Silsilah Pembahasan Kitabut Tauhid Bagian 3

Hamzah
24 February 2020 - 12:32


Silsilah Pembahasan Kitabut Tauhid bagian 3

BAB 3

مَنْ حَقَّقَ التَّوْحِيْدَ دَخَلَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابِ

MEMURNIKAN TAUHID[1] MENYEBABKAN MASUK SURGA TANPA HISAB [2]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِّلَّـهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif (berpegang teguh pada kebenaran), dan sekali-kali ia bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Allah).” (An Nahl: 120)[3].

وَالَّذِينَ هُم بِرَبِّهِمْ لَا يُشْرِكُونَ

“Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Rabb mereka (sesuatu apapun)”. (Al Mu’minun: 59)[4]..

Husain bin Abdurrahman[5] berkata: “Suatu ketika aku berada di sisi Sa’id bin Zubair[6], lalu ia bertanya: “siapa di antara kalian melihat bintang yang jatuh semalam?[7] kemudian aku menjawab: “aku”, kemudian kataku: “ketahuilah, sesungguhnya aku ketika itu tidak sedang melaksanakan shalat, karena aku disengat kalajengking”, lalu ia bertanya kepadaku: “lalu apa yang kau lakukan] aku menjawab: “aku minta di-ruqyah[8]”, ia bertanya lagi: “apa yang mendorong kamu melakukan hal itu?[9] aku menjawab: “yaitu: sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Asy Sya’bi[10] kepada kami”, ia bertanya lagi: “dan apakah hadits yang dituturkan kepadamu itu? aku menjawab: “dia menuturkan hadits kepada kami dari Buraidah bin Hushaib[11]:

(( لاَ رُقْيَةَ إِلاَّ مِنْ عَيْنٍ أَوْ حُمَةٍ ))

“Tidak ada Ruqyah kecuali karena ain[12] atau terkena (حُمَةٍ : Al Humah adalah sengatan binatang) [13] racun kalajengking atau yang semisalnya)”. Sa’id pun berkata: “sungguh telah berbuat baik orang yang telah mengamalkan apa yang telah didengarnya, tetapi Ibnu Abbas[14] menuturkan hadits kepada kami dari Rasulullah ﷺ, Beliau (ﷺ) bersabda:

(( عُرِضَتْ عَلَيَّ الأُمَمُ، فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ مَعَهُ الرَّهْطُ، وَالنَّبِيَّ مَعَهُ الرَّجُلُ وَالرَّجُلاَنِ، وَالنَّبِيَّ وَلَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ، إِذْ رُفِعَ لِيْ سَوَادٌ عَظِيْمٌ، فَظَنَنْتُ أَنَّهُمْ أُمَّتِيْ، فَقِيْلَ لِيْ: هَذَا مُوْسَى وَقَوْمُهُ، فَنَظَرْتُ فَإِذَا سَوَادٌ عَظِيْمٌ، فَقِيْلَ لِيْ: هَذِهِ أُمَّتُكَ، وَمَعَهُمْ سَبْعُوْنَ أَلْفًا يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلاَ عَذَابٍ، ثُمَّ نَهَضَ فَدَخَلَ مَنْزِلَهُ، فَخَاضَ النَّاسُ فِيْ أُوْلَئِكَ، فَقَالَ بَعْضُهُمْ: فَلَعَلَّهُمُ الَّذِيْ صَحِبُوْا رَسُوْلَ اللهِ r، وَقَالَ بَعْضُهُمْ: فَلَعَلَّهُمْ الَّذِيْنَ وُلِدُوْا فِيْ الإِسْلاَمِ فَلَمْ يُشْرِكُوْا بِاللهِ شَيْئًا، وَذَكَرُوْا أَشْيَاءَ، فَخَرَجَ عَلَيْهِمْ رَسُوْلُ اللهِ r فَأَخْبَرُوْهُ، فَقَالَ: (( هُمُ الَّذِيْنَ لاَ يَسْتَرْقُوْنَ وَلاَ يَتَطَيَّرُوْنَ وَلاَ يَكْتَوُوْنَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَ )) فَقَامَ عُكَاشَةُ بْنُ مِحْصَنٍ فَقَالَ: ادْعُ اللهَ أَنْ يَجْعَلَنِىْ مِنْهُمْ، فَقَالَ: (( أَنْتَ مِنْهُمْ )) ثُمَّ قَالَ رَجُلٌ آخَرُ فَقَالَ: ادْعُ اللهَ أَنْ يَجْعَلَنِيْ مِنْهُمْ، فَقَالَ : (( سَبَقَكَ بِهَا عُكَاشَةُ))

