Kesalahan Haruslah Diingkari (Walaupun Yang Mengatakan Tidak Memaksudkannya)‼

Dhika Syahputra
28 March 2020 - 14:35


Kesalahan Haruslah Diingkari (Walaupun Yang Mengatakan Tidak Memaksudkannya)‼

Sebagian orang ketika membela orang yang mengatakan ucapan yang salah akan berbalik melemparkan syubhat dan kerancuan:

 “Kalian salah paham terhadap ucapannya, yang sebenarnya tidak dimaksudkan demikian.”

🎙 Asy Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani -rahimahullah-

❒ “Jangan sekali-kali engkau mengatakan ucapan yang dengannya engkau akan mencari-cari alasan untuk membenarkannya di hadapan manusia.

◈ Seringkali manusia mengatakan,

والله أنا قصدت كذا

“Demi Allah, saya tidak memaksudkan demikian”.

Ya akhi, maksudmu ada di dalam hatimu, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Rabbmu. Tetapi engkau harus memilih ungkapan yang baik bagi maksudmu dengan lafazhmu!

☝ Tidakkah engkau mendengar hadits tentang pengingkaran Ar-Rasul ‘alahis salam yang sangat keras terhadap seorang shahabat yang mendengar nasehat Nabi ﷺ lalu dia bangkit untuk menunjukkan ketundukan, ittiba’ dan ketaatannya kepada Nabi ﷺ dengan mengatakan:

مَا شَاءَ اللَّهُ , وَشِئْت

‘Terserah apa yang dikehendaki oleh Allah dan apa yang Anda kehendaki wahai Rasulullah :

☝ Maka beliau ﷺ bersabda:

أَجَعَلْتَنِي لله نِدًّا قُلْ مَا شَاءَ اللهُ وَحْدَهُ!

“Apakah engkau menjadikan diriku sebagai tandingan bagi Allah, katakanlah: Terserah apa yang dikehendaki oleh Allah saja?!” (📚Silsilah Ash Shahihah, 1/216-pent)

✓ Apakah kalian menganggap bahwa shahabat ini memaksudkan dengan ucapan yang dia sampaikan kepada Nabi-nya dengan mengatakan, ‘Terserah apa yang dikehendaki oleh Allah dan apa yang Anda kehendaki wahai Rasulullah.’ Yaitu ingin menjadikan beliau sebagai sekutu bagi Allah❓‼

Rasulullah ﷺ tidak merasa aman dengan yakin kecuali beliau berusaha lari menghindari syirik. Jadi, kenapa Rasulullah ﷺ sangat keras di dalam mengingkari shahabat tersebut dengan ungkapan yang sangat keras ini,

yaitu: “Apakah engkau menjadikan diriku sebagai tandingan bagi Allah, katakanlah: Terserah apa yang dikehendaki oleh Allah saja?!”

Jika demikian,

✘- tidak sepantasnya kalian membolehkan kesalahan-kesalahan lafazh dengan (alasan, -pent) benarnya maksud hati kalian!

✘- Niat yang baik ini tidak membolehkan kesalahan-kesalahan lafazh.

Jadi wajib atas kita jika kita berbicara hendaklah ucapan kita sesuai dengan maksud baik kita, dan jangan sampai ucapan kita buruk walaupun maksud kita baik. Bahkan wajib lafazh itu sesuai dengan yang ada di dalam hati!”

(Asy Syaikh Al Albani -rahimahullah- berkata di dalam kaset Fatawa Jiddah no 33 menit ke-37 detik 16 hingga menit ke-39 detik 21)

Jika ada kekurangan dan kesalahan mohon dimaafkan, karna kesempurnaan Hanya Milik Allah Tabaraka Wa Ta'ala. Semoga Bermanfaat.

Baarakallahu Fiikum...