Hukum Sahur Ketika Adzan Berkumandang

Febri Hidayan
24 April 2020 - 09:41


Al IImam Abu Dawud -rahimahullah- berkata:

حَدَّثَنَا عَبْدُ الْأَعْلَى بْنُ حَمَّادٍ، حَدَّثَنَا حَمَّادٌ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " إِذَا سَمِعَ أَحَدُكُمُ النِّدَاءَ وَالْإِنَاءُ عَلَى يَدِهِ، فَلَا يَضَعْهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ مِنْهُ "

Telah menceritakan kepada kami Abdul A’la bin Hammad, dari Hammad, dari Muhammad bin ‘Amru, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-: “Apabila salah seorang dari kalian mendengar panggilan (adzan) sedangkan bejana (minumnya) masih ada di tangannya, maka janganlah ia meletakkannya hingga menunaikan keinginannya dari bejana (tersebut)” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 2350)

Diriwayatkan juga oleh Ahmad dalam Al Musnad, 2/423, no. 9473 & 2/510, no. 10629, Ath Thabari dalam Jami’ul Bayan, 3/526 no. 3015, Ad Daruquthni, no. 2182, Ibnu Abi Shabir dalam Al Fawaid, no. 2, Al Hakim dalam Al Mustadrak, 1/203 & 1/205 & 1/426, dan Al Baihaqi dalam Al Kubra, 4/218 no. 8018; dari 5 (lima) jalan (yakni ; Ghassan bin Ar Rabi’, Rauh bin Ubadah, Abdul A’la bin Hammad, Affan, dan Abdul Wahid bin Ghiyats); semuanya dari Hammad bin Salamah, dari Muhammad bin Amru, dari Abu Salamah, dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

✓ Sanad riwayat ini hasan, dan shahih (lighairihi) dengan penguat yang akan disebut setelahnya.

Berikut keterangan para pe-rawinya:

  1. Abdul A’la bin Hammad bin Nashr Al Bahili, Abu Yahya Al Bashri; seorang yang dikatakan Ibnu Hajar : ‘Tidak mengapa dengannya (Laa Ba’sa bih)’. Termasuk thaqabah ke-10, dan w 236 H/237 H. Termasuk pe-rawi Al Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan An Nasa’i (Taqribut Tahdzib, hlm. 561, no. 3754)
  2. Hammad bin Salamah bin Dinar Al Bashri, Abu Salamah; seorang yang Tsiqah, Lagi ‘Abid, orang yang paling Tsabt dalam periwayatan hadits Tsabit (Al Bunani). Berubah hapalannya di akhir usianya. Termasuk thabaqah ke-8, w 167 H. Termasuk pe-rawi Al Bukhari secara muallaq, Muslim, Abu Dawud, Ar Tirmidzi, An Nasaa’i, dan Ibnu Majah (Taqribut Tahdzib, hlm. 268-269, no. 1507)
  3. Muhammad bin Amru bin Alqamah bin Waqqaash Al Laitsi Abu Abdillah/Abul Hasan Al Madani; seorang yang Shaduq, namun mempunyai beberapa keraguan. Termasuk thabaqah ke-6, w 144 H/145 H. Termasuk pe-rawi Al Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At Tirmidzi, An Nasa’i, dan Ibnu Majah (Taqribut Tahdzib, hlm. 884 no. 6228) Basyar Awwad dan Al-Arna’uth : Shaduuq (Tahrirut Taqrib, 3/299, no. 6188)
  4. Abu Salamah bin Abdirrahmaan bin Auf Al Qurasyi Az Zuhri; seorang yang tsiqah lagi banyak haditsnya. Termasuk thabaqah ke-3, dan wafat tahun 94 H dalam usia 72 tahun. Dipakai Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Dawud, At Tirmidzi, An Nasa’i, dan Ibnu Majah (Taqribut Tahdzib, hlm. 1155 no. 8203)
  5. Abu Hurairah Ad Dausi Al Yamani adalah; salah seorang shahabat Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang masyhur dan mulia. Termasuk thabaqah ke-1, dan wafat tahun 57 H/58 H/59 H.  (Taqribut Tahdziib, hal. 1218, no. 8493)