“Telah diperlihatkan kepadaku beberapa umat, lalu aku melihat seorang Nabi, bersamanya sekelompok orang, dan seorang Nabi, bersamanya satu dan dua orang saja, dan Nabi yang lain lagi tanpa ada seorangpun yang menyertainya[15], tiba-tiba diperlihatkan kepadaku sekelompok orang yang banyak jumlahnya, aku mengira bahwa mereka itu umatku[16], tetapi dikatakan kepadaku: bahwa mereka itu adalah Musa dan kaumnya, tiba-tiba aku melihat lagi sekelompok orang yang lain yang jumlahnya sangat besar, maka dikatakan kepadaku: mereka itu adalah umatmu, dan bersama mereka ada 70.000 (tujuh puluh ribu) orang[17] yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa disiksa lebih dahulu.[18]” kemudian beliau bangkit dan masuk ke dalam rumahnya, maka orang- orang pun memperbincangkan tentang siapakah mereka itu? Ada di antara mereka yang berkata: “barangkali mereka itu orang-orang yang telah menyertai Nabi dalam hidupnya, dan ada lagi yang berkata: “barangkali mereka itu orang-orang yang dilahirkan dalam lingkungan Islam hingga tidak pernah menyekutukan Allah dengan sesuatupun, dan yang lainnya menyebutkan yang lain pula.

Kemudian Rasulullah ﷺ keluar dan merekapun memberitahukan hal tersebut kepada beliau. Maka Beliau (ﷺ) bersabda: “Mereka itu adalah orang-orang yang tidak pernah minta ruqyah[19], tidak melakukan tathayyur[20] dan tidak pernah meminta lukanya ditempeli besi yang dipanaskan[21], dan mereka pun bertawakkal[22] kepada Rabb mereka.” kemudian Ukasyah bin Muhshan[23] berdiri dan berkata: mohonkanlah kepada Allah agar aku termasuk golongan mereka, kemudian Rasul ﷺ bersabda: “ya, engkau termasuk golongan mereka”, kemudian seseorang yang lain berdiri juga dan berkata: mohonkanlah kepada Allah agar aku juga termasuk golongan mereka, Rasul menjawab: “Kamu sudah kedahuluan Ukasyah.” (Diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari dan Muslim)[25]

Kandungan bab ini:

Mengetahui adanya tingkatan-tingkatan manusia dalam bertauhid

Pengertian mengamalkan Tauhid dengan semurni-murninya.

Pujian Allah kepada Nabi Ibrahim, karena Beliau tidak pernah (sekalipun) melakukan kemusyrikan.

Pujian Allah kepada tokoh para wali Allah (para shahabat Rasulullah) karena bersihnya diri mereka dari kemusyrikan.

Tidak meminta ruqyah, tidak meminta supaya lukanya ditempeli dengan besi yang panas, dan tidak melakukan tathayyur adalah termasuk pengamalan Tauhid yang murni.[26]

Tawakkal kepada Allah adalah sifat yang mendasari sikap tersebut[27].

Dalamnya ilmu para shahabat, karena mereka mengetahui bahwa orang-orang yang dinyatakan dalam hadits tersebut tidak akan mendapatkan kedudukan yang demikian tinggi kecuali dengan adanya pengamalan.

Semangatnya para shahabat untuk berlomba-lomba dalam mengerjakan amal kebaikan.

Keistimewaan umat Islam dalam kuantitas dan kualitasnya.

Keutamaan para pengikut Nabi Musa.

Umat-umat terdahulu telah ditampakkan kepada Nabi Muhammad ﷺ.

Setiap umat dikumpulkan sendiri-sendiri bersama para Nabinya.

