Mungkin Diantara Kita Pernah Mendengar Ungkapan Dari Para Ulama

Febri Hidayan
26 February 2020 - 18:00


_Ikhwahni Fiddin a' azzakumullah Jami'an_

*Mungkin Diantara Kita Pernah Mendengar Ungkapan dari Para Ulama,* yang berbunyi:

أقوال أهل العلم فيحتج لها ولا يحتج بها

“Pendapat para ulama itu butuh dalil dan ia bukanlah dalil” (📚 Majmu' Fatawa wa Rasail Ibnu Utsaimin, 2/321, pada pertanyaan no. 366, Hasyiah Raudhul Murbi, 1/15, semakna dengan ini Kalam Syaikhul Islam dalam Majmu' Al Fatawa 26/202).

Ungkapan Emas diatas terbangun dari Wasiat-wasiat Imam yang Empat;

*1* Al Imam Al Faqih Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit Al Kufi -rahimahullah Ta'ala-;

لا يحل لأحد أن يأخذ بقولنا ما لم يعلم من أين أخذناه

“Tidak halal bagi seorangpun untuk mengambil pendapat kami jika dia tidak tahu dari mana kami mengambil pendapat tersebut”

وفي رواية : ( حرام على من لم يعرف دليلي أن يفتي بكلامي )

Dalam riwayat yang lain : “Haram atas orang yang tidak mengetahui dalilku untuk berfatwa dengan pendapatku” (📚 Shifat Shalat Nabi karya Asy Syaikh Al Albani -rahimahullah-, hlm. 47)

_Padahal Al Imam Abu Hanifah yang dikatakan oleh Al Imam Ibnul Mubarak -rahimahumullah- : Yang mana Beliau pernah ditanya:_

أَمَالِكٌ أَفْقَهُ أَمْ أَبُو حَنِيفَةَ؟، فَقَالَ: أَبُو حَنِيفَةَ

_“Manakah yang lebih faqih, (antara) Malik (bin Anas) ataukah Abu Hanifah ?”. Maka ia menjawab : “Abu Hanifah” (📚 Manaqib Abi Hanifah, hlm. 19)._

_Dan Imam Yahya bin Sa’id Al Qaththan -rahimahullah- juga pernah berkata:_

لا نَكْذِبُ اللَّهَ مَا سَمِعْنَا أَحْسَنَ مِنْ رَأْيِ أَبِي حَنِيفَةَ، وَقَدْ أَخَذْنَا بِأَكْثَرِ أَقْوَالِهِ

_“Kami tidak berdusta kepada Allah. Tidaklah kami mendengar satu pendapat yang lebih baik daripada pendapat Abu Hanifah. Sungguh, kami telah mengambil (faedah) dari kebanyakan perkataannya” (📚 Manaqib Abi Haniifah, hlm. 19)_

_Al Imam Ali bin Aashim -rahimahullah- berkata:_

لَوْ وُزِنَ عِلْمُ أَبِي حَنِيفَةَ بِعِلْمِ أَهْلِ زَمَانِهِ لَرَجِحَ

_“Seandainya ilmu Abu Hanifah ditimbang dengan ilmu orang-orang di zaman-nya, niscaya akan lebih berat (ilmu Abu Hanifah)” (📚 Manaqib Abi Hanifah, hlm. 19)._

*2* Al Imamud Darul Hijrah Malik bin Anas -rahimahullahu Ta'ala-;

إنما أنا بشر أخطئ وأصيب فانظروا في رأيي فكل ما وافق الكتاب والسنة فخذوه وكل ما لم يوافق الكتاب والسنة فاتركوه

“Sesungguhnya aku hanyalah manusia berbuat benar dan bersalah, maka lihatlah kepada pendapat-ku, semua pendapat-ku yang sesuai denga Al Qur’an dan sunnah Nabi ﷺ maka ambillah dan semua yang tidak sesuai dengan Al Qur’an dan Sunnah Nabi ﷺ maka tinggalkanlah❗”

ليس أحد بعد النبي صلى الله عليه وسلم إلا ويؤخذ من قوله ويترك إلا النبي ﷺ

"Tidak seorangpun setelah sepeninggal Nabi ﷺ kecuali pendapatnya bisa diterima atau ditolak, kecuali Nabi ﷺ” (📚 Shifat Shalat Nabi karya Asy Syaikh Al Albani, hlm. 47-48)

*3* Al Imam Nashirus Sunnah wal Hadits Asy Syafi'i Al Muththalibi -rahimahullahu Ta'ala-;

إذا وجدتم في كتابي خلاف سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم فقولوا بسنة رسول الله صلى الله عليه وسلم ودعوا ما قلت(. وفي رواية ( فاتبعوها ولا تلتفتوا إلى قول أحد )

“Jika kalian mendapatkan dalam kitab-kitab-ku apa yang menyelisihi sunnah Rasulullah ﷺ maka bepandapatlah dengan sunnah Rasulullah ﷺ dan tinggalkanlah pendapatku”, dalam riwayat yang lain, “Ikutilah sunnah Nabi ﷺ dan janganlah kalian melihat pendapat siapapun❗.

كل حديث عن النبي صلى الله عليه وسلم فهو قولي وإن لم تسمعوه مني

“Semua hadits dari Nabi ﷺ maka itulah pendapat-ku walaupun kalian tidak mendengar aku menyatakan pendapat-ku tersebut” (📚 Shifat Shalat Nabi karya Asy Syaikh Al Albani, hlm. 49-52).

