Diterima Taubat Dari Dosa, Meskipun Dosa-Dosa dan Taubat Terulang-Ulang

Febri Hidayan
26 February 2020 - 09:50


Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Nabi Muhammad -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

*كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ.*

“Setiap anak Adam pasti berbuat salah dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah yang bertaubat”. (📚 HR. Tirmidzi, no. 2499, Shahih At Targhib, no. 3139)

Berdasarkan hadits diatas difahami bahwasanya:

_Setiap manusia pasti pernah berbuat salah dan tidak ada yang tidak pernah berbuat kesalahan._

_dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah yang bertaubat_

*Makna Taubat*

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin -rahimahullah- menerangkan:

“makna taubat secara bahasa adalah kembali"

sedangkan menurut perngertian syar’i taubat adalah kembali dari maksiat kepada Allah Ta’ala menuju ketaatan kepada-Nya.

✓ Dan taubat yang paling agung serta paling wajib adalah taubat dari kekafiran kepada keimanan.

Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ لِلَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ يَنْتَهُوا يُغْفَرْ لَهُمْ مَا قَدْ سَلَف

“Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu, Jika mereka berhenti (bertaubat dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa mereka yang telah lalu”. (📖 Al Anfal :38)

✓ Kemudian tingkatan taubat berikutnya adalah taubat dari dosa-dosa besar, berikutnya taubat dari dosa-dosa kecil. Dan wajib bagi setiap manusia untuk bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari setiap dosa”. (📚 Syarah Riyadhus Shalihin Syaikh Utsaimin, 1/85-86)

Perlu diketahui Taubat ada dua macam:

Taubat mutlak dan Taubat muqayyad (terikat).

✓ Taubat mutlak ialah bertaubat dari *segala perbuatan dosa* .

✓ Sedangkan taubat muqayyad ialah bertaubat dari salah satu *dosa tertentu _(saja)_ yang pernah dilakukan.*

✓ Al Imam An Nawawi menukilkan perkataan Imam Al Qadhi Iyadh

-rahimahumullahu Ta'ala- :

"Dan dosa besar _(bahkan dosa terbesar yakni Syirik kepada Allah Jalla wa 'Ala-pent)¹_ itu hanya dapat dihapuskan dengan *Taubat* atau dengan rahmat dari Allah Ta’ala dan *keutamaan dari Allah* ” (📚 Syarah Shahih Muslim lin Nawawi, 3/112)

✓ Walaupun terulang-ulang

Sampai-sampai Al Imam An Nawawi -rahimahullah- membuat satu bab untuk hadits ini (akan kita sadurkan dibawah) dengan mengatakan " *Bab Diterima Taubat Dari Dosa-dosa, Meskipun Dosa-dosa dan Taubat terulang-ulang"*

Allah Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ . أُولَئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ (📖 آل عمران: ١٣٥, ١٣٦)

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.  Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.” (📖 Ali Imron: 135-136)

Al Imam Al Hafizh Ibnu Katsir -rahimahullah- berkata:

“Fiman-Nya "Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui."

Yakni mereka bertaubat dari dosanya dan kembali kepada Allah dalam waktu dekat dan tidak melanjutkan kemaksiatan dan senantiasa melepaskannya. Meskipun dosanya terulang dan mereka bertaubat (kembali). (📚 Tafsir Ibnu Katsir, 2/122-123)

عن أبي هُرَيْرَةَ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يقول :