Sedikitnya orang-orang yang mengikuti ajakan para Nabi.

Nabi yang tidak mempunyai pengikut akan datang sendirian pada hari kiamat.

Manfaat dari pengetahuan ini adalah tidak silau dengan jumlah yang banyak dan tidak kecil hati dengan jumlah yang sedikit.

Diperbolehkan melakukan ruqyah disebabkan terkena ‘ain dan sengatan.

Luasnya ilmu para ulama salaf, hal itu bisa diketahui dari ucapan Sa’id bin Jubair: “Sungguh telah berbuat baik orang yang mengamalkan apa yang telah didengarnya, tetapi…”, dengan demikian jelaslah bahwa hadits yang pertama tidak bertentangan dengan hadits yang kedua.

Kemuliaan sifat para ulama salaf, karena ketulusan hati mereka, dan mereka jauh dari sifat memuji seseorang perkara yang tidak dimilikinya.

Sabda Nabi ﷺ: “Engkau termasuk golongan mereka” adalah salah satu dari tanda-tanda kenabian Beliau ﷺ.

Keutamaan Ukasyah

Penggunaan kata sindiran

Kemuliaan akhlak Nabi Muhammad ﷺ.

Pembahasan:

—————-

1. Yang dimaksud Memurnikan/merealisasikan Tauhid dalam Bab-ini, adalah tidak ada di hati seseorang sesuatu selain Allah, tidak ada keinginan pada apa yang Allah haramkan, selalu patuh pada perintah Allah. Itulah bukti dari Merealisasikan Kalimat laa ilaha illallah. (Taisir Al Azizil Hamid, hlm. 253, karya Asy Syaikh Sulaiman At Tamimi -rahimahullah-).

2. Hisab adalah peristiwa dan tahapan yang akan dilalui manusia pada hari kiamat, dan masuk ke Pembahasan Aqidah yakni Beriman kepada hari Akhir dan kejadian yang ada padanya merupakan salah satu rukun iman yang wajib diyakini oleh setiap muslim. Asy Syaikh Khalil Haras -rahimahullah- memjelaskan hisab disini adalah, peristiwa Allah menampakkan kepada manusia amalan mereka di dunia dan menetapkannya. Atau Allah mengingatkan dan memberitahukan kepada manusia tentang amalan kebaikan dan keburukan yang telah mereka lakukan. (Syarh Aqidah Al Wasithiyah, hlm. 208-209)

Berikut ringkasan Tiga Keadaan Manusia Dihisab Sebelum Masuk Surga

Keadaan Pertama ; Masuk Surga Tanpa Hisab

Keadaan Masuk Surga Tanpa Hisab sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al Imam Al Bukhari :

هُمْ الَّذِينَ لَا يَتَطَيَّرُونَ وَلَا يَسْتَرْقُونَ وَلَا يَكْتَوُونَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Mereka itu tidak melakukan thiyarah (beranggapan sial), tidak meminta untuk diruqyah, dan tidak menggunakan kay, dan hanya kepada Rabb-merekalah, mereka bertawakkal.” (Diriwayatkan oleh Al Bukhari no. 5752)

Keadaan Kedua ; Masuk Surga Dengan Hisab yang Ringan (حِسَابًا يَسِيْرًا)

Yakni Pemaparan amalan maksiat kaum Mukminin kepada mereka, penetapannya, merahasiakan (tidak dibuka dihadapan orang lain) dan pengampunan Allah atasnya. (Mukhtashar Ma’arij Al Qabul Hafizh Al Hakami, hlm. 246).

Berdasarkan Hadits dari Aisyah -radhiyallahu ‘ana-, bahwasanya Rasulullah (ﷺ) bersabda ;

لَيْسَ أَحَدٌ يُحَاسَبُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلاَّ هَلَكَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَيْسَ قَدْ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى ( فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا ) فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُمَّ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا ذَلِكِ الْعَرْضُ وَلَيْسَ أَحَدٌ يُنَاقَشُ الْحِسَابَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلاَّ عُذِّبَ

“Setiap orang yang menjalani hisab pada hari kiamat pasti celaka.”Aku pun bertanya, “Wahai Rasulullah (ﷺ), bukankah Allah Ta’ala telah berfirman, Barangsiapa menerima kitabnya dengan tangan kanannya, maka ia akan dihisab dengan hisab yang ringan.’” Beliau ﷺ menjawab, “Hanyasanja itu adalah al ‘aradl (sekedar diperlihatkan).. . (Diriwayatkan oleh Al Bukhari no. 6537, Muslim no. 5254).