Al Imam Berkata Al Humaidi -rahimahullah- (salah satu guru Imam Al Bukhari-pent):  “Kami sedang bersama Imam Asy Syafi’i, lalu datanglah seseorang dan bertanya tentang suatu permasalahan. Maka Asy Syafi’i berkata : “Rasulullah ﷺ telah memutuskan permasalahan ini dengan hukum demikian dan demikian”. Orang itu berkata kepada Imam Asy Syafi’i, “Bagaimana menurut pendapat Anda❓”, maka Imam Asy Syafii berkata:

سبحان الله!! تراني في كنيسة؟! تراني في بيعة؟! ترى على وسطي زُنَّارًا؟! أقول لك قضى فيها رسول الله وأنت تقول: ما تقول أنت؟!

“Maha suci Allah, apakah engkau sedang melihat-ku di gereja⁉  apakah engkau sedang melihat-ku di tempat ibadah orang-orang yahudi⁉, apakah engkau melihat di pinggang-ku ada zunnar (sejenis ; sabuk yang dipakai oleh orang-orang Nasrani)⁉. Aku katakan kepadamu bahwa Rasulullah ﷺ memutuskan perkara ini dengan hukuman demikian dan demikian lantas engkau berkata “Bagaimana menurut pendapatmu⁉ (📚 Siyar A’lam An Nubala’ 10/34, Hilyatul Auliya’ 9/106).

*4* Al Imamus Sunnah Ahmad bin Hanbal -rahimahullahu Ta'ala-;

لا تقلدني ولا تقلد مالكا ولا الشافعي ولا الأوزاعي ولا الثوري وخذ من حيث أخذوا

“Janganlah kalian taklid kepada-ku, dan jangan taklid kepada Malik, As Syafi’i, Al Auza’i, Ats Tsauri, namun ambillah dari mana mereka mengambil”

رأي الأوزاعي ورأي مالك ورأي أبي حنيفة كله رأي وهو عندي سواء وإنما الحجة في الآثار

Beliau juga berkata : “Pendapat Al Auza’i, pendapat Malik, pendapat Abu Hanifah semuanya adalah pendapat, semuanya sama di sisi-ku. Hujjah (dalil/argumen) hanyalah pada atsar (hadits-hadits Rasulullah ﷺ) (📚 Shifat Shalat Nabi karya Asy Syaikh Al Albani, hlm. 52-53).

_Ikhwahni Fiddin a' azzakumullah_ lihat bagaimana Mauqif Salafush Shaleh. 

*Aneh bin Ajaib, ketika ada permasalahan Fiqh/hukum, kemudian kita berdalih ; Ini kan Khilafiyyah (ada yang membolehkan, dan yang tidak membolehkan...)*

Subhanallah Tidakkah kita Ingat bahwasanya Allah Ta’ala ber-Firman:

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (📖 An Nisa: 59). 

*Renungkan baik-baik. Kita diperintahkan oleh Allah Jalla wa A'la untuk mengembalikan permasalahan silang pendapat kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya (ﷺ) bukan dikembalikan kepada pendapat-pendapat Para Ulama (yang tidak berpijak diatas Hujjah) sebagaimana telah diwasiatkan oleh Imam Yang Empat*

*Aneh bin Ajaib, jika kita berdalih dengan Khilafiyah, lantas bawa dalil lagi ; kan Allah Ta’ala memerintahkan untuk bertanya pada orang yang berilmu :*

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui” (📖 An Nahl : 43 dan Al Anbiya ’: 7).

Bahkan bawa kalamnya ; Al Imam Al 'Allamah Ibnul Qayyim -rahimahullah- yang menyatakan:

وَهَذَا أَمْرٌ لِمَنْ لاَ يَعْلَمُ بَتَقْلِيْدِ مَنْ يَعْلَمُ

“Ayat di atas berisi perintah bahwa yang tidak tahu hendaklah taqlid (mengikuti) yang lebih tahu.” (📚 I’lamul Muwaqqi’in, 2/448).

_Ikhwahni Fiddin a' azzakumullah_ pernyataan Al Imam Ibnul Qayyim -rahimahullah- diatas adalah benar, akan tetapi masih global yakni butuh rincian;

*Perhatikan penjelasan Al Imam Al Hafizh Ibnu Abdil Bar, beliau -rahimahullah- berkata :* ”Yang wajib dalam menyikapi perselisihan para ulama adalah mencari dalil dari Al Kitab dan As Sunnah dan ijma'/konsensus/kesepakatan serta qiyas yang berdasarkan ushul-ushul (kaedah-kaedah pokok) yang bersumber dari semua itu. Dan demikian itu tidak bisa tidak❗. 

Dan jika sama kuat dalil-dalil (khilaf tersebut) maka wajib untuk memilih kepada yang paling menyerupai dengan apa-apa yang telah kita sebutkan dengan Kitab dan Sunnah. *Apabila dalil-dalil (khilaf tersebut) tidak jelas maka wajib untuk tawaqquf (menahan diri)*. Apabila seseorang terpaksa unutuk mengamalkan salah satu pendapat (dari khilaf tersebut) pada kondisi yang khusus pada dirinya, maka boleh baginya untuk taqlid sebagaimana dibolehkan bagi orang-orang awam❗. Dan dia mengamalkan Sabda/Hadits Rasulullah ﷺ yang menenangkan hati dan dosa adalah apa yang menggelisahkan hati. Maka tinggalkanlah apa-apa yang meragukanmu menuju kepada apa-apa yang tidak meragukanmu.”” (📚 Jami’ bayan Al ‘ilmi 2/80-81, Al Faqih wal Mutafaqih, 2/203, karya Al Khatib Al Bagdadi (salah satu Murid Al Imam Al Lalika-i -rahimahumullah-).