Diriwayatkan juga oleh Ahmad dalam Al Musnad, 2/510, no. 10630, Ath Thabari dalam Jami’ul Bayan, 3/527, no. 3016, dan Al Baihaqi dalam Al Kubra, 4/218 no. 8019; semuanya dari jalan Rauh bin Ubadah, dari Hammad bin Salamah, dari Ammar bin Abi Ammar, dari Abu Hurairah, dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- semisal hadits sebelumnya, dengan tambahan lafadh dari perawi:

وَكَانَ الْمُؤَذِّنُونَ يُؤَذِّنُونَ إِذَا بَزَغَ الْفَجْرُ

“Dan muadzdzin mengumandangkan adzan apabila fajar telah terbit”.

Keterangan pe-rawi:

  1. Rauh bin Ubadah bin Al ‘Ala’ bin Hassan bin Amr bin Martsad Al Qaisi Abu Muhammad Al Bashri; seorang yang Tsiqah. Termasuk thabaqah ke-9, dan w 205 H/207 H. Termasuk pe-rawi Al Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At Tirmidzi, An Nasa’i, dan Ibnu Majah (Al Mu’jamush Shaghir li Ruwati Al Imam Ibni Jarir Ath Thabari, no. 1167 dan Taqribut Tahdziib, hlm. 329 no. 1973)
  2. Hammad bin Salamah bin Dinar Al Bashri, Abu Salamah, telah berlalu biografinya.
  3. Ammar bin Abi Ammar, Abu Umar/Abu Abdillah Al Makki; seorang yang Shaduq, namun mempunyai beberapa keraguan. Termasuk thabaqah ke-3. Termasuk pe-rawi Muslim, Abu Dawud, At Tirmidzi, An Nasa’i, dan Ibnu Majah. (Taqribut Tahdzib, hlm. 709 no. 4863)
  4. Abu Hurairah Ad Dausi Al Yamani adalah; salah seorang shahabat Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

Perlu diketahui Ada yang mengatakan bahwa hadits tersebut bertentangan dengan ayat:

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ

“Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” (Surah Al Baqarah: 187)

Maka jawabannya: Hadits tersebut tidaklah bertentangan dengan ayat, karena hadits tersebut merupakan rukhshah pada makanan/minuman yang sedang dikunyah atau yang ada ditangan yang belum terselesaikan (untuk dimakan atau diminum).

Tentu lain halnya dengan orang yang telah selesai makan sahur (atau bahkan belum sahur sama sekali), kemudian nampak baginya fajar shadiq dalam keadaan ia tahu waktu itu merupakan batas larangan untuk makan/minum; ia tidak boleh makan atau minum. Bahkan jika ia makan dan minum dengan sengaja berdasarkan pengetahuannya tersebut di atas, maka batal puasanya, dan wajib ia mengqadha di hari lain. Dua hal ini tentu berbeda. Dan Rukhshah ini seperti yang terdapat dalam hadits:

وَحَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ عَبْدِ الأَعْلَى، قَالَ: أَخْبَرَنَا أَنَسُ بْنُ عِيَاضٍ اللَّيْثِيُّ، عَنْ مُوسَى بْنِ عُقْبَةَ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " إِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ عَلَى الطَّعَامِ، فَلا يَعْجَلْ عَنْهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ وَإِنْ أُقِيمَتِ الصَّلاةُ ".

Telah menceritakan kepada kami Yunus bin Abdil A’laa, ia berkata: Telah mengkhabarkan kepada kami Anas bin ‘Iyaadl Al Laitsi, dari Musaa bin Uqbah, dari Naafi’, dari Ibnu Umar -radliyallahu ‘anhuma-: Bahwasannya Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- pernah bersabda: “Apabila kalian sedang makan, maka janganlah tergesa-gesa hingga ia menyelesaikan hajatnya, meskipun shalat telah ditegakkan (iqamah)” (Ath Thahawi dalam Syarh Musykilil Atsar, no. 1986; shahih)

Keterangan pe-rawi:

  1. Yunus bin Abdul A’laa Ash Shadafi Abu Musa AI Mishri, seorang Tsiqah. (Tahdzib At Tahdzib, 11/440, Taqribut Tahdzib, 2/385), Al Jarh wat Ta’dil, 9/243, Wafayatil A’yan, 7/249, Al Ansab 8/288)
  2. Anas bin Iyadl bin Dhamrah Al Laitsi, Abu Dhamrah Al Madani; seorang yang Tsiqah. Termasuk thabaqah ke-8, w 200 H. Termasuk pe-rawi Al Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At Tirmidzi, dan An Nasa’i. (Taqribut Tahdzib, hlm.154 no. 569)
  3. Musaa bin Uqbah bin Abi Ayyasy Al Qurasyi Al Mutharrifi, Abu Muhammad Al Madani; seorang yang Tsiqah, Tsabat, Dan Imam dalam Maghazi. Termasuk thabaqah ke-5, w 141 H, dan dikatakan setelah itu. Termasuk Al Bukhari, Muslim, Abu Dawud, An Nasa’i, dan Ibnu Majah (Taqribut Tahdzib, hlm. 983 no. 7041)
  4. Naafi’ Abu Abdillah Al Madani maula Ibni Umar; seorang yang Tsiqah, Tsabat, Faqiih, Lagi Masyhur.  Termasuk thabaqah ke-3, dan w 117 H. Termasuk pe-rawi Al Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At Tirmidzi, An Nasa’i, dan Ibnu Majah (Taqribut Tahdzib, hlm. 996 no. 7136)

Al Imam Al Baihaqi -rahimahullah- menjelaskan bahwa hadits di atas dibawa pada pengertian masih bolehnya makan dan minum saat dikumandangkan adzan yang pertama, dan beliau -rahimahillah- berargumentasi:

وَهَذَا إِنْ صَحَّ فَهُوَ مَحْمُولٌ عِنْدَ عَوَامِّ أَهْلِ الْعِلْمِ عَلَى أَنَّهُ -صلى الله عليه وسلم- عَلِمَ أَنَّ الْمُنَادِىَ كَانَ يُنَادِى قَبْلَ طُلُوعِ الْفَجْرِ بِحَيْثُ يَقَعُ شُرْبُهُ قُبَيْلَ طُلُوعِ الْفَجْرِ وَقَوْلُ الرَّاوِى وَكَانَ الْمُؤَذِّنُونَ يُؤَذِّنُونَ إِذَا بَزَغَ يُحْتَمَلُ أَنْ يَكُونَ خَبَرًا مُنْقَطِعًا مِمَّنْ دُونَ أَبِى هُرَيْرَةَ أَوْ يَكُونَ خَبَرًا عَنِ الأَذَانِ الثَّانِى وَقَوْلُ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :« إِذَا سَمِعَ أَحَدُكُمُ النِّدَاءَ وَالإِنَاءُ عَلَى يَدِهِ ». خَبَرًا عَنِ النِّدَاءِ الأَوَّلِ لِيَكُونَ مُوَافِقًا لِمَا أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْحَافِظُ، أنبأ أَبُو الْفَضْلِ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، ثنا أَحْمَدُ بْنُ سَلَمَةَ، ثنا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، أنبأ جَرِيرٌ، وَالْمُعْتَمِرُ بْنُ سُلَيْمَانَ، عَنْ سُلَيْمَانَ التَّيْمِيِّ، عَنْ أَبِي عُثْمَانَ النَّهْدِيِّ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ، عَن رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " لا يَمْنَعَنَّ أَحَدًا مِنْكُمْ أَذَانُ بِلالٍ مِنْ سُحُورِهِ، فَإِنَّمَا يُنَادِي لِيُوقِظَ نَائِمَكُمْ، وَيَرْجِعَ قَائِمُكُمْ "

“Jika hadits ini shahih, maka dipahami oleh mayoritas ulama bahwa Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengetahui kadang muadzin mengumandangkan adzan sebelum terbit fajar (shubuh) dan beliau minum dekat dengan terbitnya fajar. Sedangkan perkataan perowi bahwa muadzin mengumandangkan adzan ketika muncul fajar dipahami bahwa hadits tersebut sebenarnya munqothi’ (terputus dalam sanad) di bawah Abu Hurairah. Atau boleh jadi hadits tersebut dimaksudkan untuk adzan kedua. Sedangkan sabda Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Jika salah seorang di antara kalian mendengar adzan sedangkan bejana (piring) masih ada di tangannya …”, maka yang lebih tepat hadits ini dimaksudkan untuk adzan pertama sehingga berkesesuaianlah dengan riwayat: 

Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Abdillah Al Hafizh: Telah memberitakan kepada Abul Fadhl bin Ibrahim: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Salamah: Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahiim: Telah memberitakan Jarir dan Al Mu’tamir bin Sulaimaan, dari Sulaimaan At Taimi, dari Abu Utsman An Nahdi, dari Abdullah bin Mas’ud, dari Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-, beliau bersabda: “Janganlah adzan Bilal menghalangi salah seorang di antara kalian dari makan sahurnya, karena Bilaal mengumandangkannya untuk membangunkan orang yang masih tidur dan mengingatkan orang yang sedang shalat” (As Sunan Al Kubra, 4/218)

Maka jawabnya: Yang dimaksud adzan di sini adalah iqamat.

Asy Syaikh Abdullah bin Abdirrahman Aali Bassam dalam Taisirul Allam Syarh Umdatil Ahkam, 1/569-570, no. 177 mengatakan bahwa adzan yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah iqamat. Iqamat disebut juga dengan adzan sebagaimana hadits:

عن عبد الله بن مغفل المزني أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : بين كل أذانين صلاة - ثلاثا - لمن شاء.

Dari Abdullah bin Mughaffal Al Muzanni: Bahwasannya Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- pernah bersabda: “Diantara dua adzan ada shalat – beliau mengatakannya tiga kali – bagi siapa saja yang ingin melakukannya” (Diriwayatkan oleh Al Bukhari no. 624, Muslim no. 838, Ad Darimi, no. 1480, dan Ibnu Hibban, no. 1559-1561)

Namun permasalahan-nya kalau membawa hadits di atas kepada adzan pertama, maka itu musykil, karena zhahir hadits yang dimaui dengan adzan adalah adzan kedua (telah masuk waktu Shubuh, terbit fajar shadiq). Apalagi dalam riwayat Ammar bin Abi Ammar telah dijelaskan bahwa adzan yang dimaksud adalah adzan kedua. Selain itu, ada beberapa syawahid hadits yang menguatkan, yang menafikkan/memalingkan apa yang dikatakan oleh Al Imam Al Baihaqi -rahimahullah-:

1.     Hadits Abu Umaamah -radliyallahhu ‘anhu-:

حَدَّثَنَا ابْنُ حُمَيْدٍ، قَالَ: ثَنَا يَحْيَى بْنُ وَاضِحٍ، قَالَ: ثَنَا الْحُسَيْنُ، وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ الْحَسَنِ بْنِ شَقِيقٍ، قَالَ: سَمِعْتُ أَبِي، قَالَ: أَخْبَرَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ وَاقِدٍ، قَالا جَمِيعًا، عَنْ أَبِي غَالِبٍ، عَنْ أَبِي أُمَامَةَ، قَالَ: " أُقِيمَتِ الصَّلاةُ وَالإِنَاءُ فِي يَدِ عُمَرَ، قَالَ: أَشْرَبُهَا يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: نَعَمْ، فَشَرِبَهَا "

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Humaid, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Wadhih, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Al Husain (ح). Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Aliy bin Al Hasan bin Syaqiiq, ia berkata: Aku mendengar ayahku berkata: Telah mengkhabarkan kepada kami Al-Husain bin Waaqid; keduanya (Yahyaa bin Waadlih dan Aliy bin Al Hasan dari jalur Al Husain) dari Abu Ghalib, dari Abu Umamah, ia berkata: ““Pernah iqamah dikumandangkan sedangkan bejana masih di tangan Umar (bin Khaththab) -radliyallaahu ‘anhu-. Ia bertanya kepada Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wasallam-: “Apakah aku boleh meminumnya?”. Beliau menjawab: ‘Boleh’. Maka Umar pun meminumnya” (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, 3/527 no. 3017)

