Menghapus Gambar Makhluk Bernyawa

Febri Hidayan
26 February 2020 - 17:00


📷 Menghapus Gambar Makhluk Bernyawa 📸

*السؤال: لو بينتم بعض الصور التي يجب طمسها؟*

Asy Syaikh Al 'Allamah Al Faqihuz Zaman Muhammad bin Shaleh Al Utsaimin -rahimahullah- pernah ditanya : dengan soal:

“Bisakah anda (wahai Syaikh) jelaskan mengenai jenis gambar yang mesti dihapus❓”

الجواب: الصورة التي يجب طمسها كل ما كان على صورة إنسان أو حيوان؛ فإنه يجب طمس وجهها فقط، ويكفي طمس وجهها عن بقية بدنها، أما صور الأشجار، والأحجار، والجبال، والشمس، والقمر، والنجوم؛ فإن هذا لا بأس به، ولا يجب طمسه، أما صورة عين فقط أو وجه فقط فهذا ليس فيه شيء؛ لأنه ليس بصورة، هذا جزء منها وليس صورة.

Maka Syaikh -rahimahullah- menjawab:

“Gambar yang mesti dihapus adalah setiap gambar manusia atau hewan¹ (makhluk bernyawa-pent)❗

Yang wajib dihapus adalah wajahnya saja. 

Jadi cukup menghapus wajahnya² walaupun badannya masih tersisa.

Sedangkan gambar pohon, batu, gunung, matahari, bulan dan bintang, (makhluk yang tidak bernyawa-pent) maka ini gambar yang tidak mengapa dan tidak wajib dihapus. 

Adapun untuk gambar mata saja atau wajah saja (yakni; tanpa ada panca indera-pent), maka ini tidaklah mengapa, karena seperti itu bukanlah gambar dan hanya bagian dari gambar, bukan gambar secara hakiki.” (Liqa’ Al Bab Al Maftuh, 🎙 no. 35/11) _selesai nukilan, audio dibawah, catatan kaki dari kita_

*Adapun memasang dan menyimpan gambar bernyawa di rumah, kecuali gambar-gambar dharurat yang dibutuhkan oleh seorang manusia, seperti foto identitas diri (KTP, SIM), paspor atau visa, dan sebagainya...*

*السؤال: في الجلسة الماضية قلتم: إنه يجوز حمل الصور للضرورة، فلو بينتم ضابط الضرورة؟*

-Asy Syaikh Ibnu Utsaimin -rahimahullah- dalam kesempatan yang lain bahwa gambar makhluk bernyawa boleh dibawa jika dharurat, beliau (Ibnu Utsaimin) ditanya : “Dalam majelis sebelumnya, engkau katakan bahwa boleh membawa gambar dengan alasan dharurat. Mohon dijelaskan apa yang jadi kaedah dikatakan darurat❓³”

الجواب:

الضرورة مثل أن تكون الصورة في النقود، أو في التابعية التي لابد للإنسان من حملها، أو في رخصة القيادة؛ هذه من الضرورات. فالإنسان لا تهمه هذه الصورة، ولا يقع في نفسه أي تعظيم لها، حتى الصور التي في النقود، كصور الملوك لا يشعر الإنسان بأنه يعظم هذه الصورة.

Di jawab oleh Beliau (Ibnu Utsaimin) : “Dharurat yang dimaksud adalah semisal gambar yang ada pada mata uang atau memang gambar tersebut adalah gambar ikutan yang tidak bisa tidak harus turut serta dibawa atau keringanan dalam qiyadah (pimpinan). Ini adalah di antara kondisi darurat yang dibolehkan. Orang pun tidak punya keinginan khusus dengan gambar-gambar tersebut dan di hatinya pun tidak maksud mengagungkan gambar itu. Bahkan gambar raja yang ada di mata uang⁴, tidak seorang pun yang punya maksud mengagungkan gambar itu.” (🎙 Liqa’ Al Bab Al Maftuh, kaset no. 33/6, dan Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibnu Utsaimin: 10/1038-1039) _audio dibawah, catatan kaki dari kita_)

Asy Syaikh Al Allamah Shalih Fauzan -hafizhahullah- berkata:

فلا يجوز للمسلم أن يقتني الصور في بيته، وألا يحتفظ إلا بالصور الضرورية التي يحتاجها الإنسان، كصورة حفيظة النفوس، وجواز السفر، وإثبات الشخصية، فهذه أصبحت ضرورية وهي لا تتخذ من باب محبة التصوير، وإنما تتخذ للضرورة والحاجة، أما ما عدا ذلك من الصور فلا يجوز الاحتفاظ به لا للذكريات ولا للاطلاع عليها وما أشبه ذلك

“Maka tidak diperbolehkan bagi muslim untuk memasang dan menyimpan gambar bernyawa di rumah, kecuali gambar-gambar darurat yang dibutuhkan oleh seorang manusia, seperti foto identitas diri (KTP, SIM), paspor atau visa, dsb. Maka ini menjadi dharurat dan ini tidak dilakukan dalam rangka mencintai gambar bernyawa, tetapi hanyalah digunakan untuk keadaan dharurat (terpaksa) dan hajat (kebutuhan) saja. Adapun gambar-gambar bernyawa untuk selain itu, maka tidak boleh menyimpannya, tidak untuk kenang-kenangan, tidak pula untuk dilihat-lihat dan sebagainya...” (📚 Al Muntaqa min Fatawa Al Fauzan, 3/43

```catatan kaki:

------------

¹. Hadits -muttafaqun ‘alaihi- dari shahabat  Abi Thalhah -radhiyallahu 'anhu-, disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لاَ تَدْخُلُ بَيْتًا فِيهِ صُورَةٌ

”Para malaikat tidak akan masuk ke rumah yang terdapat gambar di dalamnya (yaitu gambar makhluk hidup bernyawa)” (📚 Diriwayatkan oleh Al Bukhari 3224 dan Muslim no. 2106)

Dan dari Hadits Jabir -radhiyallahu ‘anhu- dia berkata:

نَهَى رسول الله صلى الله عليه وسلم عَنِ الصُّوَرِ فِي الْبَيْتِ وَنَهَى أَنْ يَصْنَعَ ذَلِكَ

“Rasulullah ﷺ melarang adanya gambar di dalam rumah dan Beliau (ﷺ) melarang untuk membuat gambar.” (📚 Diriwayatkan oleh At Tirmizi no. 1749 dan Beliau (Abu Isa) berkata bahwa hadits ini –hasan shahih– dan juga di Shahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi 2/277, no. 1749, dan dalam Silsilah Ash Shahihah no. 424)

Dan dari Hadits Ali bin Abi Thalib -radhiyallahu anhu- bahwa Nabi ﷺ bersabda kepada-nya:

أَنْ لاَ تَدَعْ تِمْثَالاً إِلاَّ طَمَسْتَهُ وَلاَ قَبْرًا مُشْرَفًا إِلاَّ سَوَّيْتَهُ

“Jangan kamu membiarkan ada gambar kecuali kamu hapus dan tidak pula kubur yang ditinggikan kecuali engkau meratakannya.” (📚 Diriwayatkan oleh Imam Muslim no. 969) Dan didalam riwayat An Nasaa-i:

وَلَا صُورَةً فِي بَيْتٍ إِلَّا طَمَسْتَهَا

“Dan tidak pula gambar di dalam rumah kecuali kamu hapus.” (📚 Diriwayatkan oleh An Nasaa-i no. 2030.dan di Shahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani dalam Shahih An Nasaa-i 2/66, no. 2030, dan At Tirmidzi no. 1049, Ahkamuz Janaiz, hlm. 207, Al Irwa'ul Ghalil 759, Tahdzirus Sadid, hlm. 140)

Dan dari Hadits Ibnu Abbas -radhiyallahu ‘anhuma- dia berkata:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا رَأَى الصُّوَرَ فِي الْبَيْتِ يَعْنِي الْكَعْبَةَ لَمْ يَدْخُلْ وَأَمَرَ بِهَا فَمُحِيَتْ وَرَأَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ عَلَيْهِمَا السَّلَام بِأَيْدِيهِمَا الْأَزْلَامُ فَقَالَ قَاتَلَهُمْ اللَّهُ وَاللَّهِ مَا اسْتَقْسَمَا بِالْأَزْلَامِ قَطُّ