*Begitu juga penjelasan Asy Syaikh Al  'Allamah Al Faqihuz Zaman Ibnu Utsaimin -rahimahullah- :* saat menjelaskan hadits Dari Shahabat Nu'man bin Basyir -radhiyallahu 'anhu-  (📚 yang Diriwayatkan oleh Al Bukhari no. 2051 dan Muslim no. 1599), kata Beliau : "Sebagian ulama berdalil jika ada ulama yang menyatakan haram, ada pula yang menyatakan halal, maka hendaklah ia ambil pendapat yang menyatakan haram dalam rangka wara’ (hati-hati-pent). 

Beliau Ibnu Utsaimin : menyatakan bahwa tetap di sini dipandang terlebih dahulu dari para ulama yang berselisih. Manakah yang lebih berilmu, manakah yang lebih kredibel dari yang lainnya. (📚 Fathul Dzil Jalali wal Ikram, 15/156-157).

Beliau (Ibnu Utsaimin) -rahimahullah- melanjutkan: "–Jadi kalau– dalam suatu masalah (silang pendapat tadi-pent) jika tidak berdasarkan dalil, maka yang memilih pendapat tanpa dalil tidak teranggap sebagai khilaf❗ (beda pendapat). (📚 Fathul Dzil Jalali wal Ikram, 15/157)

*Perhatikan pula penjelasan Al Imam Khatib Al Bagdadi -rahimahullah-:* ”Jika seseorang berkata : “Bagaimana engkau berkata terhadap orang awam yang meminta fatwa jika ada dua orang (alim) yang memberinya fatwa dan kedua orang tersebut berselisih, apakah boleh baginya taqlid❓”, maka dijawab : *dari dua sisi :*

*Sisi Pertama :* Jika orang awam tersebut luas akalnya (cerdas-pent) dan ber-pemahamannya baik, maka wajib baginya untuk bertanya kepada dua orang yang berselisih tersebut tentang madzhab-madzhab mereka dan hujjah-hujjah mereka. Lalu dia mengambil pendapat yang paling kuat menurut dia. 

Namun (apabila) jika akalnya kurang tentang hal ini dan pemahamannya tidak baik, maka boleh baginya taqlid kepada pendapat yang paling baik menurut dia diantara kedua orang tersebut.

*Sisi Kedua:* Jika dia menempuh jalan yang lebih hati-hati dan wara’, maka hendaknya dia memilih pendapat yang paling hati-hati dari kedua pendapat tersebut. Maka hendaklah dia mendahulukan (memilih) pendapat yang melarang daripada pendapat yang membolehkan dalam rangka menjaga dirinya dari syubhat (perkara yang samar-pent), sebagaimana Sabda Rasulullah ﷺ:

فَمَنِ اتَّقَى الشُّبْهَاتِ فَقَدِاسْتَبْرَأَ لِدِيْنِهِ وَعِرْدِهِ

"Barangsiapa yang menjaga dirinya dari perkara-perkara syubhat maka dia telah membersihkan agamanya dan kehormatannya" (📚 Diriwayatkan oleh Al Bukhari no. 2051 dan Muslim no. 1599).

_Ikhwahni Fiddin a' azzakumullah_ *Perlu diketahui bahwasanya ada perbedaan diantara Taqlid, Ittiba', dan mencari-cari rukhshah*

Kita rinci tentang apa itu taqlid dan Ittiba': _wabillahi taufiq_

Taqlid secara Syar'i bermakna:

قبول قول الغير من غير معرفة دليله

”Menerima satu perkataan tanpa mengetahui dalilnya” (Mudzakaratu Ushulil Fiqh hlm. 306)

Atau;

اتباع من ليس قوله حجة

”Mengikuti orang yang perkataannya bukan hujjah” (📚 Al Ushul min Ilmil Ushul oleh Ibnu Utsaimin, hlm 87)

Atau;

العمل بقول الغير من غير حجة

”Satu perbuatan yang didasarkan oleh satu perkataan tanpa hujjah” (📚 Irsyaadul Fuhul oleh Asy Syaukani, 2/51).

Sedangkan Al Ittiba' maka; _Baarakallahu Fiikum.._ Adalah jika seseorang berpegang dengan Al Qur’an dan Hadits, tidaklah disebut taklid. Ia (hakikatnya) disebut sebagai orang yang ittiba’ yaitu mengikuti dalil.