إِنَّ عَبْدًا أَصَابَ ذَنْبًا وَرُبَّمَا قَالَ أَذْنَبَ ذَنْبًا فَقَالَ رَبِّ أَذْنَبْتُ وَرُبَّمَا قَالَ أَصَبْتُ فَاغْفِرْ لِي فَقَالَ رَبُّهُ أَعَلِمَ عَبْدِي أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِهِ غَفَرْتُ لِعَبْدِي ثُمَّ مَكَثَ مَا شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ أَصَابَ ذَنْبًا أَوْ أَذْنَبَ ذَنْبًا فَقَالَ رَبِّ أَذْنَبْتُ أَوْ أَصَبْتُ آخَرَ فَاغْفِرْهُ فَقَالَ أَعَلِمَ عَبْدِي أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِهِ غَفَرْتُ لِعَبْدِي ثُمَّ مَكَثَ مَا شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ أَذْنَبَ ذَنْبًا وَرُبَّمَا قَالَ أَصَابَ ذَنْبًا قَالَ قَالَ رَبِّ أَصَبْتُ أَوْ قَالَ أَذْنَبْتُ آخَرَ فَاغْفِرْهُ لِي فَقَالَ أَعَلِمَ عَبْدِي أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِهِ غَفَرْتُ لِعَبْدِي ثَلاثًا ....(الحديث) (📚 رواه البخاري 7507 ومسلم 2758)

“Dari Abu Hurairah -radhiyallahu ’anhu- berkata: saya mendengar Rasulullah -sallallahu’alaihi wasallam- bersabda:

“Sesungguhnya seorang hamba berdosa terkadang mengucapkan terjerumus dalam dosa maka dia mengatakan:

"Wahai Rabb-ku, saya berdosa. Terkadang mengatakan:

"Saya terkena (dosa). Maka ampunilah daku. Rabb-nya mengatakan:

Apakah hamba-Ku mengetahui kalau punya Rabb yang mengampuni dosa dan dibawanya. Maka saya ampuni hambaKu. Kemudian diam masya Allah (waktu yang tidak diketahui) kamudian ditimpa dosa atau terjerumus dalam dosa, maka dia mengatakan:

"Saya terkena (dosa) lagi. Maka ampunilah daku.

Rabb-nya mengatakan:

Apakah hamba-Ku mengetahui kalau punya Rabb yang mengampuni dosa dan dibawanya. Maka saya ampuni hambaKu. Kemudian diam masyaallah (waktu yang tidak diketahui) kamudian ditimpa dosa atau terjerumus dalam dosa, mengatakan:

"Saya terkena (dosa) lagi. Maka ampunilah daku.

Rabb-nya mengatakan:

Apakah hambaKu mengetahui kalau punya Rabb yang mengampuni dosa dan dibawanya.

Maka saya ampuni hambaKu. Kemudian diam masyaallah (waktu yang tidak diketahui) kamudian ditimpa dosa atau terjerumus dalam dosa, Terkadang mengatakan:

"Saya terkena (dosa). Maka ampunilah daku. Rabb-nya mengatakan, Apakah hamba-Ku mengetahui kalau punya Rabb yang mengampuni dosa dan dibawanya. Maka saya ampuni hamba-Ku. Tiga kali.. Al Hadits. (📚 HR. Bukhari, 7507 dan Muslim, 2758)

Dengan Hadits yang mulia ini-lah Al Imam An Nawawi -rahimahullah- membuat satu Bab khusus dengan mengatakan:

باب: *قبول التوبة من الذنوب وإن تكررت الذنوب والتوبة*

"Bab Diterima Taubat Dari Dosa-dosa, Meskipun Dosa-dosa dan Taubat terulang-ulang’.

Beliau -rahimahullah- mengatakan: "Permasalahan ini telah (dijelaskan) pada permulaan kitab Taubah, hadits ini nampak dari sisi dalalahnya, bahwa meskipun dosa terulang seratus, seribu kalau atau lebih dan bertaubat setiap kali. Maka taubatnya diterima, gugur dosanya. Kalau dia bertaubat dari semua (dosa) dengan bertaubat sekali setalah semua (dosa-red) maka taubatnya sah". (📚 Al Minhaj Syarah Shahih Muslim, 17/119)

Akan tetapi difahami disana disebutkan oleh para Ulama bahwasanya Taubat Nasuha ada beberapa syarat yang harus terpenuhi oleh seorang hamba yang ingin bertaubat, berikut rinciannya:

*Syarat-Syarat Taubat*

*Syarat Pertama:* Ikhlas

Hendaklah seorang bertaubat dengan niat yang ikhlas, yaitu semata-mata mencari keridhaan Allah Ta’ala dan agar mendapatkan ampunan-Nya, bukan karena ingin dipertontonkan kepada manusia (riya’), atau hanya karena takut kepada penguasa, ataupun kepentingan-kepentingan duniawi lainnya. Karena taubat kepada Allah Ta’ala adalah termasuk ibadah yang harus memenuhi dua syarat, yaitu ikhlas dan mutaba’ah (mencontoh Rasulullah -shallallahu’alaihi wasallam-).