Riwayat ini terdiri dari dua jalan dari Al Husain bin Waqid. Pertama, dari jalan Ibnu Humaid, dan yang kedua, dari jalan Muhammad bin Aliy bin Syaqiiq. Akan tetapi jalan pertama yang berasal dari Ibnu Huimaid adalah dhaif atau bahkan dhaif jiddan,  Ibnu Humaid namanya: Muhammad bin Humaid bin Hayyan, Abu Abdillah Ar Razi; termasuk thabaqah ke-10, dan w 248 H. Termasuk pe-rawi Imam Abu Dawud, At Tirmidzi, dan Ibnu Majah (Taqriibut Tahdzib, hlm. 839 no. 5871)

Ia (Ibnu Humaid) telah dilemahkan oleh jumhur ahli hadits, dan bahkan ada yang mendustakannya.

Berikut rinciannya:

Al Imam Bukhari berkata: “Fiihi Nazhar” (At Tariikh Al Kabir, 1/167) Sebagaimana maklum bahwa kalimat ini di sisi Al Bukhari merupakan jarh yang Syadid/keras. Ya’qub bin Syaibah As Sadusi berkata: “Muhammad bin Humaid Ar Raazi  padanya banyak perkara yang diingkari (Katsirul Manakir)” (Tahdzibul Kamal, 25/102) An Nasa’i berkata: “Tidak Tsiqah” (Tariikh Baghdad, 2/263 dan Adh Dhu’afa’ walbMatrukin oleh Ibnul Jauzi, 3/54 no. 2959. Ishaq bin Manshur berkata : “Aku bersaksi di hadapan Allah bahwa Muhammad bin Humaid dan Ubaid bin Ishaq Al Aththar adalah pendusta” (Tarikh Baghdad, 2/263). Shalih bin Muhammad Al Asadi Al Hafizh berkata : “Aku tidak melihat seorang pun yang yang lebih banyak dustanya daripada dua orang, yaitu Sulaiman Asy Syaadzakuni dan Muhammad bin Humaid Ar Razi…” (Tariikh Baghdad, 2/262). Ia telah didustakan oleh Abu Zur’ah Ar Raziy dan Ibnu Warah (Al Majruhin, 2/321 no. 1005 dan Adh-Dhu’afaa’ wal Matrukin oleh Ibnul Jauzi, 3/54 no. 2959). Ibnu Hibban berkata: “Ia termasuk orang yang menyendiri dalam periwayatan dari orang-orang tsiqah dengan sesuatu yang terbolak-balik, khususnya jika ia meriwayatkan dari para syaikh negerinya” [Al-0Majruuhiin, 2/321 no. 1005]. Ibraahiim bin Ya’quub Al-Jauzajaaniy berkata: “Ia seorang yang bermadzhab buruk, tidak tsiqah” [Ahwaalur-Rijaal, hal. 207 no. 382]. Ibnul-Jauziy memasukkanya dalam Adl-Dlu’afaa’ wal-Matruukiin (3/54). Adz-Dzahabiy memasukkannya dalam Al-Mughniy fidl-Dlu’afaa’ (2/289 no. 5452) dan berkata: “Dla’iif, bukan dari sisi hapalannya”. Ibnu Hajar berkata: “Seorang haafidh yang dla’iif. Ibnu Ma’iin mempunyai pandangan baik terhadapnya” [At-Taqriib, hal. 839 no. 5871]. Dan yang lainnya.

Adapun Ahmad bin Hanbal, Ibnu Ma’iin, dan Ja’far bin Abi ‘Utsmaan Ath-Thayaalisiy men-tautsiq-nya.

[Namun Ibnu Hibbaan dalam Al-Majruuhiin (2/321) menyebutkan bahwa setelah Al-Imam Ahmad mengetahui Abu Zur’ah dan Ibnu Waarah mendustakan Ibnu Humaid, maka Shaalih bin Ahmad bin Hanbal berkata : “Sejak saat itu aku melihat ayahku jika disebutkan Ibnu Humaid, beliau mengibaskan tangannya”.

Nampaknya inilah pendapat terakhir dari Ahmad bin Hanbal yang mencabut tautsiq-nya dari Muhammad bin Humaid Ar-Raaziy].