Sebagaimana Penjelasan Al 'Allamah Ibnu Qayyim dengan menukil dari perkataan Al Imam Abu Dawud : “Aku mendengar Imam Ahmad bin Hanbal (-rahimahumullah-) menyatakan : Ittiba’ adalah seseorang mengikuti apa yang datang dari Rasulullah ﷺ dan para Shahabatnya -radhiyallaahu ‘anhum ajma'in-” (📚 I’lamul Muwaqqi’in 2/139). *Inilah Konsep ittiba’ lihat kalamnya Imam Yang Empat*

*Kesimpulan dari perbedaan Taqlid dan Ittiba'*

*Perhatikan perkataan Al Imam Abu Abdillah bin Khuwaiz Mindad Al Bashri Al Maliki yang dinukil oleh Al Imam Al Hafizh Ibnul Abdil Barr -rahimahumuullah-;*

وقال أبو عبد الله بن خويز منداد البصري المالكي التقليد معناه في الشرع الرجوع إلى قول لا حجة لقائله عليه وذلك ممنوع منه في الشريعة والاتباع ما ثبت عليه حجة وقال في موضع آخر من كتابه كل من ابتعت قوله من غير أن يجب عليك قوله لدليل يوجب ذلك فأنت مقلده والتقليد في دين الله غير صحيح وكل من أوجب عليك الدليل اتباع قوله فأنت متبعه والاتباع في الدين مسوغ والتقليد ممنوع

"Dan (telah) berkata Abu Abdillah bin Khuwaiz Mindad Al Bashri Al Maliki : “Makna taqlid dalam syari’at adalah merujuk suatu pendapat yang tidak memiliki hujjah, dan yang demikian itu adalah dilarang dalam syari’at. 

Sedangkan ittiba’ adalah (merujuk) pada satu pendapat yang disertai hujjah (dalil)”. Dan beliau berkata di tempat yang lain : “Setiap orang yang Engkau ikuti perkataannya tanpa ada dalil yang mengharuskan hal itu, maka Engkau adalah orang yang taqlid kepadanya. Sementara taqlid tidaklah dibenarkan dalam agama Allah. 

Setiap orang yang Engkau ikuti karena adanya dalil yang mengharuskan Engkau mengikuti pendapatnya, maka Engkau dianggap ittiba’ (mengikutinya). Ittiba’ adalah hal yang diperkenankan dalam agama sedangkan taqlid adalah hal yang dilarang” (📚 Jami’u Bayanil Ilmi wa Fadhlihi 2/117).

*Adapun Mencari-cari/Mengikuti rukhsah-rukhsah-nya para fuqaha (yang sesuai selera). Yang kita mahukan dengan maksud Rukhsah sini adalah pendapat para ulama dalam masalah khilafiyah yang paling ringan (paling enak-pent) yang tidak bersandar kepada dalil yang shahih. Atau kesalahan seorang alim mujtahid yang kesalahannya tersebut diselisihi oleh para mujtahid yang lain.*

Dan Sungguh Telah Berkata Al Imam Habrul Ummah Ibnu Abbas -radhiyallahu ‘anhuma-:

وَيْلٌ لِلأَتْبَاعِ مِنْ زَلَّةِ الْعَالِمِ، يَقُوْلُ الْعَالِمِ الشَيْءَ بِرَأْيِهِ, فَيَلْقَى مَنْ هُوَ أَعْلَمُ بِرَسُوْلِ اللهِ مِنْهُ, فَيُخْبِرُهُ وَيَرْجِعُ وَيَقْضِي الأَتْبَاعُ بِمَا حَكَمَ

“Celakalah orang-orang yang mengikuti kesalahan seorang alim. Si alim berpendapat dengan ra’yinya (akalnya) lalu dia bertemu dengan orang yang lebih alim darinya tentang Rasulullah ﷺ, kemudian orang tersebut memberitahukannya _(pendapat yang benar, sebagaimana kisah Al Imamud Darul Hijrah Malik bin Anas –kisahnya akan kita sebutkan setelah ini  insya Allah–)_ maka si alim tersebut mengikuti pendapat yang benar dan meninggalkan pendapatnya yang salah dan para pengikutnya (tetap) berhukum dengan pendapat si alim yang salah tersebut”.(📚 Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Al Madkhal dan Ibnu Abdil Barr, 2/122, dengan sanad yang hasan).

*Perhatikan Bagaimana As Salaf dalam Menerima Kebenaran, walaupun Sifat-nya Sunnah (kalau dikerjakan berpahala, apibila ditinggalkan maka tidak berdosa)*

قال ابن وهب : سمعت مالكا سئل عن تخليل أصابع الرجلين في الوضوء ؟ فقال : ليس ذلك على الناس، قال فتركته حتى خف الناس فقلت له : عندنا في ذلك سنة فقال : وما هي ؟ قلت : حدثنا الليث بن سعد وابن لهيعة وعمرو بن الحارث عن يزيد بن عمرو المعافري عن أبي عبد الرحمن الحنبلي عن المستورد بن شداد القرشي قال : رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يدلك بخنصره ما بين أصابع رجليه . فقال : إن هذا الحديث حسن وما سمعت به قط إلا الساعة ثم سمعته بعد ذلك يسأل فيأمر بتخليل الأصابع

Berkata Ibnu Wahb: “Saya mendengar Malik ditanya tentang (hukum) menyela-nyela jari-jari kaki tatkala wudhu”; Beliau Berpendapat: “Hal itu tidak dilakukan oleh orang-orang”; maka akupun meninggalkannya hingga orang-orang sudah sepi lalu aku katakan kepadanya, “Kami mengetahui Sunnah Nabi ﷺ tentang hal itu”, Imam Malik berkata, “Sebutkan Sunnah tersebut!”. Aku berkata, “Telah menyampaikan kepada kami Al-Laits bin Sa’ad dan Ibnu Lahi’ah dan Amr bin Al Harits dari Yazid bin ‘Amr Al Ma’afiri dari Abi Abdirrahman Al Habali dari Al Mustaurad bin Syaddad Al Qurasyi, ia berkata :  “Saya melihat Rasulullah ﷺ menggosok dengan jari keingkingnya sela-sela jari-jari kakinya”. Lalu berkata Imam Malik, “Hadits ini adalah hadits yang hasan, aku sama sekali tidak pernah mendengarnya kecuali sekarang.” Kemudian saya mendengar ia ditanya setelah itu maka iapun memerintahkan untuk menyela jari-jari kaki tatkala wudhu” (📚 Shifat Shalat Nabi karya Asy Syaikh Al Albani, hlm. 49).