Keadaan Ketiga ; Masuk Surga Dengan Hisab Yang Berat

Yakni : Munaqasyah (diperiksa secara sungguh-sungguh) dan inilah yang dinamakan hisab (perhitungan) antara kebaikan dan keburukan. (Mukhtashar Ma’arij Al Qabul Hafizh Al Hakami, hlm. 246).

Rasulullah ﷺ besabda ; …”Namun barangsiapa yang dimunaqasyah (disidang secara rinci) hisabnya, maka ia akan binasa” (Diriwayatkan oleh Al Bukhari no. 6537, Muslim no. 5254).

3. Dalam ayat ini (surah An Nahl: 120) Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan ada 4 sifat Nabi Ibrahim -alaihis salam- yakni ;

Pertama : (كَانَ أُمَّةً) Beliau adalah “Ummat”, maknanya adalah beliau adalah seorang Imam atau pemimpin atau qudwah (tauladan).

Kedua : (قَانِتاً) dan Al Qunut artinya adalah (دَوَامُ الطَّاعَةِ) senantiasa dalam ketaatan kepada Allah, tegar dan kokoh dalam mentaati perintah Allah

Ketiga : (حَنِيْفًا) yaitu condong menjauh dari kesyirikan menuju tauhid.

Keempat : Karenanya di akhir ayat (وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ) yaitu “Beliau -alaihis salaam- bukanlah termasuk orang-orang musyrik” yang merupakan penekanan bahwa Beliau -alaihis salaam- selalu dalam kondisi bertauhid, Beliau -alaihis salaam- sama sekali tidak pernah berbuat kesyirikan. (Al Mulakhkhash Fi Syarh Kitabut Tauhid, hlm. 32).

4. Sisi pendalilannya adalah Allah telah memuji kaum mukminin dengan menyebutkan sifat-sifat mereka, yang diantaranya adalah mereka tidak berbuat kesyirikan.

Perhatikan ayat selengkapnya :

إِنَّ الَّذِينَ هُمْ مِنْ خَشْيَةِ رَبِّهِمْ مُشْفِقُونَ

وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِ رَبِّهِمْ يُؤْمِنُونَ

وَالَّذِينَ هُمْ بِرَبِّهِمْ لَا يُشْرِكُونَ

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (adzab) Rabb mereka. Dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka. Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Rabb mereka (sesuatu apapun). Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka (Al Mukminun : 57-60).

Penjelasan ayat diatas;

Pertama ; Asy Syaikh Abdurrahmaa bin Hasan alusy Syaikh -rahimahullah- menjelaskan ;

Dalam ayat ini Allah menyebutkan bahwa diantara ciri-ciri orang mu`min yang mendahului ke surga, dimana Allah memuji mereka dengan beberapa sifat, bahwa yang paling agung adalah: mereka tidak mempersekutukan Allah. Karena seseorang mungkin melakukan sesuatu yang menodai keislamannya dalam bentuk syirik yang jelas maupun yang samar, maka Allah menafikkan itu dari mereka. Inilah realisasi tauhiid yang dengannya amal mereka menjadi baik, sempurna dan berguna bagi mereka. (Fathul Majid Syarah Kitabut Tauhid, hlm. 59-60).

Kedua :; Asy Syaikh Al ‘Allamah Al Faqih Muhammad ibn Shaalih ibnul Utsaimiin -rahimahullah- menjelaskan :

Firman-Nya: والذين هم بربهم لا يشركون (dan mereka adalah orang-orang yang tidak menyekutukanNya) didahului oleh satu ayat:

إن الذين هم من خشية ربهم مشفقون

“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berhati-hati karena takut akan adzab Rabb mereka”.