“Bahwa tatkala Nabi (ﷺ) melihat gambar di u(dinding) Ka’bah, Beliau (ﷺ) tidak masuk ke dalamnya dan Beliau (ﷺ) memerintahkan agar semua gambar itu dihapus. Beliau melihat gambar Nabi (ﷺ) Ibrahim dan Ismail –‘alaihimus salam– tengah memegang anak panah (untuk mengundi nasib), maka Beliau (ﷺ) bersabda : “Semoga Allah membinasakan mereka, demi Allah keduanya tidak pernah mengundi nasib dengan anak panah sekalipun!!. “ (📚 Diriwayatkan oleh Ahmad no. 3276. Asy Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata : bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Al Bukhari dan periwayatnya tsiqah, termasuk pe-rawi Al Bukhari Muslim selain Ikrimah yang hanya menjadi periwayat Al Bukhari)

Dari Hadits Aisyah -radhiyallahu ‘anha- berkata, Rasulullah ﷺ masuk ke rumahku sementara saya baru saja menutup rumahku dengan tirai yang padanya terdapat gambar-gambar. Tatkala Beliau (ﷺ) melihatnya, maka wajah Beliau (ﷺ) berubah (marah) lalu menarik menarik tirai tersebut sampai putus. Lalu Beliau (ﷺ) bersabda :

إِنَّ مِنْ أَشَدِّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الَّذِينَ يُشَبِّهُونَ بِخَلْقِ اللَّهِ

“Sesungguhnya manusia yang paling berat siksaannya pada hari kiamat adalah mereka yang menyerupakan makhluk Allah.” (📚 Diriwayatkan oleh Al Bukhari no. 5954 dan Muslim no. 2107 dan ini adalah lafazh Muslim). Dalam riwayat Muslim:

أَنَّهَا نَصَبَتْ سِتْرًا فِيهِ تَصَاوِيرُ فَدَخَلَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَنَزَعَهُ، قَالَتْ : فَقَطَعْتُهُ وِسَادَتَيْنِ

“Dia (Aisyah) memasang tirai yang padanya terdapat gambar-gambar, maka Rasulullah (ﷺ) masuk lalu mencabutnya. Dia berkata, “Maka saya memotong tirai tersebut lalu saya membuat dua bantal darinya.”

Dan dari Hadits Ali -radhiyallahu anhu-, dia berkata:

صَنَعْتُ طَعَامًا فَدَعَوْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم فَجَاءَ فَدَخَلَ فَرَأَى سِتْرًا فِيهِ تَصَاوِيرُ فَخَرَجَ . وَقَالَ : إِنَّ الْمَلائِكَةَ لا تَدْخُلُ بَيْتًا فِيهِ تَصَاوِيرُ

“Saya membuat makanan lalu mengundang Nabi ﷺ untuk datang. Ketika Beliau (ﷺ) datang dan masuk ke dalam rumah, Beliau (ﷺ) melihat ada tirai yang bergambar, maka Beliau (ﷺ) segera keluar seraya bersabda : “Sesungguhnya para malaikat tidak akan masuk ke dalam rumah yang di dalamnya ada gambar-gambar.” (📚 Diriwayatkan oleh An Nasaa-i no. 5362-5363. Asy Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih dalam Shahih An Nasaa-i 3/422, no. 5362-5363)

Dari Hadits Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhu- dia berkata:

اسْتَأْذَنَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلام عَلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ : « ادْخُلْ » . فَقَالَ : « كَيْفَ أَدْخُلُ وَفِي بَيْتِكَ سِتْرٌ فِيهِ تَصَاوِيرُ فَإِمَّا أَنْ تُقْطَعَ رُؤوسُهَا أَوْ تُجْعَلَ بِسَاطًا يُوطَأُ فَإِنَّا مَعْشَرَ الْمَلائِكَةِ لا نَدْخُلُ بَيْتًا فِيهِ تَصَاوِيرُ

“Jibril -‘alaihis salam- meminta izin kepada Nabi (ﷺ) maka Nabi (ﷺ) bersabda : “Masuklah.” Lalu Jibril menjawab, “Bagaimana saya mau masuk sementara di dalam rumahmu ada tirai yang bergambar. Sebaiknya kamu (Nabi ﷺ) menghilangkan bagian kepala-kepalanya atau kamu menjadikannya sebagai alas yang dipakai berbaring, karena kami para malaikat tidak masuk rumah yang di dalamnya terdapat gambar-gambar.” (📚 Diriwayatkan An Nasaa-i no. 5370. Asy Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih dalam Shahih An Nasaa-i 3/426-427, no. 5370).