Diatas sebuah kisah Imam Salaf terhadap perkara yang sifatnya Sunnah (dalam makna Fiqh), sekarang kita nukilkan penjelasan Al Faqih Ibnu Utsaimin -rahimahumullah- yang semoga Allah Tabaraka wa Ta'ala memberikan Taufiq-Nya kepada kita semua untuk Meneladani Para As Salafush Shaleh dalam mencari Kebenaran❗...

Asy Syaikh (Ibnu Utsaimin) pernah ditanya tentang hukum ; *Hukum makan dan minum dengan tangan kiri*, kemudian Sebagian orang ada yang beralasan/berdalih : “bukankah sebagian ulama hanya memakruhkan, tidak mengharamkan❓”

Kita katakan permasalahan ini memang Khialafiyyah ada yang mengharamkan, ada yang memakruhkan sebagaimana yang termaktub dalam 📚 Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyah;

صَرَّحَ الشَّافِعِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ بِأَنَّهُ يُكْرَهُ الأَْكْل وَالشُّرْبُ بِالشِّمَال بِلاَ ضَرُورَةٍ

“Syafi’iyyah dan Hanabilah menegaskan bahwa makruh hukumnya makan dan minum dengan tangan kiri ketika tidak dalam keadaan darurat” _selesai penukilan dari kitab (📚 Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyah, 45/294)_

Kita lanjutkan penjelasan Syaikh Ibnu Utsaimin -rahimahullah-; “sebagian ulama memang berpendapat makruh. Namun, wahai saudaraku, saya nasehatkan (kepada-pent) anda dan yang lainnya, ketika Nabi ﷺ bersabda (Telah Datang Hadits Sharih): janganlah anda mengatakan "bukankah sebagian ulama berpendapat begini dan begitu❓". 

(Ketahuilah-pent) Para ulama berfatwa sesuai pemahaman mereka. Terkadang mereka mengetahui dalilnya, namun salah dalam memahaminya. Dan terkadang mereka tidak mengetahui dalilnya, dan terkadang dalil dalam suatu masalah itu khafi (samar-red).

Bukankah para Shahabat Nabi (ﷺ)  pernah tidak mengetahui Hadits tentang Tha’un❓ Ketika Umar bin Khathab berangkat menuju Syam, ada yang mengabari Beliau (-radhiyallahu 'anhu-) bahwa di Syam sedang ada tha’un (wabah penyakit). Lalu beliau berdiri dan bermusyawarah dengan para sahabat. Lalu datang juga kaum Muhajirin dan Anshar yang turut berdiskusi dalam ruangan. Mereka semua ketika itu tidak tahu tenatng Hadits tha’un! Namun –walhamdulillah–, Allah memberi taufiq kepada mereka untuk kembali dan tidak melanjutkan perjalanan. Yaitu melalui Abdurrahman bin Auf –radhiallahu ’anhum– yang meriwayatkan Hadits tersebut, yang awalnya ia tidak hadir di rombongan. Namun kemudian ia datang dan menyampaikan hadits tersebut. Semua sahabat ketika itu tidak tahu haditsnya, dan padahal ketika itu jumlah mereka terbatas (sedikit). Maka bagaimana lagi ketika umat sudah tersebar dan ulama juga sudah tersebar❓ Maka tidak semestinya kita menentang sabda Rasulullah ﷺ dengan perkataan "apa dalam masalah ini ada khilaf❓" atau "bukankah sebagian ulama berpendapat begini dan begitu❓" Jika Rasulullah ﷺ bersabda kepada kita:

لا يأكل أحدكم بشماله، ولا يشرب بشماله؛ فإن الشيطان يأكل بشماله ويشرب بشماله

"janganlah kalian makan dan minum dengan tangan kiri karena setan makan dan minum dengan tangan kiri"

Maka habis perkara. Jika seorang mukmin disuruh memilih, apakah anda lebih suka dengan tuntunan Rasulullah ﷺ ataukah lebih suka dengan jalannya setan⁉ Apa jawabnya❓ Tentu akan menjawab ; saya lebih suka dengan tuntunan Rasulullah ﷺ‼.  (📚 Liqa' Al Mahtuh, no. 4/55, 🎙 _audio ada pad kita_). Hadits Tentang Tha'un diatas ; Diriwayatkan dari Shahabat Abdullah bin Abbas -radhiallahu ‘anhuma- yang dikeluarkan Al Bukhari dalam 📚 Shahih-nya, 10/178 no. 5729, 5730 dan 6973 dengan Fathul Bari. 