*Syarat Kedua:* Menyesali perbuatan dosa yang telah terlanjur dilakukan

Karena penyesalan menunjukkan kejujuran taubat seseorang, oleh karenanya Nabi -shallallahu’alaihi wasallam- bersabda:

النَّدَمُ تَوْبَة

“Penyesalan adalah taubat”. (HR. Ibnu Hibban dan Al Hakim, dishahihkan Asy Syaikh Al Albani dalam Shahihut Targhib, no. 3146, 3147).

*Syarat Ketiga:* Meninggalkan dosa

Meninggalkan dosa termasuk syarat taubat yang paling penting, sebab itu adalah bukti benarnya taubat seseorang, maka tidak diterima taubatnya apabila ternyata dia masih terus-menerus melakukan dosa tersebut. 

Al Imam Fudhail bin ‘Iyadh -rahimahullah- berkata :

“Permohonan ampun tanpa meninggalkan dosa adalah taubatnya para pendusta”. (📖 Tafsir Al Qurthubi, 9/3).

✓ Adapun cara meninggalkan dosa, jika berupa kewajiban yang ditinggalkan; adalah dengan melaksanakan kewajiban itu. Sedangkan dosa melakukan perbuatan haram, maka wajib untuk segera meninggalkan perbuatan haram tersebut dengan segera dan tidak boleh terus melakukannya meskipun hanya sesaat.

*Syarat Keempat:* Bertekad untuk tidak mengulang kembali perbuatan dosa tersebut di masa mendatang

Apabila di dalam hati seseorang masih tersimpan keinginan untuk kembali melakukan dosa tersebut jika ada kesempatan, maka tidak sah taubatnya.

*Syarat Kelima:* Apabila dosa tersebut berupa kezaliman kepada orang lain, maka harus meminta maaf dan atau mengembalikan hak-hak orang lain yang diambil dengan cara yang bathil

Seperti apabila seorang pernah mencaci orang lain maka hendaklah dia meminta pemaafan orang tersebut, atau seorang yang pernah mencuri harta orang lain maka hendaklah dia meminta maaf dan mengembalikan harta tersebut atau meminta penghalalannya. Apalagi, kezaliman kepada orang lain merupakan dosa besar yang mengakibatkan kebangkrutan besar pada hari kiamat. Nabi -shallallahu’alaihi wasallam- bersabda:

أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ. قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ. فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِى يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِى قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِى النَّارِ

“Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut itu, mereka menjawab, orang yang bangkrut adalah orang yang tidak (lagi) memiliki dinar dan harta. Maka Rasulullah -shallallahu’alaihi wasallam- bersabda, sesungguhnya orang yang bangkrut dari ummatku adalah seorang yang datang (menghadap Allah Ta’ala) pada hari kiamat dengan (membawa pahala) sholat, puasa, zakat, namun ketika di dunia dia pernah mencaci fulan, menuduh fulan, memakan harta fulan, menumpahkan darah fulan, memukul fulan. Maka diambillah kebaikan-kebaikan yang pernah dia lakukan untuk diberikan kepada orang-orang yang pernah dia zalimi. Hingga apabila kebaikan-kebaikannya habis sebelum terbalas kezalimannya, maka kesalahan orang-orang yang pernah dia zalimi tersebut ditimpakan kepadanya, kemudian dia dilempar ke neraka”. (HR. Muslim, no. 6744).

*Syarat Keenam:* Taubat harus pada waktunya

Apabila seseorang baru mau bertaubat setelah lewat waktunya, maka taubatnya tidak akan diterima oleh Allah Ta’ala.