². Dari Hadits Ibnu Abbas -radhiyallahu 'anhuma- bahwasanya Nabi ﷺ bersabda:

اَلصُّوْرَةٌ الرَّأْسُ ، فَإِذَا قُطِعَ فَلاَ صُوْرَةٌ

“Gambar itu adalah kepala, jika kepalanya dihilangkan maka tidak lagi disebut gambar.” (📚 Diriyawatkan Al Baihaqi 7/270 no. 14580. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini shahih dalam As Silsilah Ash Shahihah no. 1921)

³. Membuat gambar atau foto manusia. Perbuatan ini diharamkan (ini pendapat yang kita pegang-red) dengan pengharaman wasilah. Hal ini berdasarkan kaidah fiqih:

وما حرم لذاته لا يباح إلا للضرورة كالميتة والدم ولحم الخنزير، وما حرم سداً للذريعة أبيح للحاجة إليه وللمصلحة الراجحة على المفسدة

“Perkara yang diharamkan secara dzatnya tidak dapat dihalalkan kecuali oleh keadaan dharurat (terpaksa) seperti bangkai, darah dan daging babi. Sedangkan perkara yang diharamkan karena wasilah, maka ia bisa menjadi halal karena hajat (ada kebutuhan) atau adanya maslahat yang kuat mengalahkan mafsadat.” (📚 Al Fiqhul Islami wa Adillatuh, 5/392).

Perlu diketahui: Para Ulama menjelaskan perbuatan ini diharamkan dengan pengharaman wasilah, karena bisa membawa kepada kesyirikan‼

Dari Hadits Aisyah -radliyallahu 'anha- Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ أُولَئِكَ إِذَا كَانَ فِيهِمْ الرَّجُلُ الصَّالِحُ فَمَاتَ بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا وَصَوَّرُوا فِيهِ تِلْكَ الصُّوَرَ فَأُولَئِكَ شِرَارُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Sesungguhnya mereka (Ahlul Kitab) jika ada orang shalih mati di kalangan mereka, maka mereka membangun masjid di atas keburannya dan menggambar orang shalih tersebut dengan gambar-gambar. Mereka adalah sejelek-jelek makhluk di sisi Allah.” (📚 Diriwayatkan oleh Al Bukhari, no. 409, Muslim, no. 822).

Al Imam Al 'Allamah Ash Shan’ani -rahimahullah- berkata:

والظاهر أن العلة سد الذريعة والبعد عن التشبه بعبدة الأوثان الذين يعظمون الجمادات التي لا تسمع ولا تنفع ولا تضر

“Yang jelas, alasan pelarangan (menjadikan kuburan sebagai masjid dan menggambar tokoh-tokoh-pent) adalah untuk menutup wasilah dan menjauhi dari perbuatan menyerupai para penyembah berhala yang mengagungkan benda-benda mati yang tidak bisa mendengar, tidak bisa mendatangkan manfaat dan madharat...” (📚 Subulus Salam, 1/153).

Jadi bermuamalah/berintreaksi dengan gambar bernyawa diperbolehkan dalam keadaan dharurat (terpaksa) dan keadaan hajat (kebutuhan) seperti untuk identitas diri, foto identitas diri (KTP, SIM), paspor atau visa, untuk mencari orang hilang, atau -bagi pihak penegak hukum- menampilkan foto para penjahat/pelaku teror, dan lain sebagainya.

Dan perlu diingat ada  Perbedaan —dengan apa yang disebut— (antara) Hajat dan Dharurat❗

Berikut kita sadurkan penjelasan Asy Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -rahimahullah-:

وَكُلَّمَا جَوَّزَ لِلْحَاجَةِ لَا لِلضَّرُورَةِ كَتَحَلِّي النِّسَاءِ بِالذَّهَبِ وَالْحَرِيرِ وَالتَّدَاوِي بِالذَّهَبِ وَالْحَرِيرِ فَإِنَّمَا أُبِيحَ لِكَمَالِ الِانْتِفَاعِ ؛ لَا لِأَجْلِ الضَّرُورَةِ الَّتِي تُبِيحُ الْمَيْتَةَ وَنَحْوَهَا ؛ وَإِنَّمَا الْحَاجَةُ فِي هَذَا تَكْمِيلُ الِانْتِفَاعِ ؛ فَإِنَّ الْمَنْفَعَةَ النَّاقِصَةَ يَحْصُلُ مَعَهَا عَوَزٌ يَدْعُوهَا إلَى كَمَالِهَا . فَهَذِهِ هِيَ الْحَاجَةُ فِي مِثْلِ هَذَا . وَأَمَّا الضَّرُورَةُ الَّتِي يَحْصُلُ بِعَدَمِهَا حُصُولُ مَوْتٍ أَوْ مَرَضٍ أَوْ الْعَجْزُ عَنْ الْوَاجِبَاتِ كَالضَّرُورَةِ الْمُعْتَبَرَةِ فِي أَكْلِ الْمَيْتَةِ فَتِلْكَ الضَّرُورَةُ الْمُعْتَبَرَةُ فِي أَكْلِ الْمَيْتَةِ لَا تُعْتَبَرُ فِي مِثْلِ هَذَا . وَاَللَّهُ أَعْلَمُ

“Dan segala perkara yang diperbolehkan karena hajat (kebutuhan), bukan karena dharurat (terpaksa), seperti berhiasnya wanita dengan emas dan sutra, berobat dengan emas dan sutra (bagi laki-laki- pent), maka hanyalah diperbolehkan sebatas menyempurnakan pemanfaatan, bukan karena dharurat (terpaksa) yang memperbolehkan makan bangkai dan semisalnya. Hajat (kebutuhan) dalam perkara ini adalah untuk menyempurnakan pemanfaatan. Maka manfaat yang kurang ini bisa menjadi butuh untuk disempurnakan. Inilah yang disebut hajat. Adapun dharurat yang jika terjadi bisa muncul kematian, sakit atau kelemahan dari perbuatan-perbuatan wajib seperti dharurat mu’tabarah di dalam makan bangkai, maka ini tidak bisa dianggap (diterapkan) pada keadaan hajat. Wallahu a’lam.” (📚 Majmu’ul Fatawa, 31/225).

Dan Al Allamah Al Faqih Ibnu Utsaimin -rahimahullah- berkata:

الحاجةُ دون الضَّرورة؛ لأنَّ الضَّرورةَ هي التي إذا لم يقم بها الإِنسانُ أصابه الضَّرر. والحاجة هي التي تكون مِن مكمِّلات مراده، وليس في ضرورة إليها

“Hajat (kebutuhan) itu lebih ringan daripada dharurat (keterpaksaan), karena dharurat itu jika tidak ditegakkan oleh manusia, maka ia akan mendapatkan bahaya. Sedangkan hajat adalah perkara yang menjadi penyempurna keinginannya dan ia tidak mengalami keterpaksaan atasnya.” (📚 Asy Syarhul Mumti’, 4/305 dan dalam kitab yang sama  Asy Syarhul Mumti’, 5/72) Beliau menyatakan:

والفرق بين الحاجة والضرورة: أن الحاجة: هي التي يكون بها الكمال. والضرورة: هي التي يندفع بها الضرر..الخ

“Perbedaan antara hajat dan dharurat adalah bahwa hajat itu untuk perkara kesempurnaan. Sedangkan dharurat itu untuk menolak bahaya...” selesai nukilan dengan ringkas.

Al Imam Ibnul Qayyim -rahimahullah-  melakukan istiqra’ (meneliti dengan detail-pent) terhadap perkara yang diharamkan dengan pengharaman wasilah (dalam kitab I’lamul Muwaqqi’in-pent), maka Beliau menyebutkan 99 contoh (yang ingin melihat sebuah perkara yang diharamkan, apakah ia diharamkan secara wasilah ataukah tidak, maka silahkan lihat kitab I’lamul Muwaqqi’in-pent) dalam Al Kitab dan As Sunnah.” (📚 Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyyah, 24/277).

Al Imam Taqiyyuddin As Subki Asy Syafi’i -rahimahullah- juga menyatakan:

ثم الرخصة قد يكون سببها الضرورة كأكل المضطر الميتة وقد يكون سببها الحاجة كالعرايا

“Kemudian rukhsah (keringanan syariat) kadang-kadang disebabkan oleh perkara dharurat (terpaksa) seperti memakan bangkai bagi orang yang terpaksa, dan kadang-kadang disebabkan oleh perkara hajat (kebutuhan) seperti jual beli Araya (padahal tamr/kurma temasuk barang komoditi riba fadhl-pent).” (📚 Takmilah Al Majmu’ Syarhil Muhadzdzab, 11/10) wallahu  Ta'ala A'lam 

