Cara Memberi Nama Anak Dalam Islam

Febri Hidayan
01 May 2020 - 04:00


Bismillah...

*Berikut Ringkasan Fiqh Pemberian Nama pada Anak* khusus untuk shahib-ku al akh Nanang Aswaja dan si buah hatinya Ramaysha Ummu Sulaim...

Wabillahi Taufiq...

Abu Lahab ya Abu Lahab nama yang tidak asing lagi bagi kita dia sang musuh Allah dan Rasul-Nya dimana nama aslinya adalah Abdul 'Izza. Dan ber-Kuni-yah-kan Abu Lahab dan ini sangat pas dengan dirinya, yang akhirnya ia ditempatkan ke dasar neraka, terbakar oleh lidah api yang menyala-nyala akibat kedurhakaannya. Begitu pula dengan Abu Jahal.

Al Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah rahimahullah berkata :

ومن تأمل السنة وجد معاني في الأسماء مرتبطة بها حتى كأن معانيها مأخوذة منها وكأن الأسماء مشتقة من معانيها........ وإذا أردت أن تعرف تأثير الأسماء في مسمياتها. فتأمل حديث سعيد بن المسيب عن أبيه عن جده قال أتيت إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقال ما اسمك قلت حزن فقال أنت سهل قال لا أغير اسما سمانيه أبي قال ابن المسيب فما زالت تلك الحزونة فينا بعد رواه البخاري في صحيحه والحزونة الغلظة

“Barangsiapa yang mengamati sunnah, niscaya ia akan menemukan bahwa nama-nama yang ada berhubungan dengan pemiliknya yang seakan-akan ia memang diambil darinya sesuai dengan karakternya…… Apabila engkau ingin mengetahui bagaimana nama-nama itu bisa mempengaruhi pemiliknya, maka perhatikanlah hadits Sa’id bin Al Musayyib, dari bapaknya, dari kakeknya, ia berkata : “Aku pernah menghadap Nabi ﷺ. Beliau (ﷺ) bertanya : “Siapakah namamu ?”. Aku menjawab : “Namaku Huzn”. Maka Beliau (ﷺ) bersabda : “(Gantilah), namamu menjadi *Sahl* (yang artinya ; mudah)”. Aku berkata : “Aku tidak akan menukar nama yang telah diberikan oleh bapakku”. Ibnul Musayyib berkata : “Sejak saat itu, sifat kasar senantiasa ada dalam keluarga kami”. (📚 Diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam Shahih-nya. Makna al-huzuunah/huzn adalah al ghildhah (artinya ; kasar)” (📚 lihat Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud oleh Ibnul Qayyim, hlm. 84-85)

*Perhatikan Ucapan Imam Ibnul Qoyyim diatas;* nama (seseorang) itu bisa mempengaruhi pemiliknya (seperti tabiat/karakter). Maka pilihlah nama yang akan berdampak baik pada anak tersebut. Dan kelak di hari kiamat, manusia akan dipanggil dengan nama yang mereka dipanggil dengannya semasa di dunia. 

"Sesungguhnya kalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama kalian dan nama bapak-bapak kalian. Maka baguskanlah nama-nama kalian. (📚 Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 4948, Ad Darimi no. 2736, Al Baihaqi 9/306, dan yang lainnya).

_waktu pemberian nama adalah fleksibel._

1. Memberikan nama pada hari pertama atau sebelum hari ketujuh dari waktu kelahirannya.

Hal ini didasarkan pada hadits :

عَنْ أَبِيْ مُوْسَى رَضِىَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ قَالَ وُلِدَ لِيْ غُلامٌ فَأَتَيْتُ بِهِ النَّبِيَّ صَلى الله عليه وسلم فَسَمَّاهُ إِبْرَاهِيْمَ فَحَنَّكَهُ بِتَمْرَةٍ وَدَعَا لَهُ بِاْلبَرَكَةِ وَدَفَعَهُ إِلَيَّ

Dari Abi Musa radhiyallahu Ta’ala ’anhu ia berkata : ”Telah lahir seorang anakku. Maka aku membawanya ke hadapan Nabi ﷺ dan Beliau (ﷺ) menamainya Ibrahim. Maka kemudian Beliau (ﷺ) men-tahnik-nya dengan kurma dan mendoakan barakah untuknya. Kemudian Beliau (ﷺ) menyerahkannya padaku” (📚 Diriwayatkan Al Bukhari no. 5467, 6198; Muslim no. 2145; dan yang lainnya).