Namun yang raajih adalah pendapat jumhur yang melemahkannya, karena jarh yang mereka berikan adalah jenis jarh yang mufassar (dijelaskan sebabnya). Selengkapnya, silakan baca Tahdziibul-Kamaal, 25/97-108.

Adapun jalan riwayat yang lain, maka sanadnya hasan. Berikut keterangan perawinya :

a.      Muhammad bin ‘Aliy bin Al-Hasan bin Syaqiiq bin Diinaar Al-‘Abdiy, Abu ‘Abdillah Al-Marwaziy; seorang yang tsiqah, shaahibul-hadiits. Termasuk thabaqah ke-11, dan wafat tahun 250 H. Dipakai oleh At-Tirmidziy dan An-Nasaa’iy [Taqriibut-Tahdziib, hal. 879 no. 6190].

b.      ‘Aliy bin Al-Hasan bin Syaqiiq bin Diinaar Al-‘Abdiy, Abu ‘Abdirrahmaan Al-Marwaziy; seorang yang tsiqah lagi haafidh. Termasuk thabaqah ke-10, dan wafat tahun 215 H atau sebelumnya. Dipakai oleh Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 692 no. 4740].

c.      Al-Husain bin Waaqid Al-Marwaziy, Abu ‘Abdillah Al-Qurasyiy; seorang yang dikatakan Ibnu Hajar: “Tsiqah, namun mempunyai beberapa keraguan (lahu auhaam). Termasuk thabaqah ke-7, dan wafat tahun 157 H/159 H. Dipakai oleh Al-Bukhaariy secara mu’allaq, Muslim (dalam mutaba’ah kitab Shahih-nya), Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 251 no. 1367]. Namun yang tepat, ia seorang yang shaduuq, hasanul-hadiits, karena beberapa kritikan para ulama tentang dirinya.[13]

Ibnu Hajar memasukkan Al-Husain dalam jajaran perawi mudallis dalam Thabaqaatul-Mudallisiin no. 8, yaitu pada thabaqah pertama. Artinya, tadlis yang ia lakukan amatlah jarang, sehingga ‘an’anah riwayatnya tidak membahayakan – kecuali ada qarinah yang kuat bahwa ia melakukan tadlis pada riwayat yang ia bawakan.

d.      Abu Ghaalib Al-Bashriy, shaahibu Abi Umaamah; seorang yang dikatakan Ibnu Hajar: “Shaduuq, namun sering keliru”. Termasuk thabaqah ke-5. Dipakai oleh Al-Bukhaariy dalam Al-Adabul-Mufrad, Abu Daawud, At-Tirmidziy, dan Ibnu Maajah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 1188 no. 8362]. Namun yang raajih, haditsnya adalah hasan, dan ia sendiri seorang yang shaduuq.[14]

2.     Hadits Jaabir bin ‘Abdillah radliyallaahu ‘anhu.

حَدَّثَنَا مُوسَى، حَدَّثَنَا ابْنُ لَهِيعَةَ، عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ، قَالَ: سَأَلْتُ جَابِرًا عَنِ الرَّجُلِ يُرِيدُ الصِّيَامَ، وَالْإِنَاءُ عَلَى يَدِهِ لِيَشْرَبَ مِنْهُ، فَيَسْمَعُ النِّدَاءَ، قَالَ جَابِرٌ: كُنَّا نُحَدَّثُ أَنّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " لِيَشْرَبْ"

Telah menceritakan kepada kamu Muusaa: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahii’ah, dari Abuz-Zubair, ia berkata: Aku pernah bertanya kepada Jaabir tentang seseorang yang bermaksud puasa sedangkan ia masih memegang gelas untuk minum, kemudian ia mendengar adzan. Jabir menjawab : “Kami pernah mengatakan hal seperti itu kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan beliau bersabda: ‘Hendaklah ia minum’” [Diriwayatkan oleh Ahmad 3/348].

Diriwayatkan juga oleh Thaahir bin Muhammad dalam An-Nuskhah no. 23: Telah menceritakan kepada kami Hisyaam bin ‘Ammaar: Telah menceritakan kepada kami Al-Waliid bin Muslim: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahii’ah, selanjutnya seperti riwayat di atas.