⁴. Ketika menjelaskan berbagai macam penggunaan gambar-gambar bernyawa AL 'Allamah Al Faqih Ibnu Utsaimin -rahimahullah- mengatakan:

القسم الرابع: أن يقتني الصور لا لرغبة فيها إطلاقا، ولكنها تأتي تبعا لغيرها، كالتي تكون في المجلات والصحف ولا يقصدها المقتني، وإنما يقصد ما في هذه المجلات والصحف من الأخبار والبحوث العلمية ونحو ذلك، والظاهر أن هذا لا بأس به؛ لأن الصور فيها غير مقصودة، لكن إن أمكن طمسها بلا حرج ولا مشقة، فهي أولى

“Macam keempat: seseorang menggunakan gambar-gambar bernyawa bukan karena menyukainya secara permulaan, tetapi gambar tersebut datang karena mengikuti perkara lainnya seperti gambar-gambar yang ada di majalah, surat kabar, pembahasan ilmiah (seperti jurnal dan artikel kedokteran-pent), dan sebagainya. Yang jelas bahwa ini adalah tidak apa-apa, karena gambar bernyawa di dalamnya bukan perkara yang dituju. Akan tetapi jika mungkin, ia berusaha menghapusnya tanpa keberatan dan kesulitan. Maka ini lebih utama.” 

Lanjutan penjelasan Asy Syaikh (Ibnu Utsaimin) :  Adapun uang dirham (atau mata uang lainnya), maka tidak ada dosa di dalamnya karena kita tidak mungkin mampu menjaga diri darinya. Allah Ta’ala berfirman: “Dan Allah tidak menjadikan atas kalian dalam agama ini suatu kesulitan.” (📖  Al Hajj: 78).” (📚 Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibnu Utsaimin, 10/1038-1039) dinukil dengan ringkas.

–Dan dijelaskan Imam Ibnu Abdir Barr -rahimahullah– bahwa– : Dinar-dinar di masa jahiliyah dan awal Islam di Syam dan Arab Hijaz semuanya adalah Dinar Ramawi yang dicetak di Rum. Dan Padanya terdapat gambar raja dan nama pencetaknya tertulis dengan bahasa Romawi…

Sedangkan Dirham di Irak dan daerah timur adalah cetakan Kisra. Padanya terdapat gambar raja Kisra. Namanya tertulis dengan bahasa Persia….” (📚 At Tamhid lima fil Muwaththa’ minal Ma’ani wal Asanid, 22/170).

Dan para shahabat Rasulullah ﷺ, juga bermuamalah dengan dirham-dirham Ajam. Sebagaimana yang Imamus Sunnah Ahmad bin Hanbal -rahimahullah- katakan:

كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَعَامَلُونَ بِدَرَاهِمِ الْعَجَمِ، فَكَانَتْ إذَا زَافَتْ عَلَيْهِمْ أَتَوْا بِهَا السُّوقَ فَقَالُوا : مَنْ يَبِيعُنَا بِهَذِهِ ؟ وَذَاكَ أَنَّهُ لَمْ يَضْرِبْهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَلَا أَبُو بَكْرٍ وَلَا عُمَرُ وَلَا عُثْمَانُ وَلَا عَلِيٌّ وَلَا مُعَاوِيَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ

“Adalah para shahabat Rasulullah ﷺ bermuamalah dengan dirham-dirham Ajam. Adalah jika dirham tersebut mulai rusak, maka mereka datang ke pasar dan berkata: “Siapakah yang mau berjual-beli dengan kami dengan menggunakan dirham ini❓” Yang demikian karena Rasulullah ﷺ belum pernah mencetak uang, tidak pula Abu Bakar, tidak pula Umar, tidak pula Utsman, tidak pula Ali dan tidak pula Mu’awiyah. Semoga Allah meridhai mereka semua.” (📚 Al Ahkamus Sulthaniyah li Abi Ya’la, 148, Al Furu’, 4/91, Kasyaful Qina’ an Matnil Iqna’, 5/203). Wallahu A'lam bish Shawab Wal Ilmu Indallah

Semoga tulisan ringkas ini bermanfaat dan menjadi tambahan ilmu...```

Gambar Bernyawa