Mana Yang Utama Ketika Safar Puasa Atau Berbuka

Febri Hidayan
29 April 2020 - 21:56


Mana yang Afdhal (Lebih Utama) yang Dilakukan Ketika Safar: Puasa atau Berbuka?

Para ulama sepakat bahwasannya safar merupakan sebab diperbolehkannya berbuka bagi orang yang berpuasa, sebagaimana firman Allah ta’ala:

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain” [Surah Al-Baqarah: 184].

حدثنا يحيى بن يحيى. أخبرنا أبو خيثمة عن حميد. قال: سئل أنس رضي الله عنه عن صوم رمضان في السفر ؟ فقال: سافرنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم في رمضان. فلم يعب الصائم على المفطر ولا المفطر على الصائم.

Telah menceritakan kepada kami Yahyaa bin Yahyaa: Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Khaitsamah, dari Humaid, ia berkata: Anas radliyallaahu ‘anhu pernah ditanya tentang puasa Ramadlaan ketika safar, maka ia menjawab: “Kami pernah bersafar bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pada bulan Ramadlaan. Maka, orang yang berpuasa tidaklah mencela orang yang berbuka. Begitu pula orang yang berbuka tidak mencela orang yang berpuasa” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 1118)

Dari pendapat jumhur yang menyatakan kebolehan tetap berpuasa dalam keadaan safar, mereka berbeda pendapat tentang keafdlalan antara berbuka atau tetap berpuasa bagi musafir, yang terbagi menjadi dua kelompok besar:

Pembahasan Mana yang Afdlal (Lebih Utama) yang Dilakukan Ketika Safar: Puasa atau Berbuka ? Terdapat silang pendapat insya Allah kita bahas:

Pendapat Pertama: Mereka (para Fuqaha) berpendapat bahwasanya Berbuka adalah Afdhal (Lebih Utama)

Di antara ulama yang memegang pendapat ini adalah Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Sa’id bin Al Musayyib, Asy Sya’bi, Al Auza’i, Ishaq (bin Rahawaih), Ahmad dan yang masyhur dalam madzhabnya, Ibnu Habib, serta Ibnu Majisyun dari kalangan shahabat Malik (bin Anas) -rahimahumullah-. (Jami’ul Fiqh, 3/149, Al Ifshah 1/247, Al Inshaf 3/287, Ar Raudhun Nadi, hlm. 162, dan Al Fawakihud Dawani, 1/364)

Dan Inilah yang menjadi pilihan Ibnu Taimiyyah -rahimahullah-. (Mausu’ah Fiqhi Ibni Taimiyah, 2/938)

Dalil (Agumentasi) utama yang mereka (ulama yang kita isyaratkan diatas-red) pakai adalah:

عن حمزة بن عمرو الأسلمي رضي الله عنه قال: يا رسول الله ! إني أجد بي قوّة على صيام في السفر. فهل علي جناح؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((هي رخصة من الله، فمن أخذ بها فحسن، ومن أحب أن يصوم فلا جناح عليه)).

Dari Hamzah bin ‘Amr Al Aslami -radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku merasa kuat berpuasa dalam perjalanan/safar. Apakah dalam hal ini aku berdosa ?”. Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda: “Berbuka merupakan keringanan (rukhshah) dari Allah. Barangsiapa yang mengambil keringanan itu, maka baik, dan barangsiapa yang senang untuk berpuasa, maka tidak ada dosa baginya” (Diriwayatkan oleh Muslim, no. 1121, An Nasa’i, no. 2303, Ibnu Majah, no. 2026, dan Al Baihaqi, no. 7947)