✓ Akan tetapi penulis menyebutkan bukti dari firman Allah: من خشية ربه artinya ketakutan mereka kepada-Nya didasari ilmu. Sedangkan firman-Nya مشفقون artinya mereka takut kepada adzab Allah jika menyalahi-Nya.

Seperti yang sudah dijelaskan diatas, kemaksiatan dalam pengertian makna yang lebih umum bisa merupakan syirik, karena ia mucul dari hawa nafsu yang bertentangan dengan syari’at. Allah Ta’ala telah berfirman: (أفرأيت من اتخذ إلهه هواه) “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai sesembahannya?”. (Al Jaatsiyah: 23).

Adapun menurut makna yang lebih khusus, para ulama membagi kemaksiatan menjadi dua macam:

1. Syirik,

2. Kefasikan

Firman Allah: (لا يشركون) yang dimaksudkan disini adalah syirik menurut makna umum. Sebab mewujudkan Tauhid tidak akan terjadi kecuali dengan menghindari syirik dalam pengertian secara lebih umum. Tapi bukan berarti mereka tidak terseret kepada kemaksiatan, karena setiap anak-cucu adam pasti berbuat kesalahan dan bukan ma’shum [terpelihara dari kesalahan]. Tapi jika mereka berbuat kemaksiatan, maka mereka bertaubat dan tidak melanjutkan kemaksiatannya, sebagaimana firman Allah:

والذين إذا فعلوا فاحشة أو ظلموا أنفسهم ذكروا الله فاستغفروا لذنوبهم ومن يغفر الذنوب إلا الله ولم يصروا على ما فعلوا وهم يعلمون

Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. (Ali ‘Imran: 135). (Qaulul Mufid ala Kitabut Tauhid, 1/95-96).

5. Hushain adalah Hushain bin Abdirrahman As Sulami Al Haritsi, berasal dari kalangan tabiut tabiin. Beliau meninggal pada 136 H dalam usia 93 tahun.

6. Sa’id bin Jubair adalah Al Imam Al Faqih, salah seorang murid Ibnu Abbas yang menonjol. Beliau dibunuh oleh Al Hajjaj pada 95 H. Usia beliau tidak mencapai 50 tahun.

7. Permasalahan Melihat Bintang Jatuh Telah Datang Nash Larangan Tentang Memandangi (dengan sengaja) Bintang Jatuh

Al Imam Ahmad bin Hanbal -rahimahullah- berkata:

حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ، حَدَّثَنَا هِشَامٌ، عَنْ مُحَمَّدٍ، قَالَ: كُنَّا مَعَ أَبِي قَتَادَةَ عَلَى ظَهْرِ بَيْتِنَا، فَرَأَى كَوْكَبًا انْقَضَّ فَنَظَرُوا إِلَيْهِ، فَقَالَ أَبُو قَتَادَةَ: إِنَّا قَدْ نُهِينَا أَنْ نُتْبِعَهُ أَبْصَارَنَا

Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun : Telah menceritakan kepada kami Hisyam, dari Muhammad, ia berkata : Kami pernah bersama Abu Qatadah di atas atap rumah kami. Lalu ia melihat bintang jatuh. Orang-orang memandanginya. Kemudian Abu Qatadah berkata : ‘Sungguh kami dilarang untuk memperhatikannnya” (Al Musnad 5/299; dishahihkan oleh Syaikh Syuaib Al Arna’uth, dalam Tahqiq dan Takhrij-nya terhadap Musnad Al Imaam Ahmad, 37/244).

—–

Perkataan Abu Qatadah Al Anshari -radhiyallahu ‘anhu- : ‘kami dilarang’, maksudnya dilarang oleh Nabi ﷺ sehingga hadits di atas dihukumi marfuu’. Karena Beliau adalah salah seorang shahabat Nabi (ﷺ).

—–

Dan Hisyam mempunyai mutaba’ah dari:

1.. Al Imam Ayyub As Sikhtiyani sebagaimana diriwayatkan oleh Abdurrazzaq 11/290 no. 20007, Al Hakim 4/286, dan Al Baghawi dalam Syarhus Sunnah no. 1155.

