Puasa Bagi Wanita Hamil dan Menyusui di Bulan Ramadhan

Febri Hidayan
25 April 2020 - 12:17


Al Imam Asy Syaukani -rahimahullah- berkata:

وأنه يجوز للحبلى والمرضع الإفطار وقد ذهب إلى ذلك العترة والفقهاء إذا خافت المرضعة على الرضيع والحامل على الجنين وقالوا إنها تفطر حتماً قال أبو طالب: ولا خلاف في الجواز.

“Dan bahwasannya diperbolehkan bagi wanita hamil dan menyusui untuk berbuka puasa. Telah berpendapat tentang hal tersebut ‘itrah (ahlul-bait) dan fuqaha’, yaitu apabila wanita yang menyusui khawatir dengan anak yang disusuinya dan wanita yang hamil khawatir dengan anak yang dikandungnya/janin. Mereka berkata : ‘Sesungguhnya ia wajib untuk berbuka’. Abu Thalib berkata : ‘Dan tidak ada perbedaan pendapat tentang kebolehannya” (Nailul Authar, 4/230)

a.    Jika wanita hamil dan/atau menyusui berbuka karena khawatir terhadap anaknya saja, maka wajib baginya menqadla dan membayar fidyah.

Ini pendapat madzhab Syafi’iyyah yang rajih dan mu’tamad dari madzhab mereka

(Mughnil Mughtaj oleh Asy-Syarbini 2/174),  madzhab Hanabilah (Kasysyaaful Qina’ oleh Al-Bahutiy 2/313) dan Imam Mujaahid.

b.    Wanita hamil yang berbuka hanya wajib menqadla dan tidak wajib membayar fidyah. Sedangkan bagi wanita menyusui wajib baginya menqadla’ dan membayar fidyah.

Ini adalah madzhab Malikiyyah, dan dengannya Al-Laits berpendapat. (Taqriiraat Muhammad ‘Ulaisy ma’a Syarhil-Kabiir oleh ‘Ulaisy 1/535)

c.    Wanita hamil dan menyusui yang berbuka hanya berkewajiban membayar fidyah, tidak wajib mengqadla’.

Ini adalah pendapat Ibnu ‘Abbas dan Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhum, serta sekelompok tabi’in. (Al-Istidzkar oleh Ibnu ‘Abdil-Barr 10/221-222, dan Al-Jaami’ li-Ahkaamil-Qur’an oleh Al-Qurthubi 2/288)

d.    Wanita hamil dan menyusui yang berbuka tidak wajib mengqadla dan tidak pula membayar fidyah.

Ini adalah pendapat Ibnu Hazm Adh-Dhahiriy. (Al-Muhalla oleh Ibnu Hazm 4/410)

e.    Memberi pilihan. Jika wanita yang hamil dan menyusui itu memilih memberi makan (membayar fidyah), maka ia tidak perlu mengqadla’. Sebaliknya, jika mereka memilih mengqadla’, maka ia tidak perlu membayar fidyah.

Ini adalah pendapat Ishaq bin Rahawaih. (Syarhus-Sunnah oleh Al-Baghawi 6/316)

f.     Wanita yang hamil wajib mengqadha’, tidak wajib membayar fidyah.

Ini adalah pendapat Hanafiyyah (Fathul-Qadiir ma’al-Hidaayah oleh Ibnul-Hamaam 2/335), Asy-Syafi’iy dan Al-Muzanniy dari madzhab Syafi’iyyah (Al-Haawiy oleh Al-Mawardi 3/437), Hasan Al-Bashri, An-Nakha’iy, Al-Auza’iy, ‘Atha’, Az-Zuhriy, Sa’id bin Jubair, Adl-Dlahhak, Rabi’ah, Ats-Tsauriy, Abu ‘Ubaid, Abu Tsaur, Ashhaabur-Ra’yi (Hanafiyyah), Ibnul-Mundzir, diriwayatkan dari Al-Laits, dan ia merupakan pendapat Ath-Thabariy. (Al-Istidzkaar oleh Ibnu ‘Abdil-Barr 10/222 dan Syarhus-Sunnah oleh Al-Baghawiy 6/316)

(Di sadur dari kitav Ahkamul Mar-atil Haamil fisy Syarii’atil Islaamiyyah oleh Yahya Abdurrahman Al Khathib)

Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى وَضَعَ شَطْرَ الصَّلَاةِ أَوْ نِصْفَ الصَّلَاةِ وَالصَّوْمَ عَنْ الْمُسَافِرِ وَعَنْ الْمُرْضِعِ أَوْ الْحُبْلَى

