Maulid Nabi Bukan Berasal Dari Ahlus Sunnah

Dhika Syahputra
19 February 2020 - 08:00


Maulid Nabi Bukan Berasal Dari Ahlus Sunnah

Perlu diketahui : "bahwa yang mengadakan perayaan Maulid pertama kali adalah Fatimiyun ¹ ('Ubaidiyun)". (📚 Lihat Al Maulid, hlm. 20) juga Asy Syaikh ‘Ali Mahfuzh dalam (📚 Al Ibda’ fi Madharil Ibtida’ (hlm. 251)

Syaikh Bakhit Al-Muthi’iy (seorang Mufti Mesir terdahulu) -rahimahullah- menjelaskan:

Pemerintahan Al-Mu’izz Lidinillah pada tahun 362 H (sebagian referensi menyebut 361 H ). 

Al-Muiz li Dinillah ini adalah keturunan Bani Ubaid al-Fathimiyun. Dia (lah-pent) yang pertama memprakarsai peringatan 6 Maulid:

1. Maulid Nabi,

2. Maulid Ali bin Abi Tholib,

3. Maulid Fathimah,

4. Maulid al-Hasan,

5. Maulid al-Husain,

6. Maulid Khalifah pada saat itu. (📚 Lihat Ahsanul Kalam Fima Yata’allaqu Bissunnah wal Bid’ah Minal Ahkam hlm. 44-45) hal ini diperkuat oleh penjelasan : Al-Imam Maqrizi dalam (📚 Al-Mawa-‘idzh Wal I’tibar) dan juga Ali Mahfudzh dalam (📚 Al-Ibda’ fi Madharil Ibtida’ hlm. 126) juga Oleh Hasan As-Sandubiy dalam (📚 Tarikh al-Ihtifal bi Maulidin Nabi) dan Oleh Ali Al-Jundi dalam (📚 Nafkhul Azhar), dan juga Oleh Syaikh Ismail Al-Anshari dalam (📚 Al-Qoulul Fashl fii Hukmil Ihtifaal bi Maulidi Khayrir Rasul hlm. 64-72)

--------

Kesimpulan Maulid Nabi bukan berasal dari Ahlus Sunnah❗

--------

✓ Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-‘Asqalani -rahimahullah- menyatakan:

أصل عمل المولد بدعة لم تنقل عن أحد من السلف الصالح من القرون الثلاثة…

Asal perbuatan (memperingati) Maulid (Nabi) adalah bid’ah yang tidak pernah ternukil dari Salafus Shalih seorangpun dari 3 kurun generasi (awal)…

(📚 Al-Hawiy lil Fatawa lis-Suyuuthiy 1/282)

✓ Al-Imam As-Sakhawi -rahimahullah- menyatakan:

أصل عمل المولد الشريف لم ينقل عن أحد من السلف الصالح في القرون الثلاثة الفاضلة، وإنما حدث بعدها بالمقاصد الحسنة…

Asal perbuatan (memperingati) Maulid yang mulia tidaklah ternukil dari Salafus Shalih seorangpun pada 3 kurun generasi yang utama. (Peringatan Maulid itu) hanyalah dilaksanakan setelah (3 kurun itu) dengan tujuan yang baik … (📚 Al-Maulidur Rawi fil Maulidin Nabawi karya Mula Ali Qoriy, hlm. 12)

✓ Al Imam As-Syathibi -rahimahullah- mengatakan :

فمعلوم أن إقامة المولد على الوصف المعهود بين الناس بدعة محدثة وكل بدعة ضلالة

“Semua paham bahwa mengadakan Maulid seperti yang ada di masyarakat di masa ini adalah bidah, sesuatu yang baru dalam agama. Dan semua bidah adalah sesat.” (📚 Lihat Fatawa As-Syatibi, hlm. 203)

---------

Kita ingatkan dengan perkataan Shahabat yang mulia Ibnu Mas’ud -radhiyallahu ‘anhu- tentang Niat baik saja tidak cukup!

وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ

“Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun tidak mendapatkannya.” ( HR. Ad Darimi 1/79, Al Bazzar dalam Tarikh Wasith 1/198, dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah 5/11)

Kita tidak mengikari ada Ulama yang berijtihad dengan berpendapat Bid’ah ada yang (bid’ah) Hasanah!?

Namun kita lebih cenderung dengan penafsiran salah satu Ahli Tafsir dari kalangan Shahabat Yang Mulia Ibnu ‘Umar -radhiyallahu ‘anhuma- yang mengatakan:

كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ ، وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً

“Setiap bid’ah adalah sesat, walaupun manusia menganggapnya baik.”

(أخرجه ابن نصر المروزي (رقم: 83) واللالكائي في "شرح أصول الإعتقاد" (1/ رقم: 126) وابن بطة في "الإبانة" (رقم: 205) والبيهقي في المدخل، (رقم: 191).

من طرق، عن هشام بن الغاز، عن نافع، عن ابن عمر به.