Adapun waktu diterimanya taubat untuk setiap manusia adalah sebelum kematian datang menjemputnya. Allah Ta’ala berfirman:

وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّى إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الْآَنَ وَلَا الَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ أُولَئِكَ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا

“Dan tidaklah taubat itu bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan sampai ketika datang kematian kepada salah seorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan :

“Sesungguhnya saya bertaubat sekarang.”

Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati dalam keadaan kafir, bagi mereka telah Kami sediakan siksa yang pedih”. (📖 An Nisa’: 18).

Sedangkan waktu diterimanya taubat untuk keseluruhan manusia adalah selama matahari belum terbit dari barat. Rasulullah -shallallahu’alaihi wasalam- bersabda:

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِىءُ النَّهَارِ وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِىءُ اللَّيْلِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا

“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla membentangkan tangan-Nya di waktu malam agar bertaubat orang yang berbuat salah pada siang hari. Dan membentangkan tangan-Nya di waktu siang agar bertaubat orang yang berbuat salah pada malam hari, (hal ini terus terjadi) sampai terbit matahari dari barat” (HR. Muslim, no. 7165). (📚 Syarah Riyadhush Shalihin Syaikh Utsaimin, 1/85-93)

Diatas kita sarikan dari pembahasan Taubat baik itu Syirik sampai dosa kecil, lalu bagaimana dengan Taubatnya Seseorang yang berzina?!

Berarti ada satu Syarat lagi khusus bagi yang terjatuh dosa zina:

Rahasiakan-lah dosa (zina-red) tersebut‼

Karena Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ أَصَابَ مِنْ هَذِهِ الْقَاذُورَاتِ شَيْئًا فَلْيَسْتَتِرْ بِسِتْرِ اللَّهِ

Siapa yang tertimpa musibah maksiat dengan melakukan perbuatan semacam ini (perbuatan zina), hendaknya dia menyembunyikannya, dengan kerahasiaan yang Allah berikan.” (📖 HR. Imam Malik dalam Al Muwatha’, no. 3048)

Dan dari Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhu-, Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

لاَ يَسْتُرُ اللَّهُ عَلَى عَبْدٍ فِى الدُّنْيَا إِلاَّ سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Jika Allah menutupi dosa seorang hamba di dunia, maka Allah akan menutupinya pula pada hari kiamat.” (📚 HR. Muslim, no. 2590)

Juga dari Shahabat Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhu- pula, beliau mendengar Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

كُلُّ أُمَّتِى مُعَافًى إِلاَّ الْمُجَاهِرِينَ ، وَإِنَّ مِنَ الْمَجَانَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلاً ، ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ ، فَيَقُولَ يَا فُلاَنُ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا ، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ

“Setiap umatku dimaafkan kecuali orang yang terang-terangan dalam bermaksiat. Yaitu seseorang yang telah berbuat dosa di malam hari lantas di pagi harinya ia berkata bahwa ia telah berbuat dosa ini dan itu padahal Allah telah menutupi dosanya. Pada malam harinya, Allah telah menutupi aibnya, namun di pagi harinya ia membuka sendiri aib yang telah Allah tutupi.” (📚 HR. Bukhari, no. 6069 dan Muslim, no. 2990).

Dua hadits di atas menunjukkan bahwa jika Allah telah menutupi dosa kita, maka jangan ditampakkan

Syaikh Shalih Fauzan -hafizhahullahu Ta'ala- mengatakan:

✓ Pendapat yang paling kuat menurut para ulama, siapa saja yang terjerumus dalam maksiat atau terjerumus dalam dosa yang semestinya terkena hukuman hadd (zina terkena hukum hadd-red), maka baiknya ia menutupi dirinya dan segera bertaubat. Cukup antara dirinya dan Allah saja yang mengetahui dosa yang pernah diperbuat. (📚

Minhah Al ‘Allam fii Syarh Bulugh Al Maram, 8/435-437, karya Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al Fauzan)

------

Perkataan Indah dari Ulama Salafush Shalih:

------

Imam Maimun bin Mihran -rahimahullah- berkata:

من أساء سرا فليتب سرا، ومن أساء علانية فليتب علانية، فإن الناس يُعيرون ولا يغفرون، والله يغفر ولا يُعير.