2. Memberikan nama anak pada hari ketujuh setelah kelahirannya.

Hal Ini didasarkan pada hadits :

كل غلام رهينة بعقيقته تذبح عنه يوم سابعه ويحلق ويسمى

”Setiap anak tergadai dengan ’aqiqahnya yang disembelih pada hari ketujuh dari kelahirannya, dicukur (rambutnya), dan diberi nama” (📚 Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 2837-2838; At Tirmidzi no. 1522; An Nasaa-i no. 4220; Ibnu Majah no. 3165; Ahmad 5/7,12,17,22; dan yang lainnya; dam sanadnya shahih).

Adapun Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah dalam kitabnya Tasmiyatul Mawlud hlm. 28 mengatakan ; “Terdapat dalam sunnah Nabi lﷺ bahwa pemberian nama itu ada tiga waktu:

*1. Di hari kelahiran,*

*2. Sampai hari ketiga dari hari kelahiran,*

*3. Di hari ketujuh dari kelahiran* dan hal ini lapang..

Dan pemberian nama setelah kelahirannya tidaklah mesti dipersyaratkan bagi anak yang tidak diaqiqahi. Wallahu A'lam

Kemudian juga Al Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata :

إن التسمية لما كانت حقيقتها تعريف الشيء المسمى لأنه إذا وجد وهو مجهول الاسم لم يكن له ما يقع تعريفه به فجاز تعريفه يوم وجوده وجاز تأخير التعريف إلى ثلاثة أيام وجاز إلى يوم العقيقة عنه ويجوز قبل ذلك وبعده والأمر فيه واسع

“Sesungguhnya tasmiyyah (pemberian nama) iu pada hakekatnya berfungsi untuk menunjukkan identitas penyandang nama, karena jika ia didapati tanpa nama berarti tidak memiliki identitas yang dengannya ia bisa dikenali. Oleh karena itu, identitasnya boleh diberikan pada hari kelahirannya, boleh juga ditunda pada hari ketiga, atau pada hari aqiqahnya. Boleh juga sebelum atau sesudah hari ‘aqiqahnya. Oleh karena itu, perkara ini adalah luas/lapang” (📚 lihat Tuhfatul Maudud, hlm. 79).

Ketahuilah Baarakallahu Fiikum berilah nama pada anak kita yang terbaik, sebabkan nama dapat membawa pengaruh pada orang yang diberi nama. Oleh karena itu, orang Arab mengatakan;

لِكُلِّ مُسَمَّى مِنْ اِسْمِهِ نَصِيْبٌ

“Setiap orang akan mendapatkan pengaruh dari nama yang diberikan padanya.”

*Yang Penting ketika Memilih dan Memberikan Nama* jangan lupa ya...

1. Nama tersebut diambil dari nama-nama orang shalih dari kalangan para Nabi, Rasul, dan Orang Shalih lainnya.

Maksudnya untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan cara mencintai dan menghidupkan nama mereka (kembali), serta melaksanakan apa yang dicintai Allah dengan memilih nama-nama para wali-Nya yang telah membawa agama-Nya.

2. Nama itu yang singkat, hurufnya sedikit, serta mudah diucapkan dan dihapal.

3. Maknanya bagus, sesuai dengan kondisi orangnya, derajat, agama, dan martabatnya.

*Nah... yang terpenting Nama harus Menggunakan bahasa Arab* _karena Bahasa Arab itu bahasanya penduduk langit (📚 Diriwayatkan dari Muqatil bin Hayyan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Musannaf-nya no. 30545)

Nah... Untuk anak perempuan bisa menggunakan nama istri-istri Nabi ﷺ (Ummahatul Mukminin). Dan istri yang dinikahi oleh Nabi ﷺ ada 11, ini menurut pendapat terkuat:

1. Khadijah binti Khuwailid;

2. Saudah binti Zum’ah;

3. 'Aisyah binti Abu Bakar Ash Shidiq;

4. Hafshoh binti Umar bin Al Khaththab;

5. Zainab binti Khuzaimah;

6. Ummu Salamah Hindun binti Abu Umayyah;

7. Zainab binti Jahsy bin Rayyab;

8. Juwairiyyah binti Al Harits;

9. Ummu Habibah Ramlah binti Abu Sufyan;

10. Shofiyah binti Huyai bin Akhthab;

11. Maimunah binti Al Harits. (📚 lihat Tasyimatul Mawlud, hlm. 33-36).

Atau Nama-nama Shahabiyah (shababat wanita); ana sadur dengan ringkas dari 📚 kitab Nisaa’ Haular Rasuul, karya Mahmud Mahdi Al Istanbuli dan Musthafa Abu An Nashr Asy Syalabi;