Diriwayatkan pula oleh Al Imam Muslim dalam Shahih-nya, 4/1740 no. 2219, Abu Dawud dalam As Sunan-nya, no. 3103, Imam Ahmad dalam Musnad 1/194)

*Maka ketahuilah Bahwasanya Al Imam Ibnu Abdil Barr, Ibnu Hazm, Ibnu Shalah telah menukilkan ijma’ tentang haramnya mencari-cari rukhsah*

*1.* Al Imam m Sulaiman At Taimi  :”Kalau engkau mengambil rukhsahnya setiap orang alim maka telah berkumpul pada dirimu seluruh kejelekan”. Al Imam Ibnu Abdil Barr memberi komentar: “Hal ini adalah ijma', dan aku tidak mengetahui ada khilaf dalam perkara ini” (📚 Jami’u Bayanil Ilmi wa Fadhlihi, 2/91-92).

*2.* Al Imam Ibnu Hazm Azh Zhahiri -rahimahullah- dalam bayan tabaqat Al Mukhtalifin: ”Dan tingkatan yang lain dan mereka adalah kaum yang tipisnya nilai agama mereka dan kurangnya ketakwaan mereka mengantarkan mereka untuk mencari apa yang sesuai dengan hawa nafsu mereka pada pendapat orang alim. Mereka mengambil pendapat yang rukhsah dari seorang alim dengan bertaqlid kepadanya tanpa mencari pendapat yang sesuai dengan nash dari Allah Ta’ala dan Rasulullah ﷺ  (📚 Al Ihkam, hlm. 645). Dan Al Imam Syatibi telah menukil dari Ibnu Hazm bahwasanya Beliau (-rahimahumullah-) mengklaim adanya ijma' (para ulama-pent) bahwasanya mencari-cari rukhsahnya madzhab-madzhab tanpa bersandar kepada dalil syar’i adalah merupakan kefasikan yang haram.(📚 Al Muwafaqat, 4/134).

*3.* Al Imam Abu ‘Amr Ibnu Shalah -rahimahullah- menjelaskan tentang sifat tasahulnya (sikap bermudah-mudahan-pent) seorang muftipemberi Fatwa: “Dan terkadang sifat tasahulnya dan kemudahan yang tujuan-tujuan dunia yang rusak telah membawa si mufti tersebut untuk mencari-cari hilah yang haram atau yang makruh, dan berpegang teguh dengan syubhat-syubhat untuk mencarikan rukhsah bagi orang yang dia ingin beri manfaat, atau bersikap keras terhadap orang yang dia kehendaki mendapat mudharat. Maka barang siapa yang melakukan hal ini maka telah hina agamanya”. (📚 Adabul Mufti, hlm. 111).

Maka Dikatakan "Barangsiapa yang ingin rusak (agamanya-pent) maka lazimilah rukhsah” (📚 Perkataan Imam Ibrahim bin Syaiban yang dinukil oleh Imam Adz Dzahabi -rahimahumullah- dalam Siyar ’Alam An Nubala’, 15/392).

*Contoh Berdalih Khilafiyyah Dengan Mencari-cari Rukhsah*

*A.* Mengikuti pendapat Bolehnya Musik/nyanyian/Nasyid/alat-alat musik,

*B.* Mengikuti pendapat Bolehnya Nikah Mut'ah/kontrak,

*C.* Mengikuti pendapat Bolehnya Khamr,

*D.* Mengikuti pendapat Bolehnya Gambar dari hasil potret/foto, sahnya nikah tanpa wali dan tanpa mahar, dan tidak disyaratkan adanya dua orang saksi, dan lain sebagainya...

Al Imamus Sunnah Ahmad bin Hanbal -rahimahullah- berkata : ”Kalau seorang laki-laki mengamalkan pendapat Ahlul Kuffah tentang anggur (yang haram hanyalah khamr yang dari anggur –pent) dan pendapat Ahlul Madinah tentang nyanyian (yakni ; bolehnya nyanyian-pent) dan pendapat Ahlul Makkah tentang mut’ah (yakni ;  bolehnya nikah mut’ah-pent) maka dia adalah orang yang fasiq” (📚 Lawami’il Anwar Bahiyah, oleh As Safarini, 2/466 dan Irsyadul Fhul oleh Asy Syaukani, hlm. 272).

Dan Al Imam Ma’mar bin Rasyid juga berkata :”Sendainya seorang laki-laki mengambil pendapat Ahlul Madinah tentang (bolehnya) nyanyian dan (bolehnya) mendatangi wanita dari arah belakang (yakni duburnya-pent)  dan mengambil pendapat Ahlul Makkah tentang (bolehnya) nikah mut’ah dan (bolehnya) sarf dan mengambil pendapat Ahlul Kufah tentang khamr, maka dia adalah hamba Allah Ta’ala yang paling buruk”. (📚 Lawami’il Anwar Bahiyah, oleh As Safarini, 2/466).

Dan Sungguh telah mendekati kebenaran apa yang dikatakan oleh (Al Allamah As Saffarini -rahimahullah- ), kata Beliau ; "mencari-cari rukhsah terdapat banyak kerusakan dan kehancuran yang banyak, dan pintu ini kalau dibuka maka akan merusak syari’at yang baik dan akan menghalalkan kebanyakan hal-hal yang harom, dan manakah pintu yang lebih rusak dari pintu yang menghalalkan zina dan minum khamr dan yang lainnya❓