"Siapa yang melakukan keburukan secara sembunyi-sembunyi maka hendaklah dia bertaubat secara sembunyi-sembunyi pula, dan siapa yang melakukan keburukan secara terang-terangan maka hendaklah dia bertaubat secara terang-terangan pula. Karena sesungguhnya manusia suka mencela dan berat untuk memaafkan, sedangkan Allah suka mengampuni dan tidak suka mencela." (📚 Siyar A'lamin Nubala',  5/45, At Tadzkirah Al Hufazh, karya Al Imam Adz Dzahabi, 1/97-98)

✓ Cara Taubat dari Ghibah

Ada tambahan syarat disebutkan para Ulama seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, dan murid beliau Ibnul Qayyim, Ibnu Muflih, As Safarini dan yang lainnya.

Bahkan Ibnu Muflih menukilkan dari Ibnu Taimiyyah bahwa pendapat ini merupakan pendapat mayoritas ulama!.

Adapun Syarat yang dimaksudkan adalah;

كفارة الغيبة أن تستغفر لمن اغتبته

“Tebusan ghibah adalah engkau memintakan ampun untuk orang yang engkau ghibahi.” (📚 Madarij As Salikin, 1/291 -pada catatan kakinya-, Al Wabil As Shayyib hlm. 192, Al Adab Asy Syari’ah, 1/92-94)

---------------

```catatan:```

---------------

```Hadits ini (Tebusan ghibah adalah engkau memintakan ampun untuk orang yang engkau ghibahi) dinilai

maudhu‘ (palsu) seperti Imam Ibnul Jauzi dalam (📚 Al Maudhu’at, 3/342, dan Al Mathalib Al ‘Aliyah, 11/727).```

------

✓ Pendapat yang nampaknya lebih rajih –wal’ilmu ‘indallah– menurut keterbatasan ilmu kami adalah pendapat yang diklaim Ibnu Taimiyyah yang mana beliau dalam majmu Al Fatawa, 3/291.

كفارة الغيبة : أن تستغفر لمن اغتبته.

"Kafarat (tebusan) ghibah adalah engkau memintakan ampun kepada orang yang telah engkau ghibahi."

Ini adalah pendapat para Salafush Shalih seperti Hasan Al Bashri, Hudzaifah dalam Al Adab Asy Syari'ah, Mujahid, Ibnul Mubarak -rahimahullahu Ta'ala-.

✓ Perlu diketahui disana ada segelintir manusia yang Mana Allah Tabaraka wa Ta'ala menghalangi Taubat mereka (mereka adalah Ahli Bid'ah-red).

Karena Nabi -shallallaahu ‘alaihi wasallam- dalam riwayat bersabda:

حَدَّثَنَا *عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْفَرْغَانِيُّ،* قَالَ: نا *هَارُونُ بْنُ مُوسَى الْفَرْوِيُّ،* قَالَ: نا *أَبُو ضَمْرَةَ أَنَسُ بْنُ عِيَاضٍ*، عَنْ *حُمَيْدٍ الطَّوِيلِ،* عَنْ *أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ*، قَالَ:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "

إِنَّ اللَّهَ حَجَبَ التَّوْبَةَ عَنْ صَاحِبِ كُلِّ بِدْعَةٍ"

Telah menceritakan kepada kami *Ali bin Abdillah Al Farghani*, ia berkata :

Telah mengkhabarkan kepada kami *Harun bin Musa Al Farwi*, ia berkata :

Telah mengkhabarkan kepada kami *Abu Dhamrah Anas bin Iyadh*, dari

*Humaid Ath Thawil*, dari

(Shahabat) Anas bin Malik, ia berkata :

Telah bersabda Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wasallam- :