Sisi pendalilannya adalah bahwasannya Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda pada pihak yang berbuka puasa pada waktu safar: “Berbuka merupakan keringanan (rukhshah) dari Allah. Barangsiapa yang mengambil keringanan itu, maka baik”, dan di lain pihak beliau bersabda kepada pihak yang tetap berpuasa pada waktu safar: “Dan barangsiapa yang senang untuk berpuasa, maka tidak ada dosa baginya”. Beliau -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- hanya mencukupkan pada penafikan dosa bagi orang yang tetap berpuasa, dan di lain pihak beliau memberikan pujian bagi orang yang berbuka. Ini merupakan dalil yang kuat yang menunjukkan berbuka puasa ketika safar adalah afdhal (lebih utama). Tidak ada bedanya apakah padanya terdapat kesulitan (masyaqqah) atau tidak. Hal ini ditunjukkan pada perkataan Hamzah: “sesungguhnya aku merasa kuat berpuasa dalam perjalanan/safar” (إني أجد بي قوّة على صيام في السفر).

✓ Mengenai rukhshah dalam syari’at, maka telah shahih hadits yang menyinggung hal itu:

عن بن عمر قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ان الله يحب أن تؤتى رخصه كما يكره أن تؤتى معصيته

Dari Ibnu Umar, ia berkata: Telah bersabda Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-: “Sungguh Allah menyukai dilaksanakan rukhshah (keringanan)-Nya, sebagaimana Dia membenci dilaksanakan maksiat kepada-Nya” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, 2/108 dan Ibnu Hibban, no. 2742. Dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Irwaul Ghalil, 3/9, no. 564)

Beliau -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- sendiri menegaskan tidak ada kebaikan berpuasa dalam safar melalui sabdanya:

ليس من البر الصوم في السفر

“Berpuasa di dalam perjalanan bukanlah sebuah kebaikan” (Diriwayatkan oleh Al Bukhari, no. 1946 dan Muslim, no. 1115, dari hadits Jabir bin Abdillah -radhiyallahu ‘anhu-)

Dan beliau -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- telah mencela orang-orang yang tetap berpuasa saat hari pembebasan kota Makkah (Fat-hu Makkah):

أولئك العصاة

“Mereka (orang yang tetap berpuasa) adalah orang yang durhaka” (Diriwayatkan oleh An Nasa’i, no. 2263; shahih)

Kita beralih ke;

Pendapat Kedua: Sebagian Fuqaha berpendapat bahwasanya: Berpuasa adalah Afdhal (Lebih Afdhal)

Berpuasa saat safar afdhal bagi mereka yang mampu (dengan catatan tanpa menimbulkan mudharat) merupakan pendapat Anas (bin Malik), Utsman bin Abil ‘Ash, ulama Hanafiyyah, ulama Malikiyyah, dan ulama Syafi’iyyah. (Jami’ul Fiqh 3/150, Al Ikhtiyar 1/134, Fathul Qadir, 2/351, Hasyiyyah Ibni ‘Abidin, 2/117, Al Kafi, hlm. 121, Al Fawakihud Dawani, 1/364, Bulghatul Masalik, 1/243, At Tanbih, hlm. 66, Raudhatuth Thalibin, 2/370, dan Al Majmu’, 6/265)

Dalil (Aegumentasi) utama yang mereka pakai adalah:

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ.

“Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui” (Surah Al Baqarah: 184)

Ayat di atas merupakan nash sharih (jelas) yang menunjukkan keutamaan berpuasa jika sanggup, dibandingkan mereka yang berbuka.

Selain itu, Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- dan sebagian shahabat tetap melanjutkan puasa saat shahabat yang lainnya berbuka:

عن أبي الدرداء رضي الله عنه ؛ قال: خرجنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم في شهر رمضان في حر شديد. حتى إن كان أحدا ليضع يده على رأسه من شدة الحر. وما فينا صائم، إلا رسول الله صلى الله عليه وسلم وعبدالله بن رواحة.