*Sikap Yang Seharusnya Bagi Pencari Kebenaran*

Al 'Allamah Ibnul Qayyim -rahimahullah- berkata : tatkala menjelaskan kewajiban ber-ittiba, “Sikap ittiba’ yang tulus kepada yang Ma’shum (yakni ; Rasulullah-pent) ﷺ berbeda dengan sikap membuang dan meninggalkan perkataan para ulama. Ittiba yang tulus adalah engkau tidak mendahulukan ucapan seseorang dan pendapatnya di atas apa yang datang dari Beliau ﷺ, dalam keadaan apapun. Namun, hendaknya yang pertama kali engkau lihat adalah keshahihan sebuah hadits. Jika Shahih, hal yang kedua adalah engkau perhatikan maknanya. Jika telah jelas bagimu, janganlah engkau berpaling darinya meskipun yang menyelisihimu adalah semua orang dari timur ke barat. Tidak mungkin umat bersepakat dalam menyelisihi apa yang dibawa oleh Nabi ﷺ. Pasti ada di kalangan umat ini yang sejalan dengan riwayat tersebut meskipun engkau tidak mengetahuinya. Maka dari itu, janganlah engkau menjadikan ketidaktahuanmu tentang orang yang sejalan dengannya sebagai hujjah untuk menolak apa yang datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya ﷺ. Hendaknya engkau tetap berpegang kepada Nash. Janganlah engkau merasa lemah.” (📚 Ikhtiyarat Ibnil Qayyim Al Ushuliyah, 2/743).

Asy Syaikhul Islam berkata : "“Adapun seseorang yang tidak mampu mengenal hukum Allah dan Rasul-Nya (ﷺ), ia hanya mengikuti ulama dan orang yang paham agama, tidak nampak baginya pula pendapat yang lebih kuat dari pendapat tersebut, maka taqlid seperti ini terpuji dan berpahala. Yang dilakukan tidaklah tercela dan tidak mendapatkan hukuman. Walaupun sebenarnya ia mampu untuk mencari dalil dan mengenal manakah pendapat yang lebih kuat.” (📚 Majmu’ Al Fatawa, 20/225).

Dan Beliau -rahimahullah- juga berkata: “Adapun kewajiban untuk mengikuti seluruh ucapan seseorang tanpa menyebutkan dalil tentang kebenarannya, ini tidaklah benar❗. Bahkan, ini adalah kedudukan Rasul ﷺ yang tidak diperbolehkan selain hanya untuk Beliau ﷺ.” (📚 Majmu’ Al Fatawa, 35/121).

*Maka Kesimpulannya :*

*Pertama wajib bagi kita untuk Ittiba,*

*Kedua Taklid dibolehkan dengan syarat ;*

✓ Ia orang jahil atau tidak berilmu, ia sulit untuk mengenal (memahami) hukum Allah dan Rasul-Nya (ﷺ), bahkan wajib untuk taklid (pada kondisi ini-pent), dan Orang yang bertaklid bukanlah ulama.  (📚 Al Muwafaqat 4/292 oleh Imam Asy Syathibi _di nukil dengan ringkas_)

✓ Ketika seseorang tidak mampu berijtihad, maka ia beralih pada penggantinya yaitu taklid. Ketika seseorang tidak mampu berijtihad, maka kewajiban berijtihad jadi gugur. Ketika itu beralihlah kepada taklid. Sebagaimana seseorang yang tidak mampu bersuci dengan air, ia tentu beralih pada penggantinya.

Begitu pula orang awam ketika ia mampu berijtihad untuk sebagian masalah, maka boleh ia berijtihad pada masalah tersebut. Ijtihad boleh terbagi-bagi seperti itu. Pokoknya dilihat dari kemampuan dan ketidakmampuan. Boleh jadi seseorang mampu berijtihad dalam suatu masalah, dan masalah lain tidak demikian. ” (📚 Majmu’ Al Fatawa, 20/204)

✓ Dibolehkan taklid pada orang yang diketahui keilmuannya. Adapun orang yang tidak mampu mengenal hukum Allah dan Rasul-Nya, lalu ia cuma taklid pada orang yang berilmu dan memiliki agama yang baik, tidak nampak baginya pendapat yang lebih baik dari pendapat tersebut, maka orang yang taklid seperti itu tetap terpuji dan mendapatkan pahala, tidak dicela, tidak boleh dihukum. Walaupun ia saat itu mampu untuk mencari dan mengenal dalil yang lebih kuat.” (📚 Majmu’ Al Fatawa, 20/225)

✓ Tidak boleh Bertaklid terhadap yang  menyelisihi dalil dan ijma' : Asy Syaikhul Islam -rahimahullah- menjelaskan : “Jika seorang ahli fatwa mengeluarkan fatwa di mana ia tidak mengetahui kalau ia menyelisihi aturan Allah, maka orang yang mengikuti (mentaati) pendapat tersebut tidak disebut bermaksiat. Adapun jika ada yang mengetahui orang yang diikuti itu menyelisihi aturan Allah, maka mengikutinya berarti bermaksiat pada Allah.” (📚 Majmu’ Al Fatawa, 19/261).

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَٰهًا وَاحِدًا ۖ لَّا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

 “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putra Maryam, padahal mereka hanya disuruh  menyembah Ilah Yang Maha Esa, tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (📖 At Taubah:31).