وهذا إسناد صحيح

Al Imam Az-Zuhri -rahimahullah- berkata:

"Sungguh, tak ada satupun dari urusan Rasulullah -shallallahu 'alaihi wa sallam- dan para sahabatnya yang tersembunyi bagi Ibnu Umar” (📚 Lihat Al-Ishabah no.4825 dan Tahdzib al-Asma’ 1/278, Thabaqat Ibn Sa’ad 4/105)

Dan Allah -Subhaanahu Wa Ta’ala- berfirman :

…لَوْ كَانَ خَيْرًا مَا سَبَقُونَا إِلَيْهِ…

…Kalau seandainya itu adalah kebaikan, niscaya mereka tidak akan mendahului kita dalam hal itu…(📖 Al-Ahqaf: 11)

Al-Imam Al Hafidz Ibnu Katsir Asy-Syafi'i (salah satu ulama bermadzhab Syafi'i-red) -rahimahullah- mengatakan dalam tafsirnya:

وأما أهل السنة والجماعة فيقولون في كل فعل وقول لم يثبت عن الصحابة: هو بدعة؛ لأنه لو كان خيرا لسبقونا إليه، لأنهم لم يتركوا خصلة من خصال الخير إلا وقد بادروا إليها

Adapun Ahlussunnah wal Jama’ah mereka mengatakan pada setiap perbuatan dan ucapan yang tidak ada dari para Shahabat Nabi, maka itu adalah bid’ah. Karena jika hal itu (ucapan atau perbuatan itu) baik, niscaya mereka (para Sahabat Nabi) akan mendahului kita dalam hal itu. Karena mereka (para Sahabat Nabi) tidaklah meninggalkan satu saja perilaku kebaikan kecuali mereka adalah yang terdepan dalam mengerjakannya (📚 Lihat Tafsir Ibn Katsir dalam menafsirkan surat Al-Ahqaf : 11)

--------

¹. Bani Fatimiyyun adalah di antara manusia yang paling fasik (banyak bermaksiat) dan paling kufur.” (📚 Lihat Majmu’ Fatawa, 35/127)

Bahkan sampai-sampai para Ulama -rahimahullah- menulis kitab khusus untuk membantah Fatimiyyun dintaranya “Kasyful Asror wa Hatkul Astar (Menyingkap rahasia dan mengoyak tirai)”. Dalam kitab tersebut, beliau membuka kedok Fatimiyun dengan mengatakan, *“Mereka adalah suatu kaum yang menampakkan pemahaman Rafidhah (Syi’ah) dan menyembunyikan kekufuran semata.”* (📚 Lihat Kasyful Asrar wa Hatkul Astar, karya Al Qadhi Al Baqillaniy) `

Lalu Sunnah Siapa yang kita hidupkan❗

Padahal jauh-jauh hari Nabi Kita Muhammad -shallallahu 'alaihi wa sallam- sudah mengingatkan kita :

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

”Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR. Ahmad dan Abu Dawud. Syaikhul Islam dalam Iqtidho’ 1/269)

-------

Renungan

Seberapa besar kecintaan kita dibanding shahabat

✓ Shahabat Ali bin Abi Thalib -radhiyallahu 'anhu- pernah ditanya:

”Bagaimanakah cinta kalian terhadap Rasulullah?”, beliau menjawab:

 كَانَ وَاللهِ أَحَبَّ إِلَيْنَا مِنْ أَمْوَالِنَا وَأَوْلاَدِنَا وَآبَائِنَا وَأُمَّهَاتِنَا وَمِنَ الْبَارِد عَلَى الظَّمأ

“Demi Allah beliau -shallallahu ‘alaihi wa sallam- lebih kami cintai daripada harta kami, anak-anak kami, bapak kami, ibu kami, dan lebih kami cintai daripada air dingin yang kami minum tatkala sangat dahaga” (📚 Al Imam Al-Baihaqi dalam Syu'abul Iman, 2/133

✓ dan juga Shahabat Amr bin Al-‘Ash -radhiyallahu 'anhu-

“Tidak ada seorangpun yang lebih aku cintai daripada Rasulullah -shallallahu 'alaihi wa sallam- dan tidak ada seorangpun yang lebih agung di kedua mataku daripada Rasulullah -shallallahu 'alaihi wa sallam- Aku tidak mampu untuk memandangnya dengan penuh pandangan karena keagungannya, dan jika aku diminta untuk menjelaskan cirri-ciri Rasulullah -shallallahu 'alaihi wa sallam- maka aku tidak mampu karena aku tidak pernah memandanganya dengan pandangan yang penuh” (HR Muslim no. 121)

Kecintaan kepada Rasulullah -shallallahu 'alahi wa sallam- lah menjadi) faktor pendorong untuk merayakannya dan juga tidak ada halangan untuk merayakannya. Seandainya perbuatan itu isinya murni kebaikan, atau mayoritas isinya adalah kebaikan, niscaya para salaf (tiga generasi) -radhiyallahu ‘anhum- lebih berhak untuk merayakannya. Karena mereka adalah orang yang lebih besar kecintaannya dan pengagungannya kepada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dibandingkan kita.

Mereka -para salaf- lebih semangat untuk berbuat kebaikan” (📚 lihat Iqtidha Shirathil Mustaqim, 2/612-616, dinukil dari Al Bida’ Al Hauliyah, hlm. 198)

Jika ada kekurangan dan kesalahan mohon dimaafkan, karna kesempurnaan hanya Milik Allah Tabaraka Wa Ta'ala. Semoga bermanfaat.

Baarakallahu Fiikum.....


Al Jama'ah Ahlus Sunnah Ibadah Maulid Nabi