Dari Abud Dardaa’ -radhiyallaahu ‘anhu-, ia berkata: Kami pernah keluar bersama Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- di bulan Ramadhan pada hari yang sangat panas. Sehingga ada seseorang di antara kami yang meletakkan tangannya di kepalanya karena cuaca yang sangat panas. Di antara kami tidak ada yang berpuasa kecuali Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan Abdullah bin Rawahah (-radhiyallahu ‘anhu-)” (Diriwayatkan oleh Al Bukhari, no. 1945 dan Muslim, no. 1122)

Sisi pendalilannya adalah: Jika memang berbuka puasa memang afdhal secara mutlaq di sisi syari’at, tentu Beliau -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- akan berbuka bersama shahabat yang lain. Apalagi cuaca pada hari itu adalah sangat terik yang pada asalnya diperbolehkan untuk berbuka karena ada kesulitan di dalamnya. Jika ada yang mengatakan bahwa hal itu dikhususkan bagi beliau saja, maka terbantah dengan perbuatan ‘Abdullah bin Rawaahah -radhiyallahu ‘anhu- yang ikut berpuasa bersama beliau sementara beliau tidak berkomentar apapun tentangnya.

Tarjih

Yang rajih (kuat) menurut (kita) di antara dua pendapat tersebut adalah pendapat kedua yang mengatakan berpuasa ketika safar afdhal bagi mereka yang mempunyai kemampuan/kekuatan. Jika tidak, maka boleh berbuka dan itu afdhal baginya. 

Pendalilan yang dipakai oleh pendapat pertama dijawab sebagai berikut:

1. Hadits Hamzah bin ‘Amr Al Aslami -radliyallahu ‘anhu-

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- memberikan pilihan bagi Hamzah, untuk tetap berpuasa atau berbuka:

عن عائشة رضي الله عنها ؛ أنها قالت: سأل حمزة ابن عمرو الأسلمي رسول الله صلى الله عليه وسلم: عن الصيام في السفر ؟ فقال: "إن شئت فصم، وإن شئت فأفطر".

Dari Aisyah -radliyallahu ‘anha-, ia berkata: Hamzah bin ‘Amr Al Aslami pernah bertanya kepada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- perihal berpuasa di waktu safar. Maka beliau bersabda  “Jika engkau menghendaki silakan berpuasa, dan jika engkau menghendaki silakan berbuka” (HR. Al Bukhari, no. 1943 dan Muslim, no. 1121)

عن حمزه بن عمرو الأسلمي رضي الله عنه - رضي الله عنه -: أنه سأل رسول الله صلى الله عليه وسلم عن الصيام في السفر ؟ فقال: أي ذلك عليك أيسر فافعل. يعني إفطار رمضان أو صيام في السفر.

Dari Hamzah bin ‘Amr Al Aslami -radliyallahu ‘anhu-: Bahwasannya ia pernah bertanya kepada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- perihal berpuasa di waktu safar. Maka beliau bersabda: “Mana saja yang paling ringan bagimu, maka lakukanlah–yakni antara berbuka di bulan Ramadhan atau berpuasa di waktu safar– (Diriwayatkan dalam Al Fawaaid, 161/1 dengan sanad shahih. Lihat Silsilah Ash Shahihah, no. 2884)

Dua riwayat ini sama sekali tidak menunjukkan pengutamaan berbuka dibandingkan berpuasa ketika safar. Beliau -shallallahu ‘alaihi wa sallam- memberikan pilihan kepada Hamzah dengan pertimbangan kemudahan. Manusia – sebagaimana tabiatnya – mempunyai kemampuan yang berbeda-beda. Ada sebagian manusia yang menganggap lebih ringan untuk berpuasa dengan tidak menggantinya di saat mereka tidak diwajibkan berpuasa, dan ada sebagian lain ada yang tidak mempersoalkan sehingga mereka pun mengambil rukhshah kemudian menggantinya di waktu yang lain.