Sanad riwayat ini lemah, karena faktor Ibnu Lahii’ah. Namanya adalah: ‘Abdullah bin Lahii’ah bin ‘Uqbah Al-Hadlramiy, Abu ‘Abdirrahmaan/Nashr Al-Mishriy; seorang yang shaduuq, namun bercampur hapalannya setelah kitabnya terbakar. Termasuk thabaqah ke-7, wafat tahun 174 H. Dipakai oleh Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, dan Ibnu Maajah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 538 no. 3587].

Jika yang meriwayatkan dari Ibnu Lahi’ah itu adalah salah satu dari Al-‘Abadillah (empat orang yang bernama ‘Abdullah), maka riwayat itu diterima (karena mereka meriwayatkan sebelum kitab-kitab Ibnu Lahi’ah terbakar). Al-‘Abaadillah tersebut adalah: ‘Abdullah bin Wahb bin Muslim, ‘Abdullah bin Al-Mubarak, ‘Abdullah bin Yazid Al-‘Adawiy Al-Makkiy, dan ‘Abdullah bin Maslamah Al-Qa’nabiy. Keempat orang ini termasuk para perawi Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahiih-nya.

Adapun Abuz-Zubair, namanya adalah: Muhammad bin Muslim bin Tadrus Al-Qurasyiy Al-Asadiy, Abuz-Zubair Al-Makkiy; seorang yang tsiqah, namun sering melakukan tadlis.[15] Termasuk thabaqah ke-4, wafat tahun 126 H. Dipakai oleh Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 895 no. 6331].

3.     Hadits mursal Al-Hasan.

عَنِ ابْنِ عُيَيْنَةَ، عَنْ إِسْرَائِيلَ أَبِي مُوسَى، عَنِ الْحَسَنِ، قَالَ: قَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ ! أَذَّنَ الْمُؤَذِّنُ وَالإِنَاءُ عَلَى يَدِي، وَأَنَا أُرِيدُ الصَّوْمَ، قَالَ: اشْرَبْ "

Dari Ibnu ‘Uyainah, dari Israaiil Abu Muusaa, dari Al-Hasan, ia berkata: Telah berkata seorang laki-laki: “Wahai Rasulullah, muadzdzin telah mengumandangkan adzan sedangkan gelas masih ada di tanganku dan aku berniat untuk berpuasa ?”. Beliau bersabda: “Minumlah” [Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaaq dalam Al-Mushannaf 4/172-173 no. 7369].

Sanad riwayat di atas adalah lemah dikarenakan mursal, namun semua perawinya tsiqaat:

a.      Sufyaan bin ‘Uyainah bin Abi ‘Imraan Al-Hilaaliy, Abu Muhammad Al-Kuufiy Al-Makkiy; seorang yang tsiqah, haafidh, faqiih, imaam, dan hujjah. Termasuk thabaqah ke-8, lahir tahun 107 H, dan wafat tahun 198 H. Dipakai oleh Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 395 no. 2464].

b.      Israaiil bin Muusaa, Abu Muusaa Al-Bashriy; seorang yang tsiqah. Termasuk thabaqah ke-6. Dipakai oleh Al-Bukhaariy, Abu Daawud, At-Tirmidziy, dan An-Nasaa’iy [taqriibut-Tahdziib, hal. 134 no. 404].

c.      Al-Hasan bin Abil-Hasan Yasaar Al-Bashriy Al-Anshaariy, Abu Sa’iid atau lebih dikenal dengan nama Al-Hasan Al-Bashriy; seorang yang tsiqah, faqiih, faadlil, lagi masyhuur. Termasuk thabaqah ke-3, dan wafat tahun 110 H dalam usia 88/89 tahun. Dipakai oleh Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 236 no. 1237].

Ada kemungkinan perantara Al-Hasan tersebut adalah Jaabir bin ‘Abdillah sebagaimana riwayat yang kedua, karena Al-Hasan Al-Bashriy dikenal mempunyai periwayatan darinya. Matan yang dibawakannya pun berdekatan. Jika memang benar perantara tersebut adalah Jaabir, maka hadits tersebut adalah shahih.


Sahur Hukum Sahur Mendengar Azan Waktu Sahur