Penetapan Hari Raya adalah Ijtihad Penguasa

Febri Hidayan
08 March 2020 - 00:03


Penetapan Hari Raya adalah Ijtihad Penguasa bukan Ijtihad Individu atau Golongan

Al Imam Al Hasan Al-Bashri -rahimahullah- berkata saat menjelaskan hak-hak ijtihad pemerintah:

هم يلون من أمورنا خمسا الجمعة والجماعة والعيد والثغور والحدود والله ما يستقيم الدين إلا بهم وإن جاروا أو ظلموا

“Mereka mengurusi dari urusan kita 5 (lima)  perkara: shalat Jum’at, shalat jama'ah, hari raya, perbatasan negara, dan hukum hadd. Demi Allah! Agama tidak akan tegak kecuali dengan mereka walaupun mereka itu melampaui batas atau berbuat zalim.” (📚 Jami’ul Ulum wal Hikam, hlm. 292).

Rasulullah ﷺ  bersabda:

الْفِطْرُ يَوْمَ يُفْطِرُ النَّاسُ وَالْأَضْحَى يَوْمَ يُضَحِّي النَّاسُ

“Hari Idul Fitri adalah pada hari orang-orang berbuka (bersama-sama) dan Idul 'Adlha adalah pada hari orang-orang menyembelih (bersama-sama).” (📚 Diriwayatkan oleh At Tirmidzi, no. 731 dari Aisyah -radhiyallahu 'anha-, Beliau Abu Isa berkata: hadits shahih gharib. Isnadnya di-shahih-kan oleh Al Munawi dalam At Taisir: 2/351. Dan di-shahih-kan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’, no. 4287).

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ وَالْأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ

“Puasa adalah pada hari kalian berpuasa dan idul fitri adalah pada hari kalian beridul fitri (bersama-sama) dan idul adha adalah pada hari kalian menyembelih kurban (bersama-sama).” (Diriwayatkan oleh At Tirmidzi, no. 633, Ibnu Majah, no. 1650 dari Abu Hurairah -radhiyallahu 'anhu-  dan di-shahih-kan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah, no. 224)

Al Imam Abu Isa At Tirmidzi -rahimahullah- berkata:

وفسر بعض أهل العلم هذا الحديث فقال إنما معنى هذا الصوم والفطر مع الجماعة وعظم الناس

“Sebagian ulama menafsiri hadits di atas bahwa berpuasa dan berbuka itu bersama jama’ah (imam kaum muslimin-pent)¹ dan mayoritas manusia.” (📚 Tuhfatul Ahwadzi, 2/235).

Al Allamah Abdur Rauf Al Munawi -rahimahullah- berkata:

أي الفطر هو اليوم الذي يجمعون على الفطر فيه ، هبه صادف الصحة أو لا ويوم الأضحى هو الذي يجمعون على التضحية فيه

“Maksudnya bahwa Idul Fitri adalah hari yang mana manusia bersepakat untuk berbuka padanya, baik dengan ijtihad yang benar maupun ijtihad yang salah. Dan Idul 'Adha adalah hari yang mana manusia bersepakat untuk menyembelih kurban padanya.” (📚 Faidlul Qadir, 4/608).

Al Allamah Al Amir Ash Shan’ani -rahimahullah- berkata:

فيه دليل على أنه يعتبر في ثبوت العيد الموافقة للناس وأن المنفرد بمعرفة يوم العيد بالرؤية يجب عليه موافقة غيره ويلزمه حكمهم في الصلاة والإفطار والأضحية.

“Di dalam hadits ini terdapat dalil bahwa yang dianggap dalam penetapan hari raya adalah kesesuaiannya dengan masyarakat banyak. Dan orang yang bersendirian dalam mengetahui hari raya wajib untuk menyesuaikan dirinya dengan masyarakat banyak. Wajib baginya melaksanakan hukum yang berlaku dalam masyarakat tentang shalat (ied), lebaran dan kurban.” (📚 Subulus Salam, 2/134).

Al Allamah Abul Hasan As Sindi Al Hindi -rahimahullah- berkata:

وَالظَّاهِر أَنَّ مَعْنَاهُ أَنَّ هَذِهِ الْأُمُور لَيْسَ لِلْآحَادِ فِيهَا دَخْل وَلَيْسَ لَهُمْ التَّفَرُّد فِيهَا بَلْ الْأَمْر فِيهَا إِلَى الْإِمَام وَالْجَمَاعَة وَيَجِب عَلَى الْآحَاد اِتِّبَاعهمْ لِلْإِمَامِ وَالْجَمَاعَة وَعَلَى هَذَا فَإِذَا رَأَى أَحَد الْهِلَال وَرَدَّ الْإِمَام شَهَادَته يَنْبَغِي أَنْ لَا يَثْبُت فِي حَقّه شَيْء مِنْ هَذِهِ الْأُمُور وَيَجِب عَلَيْهِ أَنْ يَتْبَع الْجَمَاعَة فِي ذَلِكَ.