Adapun sabda Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-: “barangsiapa yang senang untuk berpuasa, maka tidak ada dosa baginya” – bagi yang berpuasa ketika safar, maka tidak selalu menunjukkan bahwa hal itu berkonsekuensi berpuasa mempunyai kedudukan lebih rendah dari lawannya (tidak berpuasa). Perbuatan yang dinafikkan adanya dosa padanya kadangkala merupakan perbuatan yang disyari’atkan dan mempunyai keutamaan, bahkan merupakan bagian dari satu kewajiban. Hanya saja datangnya nash tentang dicabutnya dosa ini untuk menghilangkan kesalahpahaman atau dugaan orang yang menganggapnya satu dosa jika melakukannya. Contoh yang cukup baik dalam perkara ini adalah satu riwayat yang dibawakan oleh Az  Zuhri, dari ‘Urwah, ia berkata:

سألت عائشة رضي الله عنها، فقلت لها: أرأيت قول الله تعالى: {إن الصفا والمروة من شعائر الله فمن حج البيت أو اعتمر فلا جناح عليه أن يطوف بهما}. فوالله ما على أحد جناح أن لا يطوف بالصفا والمروة، قالت: بئس ما قلت يا ابن أختي، إن هذه لو كانت كما أولتها عليه، كانت: لا جناح عليه أن لا يتطوف بهما، ولكنها أنزلت في الأنصار، كانوا قبل أن يسلموا، يهلون لمناة الطاغية، التي كانوا يعبدونها عند المشلل، فكان من أهل يتحرج أن يطوف بالصفا والمروة، فلما أسلموا، سألوا رسول الله صلى الله عليه وسلم عن ذلك، قالوا: يا رسول الله، إنا كنا نتحرج أن نطوف بين الصفا والمروة، فأنزل الله تعالى: ( إن الصفا والمروة من شعائر الله). الآية.

قالت عائشة رضي الله عنها: وقد سن رسول الله صلى الله عليه وسلم الطواف بينهما، فليس لأحد أن يترك الطواف بينهما.

Aku bertanya kepada Aisyah -radliyallahu ‘anha-, maka aku katakan kepadanya: “Apa pendapatmu mengenai firman Allah Ta’ala: ‘Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syi’ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-‘umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sai antara keduanya’ (Al Baqarah: 158). Maka demi Allah, tidak ada dosa pula bagi seorang pun untuk tidak melakukan thawaf antara Shafa dan Marwah”. ‘Aisyah berkata: “Sungguh jelek apa yang engkau katakan wahai anak saudariku. Sesungguhnya ayat tersebut jika pengertiannya seperti yang engkau ta’wilkan, tentu itu akan berkonsekuensi: tidak ada dosa untuk tidak melakukan thawaf antara keduanya. Akan tetapi ayat tersebut turun berkenaan dengan orang-orang Anshar ketika dahulu mereka sebelum masuk Islam, mereka berteriak sambil ber-talbiyah kepada berhala Manaat yang dulu mereka sembah di daerah Musyallal; sehingga orang yang ber-ihram merasa berdosa melakukan thawaf (sa’i) antara Shafa dan Marwah. Dan ketika mereka telah masuk Islam, mereka bertanya kepada Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- perihal tersebut. Mereka berkata: ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami merasa berdosa jika melakukan thawaf di Shafa dan Marwah’. Maka Allah menurunkan ayat: ‘Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syi’ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-‘umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sai antara keduanya’ (Suruh Al Baqarah: 158)”.

Aisyah -radliyallaahu ‘anha- berkata: “Dan sungguh Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- telah men-sunnah-kan thawaf (sa’i) di antara keduanya. Maka tidak boleh bagi seorang pun untuk meninggalkan thawaf di antara keduanya” (Diriwayatkan oleh Al Bukhari, no. 1643, Ahmad 6/144, Al Humaidi, no. 219, Muslim, no. 1277, At Tirmidzi, no. 2965, dan yang lainnya)

Jika demikian, maka sabda Beliau -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-:

ومن أحب أن يصوم فلا جناح عليه

“Dan barangsiapa yang senang untuk berpuasa, ”.

bukan bermakna tarjih untuk berbuka atas yang berpuasa. Namun maknanya pencabutan dosa atas kekhawatiran adanya anggapan sebagian orang bahwa berpuasa ketika safar adalah dilarang/berdosa.

