Keutamaan Tauhid 03

Dhika Syahputra
21 February 2020 - 08:30


KEUTAMAAN TAUHID 03

Barang siapa yang Merealisasikan Tauhid (dengan sebenar-benarnya) akan Masuk Surga tanpa Hisab dan Tanpa Adzab!

Asy Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin -rahimahullah- menjelaskan secara ringkas bahwa makna:

"Merealisasikan Tauhid" adalah membersihkan diri dari noda-noda kesyirikan. Ini tidak akan pernah terwujud dalam diri hamba melainkan terpenuhi tiga perkara:

1》 Al Ilmu (mengetahui makna tauhid),

2》 Al I’tiqod (meyakini kandungan tauhid) dan

3》 Al Inqiyad (tunduk terhadap konsekuensi-konsekuensi tauhid). (📚 Al Qoulul Mufid ‘Ala Kitabit Tauhid, hlm. 91)

Para pembaca -rahimakallah, diantara balasan orang yang merealisasikan Tauhid adalah masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab❗

Ibnu ‘Abbas –radhiyallahu ‘anhuma- mengatakan, Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

📝 dalam hadits yang panjang:

“Telah diperlihatkan kepada diriku umat-umat manusia. Aku melihat seorang Nabi yang bersamanya beberapa orang dan bersamanya satu dan dua orang, serta seorang Nabi yang tidak ada seorang pun bersamanya. Tiba-tiba ditampakkan kepada diriku sekelompok manusia yang berjumlah banyak, dan aku pun mengira bahwa mereka adalah umatku.

Tetapi dikatakan kepadaku, ‘Ini adalah Musa bersama kaumnya’.

》Lalu tiba-tiba aku melihat sekelompok manusia yang banyak pula. Kemudian dikatakan kepadaku ini adalah umatmu, dan bersama mereka ada tujuh puluh ribu orang masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab”.

Kemudian beliau -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bangkit dan bergegas masuk ke dalam rumahnya.

Maka para shahabat mulai membicarakan siapakah mereka itu. Di antara mereka ada yang mengatakan:

○》Mungkin mereka adalah orang-orang yang menjadi shahabat Rasulullah

Ada lagi yang mengatakan:

○》 Mungkin mereka adalah orang-orang yang dilahirkan dalam lingkungan Islam, sehingga mereka tidak pernah berbuat kesyirikan!

○》Dan ada di antara mereka yang menyebutkan kemungkinan lainnya.

Maka Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- keluar dan menemui mereka dan menjelaskan:

1》 Mereka adalah orang-orang tidak meminta diruqyah!

2》 Tidak meminta diobati dengan cara kai (menempel luka dengan besi panas)!

3》 Tidak melakukan Tathayur! dan

4》 Mereka adalah orang-orang yang bertawakal kepada Rabb mereka” (📚 HR. Bukhari 5752, 6541 dan Muslim 220)

Pada riwayat Al imam Al Bukhari -rahimahulla- disebutkan:

هُمْ الَّذِينَ لَا يَتَطَيَّرُونَ وَلَا يَسْتَرْقُونَ وَلَا يَكْتَوُونَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Mereka itu tidak melakukan thiyaroh (beranggapan sial), tidak meminta untuk diruqyah, dan tidak menggunakan kay (pengobatan dengan besi panas), dan hanya kepada Rabb merekalah, mereka bertawakkal.” (📚 HR. Bukhari no. 5752)

Kita sadurkan penjelasan para Ulama -rahimahullah Ta'ala-

1》 Mereka adalah orang-orang yang tidak meminta diruqyah

Ruqyah : adalah bacaan-bacaan tertentu untuk perlindungan yang dibacakan kepada seseorang yang menderita penyakit, semisal:

penyakit demam,

penyakit ayan dan

penyakit yang lainnya. (📚 An Nihayah fi Gharibil Atsar, karya Ibnul Atsir)

Asy Syaikh Ibnu Utsaimin -rahimahullah- menyebutkan diantara syarat-syarat ruqyah yang disyari’atkan adalah:

[1] Tidak meyakini bahwa ruqyah tersebut mampu menyembuhkan dengan sendirinya, tanpa izin dari Allah ta’ala.

[2] Tidak mengandung kata-kata yang menyelisihi syariat, semisal lafadz-lafadz doa kepada selain Allah, meminta bantuan kepada jin dan yang semisalnya.

[3] Lafadz-lafadz ruqyah hendaklah dapat dipahami maknanya. (📚 Al Qoulul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid, hlm. 187)

Meminta Ruqyah (walaupun) yang sesuai syari’at, hukumnya (Tetap) Makruh

Kenapa?

Asy Syaikh Ibnu Utsaimin -rahimahullah- menjelaskan :

Mereka tidak meminta ruqyah kepada siapa pun, karena:

1》Kuatnya penyandaran diri mereka kepada Allah Ta’ala.

2》 Mulianya jiwa mereka dari merendahkan diri kepada selain Allah ‘azza wa jalla.