2. Imam Ashim Al Ahwal sebagaimana diriwayatkan oleh Al Baghawi dalam Syarhus Sunnah no. 1154.

3. Diriwayatkan pula Ibnu Abi Syaibah 9/103 (13/557-558) no. 27163 dari jalan Abdurrahim bin Sulaiman, dari Ashim (Al Ahwal), dari Muhammad bin Siirin, dari Abu Qatadah secara mauquf. Riwayat marfu’ lebih kuat daripada yang mauquf ini.

Dan Al Imam Ibnu Muflih -rahimahullah- berdalil dengan hadits di atas terhadap larangan untuk melihat bintang, kecuali jika dipergunakan untuk penunjuk kiblat (Al Adaabusy Syar’iyyah, hlm. 434).

✓ Difahami dari hadits diatas bahwasanya Al Imam, Hushain bin Abdirrahmaan dan Sa’iid bin Jubair (mereka berdua) hanyalah melihat secara tidak sengaja (sekilas) bintang yang kebetulan jatuh, bukan memperhatikan/memandanginya. Ini jelas beda konteksnya.

Kedua, kalaupun hadits di atas dipahami bahwa keduanya benar-benar memperhatikan bintang yang jatuh, maka hadits Nabi ﷺ tidaklah akan gugur dengan perbuatan selain Beliau (ﷺ). Sa’id bin Jubair adalah seorang taabi’i.

✓ Dan disini juga terdapat penjelasan doa yang dipanjatkan ketika bintang jatuh ? Adalah tidak shahih!.

8. Adapun meminta Meminta ruqyah untuk diri sendiri, maka selama ruqyah yang tidak mengandung syirik! Atau ruqyah yang mengandung bid’ah dan maksiat, maka hukumnya Makruh. Dengan syarat ruqyah yang sesuai syari’at, hukumnya tetap makruh! Ini pendapat yang kita pegang dengan alasan ;

Sebagaimana penjelasan Asy Syaikh Abdur Rahman bin Hasan bin Muhammad bin Abdul Wahhab -rahimahullah- dalam kitab Fathul Majid fi Syarh Kitabut Tauhid, hlm 67, Beliau berkata ;

والفرق بين الراقي والمسترقي: أن المسترقي سائل مستعط ملتفت إلى غير الله بقلبه، والراقي محسن

“Dan perbedaan antara orang yang meruqyah dan yang meminta ruqyah, bahwasannya orang yang meminta ruqyah adalah orang yang memohon, meminta suatu pemberian seraya menoleh kepada selain Allah Ta’ala dengan hatinya, sedang orang yang meruqyah adalah orang yang berbuat baik (kepada yang diruqyah).” selesai nukilan.

Dan Asy Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alu Syaikh -rahimahullah- juga menjelaskan dengan berkata ;

لأن الطالب للرقية يكون في قلبه ميل للراقي ، حتى يرفع ما به من جهة السبب . وهذا النفي الوارد في قوله : « لا يسترقون » ؛ لأن الناس في شأن الرقية تتعلق قلوبهم بها جدا أكثر من تعلقهم بالطب ونحوه

“Karena meminta ruqyah akan menyebabkan hati cenderung (ketergantungan hati) kepada peruqyah, sampai ia bisa menyangka peruqyah adalah penyebab kesembuhan. Inilah maksud menafikan dalam hadist “tidak minta diruqyah”, karena manusia terkait ruqyah bisa jadi hari mereka lebih bergantung pada mereka pada ruqyah daripada pengobatan kedokteran atau sejenisnya,” (At Tamhid Lisyarh Kitabut Tauhid, hlm. 33).

Dan juga Asy Syaikh Al Faqih Al ‘Allamah Ibnul Utsaimin -rahimahullah-, dimana kata belaiu:

“Mereka tidak meminta ruqyah kepada siapa pun, karena:

1). Kuatnya penyandaran diri mereka kepada Allah Ta’ala.

2). Mulianya jiwa mereka dari merendahkan diri kepada selain Allah ‘Azza wa Jalla.

3). Karena dalam perbuatan itu ada bentuk ketergantungan kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (Al Qoulul Mufid ala Kitabut Tauhid, 1/103).