Maka, meskipun hadits Hamzah bin ‘Amr -radliyallaahu ‘anhu- menegaskan adanya kebaikan bagi orang yang berbuka, bukan berarti orang yang berpuasa tidak ada kebaikan. Dua-duanya mempunyai kebaikan. Dan kebaikan itu tergantung pada keadaan diri masing-masing yang menjalankannya. Jika mampu berpuasa dan ia merasa ringan untuk mengerjakannya, maka berpuasa itu afdhal (lebih utama) dibandingkan berbuka. Jika sebaliknya, maka berbuka afdhal dibandingkan berpuasa.

2. Hadits Ibnu Umar -radliyallahu ‘anhuma-.

Hadits ini tidak bisa dibawa secara mutlaq, namun dibawa pada orang yang merasakan berat atau kesulitan saat menjalankan puasa ketika safar. Dalam hal itu, maka ia dianjurkan mengambil rukhshah sebagai bentuk pengamalan firman Allah Ta’ala:

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu” (Surah Al Baqarah: 185)

3. Hadits Jaabir bin Abdillah -radliyallahu ‘anhu-

Hadits ini berkaitan dengan orang yang berpuasa sementara ia merasa kepayahan dalam menjalankannya. Selengkapnya hadits tersebut – sebagaimana disebutkan oleh Al Imam Muslim -rahimahullah– adalah:

عن جابر بن عبدالله رضي الله عنه. قال : كان رسول الله صلى الله عليه وسلم في سفره. فرأى رجلا قد اجتمع الناس عليه. وقد ضلل عليه. فقال: "ما له ؟" قالوا: رجل صائم. فقال رسول الله عليه وسلم: "ليس من البر أن تصوموا في السفر".

Dari Jabir bin Abdillah -radliyallahu ‘anhu- ia berkata: Saat Rasulullah -shallalahu ‘alaihi wa sallam- tengah berada dalam safarnya, beliau melihat seorang laki-laki yang dikerumuni orang banyak dan diberi naungan. Beliau bertanya: “Kenapa dia?”. Mereka menjawab: “Ia sedang berpuasa”. Maka Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda: “Berpuasa di dalam perjalanan bukanlah sebuah kebaikan”.

Dan apa yang terjadi pada hadits di atas, juga dikisahkan oleh Anas -radliyallahu ‘anhu-:

كنا مع النبي صلى الله عليه وسلم في السفر. فمنا الصائم ومنا المفطر. قال: فنزلنا منزلا في يوم حار. أكثرنا ظلا صاحب الكساء ومنا من يتقي الشمس بيده. قال: فسقط الصوام. وقام المفطرون فضربوا الأبنية وسقوا الركاب. فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم "ذهب المفطرون اليوم بالأجر".

“Kami pernah menyertai Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dalam safar. Ada sebagian di antara kami yang berpuasa, dan sebagian lain yang berbuka. Lalu kami berhenti di suatu tempat pada hari yang panas. Kebanyakan kami membuat naungan dengan kain yang kami bawa, dan sebagian yang lain bernaung dari terik matahari dengan tangan. Orang-orang yang berpuasa tergeletak, sedangkan orang-orang yang berbuka tetap tegar. Lalu mereka membuat tempat berteduh dan mereka memberi minum hewan-hewan tunggangan. Maka Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda: ‘Pada hari ini orang-orang yang berbuka pergi sambil membawa pahala” (Diriwayatkan oleh Al Bukhari, no. 2890 dan Muslim, no. 1119)

Jika-nya keadaan demikian, tidak diragukan lagi bahwa berbuka lebih utama/baik bagi mereka.