1. Asma binti Abu Bakar Ash Shiddiq

2. Asma Binti Yazid Al Anshariah

3. Asma binti Umais (Ummu Ubdillah)

4. Asy Syfa binti Harits

5. Barirah maulah ‘Aisyah

6. Hamnah bintu Jahsyi

7. Hindun binti ‘Utbah

8. Khansa binti Amru

9. Khaulah binti Tsa’labah

10. Rubai bin Ma’udz

11. Raihanah binti Zaid bin Amru

12. Shafiyah binti Abdul Muththalib

13. Sumayyah binti Khayyath

14. Umamah Bintu Abil ‘Ash

15. Ummu Athiyyah Al Anshariyah (Namanya Nusaibah bintu Al Harits)

16. Ummu ‘Aiman (Barkah bintu Tsa’labah bin ‘Amr)

17. Ummu Fadhl (Lubabah binti Al Haris)

18. Ummu Hani’ binti Abi Thalib

19. Ummu Syuraik Al Quraisyiah (namanya Ghaziyah binti Jabir bin Hakim)

20. Ummu Haram (namanya Malikah binti Milhan bin Khalid Al Anshariah)

21. Ummu Halim bin Harits

22. Ummu Umarah (Nusaibah binti Ka'ab)

23. Ummu Ma’bad Al Khuza’iyah (namanya Atikah bintu Khalid bin Khalif)

24. Ummu Waraqah binti Naufal

25. Ummu Ruman bintu ‘Amir

26. Rumaisha’ Ummu Sulaim binti Malhan.

Dan Baarokallohu Fiikum Nama orang-orang shalih dari kalangan kaum muslimin mereka adalah para shahabat/shahabiyah adalah penghulu orang-orang shalih setelah para nabi dan rasul bagi kaum muslimin. 

عن المغيرة بن شعبة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : (إنهم كانوا يسمون بأنبيائهم والصالحين قبلهم).

Dari Syu’bah bin Al-Mughiirah ia berkata : Telah bersabda Rasulullah ﷺ : “Sesungguhnya mereka dahulu memakai nama para nabi dan orang-orang shalih sebelum mereka” (📚 Diriwayatkan oleh Imam Muslim no. 2135).

Dan diperbolehkan memberikan kuni-yah kepada anak kecil, sebagaimana tertera dalam hadits yang Diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari no. 6129, 6203; Muslim no. 2150; Abu Dawud no. 4969; At Tirmidzi no. 333, 1989; Ibnu Majah no. 3720; Ibnu Hibban no. 2308, 2506; dan yang lainnya dari shahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu).

*Apabila* terlanjur memberikan nama dan memang nama tersebut adalah di antara nama yang haram dan tidak disukai, maka hendaknya/boleh diganti dengan nama yang baik sesuai syari’at. 

Berdasarkan Hadits Dari Ummahatul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata ;

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يُغَيِّرُ الاِسْمَ الْقَبِيحَ.

“Nabi ﷺ biasa mengganti (merubah) nama yang jelek.” (📚 Diriwayatkan oleh Imam At Tirmidzi no. 2839)

Dan Hadits Dari shahabat Ibnu Umar, ia berkata ; 

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- غَيَّرَ اسْمَ عَاصِيَةَ وَقَالَ أَنْتِ جَمِيلَةُ

“Rasulullah ﷺ mengganti nama ‘Ashiyah (artinya: wanita yang suka bermaksiat) seraya berkata; “Nama kamu adalah Jamilah (artinya: wanita yang cantik).” (📚 Diriwayatkan oleh Imam Muslim no. 2139)

Sebagai penutup; kembali kita bawakan Syair berikut;

 *لِكُلِّ مُسَمَّى مِنْ اِسْمِهِ نَصِيْبٌ*

*“Setiap orang akan mendapatkan pengaruh dari nama yang diberikan padanya.”*

Ini menunjukkan bahwa jika nama yang diberikan kepada anak kita adalah nama yang terbaik, maka insya Allah atsarnya (pengaruhnya) pun baik...

_begitulah pengaruh sebuah nama dalam diri orang yang diberi nama tersebut_

_Dan dari nama yang baik pula, seseorang bisa menyebarkan kebaikan._

Kita Lihat saja bagaimana jika seseorang diberi nama “Musa”. Dari nama ini, setiap orang yang mendengar nama tersebut bisa mengingat bagaimanakah sifat dan akhlaq mulia dari Nabi Musa ‘alaihis salam... 

```Semoga pembahasan ini bermanfaat bagi siapa saja yang menanti buah hatinya. Semoga Allah beri keberkahan.```

Nama Anak Fiqih Anak Pemberian Nama Anak Shalih Anak Shalihah