Demikian juga Al Imam Al ‘Allamah Ibnul Qayyim -rahinahullah- menjelaskan:

وذلك لأن هؤلاء دخلوا الجنة بغير حساب لكمال توحيدهم ، ولهذا نفى عنهم الاسترقاء وهو سؤال الناس أن

“Mereka yang masuk surga tanpa hisab dan adzab karena kesempurnaan tauhid mereka. Nereka tidak meminta diruqyah yaitu meminta kepada orang lain untuk meruqyah mereka (lebih baik ia sendiri langsung meminta kepada Allah).” (Zadul Ma’aad 1/475)

Sekali lagi kita katakan pendapat ini (yakni makruh, untuk mengajukan diri untuk di-ruqyah-red), yang lebih menenangkan (dengan alasan-alasan yang dijelaskan para Ulama diatas-red), dan adalah kita berusaha sebisa mungkin tidak meminta diruqyah oleh orang lain, tetapi kita hendaknya meruqyah diri sendiri dan langsung meminta kepada Allah di waktu dan tempat yang mustajab. (Rinciannya Insya Allah akan datang pada : Bab 8 Tentang Ruqyah Dan Tamimah)

9. Lihatlah! Betapa kaum Salaf sangat antusias bertanya tentang dalil dari hadits Rasulullah ﷺ.

10. Asy Sya’bi adalah Amir bin Syarahil Al Hamdani. Beliau lahir pada masa khilafah Umar, meninggal pada 103 H. Beliau termasuk seorang tabi’in yang terpercaya.

11. Buraidah, dengan mendhammah huruf pertamanya dan memfathah huruf keduanya, adalah Ibnul Hushaib bin Al-Harits Al-Aslamy, seorang sahabat yang terkenal. Beliau meninggal pada 63 H.

12. Ain adalah penyakit atau gangguan yang disebabkan pandangan mata. Dijelaskan oleh Asy Syaikh Abdurrahman bin Hasan -rahimahullah- :

إصابة العائن غيرَه بعينه

“Seorang yang memandang, menimbulkan gangguan pada yang dipandangnya” (Fathul Majid Syarah Kitab Tauhid, hlm. 69).

Al Imam Ibnul Atsir -rahimahullah- berkata :

يقال: أصَابَت فُلاناً عيْنٌ إذا نَظر إليه عَدُوّ أو حَسُود فأثَّرتْ فيه فمَرِض بِسَببها

“Dikatakan : Fulan terkena Ain, yaitu apa bila musuh atau orang-orang dengki memandangnya lalu pandangan itu mempengaruhinya hingga menyebabkannya sakit” An (Nihayah fii Ghariibil Hadits 3/332).

Al Imam Ibnul Jauzi -rahimahullah- berkata :

العين نظر باستحسان يشوبه شيء من الحسد ويكون الناظر خبيث الطبع كذوات السموم فيؤثر في المنظور إليه

“Al Ain adalah pandangan yang disertai anggapan baik yang bercampur dengan kedengkian. Orang yang memandang tersebut mempunyai tabi’at yang buruk – seperti halnya angin panas (yang memberikan pengaruh pada apa yang dikenainya) – sehingga ia akan memberikan bekas/pengaruh pada orang yang dipandangnya tersebut” (Kasyful Musykil min Hadiitsish Shahihain no. 994).

Ketahuilah Baraakallahu Fiikum bahwasanya ; Penyakit ‘ain benar adanya!

عن أبي هريرة رضى الله تعالى عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال العين حق

Dari Abi Hurairah -radliyallaahu ‘anhu- ia berkata : Telah bersabda Rasulullah ﷺ : “Al Ain adalah haq (benar)” (Diriwayatkan oleh Al Bukhari no. 5408 dan Muslim no. 2187).

عن عائشة قالت قال رسول الله صلى الله عليه وسلم استعيذوا بالله فإن العين حق

Dari Aisyah -radhiyallaahu ‘anha- bahwa Nabi ﷺ bersabda : “Meminta perlindunganlah kepada Allah dari Al Ain, karena sesungguhnya Al Ain itu haq” (Siriwayatkan oleh Ibnu Majah no. 3508; dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihul Jaami’ no. 938).