*“Sesungguhnya Allah menghalangi taubat semua pelaku bid’ah”‼* (📚 HR. Imam Ath Thabarani dalam Al Ausath no. 4202). Hasan❗ dan dishahihkan Oleh Syaikh Al Albani -rahimahullah- dalam Ash Shahihah, no. 1620)

------

Keterangan para perawinya sebagai berikut :

------

1. Ali bin Abdillah bin Abdil Barr, Abul Hasan Al Waraq Al Farghani At Turki

(علي بن عبد الله بن عبد البر أبو الحسن الوراق الفرغاني التركي)

-perawi yang *tsiqah* sebagaimana dikatakan oleh Abu Ya’la Al Waraq dan Adz Dzahabi dalam (📚 Irsyadul Qadhi wad Dani, hlm. 436-437, no. 686).

2. Harun bin Musa bin Abi Alqamah Al Farwi, Abu Musa Al Madani

(هارون بن موسى بن أبي علقمة : عبد الله بن محمد بن عبد الله بن أبي فروة الفروي ، أبو موسى المدني)

-perawi yang dihukumi Ibnu Hajar dengan: *la ba’sa bih* dan termasuk thabaqah ke-10, w 253 H. Perawi Al Imam At Tirmidzi dan Imam An Nasa’i (📚 Taqribut Tahdzib, hlm. 1015, no. 7294)

3. Anas bin Iyadh bin Dhamrah Al Laitsi, Abu Dhamrah Al Madani

(أنس بن عياض بن ضمرة ، و يقال أنس بن عياض بن جعدبة ، و يقال أنس بن عياض بن عبد الرحمن الليثي ، أبو ضمرة المدني)

-perawi yang *tsiqah*. dan termasuk thabaqah ke-8, w 200 H. Termasuk Perawi Al Imam Bukhari,  Muslim, Abu Dawud, At Tirmidzi, dan An Nasa’i (📚 Taqribut Tahdzib, hlm. 154, no. 569)

4. Humaid bin Abi Humaid Ath Thawil Al Bashri, Abu Ubaidah Al Khuza’i

(حميد بن أبى حميد الطويل البصري ، أبو عبيدة الخزاعي و يقال السلمي و يقال الدارمي)

-perawi yang *tsiqah*, namun sering melakukan tadlis, dari thabaqah ke-5, w 142/143 H. Termasuk perawi Al Imam Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At Tirmidzi, An Nasa’i, dan Ibnu Majah (📚 Taqribut Tahdzib, hlm. 274, no. 1553)

4. Alhamdulillah Shahabat Anas bin Malik -radhiyallahu 'anhu- Masyur (📚 Taqribut Tahdzib, hlm. 154, no. 570) Hadits yang diriwayatkan oleh Shahabat mulia ini mencapai 2.286 hadits!!. Sampai-sampai shahabat Abu Hurairah -radhiyallahu anhu- berkata tentang-nya :

"Aku belum pernah melihat orang lain yang shalatnya menyerupai Rasulullah -shallallahu 'alaihi wasallam- kecuali Ibnu Sulaiman (Anas bin Malik)”. (Lihat biografi lengkapnya di Thabaqat Ibnu Sa’ad 7/10 dan Tahdzib 3/319)

*Makna Hadits*

-----------------

*“Sesungguhnya Allah menghalangi taubat semua pelaku bid’ah”‼*

Al Imam Sufyan Ats Tsauri berkata:

“Bid’ah lebih disenangi Iblis daripada maksiat.

Maksiat dapat diharapkan bertaubat darinya, sedangkan bid’ah susah untuk diharapkan bertaubat darinya” (📝 Atsar ini diriwayatkan Oleh Ibnu Ja’ad dalam Musnad-nya hlm. 748 no. 1885, Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya’, 7/26, Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman no. 9009, Al Lalika’i dalam Syarh Ushulil I’tiqad, no. 238, Ibnu Basyran dalam Al Amali no. 720, Ibnu Asakir dalam Jam’ul Juyusy, no. 35, dan ‘Abdullah Al Anshari dalam Dzammul Kalam wa Ahliha 5/120-121, no. 914; semuanya dari jalan Yahya bin Yaman, dari Sufyan Ats Tsauri -rahimahullah-

-----

✓ Akan tetapi Yahya bin Yaman Al ‘Ijli, Abu Zakariya Al Kufi

(يحيى بن يمان العجلي ، أبو زكريا الكوفي)

-perawi yang *shaduq* (klaim Al Hafizh Ibnu Hajar-red) namun banyak melakukan kekeliruan dan berubah hapalannya di akhir usianya.