“Sesungguhnya Allah Ta’ala telah menggugurkan setengah shalat dan puasa bagi seorang musafir; serta wanita yang menyusui dan wanita yang hamil" (Diriwayatkan oleh Abu Dawud, no. 2408, At Tirmidzi, no. 715, An Nasa’i, 4/190, Ahmad 4/347 & 5/29, Abd bin Humaid, no. 430, Ibnu Majah, no. 1667 & 2042 & 2043 & 3299, Abdullah bin Ahmad dalam tambahannya atas Musnad Ahmad 4/347, dan Ibnu Khuzaimah, no. 2044; dan dshahihkan oleh Al Albaani dalam Shahih Sunan Abi Daawud, 2/71)

عن بن جريج عن عطاء قال : تفطر الحامل والمرضع في رمضان إذا خافتا على أولادهما في الصيف، قال : وفي الشتاء إذا خافتا على أولادهما.

Dari Ibnu Juraij, dari Atha’, ia berkata : “Wanita hamil dan menyusui boleh berbuka di bulan Ramadhan apabila khawatir terhadap anaknya, baik di musim panas ataupun di musim dingin” (Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq, 4/217 no. 7557; shahih)

Keterangan para pe-rawi:

  1. Ibnu Juraij adalah Abdul Malik bin Abdil Aziz bin Juraij Al Qurasyi Al Umawi, Abul Walid, w 149/150/151 H – seorang yang Tsiqah, Faqih, lagi mempunyai keutamaan; namun banyak melakukan tadlis dan irsal.  (Taqribut Tahdzib, hlm. 624, no. 4221)
  2. Atha’ bin Abi Rabbah; seorang yang tsiqah, faqiih, lagi mempunyai banyak keutamaan (w. 114 H. Termasuk pe-rawi Al Bukhari dan Muslim dalam Shahih-nya (Taqribut Tahdzib, hlm. 677 no. 4623)

Catatan: An’anah Ibnu Juraij dari Atha’ –dan ia seorang mudallis– tidak memudharatkannya (hadits). Karena Imam Ibnu Abi Khaitsamah membawakan satu (penegasan) riwayat shahih dari Ibnu Juraij, bahwa ia (Ibnu Juraij berkata) :

إذا قلت قال عطاء فأنا سمعته منه وإن لم أقل سمعت

“Apabila aku berkata: Telah berkata Atha’ , maka artinya aku telah mendengarnya walau aku tidak mengatakan : Aku telah mendengar” (Tahdzibut Tahdzib, 2/617, pada –Biografi Abdul Malik bin Abdil Aziz bin Juraij Al Umawi–)

Dan Asy Syaikh Al Albani -rahimahullah- pun menegaskan:

وهذه فائدة هامة جدا ، تدلنا على أن عنعنة ابن جريج عن عطاء في حكم السماع

“Ini satu faedah yang sangat besar, yang menunjukkan pada kita bahwa ‘an’anah Ibnu Juraij dari Atha’ dihukumi penyimakan (sama’)” (Irwaul Ghalil, 4/244)

Yang menjadi permasalahan adalah mereka (para Fuqaha’-red) berselisih pendapat tentang konsekuensi bagi wanita hamil dan menyusui tersebut setelah berbuka, apakah ia harus mengqadha’, membayar fidyah, mengqadha’ dan membayar fidyah, atau bahkan tidak ada kewajiban mengqadha’ maupun membayar fidyah.

Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ * أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui” (Surah Al Baqarah: 183-184)

حَدَّثَنِي إِسْحَاقُ أَخْبَرَنَا رَوْحٌ حَدَّثَنَا زَكَرِيَّاءُ بْنُ إِسْحَاقَ حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ دِينَارٍ عَنْ عَطَاءٍ سَمِعَ ابْنَ عَبَّاسٍ يَقْرَأُ ( وَعَلَى الَّذِينَ يُطَوَّقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ ) قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ لَيْسَتْ بِمَنْسُوخَةٍ هُوَ الشَّيْخُ الْكَبِيرُ وَالْمَرْأَةُ الْكَبِيرَةُ لَا يَسْتَطِيعَانِ أَنْ يَصُومَا فَيُطْعِمَانِ مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا

Telah menceritakan kepada kami Ishaaq: Telah mengkhabarkan kepada kami Rauh: Telah menceritakan kepada kami Zakariyya bin Ishaq: Telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin Dinar, dari Atha’ (bahwa) ia mendengar Ibnu Abbas membaca: “wa ‘alalladziina yuthawwaquunahu fidyatun tha’aamu miskiina (Dan bagi orang-orang yang dibebani puasa, membayar fidyah yaitu: memberi makan seorang miskin)”. Ibnu Abbas berkata: “Ayat ini tidak mansuukh (hukumnya), yaitu laki-laki tua renta atau wanita tua renta dimana keduanya sudah tidak mampu lagi berpuasa, maka keduanya wajib memberi makan seorang miskin sebagai ganti untuk setiap harinya” (Hadits riwayat Al Bukhari, no. 4505)