“Yang jelas dari makna hadits di atas adalah bahwa urusan ini (penentuan hari raya dan puasa) tidak ada celah bagi individu untuk menentukan masalah ini dan tidak boleh seseorang bersendirian dalam hari raya dan puasa, tetapi urusan ini harus dikembalikan kepada imam (penguasa) dan jama’ah masyarakatnya dan wajib bagi masing-masing individu untuk mengikuti penguasa dan masyarakatnya. Dan dengan dasar ini jika ada seseorang melihat hilal sendirian dan kemudian penguasa menolak persaksiannya maka seyogyanya ia tidak meng-itsbat (menetapkan puasa atau lebaran) untuk dirinya. Tetapi wajib baginya untuk mengikuti masyarakat dan pemerintahnya dalam perkara tersebut.” (📚 Hasyiyah Ibni Majah As Sindi, 3/431).

Teladani Generasi Terbaik As Salaf 

Keteladanan mereka telah mendapatkan rekomendasi dari Rasulullah ﷺ  Beliau bersabda:

خَيْرُ أُمَّتِي قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baik umatku adalah generasiku (Shahabat), kemudian generasi setelahnya (Tabi’in), kemudian generasi setelahnya (Tabi’ut Tabi’in).” (📚 Diriwayatkanboleh Al Bukhari, no. 3377, Muslim, no. 4003, At Tirmidzi, no. 2147, An Nasa’i, no. 3749).

Mereka adalah teladan kita dalam menjaga kekompakan dan kebersamaan lebaran dan puasa bersama pemerintah.

Kisah Teladan dari Khalifah Umar bin Al Khaththab -radhiyallahu 'anhu-. Al Imam Abu Qilabah -rahimahullah- bercerita:

أن رجلين رأيا الهلال، وهما بطريق مكة، فتعجلا، فقدما المدينة، فإذا الناس صيام، فأتيا عمر بن الخطاب رضي الله عنه ، فأخبراه أنهما قد رأيا الهلال، فقال لأحدهما: « أصائم أنت أم مفطر؟ »، فقال: مفطر، قال: «وما حملك على ذلك ؟» ، قال : إني لم أكن لأصوم وقد رأيت الهلال ، فسأل الآخر فقال : أنا صائم ، قال : « ولم ؟ » ، قال: رأيت الناس صياما، فلم أكن لأخالف عليهم ، فقال عمر: «لولا هذا لأوجعت لك رأسك»، ثم أمر الناس، فخرجوا بعدما ارتفع الضحى

“Bahwa ada dua (2)  orang telah melihat hilal (Syawal). Keduanya melalui jalan Makkah kemudian bercepat-cepat menuju Madinah. Sesampainya di Madinah keduanya menjumpai manusia sedang berpuasa. Maka keduanya mendatangi Khalifah Umar bin Al Khaththab -radhiyallahu 'anhu- dan melaporkan kepada Beliau (-radhiyallahu 'anhu-) bahwa keduanya telah melihat hilal Syawal. Maka Beliau (-radhiyallahu 'anhu-) bertanya kepada salah seorang pelapor: “Kamu berpuasa ataukah berbuka (berlebaran)?” Ia menjawab: “Saya berbuka.” Beliau (-radhiyallahu 'anhu-) bertanya lagi: “Apakah alasanmu atas demikian?” Ia menjawab: “Saya tidaklah berpuasa dalam keadaan sudah melihat hilal Syawal.” Kemudian beliau bertanya kepada pelapor yang lain dengan pertanyaan yang sama maka si pelapor menjawab: “Saya masih berpuasa dan aku tidak akan menyelisihi manusia yang sedang berpuasa.” Maka Umar (-radhiyallahu 'anhu-) berkata kepada pelapor yang sudah berbuka: “Seandainya tidak ada temanmu yang ikut melihat hilal Syawal maka kepalamu akan aku pukuli.” Maka Beliau (-radhiyallahu 'anhu-)  memerintahkan kaum muslimin agar membatalkan puasa mereka. Maka mereka keluar menuju shalat ied setelah matahari dhuha meninggi.” (Atsar riwayat Abdur Razzaq dalam Mushannafnya, no. 7338, Ath Thabari dalam Tahdzibul Atsar, no. 2319, isnadnya shahih hanya saja Abu Qilabah tidak pernah bertemu Umar).