Dari thabaqah ke-9, w 189 H. Termasuk Perawi Imam Al Bukhari dalam Al Adabul Mufrad, Muslim, Abu Dawud, At Tirmidzi, An Nasa’i, dan Ibnu Majah (📚 Taqribut Tahdzib, hlm. 1070, no. 7729)

----

*Karena :* pelaku bid’ah yang menganggap baik perbuatannya dan berkeyakinan Allah Ta’ala mencintai perbuatannya.

Padahal syaithan lah yang menghiasi perbuatan bid’ah tersebut hingga nampak indah di matanya.

Sebagaimana Allah Ta’ala firmankan:

أَفَمَنْ زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ فَرَآهُ حَسَنًا فَإِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ

“Maka apakah orang yang dijadikan (setan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan orang yang tidak ditipu oleh setan)? maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya” (📖 Fathir: 8)

قَالَ الْحَسَنِ: *"صَاحِبُ الْبِدْعَةِ لا يَزْدَادُ اجْتِهَادًا، صِيَامًا وَصَلاةً، إِلا ازْدَادَ مِنَ اللَّهِ بُعْدًا"*

Al Imam Hasan Al Bashri :

“Tidaklah bertambah kesungguhan pelaku bid’ah (ahlul-bid’ah) dalam perkara puasa dan shalat, kecuali akan bertambah jauh dari Allah” (Diriwayatkan oleh Ibnu Wadhdhah dalam Al Bida’, no. 70; *shahih* )

نا أَسَدٌ، نا رُدَيْحُ بْنُ عَطِيَّةَ، عَنْ يَحْيَى، بْن أَبِي عَمْرٍو الشَّيْبَانِيِّ قَالَ: كَانَ يُقَالُ:

"يَأْبَى اللَّهُ لِصَاحِبِ بِدْعَةٍ تَوْبَةً، وَمَا انْتَقَلَ صَاحِبُ بِدْعَةٍ إِلا إِلَى شَرٍّ مِنْهَا"

Telah mengkhabarkan kepada kami Asad:

Telah mengkhabarkan kepada kami Rudaih bin Athiyah,

dari Yahya bin Abi Amru Asy Syaibani, ia berkata :

"Dulu dikatakan bahwa Allah menolak taubat bagi pelaku bid’ah. Tidaklah pelaku bid’ah berpindah (dari bid’ahnya) kecuali menuju sesuatu yang lebih jelek dari bid’ahnya yang semula” (📚 Diriwayatkan oleh Ibnu Wadhdhah dalam Al Bida’, no. 144; sanadnya shahih)

Pelaku bid’ah lebih sulit untuk diharapkan bertaubat dari bid’ahnya, kecuali orang yang dirahmati Allah Ta’ala.

Inilah makna Hadits Nabi -shallallaahu ‘alaihi wasallam- bahwa Allah Ta’ala menghalangi taubat para pelaku bid’ah.

✓ Namun Apabila Allah Subnhanahu wa Ta'ala ingin membukakan pintu Taubat dan merahmati hambanya tidak lah mustahil seorang Ahli Bid'ah bertaubat, namun disana para Ulama meletakkan satu syarat lagi khusus bagi Ahlul Bid'ah apabila dia adalah tokoh dalam bid'ah tersebut;

Berikut rincian/ringkasan-nya (kita sadurkan dari risalah “Tahrimun Nazhar Fii Kutubil Kalam” karya Ibnu Qudamah Al Maqdisi -rahimahullah- yang bersumber dari: sahab)

*1.* Mengumumkan berlepas dirinya dari bid’ah yang dahulu dia lakukan tanpa berusaha mencari-cari alasan untuk membela diri.

