakan azan di telinga kanannya dan iqamah di telinga kirinya ... (sampai akhir hadits).

Sanad hadits ini sangat lemah, karena pada sanadnya ada beberapa rawiy yang periwayatan haditsnya sangat lemah:

1)      Ahmad bin Rasyad bin Khutsaim Al-Hilaliy[9]; Adz-Dzahabiy mengatakan: Ia meriwayatkan dari Sa'id bin Khutsaim hadits yang bathil (sangat lemah).

Al-Haitsamiy mengatakan: Ia dituduh memalsukan hadits ini. [Majma' Az-Zawaid 5/187 no.8956]

2)      Handzalah bin Abi Sulaiman (namanya Ubaidillah), kuniahnya Abu Abdurrahim As-Sadusiy[10]; Periwayatan haditsnya dilemahkan oleh Yahya bin Ma'in, Abu Hatim, An-Nasa'iy dan Ibnu Hajar. Imam Ahmad mengatakan: Haditsnya mungkar (sangat lemah).

Lihat: Silsilah Al-Ahaadiits Adh-Dha'ifah 12/269 no.5625, dan 13/337 no.6145.

Hadits Husain bin 'Ali radhiyallahu 'anhuma.

Diriwayatkan oleh Abu Ya'laa (307H) dalam kitabnya "Al-Musnad" 12/150 no.6780, dan Al-Baehaqiy dalam kitabnya "Syu'ab Al-Iman" 11/106 no.8254:

ุนู† ูŠูŽุญู’ูŠูŽู‰ ุจู’ู† ุงู„ู’ุนูŽู„ูŽุงุกูุŒ ุนูŽู†ู’ ู…ูŽุฑู’ูˆูŽุงู†ู ุจู’ู†ู ุณูŽุงู„ูู…ูุŒ ุนูŽู†ู’ ุทูŽู„ู’ุญูŽุฉูŽ ุจู’ู†ู ุนูุจูŽูŠู’ุฏู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูุŒ ุนูŽู†ู’ ุญูุณูŽูŠู’ู†ู ู‚ูŽุงู„ูŽ: ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ: ยซู…ูŽู†ู’ ูˆูู„ูุฏูŽ ู„ูŽู‡ู ููŽุฃูŽุฐูŽู‘ู†ูŽ ูููŠ ุฃูุฐูู†ูู‡ู ุงู„ู’ูŠูู…ู’ู†ูŽู‰ ูˆูŽุฃูŽู‚ูŽุงู…ูŽ ูููŠ ุฃูุฐูู†ูู‡ู ุงู„ู’ูŠูุณู’ุฑูŽู‰ ู„ูŽู…ู’ ุชูŽุถูุฑูŽู‘ู‡ู ุฃูู…ูู‘ ุงู„ุตูู‘ุจู’ูŠูŽุงู†ูยป

Barangsiapa dilahirkan untuknya seorang bayi kemudian ia membacakan azan di telinga kanannya dan iqamah di telinga kirinya maka bayi tersebut tidak akan digangu oleh jin.

Lihat: Silsilah Al-Ahaadiits Adh-Dha'ifah 1/491 no.321.

Fiqih Anak Buah Hati Orang Tua Amalan Disyarikatkan