Bahkan Umar (-radhiyallahu 'anhu-) berbicara dengan tegas kepada rakyatnya:

لِيَتَّقِ أَحَدُكُمْ أَنْ يَصُومَ يَوْمًا مِنْ شَعْبَانَ، أَوْ يُفْطِرَ يَوْمًا مِنْ رَمَضَانَ، فإِنْ تَقَدَّمَ قَبْلَ النَّاسِ، فَلْيُفْطِرْ إذَا أَفْطَرَ النَّاسُ.

“Hendaknya salah seorang di antara kalian merasa takut untuk berpuasa sehari dari bulan Sya’ban atau berbuka sehari dari bulan Ramadhan! Kalau ia mendahului (melihat hilal Syawal) sebelum manusia maka hendaknya ia berlebaran ketika manusia berlebaran!” (📚 Atsar riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam Musnad-nya, 3/73 no.  9600 dan isnadnya adalah shahih. Lihat tahqiq kitab Ahkamul Ikhtilaf fi Ru’yati Hilal Dzilhijjah, hlm.30).

Kisah Teladan  dari Aisyah -radhiyallahu 'anha- Al Imam Masruq -rahimahullah- mengisahkan:

دَخَلْتُ عَلَى عَائِشَةَ يَوْمَ عَرَفَةَ فَقَالَتِ اسْقُوا مَسْرُوقًا سَوِيقًا وَأَكْثِرُوا حَلْوَاهُ. قَالَ فَقُلْتُ : إِنِّى لَمْ يَمْنَعْنِى أَنْ أَصُومَ الْيَوْمَ إِلاَّ أَنِّى خِفْتُ أَنْ يَكُونَ يَوْمَ النَّحْرِ فَقَالَتْ عَائِشَةُ : النَّحْرُ يَوْمَ يَنْحَرُ النَّاسُ ، وَالْفِطْرُ يَوْمَ يُفْطِرُ النَّاسُ

“Aku memasuki rumah Ibunda Aisyah -radhiyallahu 'anha- (istri Rasulullah ﷺ) pada hari Arafah. Aisyah (-radhiyallahu 'anha-) berkata (kepada pelayannya): “Berilah Masruq minuman As Sawiq (sejenis bubur gandum) dan perbanyak manisannya!” Masruq berkata: “Tidak ada yang menghalangiku untuk berpuasa hari ini kecuali aku khawatir bahwa hari ini adalah hari Iedul 'Adha.” Maka Aisyah berkata: “Hari Iedul 'Adha adalah pada hari yang mana masyarakat menyembelih kurban dan hari Iedul Fitri adalah pada hari yang mana masyarakat berbuka.” (📚 Atsar riwayat Al-Baihaqi dalam Al-Kubra: 8468 (4/525) dan Abu Yusuf dalam Al-Atsar: 809 (2/339). Isnadnya di-jayyid-kan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah, no. 224).

Kekhawatiran Masruq ditolak oleh Ibunda Aisyah (-radhiyallahu 'anha-)  karena ia menyelisihi masyarakat Madinah yang sedang berpuasa Arafah!.

Kisah Teladan dari Anas bin Malik -radhiyallahu 'anhu- Pelayan Rasulullah ﷺ Yahya bin Abi Ishaq -rahimahullah- mengisahkan:

رأيت هلال الفطر إما عند الظهر أو قريبا منها، فأفطر ناس من الناس، فأتينا أنس بن مالك، فأخبرناه برؤية الهلال وبإفطار من أفطر من الناس فقال: هذا اليوم يكمل لي أحد وثلاثين يوما وذاك أن الحكم بن أيوب أرسل إلي قبل صيام الناس: إني صائم غدا، فكرهت الخلاف عليه فصمت، وأنا متم يومي هذا إلى الليل

“Aku melihat hilal Idul Fitri pada waktu dhuhur atau mendekatinya. Maka sebagian orang membatalkan puasanya. Kemudian kami mendatangi Anas bin Malik t (shahabat Nabi ﷺ) dan mengabarkan kepadanya tentang terlihatnya hilal Syawal dan berbukanya sebagian orang. Maka beliau berkata: “Pada hari ini saya telah sempurna berpuasa 31 hari. Ini karena Al Hakam bin Ayyub Ats Tsaqafi (Gubernur Bashrah) telah berkirim surat kepadaku sebelum manusia berpuasa bahwa beliau berpuasa (duluan-pent) besok hari. Maka aku tidak suka menyelisihinya sehingga aku tetap berpuasa. Dan aku tetap menyempurnakan puasa hari ini (hari ke-31) sampai nanti malam.” (📚 Atsar riwayat Abu Bakar Asy Syafi’i dalam Al Ghailaniyyat, no. 1/190, no. 187, Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf-nya, 3/65, 9542, dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Damsyiq, 5/15).