*2.* Berlepas diri (dengan) yang jelas dan nyata dari pertemanan dan dari pergaulan serta dari sikap memuliakan para ahli bid’ah.

*3.* Vonisnya terhadap berbagai madzhab bid’ah sebagai kesesatan tanpa ragu-ragu.

*4.* Berlepas diri dari menulis dan membaca untuk membela bid’ah dan ahli bid’ah setelah secara jelas mengakuinya.

*5.* Istighfarnya atas kebathilannya dan pengumuman taubatnya di hadapan orang banyak dengan ketundukan tanpa menyombongkan diri.

*6.* Mengulang-ulang pengakuannya terhadap kebathilan yang pernah dia lakukan, karena pengakuan yang disertai dengan taubat merupakan keutamaan yang diketahui oleh orang-orang yang memiliki ilmu dan keutamaan.

*7.* Mengulang-ulang sikap berlepas dirinya dari kebathilan semuanya tanpa perkecualian.

*8.* Memastikan bahwa apa yang dahulu dia lakukan adalah haram dan bathil.

*10*. Memastikan bahwa tidak halal bagi seorang muslim pun untuk melakukan apa yang pernah dia lakukan, sehingga dia tidak mencari-cari alasan dan tidak menghiasi kesalahannya untuk orang lain dengan dalih-dalih yang lemah.

Dan sesungguhnya diantara tanda baiknya taubat seseorang adalah dengan menjelaskan kebathilan yang pernah dia yakini dan memusuhi para pengusung kebathilan tersebut serta menjelaskan keadaan mereka. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Al Imam Ahmad berkaitan dengan kasus seseorang yang bertaubat dari bid’ah:

(ومن علامات توبته أن يجتنب من كان يواليه من أهل البدع ويوالي من كان يعاديه من أهل السنة)

“Dan termasuk tanda kebenaran taubatnya adalah dengan menjauhi siapa saja dari ahli bid’ah yang dia pernah berloyalitas kepadanya dan sebaliknya dia berloyalitas kepada Ahlus Sunnah yang dahulu dia musuhi.”

Al Muwaffaq Ibnu Qudamah -rahimahullah- juga senada:

(وأما البدعة فالتوبة منها بالإعتراف بها والرجوع عنها واعتقاد ضد ما كان يعتقد…)

“Adapun bid’ah maka taubat darinya adalah dengan mengakuinya dan meninggalkannya serta meyakini keyakinan yang merupakan lawannya…” (📚 Al Mughni, 9/203)

Asy Syaikhul Islam -rahimahullah- berkata:

(وأنه لا بد من إصلاح العمل مع التوبة، وعلى هذا فقد قيل يعتبر مضي مدة يعتبر بها صدق توبته وصلاح نيته وليست مقدرة بمدة معلومة لأن التوقيت يفتقر إلى توقيف. ويترجح أن يعتبر مضي سنة كما نص عليه الإمام أحمد في توبة الداعي إلى البدعة أنه يتعين فيه مضي سنة.

“Dan sesungguhnya harus ada usaha memperbaiki perbuatan yang menyertai taubat. Dan atas dasar inilah maka ada yang mengatakan bahwa berlalunya masa tertentu dijadikan parameter yang menunjukkan kejujuran taubat seseorang dan benarnya niatnya, dan tidak ditetapkan dengan jangka waktu sekian, karena menentukan waktu membutuhkan dalil. Dan pendapat yang kuat adalah menilai dengan berlalunya satu tahun, sebagaimana pernyataan jelas dari Al Imam Ahmad berkaitan tentang taubat seorang yang menyeru kepada bid’ah bahwa yang jelas padanya adalah berlalunya satu tahun. (📚 Ash Sharimul Maslul hlm. 510)

Semoga yang sedikit ini ada manfaatnya..

Baarakallahu Fiikum

Taubat Nasuha Dosa Terulang Perbuatan Dosa Syarat Bertaubat Diterimanya Taubat