4. Hadits Jabir bin Abdillah -radliyallahu ‘anhu- tentang peristiwa Fathu Makkah.

Hadits ini sama halnya dengan hadits Jabir sebelumnya. Perintah Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- untuk berbuka karena dalam safar tersebut karena ada kesulitan, yaitu safar dalam rangka jihad (berperang). Dalam hal ini, berbuka lebih utama karena terdapat kemaslahatan yang besar agar mereka dapat lebih kuat berperang untuk menghadapi musuh. ‘Illat ini tergambar dalam riwayat berikut:

عن قزعة قال: أتيت أبا سعيد الخدري رضي الله عنه وهو مكسور عليه. فلما تفرق الناس عنه، قلت: إني لا أسألك عما يسألك هؤلاء عنه. سألته عن الصوم في السفر ؟ فقال: سافرنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم إلى مكة ونحن صيام. قال: فنزلنا منزلا. فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "إنكم قد دنوتم من عدوكم والفطر أقوى لكم". فكانت رخصة. فمنا من صام ومنا من أفطر. ثم نزلنا منزلا آخر. فقال: "إنكم مصبحوا عدوكم. والفطر أقوى لكم، فأفطروا" وكانت عزمة. فأفطرنا. ثم قال: رأيتنا نصوم، مع رسول الله صلى الله عليه وسلم بعد ذلك، في السفر.

Dari Faza’ah ia berkata: “Aku pernah datang kepada Abu Sa’id Al Khudri ketika ia sedang menerima tamu yang banyak. Setelah para tamu sudah bubar, aku katakan kepada Abu Sa’id: ‘Aku tidak menanyakan kepadamu apa yang ditanyakan oleh mereka tadi. Aku menanyakan perihal puasa ketika safar’. Maka Abu Sa’id berkata: ‘Kami pernah melakukan safar menuju Makkah bersama Rasulullah -shallalaahu ‘alaihi wa sallam- ketika kami sedang berpuasa. Lalu kami berhenti di suatu tempat. Kemudian Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda: ‘Sesungguhnya kalian telah dekat dengan musuh kalian dan berbuka akan lebih menguatkan tubuh kalian’. Hal itu merupakan rukhshah (keringanan). Sebagian dari kami ada yang berpuasa, dan sebagian yang lain ada yang berbuka. Kemudian kami berhenti lagi di tempat lain. Beliau -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- kembali bersabda: ‘Sungguh, kalian besok pagi akan menghadapi musuh, dan berbuka akan lebih menguatkan tubuh kalian. Oleh karena itu, berbukalah kalian!’. Lalu kami pun berbuka. Setelah peristiwa itu, aku ketahui bahwa kami berpuasa bersama Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- ketika safar” (Diriwayatkan oleh Muslim, no. 1120)

Akhirnya, tarjih ini lebih nampak kebenarannya dengan adanya riwayat:

عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه: كنا نغزو مع رسول الله صلى الله عليه وسلم في رمضان فمنا الصائم ومنا المفطر. فلا يجد الصائم على المفطر. ولا المفطر على الصائم. يرون أن من وجد قوة فصام، فإن ذلك حسن ويرون أن من وجد ضعفا فأفطر فإن ذلك حسنا.

Dari Abu Sa’id Al Khudri, ia bekata: “Kami pernah melakukan safar bersama Rasulullah -shallalaahu ‘alaihi wa sallam-. Ada di antara kami yang berpuasa, ada pula di antara kami yang berbuka. Tidaklah orang yang berpuasa marah kepada orang yang berbuka, dan orang yang berbuka marah kepada orang yang berpuasa. Mereka (para shahabat) berpendapat bahwa barangsiapa yang mempunyai kekuatan/kemampuan dan ia berpuasa, maka itu baik baginya. Dan barangsiapa yang mendapatkan kelemahan dan ia berbuka, maka itu baik baginya” (Diriwayatkan oleh Muslim, no. 1116 dan At Tirmidzi, no. 713)

Akhirnya Kesimpulan kita : Berpuasa ketika safar adalah afdhal bagi mereka yang mempunyai kemampuan/kekuatan (tanpa menimbulkan mudharat bagi dirinya). Namun jika mendapatkan kelemahan, mengambil rukhshah untuk berbuka adalah afdhal.

Safar Puasa Puasa Ramadhan Fiqih Puasa