3》Karena dalam perbuatan itu ada bentuk ketergantungan kepada selain Allah subhanahu wa Ta’ala.” (📚 Al-Qoulul Mufid 'ala Kitabit Tauhid, 1/103)

Asy Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alu Syaikh -rahimahullah- menjelaskan:

لأن الطالب للرقية يكون في قلبه ميل للراقي ، حتى يرفع ما به من جهة السبب . وهذا النفي الوارد في قوله : « لا يسترقون » ؛ لأن الناس في شأن الرقية تتعلق قلوبهم بها جدا أكثر من تعلقهم بالطب ونحوه

“Karena meminta ruqyah akan menyebabkan hati cenderung (ketergantungan hati) kepada peruqyah, sampai ia bisa menyangka peruqyah adalah penyebab kesembuhan. Inilah maksud menafikan dalam hadist “tidak minta diruqyah”, karena manusia terkait ruqyah bisa jadi hari mereka lebih bergantung pada mereka pada ruqyah daripada pengobatan kedokteran atau sejenisnya,” (📚 At-Tamhid hlm. 33)

Al Imam Ibnu Taimiyyah -rahimahullah- juga menjelaskan bahwa pujian/reward pada hadits tersebut karena orang tersebut tidak terlalu mengandalkan orang lain dalam berdoa, tetapi ia sendiri berdoa kepada Allah dan meminta.

👉 Beliau berkata:

فمدح هؤلاء بأنهم لا يسترقون: أي لا يطلبون من أحد أن يرقيهم، والرقية من جنس الدعاء فلا يطلبون من أحد ذلك” [مجموع

“Pujian bagi orang yang tidak meminta diruqyah pada orang lain karena ruqyah itu semacam doa, hendaknya ia tidak meminta orang lain (untuk didoakan).” (📚 Majmu’ Fatawa 1/182)

☝Hal ini merupakan kesempurnaan tauhid dan iman seseorang yaitu hanya kepada Allah ia bersandar dan berharap.

Al Imam Ibnul Qayyim -rahimahullah- menjelaskan:

وذلك لأن هؤلاء دخلوا الجنة بغير حساب لكمال توحيدهم ، ولهذا نفى عنهم الاسترقاء وهو سؤال الناس أن

“Mereka yang masuk surga tanpa hisab dan adzab karena kesempurnaan tauhid mereka. mereka tidak meminta diruqyah yaitu meminta kepada orang lain untuk meruqyah mereka (lebih baik ia sendiri langsung meminta kepada Allah).” (📚 Zaadul Ma’aad, 1/475) dan pendapat inilah yang lebih menenangkan adalah (kita) berusaha sebisa mungkin tidak meminta diruqyah oleh orang lain, tetapi kita hendaknya meruqyah diri sendiri dan langsung meminta kepada Allah di waktu dan tempat yang mustajab. Wallahu a'lam

2》 Tidak meminta diobati dengan cara kai (menempel luka dengan besi panas)!

Ibnul Atsir -rahimahullahu- membawakan pendapat bahwa hukum pengobatan kai adalah terlarang jika digunakan sebagai media pencegahan penyakit, namun hukumnya mubah ketika ada kebutuhan. (📚 An Nihayah fi Gharibil Atsar)

Al Imam Ibnul Qayyim -rahimahullah- menjelaskan beberapa hadits terkait dengan pengobatan kay (tidak kita paparkan disini karena tidak memungkinkan ruangnya) Beliau berkata:

فقد تضمنت أحاديث الكي أربعة أنواع أحدها : فعله والثاني : عدم محبته له والثالث الثناء على من تركه والرابع النهي عنه ولا تعارض بينها بحمد الله تعالى فإن فعله يدل على جوازه وعدم محبته له لا يدل على المنع منه . وأما الثناء على تاركه فيدل على أن تركه أولى وأفضل . وأما النهي عنه فعلى سبيل الاختيار والكراهة أو عن النوع الذي لا يحتاج إليه بل يفعل خوفا من حدوث الداء

Hadist-hadist tentang Kay mengandung empat hal:

[1] yang pertama bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menggunakan Kay,

[2] yang kedua: beliau tidak menyukainya,

[3] yang ketiga: memuji orang yang bisa meninggalkannya,

[4] keempat: larangan beliau terhadap penggunaan Kay.

Keempat hal tersebut tidaklah bertentangan satu dengan yang lainnya -segala puji bagi Allah. Adapun perbuataannya menggunakan kay, menunjukkan kebolehannya, sedangkan ketidak senangan beliau tidak menunjukkan larangan, adapaun pujian beliau kepada orang yang meninggalkannya menunjukkan bahwa meninggalkan pengobatan dengan kay adalah lebih baik, sedangkan larangan beliau itu berlaku jika memang ada pilihan lain, atau maksudnya makruh, atau menggunakannya untuk hal-hal yang tidak diperlukan, seperti takut terjadi sesuatu penyakit pada dirinya.” (📚 Zaadul Al Ma’ad 4/ 58)

Al Imam An-Nawawi -rahimahullah- menjelaskan pengobatan kay adalah pilihan terakhir karena menimbulkan rasa sakit yang sangat. Beliau menjelaskan:

وقوله صلى الله عليه و سلم ما أحب أن أكتوى إشارة إلى تأخير العلاج بالكى حتى يضطر إليه لما فيه من استعمال الألم الشديد فى دفع ألم قد يكون أضعف من ألم الكى

“Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: saya tidak menyukai kay adalah isyarat agar mengakhirkan berobat dengan kay hingga terpaksa. Karena menggunakan kay akan menimbulkan rasa sakit yang sangat. Terkadang sakit (karena penyakit) lebih ringan dari sakit yang ditimbulkan oleh kay. (📚 Syarh Shahih Muslim 14/139)

Jika ada kekurangan dan kesalahan mohon dimaafkan, karna kesempurnaan hanya milik Allah Tabaraka Wa Ta'ala. Semoga Bermanfaat.

Baarakallahu Fiikum.