Perlu diketahui bahwasanya Jumhur ulama telah mengkritik perkata-an Ibnu Abbas, bahwa yang benar dalam masalah ini ayat tersebut mansukh (Terhapus hukumnya). Mereka berargumen dengan riwayat:

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا بَكْرُ بْنُ مُضَرَ عَنْ عَمْرِو بْنِ الْحَارِثِ عَنْ بُكَيْرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ يَزِيدَ مَوْلَى سَلَمَةَ بْنِ الْأَكْوَعِ عَنْ سَلَمَةَ قَالَ لَمَّا نَزَلَتْ {وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ} كَانَ مَنْ أَرَادَ أَنْ يُفْطِرَ وَيَفْتَدِيَ حَتَّى نَزَلَتْ الْآيَةُ الَّتِي بَعْدَهَا فَنَسَخَتْهَا

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah: Telah menceritakan kepada kami Bakr bin Mudhar, dari Amru bin Al Harits, dari Bukair bin Abdillah, dari Yazid maulaa Salamah bin Al Akwa’, dari Salamah, ia berkata: “Ketika turun ayat: ‘Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin’ , barangsiapa yang ingin berbuka maka hendaklah membayarkan fidyah hingga kemudian turunlah ayat setelahnya yang menghapus (hukum)-nya” (Diriwayatkan oleh Al Bukhari, no. 4507)

حَدَّثَنَا عَيَّاشٌ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْأَعْلَى حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَرَأَ {فِدْيَةٌ طَعَامُ مَسَاكِينَ} قَالَ هِيَ مَنْسُوخَةٌ

Telah menceritakan kepada kami Ayyasy: Telah menceritakan kepada kami Abdul A’la: Telah menceritakan kepada kami Ubaidullah, dari Nafi’, dari Ibnu Umar -radliyallahu ‘anhuma-, bahwasannya ia membaca ayat: fidyatun tha’aamu masaakiin (‘membayar fidyah, yaitu: memberi makan seorang miskin’), lalu berkata: ‘Ayat ini mansukh (hukumnya)” (Diriwayatkan oleh Al Bukhari, no. 1949 dan 4506)

Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahulah sampai berkata:

هذا مذهب ابن عباس وخالفه الأكثر

“Ini adalah madzhab Ibnu Abbas, sedangkan kebanyakan ulama telah menyelisihinya” (Fathul Bari, 8/180)

Akan tetapi ada riwayat shahih dari Ibnu Abbas -radliyallahu ‘anhuma- bahwa ia juga membaca ayat sebagaimana qira’at jumhur.

أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ بْنِ إِبْرَاهِيمَ قَالَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ قَالَ أَنْبَأَنَا وَرْقَاءُ عَنْ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ عَنْ عَطَاءٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ فِي قَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ { وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ } يُطِيقُونَهُ يُكَلَّفُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ وَاحِدٍ { فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا } طَعَامُ مِسْكِينٍ آخَرَ لَيْسَتْ بِمَنْسُوخَةٍ { فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ } لَا يُرَخَّصُ فِي هَذَا إِلَّا لِلَّذِي لَا يُطِيقُ الصِّيَامَ أَوْ مَرِيضٍ لَا يُشْفَى

Telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad bin Ismaa’iil bin Ibraahiim[12], ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Yaziid[13], ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Warqaa’[14], dari ‘Amru bin Diinaar[15], dari ‘Athaa’, dari Ibnu ‘Abbaas tentang firman-Nya ‘azza wa jalla: ‘Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin’. Ia (Ibnu ‘Abbaas) berkata: “Makna yuthiiquunahu adalah yukallafunahu (dibebani puasa); untuk membayar fidyah, memberi makan satu orang miskin. “Barangsiapa yang dengan kerelaan mengerjakan kebajikan”; yaitu memberi makan orang miskin yang lain, tidaklah dihapus. ‘Maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu’; yaitu, tidak diberikan keringanan dalam hal ini kecuali bagi orang yang tidak mampu berpuasa atau sakit yang tidak diharapkan sembuhnya" [Diriwayatkan oleh An-Nasaa’iy no. 2317; shahih – lihat: Shahih Sunan An-Nasaa’iy 2/144].

Wallaahu a’lam.


Fiqih Wanita Wanita Hamil Puasa Wanita Bulan Ramadhan Puasa Ramadhan