Al Imam Al Muwafaqqudin  Ibnu Qudamah -rahimahullah- menyikapi perbuatan Umar dan Aisyah -radhiyallahu 'anhum- di atas dalam ucapannya:

وَلَمْ يُعْرَفْ لَهُمَا مُخَالِفٌ فِي عَصْرِهِمَا، فَكَانَ إجْمَاعًا

“Dan tidak diketahui ada shahabat Nabi (ﷺ) yang menyelisihi pendapat beliau berdua di masa keduanya (generasi Shahabat) maka jadilah ini sebuah ijma’ (-shahabat radhiyallahu 'anhuma ajma'in-).” (📚 Al Mughni, 6/171).

Kemudian tabi’in  mencontoh mereka adalah Al Imam Ibrahim An Nakha’i. Abul Aizar -rahimahullah- berkata:

أَتَيْتُ إبْرَاهِيمَ فِي الْيَوْمِ الَّذِي يُشَكُّ فِيهِ، فَقَالَ: لَعَلَّك صَائِمٌ، لاَ تَصُمْ إِلاَّ مَعَ الْجَمَاعَةِ.

“Aku mendatangi Al Imam Ibrahim An Nakha’i pada hari Syakk (tanggal 30 Sya’ban).” Maka Beliau berkata: “Mungkin kamu sedang berpuasa. Janganlah kamu berpuasa kecuali bersama Al Jamaah (kaum muslimin dan pemerintahnya-pent).” (📚 Atsar riwayat Ibnu Abi Syaibah, 3/72, no. 9591).

Begitu pula Al Imam Amir bin Syarahil Asy Sya’bi -rahimahullah- juga berkata:

لاَ تَصُمْ إِلاَّ مَعَ جَمَاعَةِ النَّاسِ

“Janganlah kamu berpuasa kecuali bersama masyarakat.” (📚 Atsar riwayat Ibnu Abi Syaibah, 3/71, no. 9588).

Beliau (rahimahullah) juga berkata:

لاَ تَصُومَنَّ إِلاَّ مَعَ الإِمَامِ ، فَإِنَّمَا كَانَتْ أَوَّلُ الْفُرْقَةِ فِي مِثْلِ هَذَا.

“Janganlah berpuasa kecuali bersama pemerintah! Karena awal perpecahan adalah di dalam perkara seperti ini.” (📚 Atsar riwayat Ibnu Abi Syaibah, 3/72, no. 9588)

Atas dasar inilah Al Imamus Sunnah Ahmad bin Hanbal -rahimahullah- membuat kaidah umum dengan pernyataan-nya:

أَنَّ النَّاسَ تَبَعٌ لِلْإِمَامِ، فَإِنْ صَامَ صَامُوا، وَإِنْ أَفْطَرَ أَفْطَرُوا.

“Sesungguhnya masyarakat itu mengikuti pemerintah. Jika pemerintah berpuasa maka mereka ikut berpuasa dan jika mereka berlebaran maka mereka pun ikut berlebaran.” (📚 Al Mughni, 6/37, oleh Ibnu Qudamah)

Asy Syaikhul Islam Abul Abbas Ibnu Taimiyyah -rahimahullah- berkata:

وَيَرَوْنَ إِقَامَةَ الْحَجِّ وَالْجِهَاِد وَالْجُمَعِ وَاْلأَعْيَادِ مَعَ اْلأُمَرَاءِ أَبْرَاراً كَانُوْا أَوْ فُجَّاراً وَيُحَافِظُوْنَ عَلَى الْجَمَاعَاتِ وَيَدِيْنُوْنَ بِالنَّصِيْحَةِ لِلأُمَّةِ

"Mereka (Ahlus Sunnah) memandang harusnya melaksanakan haji, jihad, shalat Jum'at, hari raya bersama pemerintah yang baik baik, maupun yang fajir. Mereka (Ahlus Sunnah) juga menjaga shalat-shalat jama'ah, dan memberikan nasihat bagi ummat". (📚 Al Aqidah Al Wasithiyyah, hlm. 32).

Semoga tulisan ringkas ini bisa menyatukan langkah kita, dan menguatkan persatuan kita di atas Al Haq. -yakni :bersama Al Jama'ah- Amiin.

"Sesungguhnya Tangan Allah di atas jama'ah". (Silsilah Ash Shahihah, /1/444-445).

Baarakalllahu Fiikum


Ramadhan Puasa Hadits Puasa Ijtihad Penguasa Hari Raya