Ketika Adi bin Hatim mendengar ayat ini, Beliau berkata, “Wahai Rasulullah (ﷺ), kami tidak beribadah kepada mereka.” Maka Nabi ﷺ berkata kepada Beliau:

أليس يحلون لكم ما حرم الله فتحلونه، ويحرمون ما أحل الله فتحرمونه؟

 “Bukankah mereka telah menghalalkan apa yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala haramkan kemudian kalian mengikuti mereka⁉ Mereka juga mengharamkan apa yang dihalalkan Allah Subhanahu wa Ta’ala kemudian kalian pun ikut mengharamkannya⁉. Adi berkata, “Benar demikian.” Maka Rasulullah ﷺ berkata:

فتلك عبادتهم

“Itulah bentuk peribadahan kalian kepada mereka.” (📚 Diriwayatkan oleh At Tirmidzi (no. 3095) dan Beliau (Abu Isa) menilainya hasan, Abd bin Humaid, Ibnu Abi Hatim, dan Ath Thabrani dari banyak jalur, Fathul Majid hlm. 389, Dan dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan At Tirmidzi, dan dikeluarkan juga oleh Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubra 10/116). Dan Taqlid ini tidak meniadakan penerimaan Hujjah yang Haq ;

Sebagaimana perkataan Al Imam As Sya’bi -rahimahullah saat  berkata kepada seseorang:

مَا حدَّثُوك عن رسول الله فخذ به وما قالوه برأيهم فَأَلْقِهِ في الحُشِّ

"Apa saja yang mereka sampaikan kepadamu dari Rasulullah ﷺ maka ambillah dan apa saja yang mereka katakan dari pendapat mereka maka buanglah di tempat buang air". (📚 Diriwayatkan oleh Imam Ad Darimi, 1/285, no. 206,  Berkata Pentahqiq, “Isnadnya shahih dan atsar ini juga dikeluarkan oleh Ibnu Batthah dalam Al Ibanah 2/517 no. 607 dan Ibnu Hazm dalam A Ihkam fi Usulil Ahkam, 6/1030 dari dua jalan keduanya dari Malik bin Migwal).

Al Imam Al 'Allamah Ibnul Qayyim -rahimahullah-  berkata : “Apakah ada diantara para shahabat (Nabi ﷺ) yang tatkala mendengar Hadits Nabi (ﷺ) lantas membantahnya dengan qiyasnya⁉, atau dengan perasaannya⁉, atau dengan pendapatnya⁉, atau dengan akalnya⁉, atau dengan siasat politiknya⁉⁉… apakah ada diantara mereka yang lebih mendahulukan akal atau qiyas atau perasaan atau politik atau taklid dari pada Hadits Nabi ﷺ ❓❓… Sungguh Allah telah memuliakan dan mensucikan dan menjaga mata mereka dari melihat wajah orang yang demikian halnya (yang menentang Hadits Nabi (ﷺ) dengan akal atau perasaannya) atau membiarkan ada orang seperti ini dizaman mereka.

Amirul Mukminin Umar bin Khatthab -radhiyallahu 'anhu- telah memberi *hukuman pedang* kepada orang yang mendahulukan pendapatnya dari pada Hadits Rasulullah ﷺ dengan berkata : “ini adalah pendapatku”.

*Ya Allah…* bagaimana jika Umar (Amirul Mukminin Umar bin Khathtab -radhiyallahu 'anhu-) melihat apa yang kita lihat sekarang ini⁉ Jika Umar menyaksikan musibah yang menimpa kita berupa sikap mengedepankan pendapat si fulan dan si fulan dari pada perkataan Nabi ﷺ yang terjaga dari kesalahan?? Bagaimana jika Umar (Ibnul Khatthab -radhiyallahu 'anhu-)) melihat penentangan orang-orang yang menampilkan pendapat-pendapat mereka dan lebih mengedepankan pendapat dan pemikiran mereka daripada perkataan Rasulullah ﷺ?? Hanyalah Allah tempat meminta pertolongan, Dari Dialah kita diciptakan dan kepadaNyalah kita kembali” (📚 Madarijus Salikin, 1/334).

*Ketiga telah kita sadurkan nukilan Ijma' akan Keharaman dan kerusakan yang timbul apabila pintu : mencari-cari Rukhsah dibuka, –mengambil pendapat yang meng-gampangkan, ambil yang mudah-mudahnya saja, ambil sebagian dan tinggalkan sebagiannya–

_Ikhwahni Fiddin a' azzakumullah Jami'an_

Berdoalah agar Allah Ta’ala menunjuki kita (semuanya) kepada kebenaran. 

Dan Sungguh Nabi Kita Muhammad bin Abdillah telah mengajarkan kita doa, bagi para pencari kebenaran:

اللهم رب جبريل وميكائيل وإسرافيل فاطر السماوات والأرض عالم الغيب والشهادة أنت تحكم بين عبادك فيما كانوا فيه يختلفون أهدني لما اختلف فيه من الحق بإذنك إنك تهدي من تشاء إلى صراطٍ مستقيم

Ya Allah, Rabb jibril, mikail dan israfil, Yang menciptakan langit-langit dan bumi, Yang mengetahui ilmu ghaib dan yang nampak, Engkau menghakimi hamba-hamba-Mu pada apa-apa yang mereka perselisihkan. Tunjukilah kepadaku kebenaran dari apa-apa yang mereka perselisihkan dengan idzin-Mu. Sesungguhnya Engkau menunjuki siapa saja yang Engkau kehendaki kepada jalan yang lurus. (📚 Diriwayatkan oleh Imam Muslim no. 770, dari Hadits Ummahatul Mukminin Aisyah -radhiyallahu 'anha- ).

Semoga bermanfaat. Wa Billahit Taufiq was Sadaad...

Ulama Ahlus Sunnah Perkataan Ulama Fatwa Ulama