عن بن عباس عن النبي صلى الله عليه وسلم قال العين حق ولو كان شيء سابق القدر سبقته العين وإذا استغسلتم فاغسلوا

Dari Ibni Abbas -radhiyallaahu ‘anhuma- bahwa ia berkata : Telah bersabda Rasulullah ﷺ : “Al Ain itu haq dan sekiranya ada sesuatu yang mendahului takdir, niscaya Al Ain akan mendahuluinya. (Diriwayatkan oleh Muslim no. 2188)

عن أسماء عميس قالت : يا رسول الله ان بني جعفر تصيبهم العين أفأسترقي لهم قال نعم فلو كان شيء سابق القدر لسبقته العين

Dari Asmaa binti Umais -radhiyallaahu ‘anhaa- ia berkata : “Wahai Rasulullah (ﷺ), sesungguhnya Bani Ja’far terkena Al Ain, maka apakah boleh aku meruqyah mereka ?”. Maka Beliau ﷺ menjawab : “Ya, sekiranya ada sesuatu yang mendahului takdir, niscaya Al Ain akan mendahuluinya” (Dirieayatkan oleh. Ahmad 6/438 no. 27510 dan Tirmidzi no. 2059; dan dihasankan oleh Al Arnauth dalam Ta’liq-nya terhadap Musnad Ahmad dan juga dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 5286).

عن أبي ذر قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إن العين لتولع بالرجل بإذن الله تعالى حتى يصعد حالقا ثم يتردى منه

Dari Abi Dzarr -radhiyallaahu ‘anhu- ia berkata : Telah bersabda Rasulullah ﷺ : “Sesungguhnya Al Ain dapat memperdaya seseorang dengan ijin Allah sehingga ia naik ke tempat yang tinggi lalu jatuh darinya. (Diriwayatkan oleh Ahmad 5/146 no. 21340, 6/13 no. 5372, Al Bazzar 9/386 no. 3972, dan Al Haarits dalam Bughyatul Bahits 2/603 no. 566; dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihul-Jaami’ no. 1681).

عن بن عباس عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : العين حق تستنزل الحالق

Dari Ibnu Abbas -radhiyallaahu ‘anhuma- dari Nabi ﷺ : “Al Ain itu adalah haq yang dapat menggelincirkan orang yang naik ke tempat tinggi” (Diriwayatkan oleh Ahmad no. 1/274 no. 2477, Ath Thabarani dalam Al Kabiir no. 12662, dan Al Hakim no. 7489; dihasankan oleh Al Arnauth dalam Ta’liqnya terhadap Musnad Ahmad dan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahiihah no. 1250).

عن جابر قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم العين تدخل الرجل القبر و تدخل الجمل القدر

Dari Jabir -radhiyallaahu ‘anhu- ia berkata : Telah bersabda Rasulullah ﷺ : “Al Ain adalah haq (benar), dapat memasukkan seseorang ke dalam kuburan dan dapat memasukkan onta ke dalam kuali” (Diriwayatkanoleh Ibnu Adi 6/407 biografi no. 1890 dari Mu’awiyyah bin Hisyam Al Qashshaar, Abu Nu’aim dalam Al Hilyah 7/90, Al Khathiib 9/244, Al Qadha’i 2/140 no. 1059; dan dihasankan oleh Al Albani dalam Shahiihul Jaami’ no. 4144)

عن جابر ان رسول الله صلى الله عليه وسلم قال أكثر من يموت من أمتى بعد قضاء الله وقدره بالأنفس يعنى بالعين

Dari Jabir radliyallaahu ‘anhu ia berkata : Telah bersabda Rasulullah ﷺ : “Kebanyakan orang yang meninggal dari umatku setelah qadha dan qadar Allah adalah karena Al Ain” (Diriwayatkan oleh Ath Thayalisi hlm. 242 no. 1760, Al Bukhari dalam At Tarikh Al Kabir 4/360, no. 3144, Al Hakim 3/46 no. , Al Bazzar dalam Kasyful Astaar 3/403 no. 3052, Ad Dailami 1/364 no. 1467, dan Ibnu Abi Ashim 1/136 no. 311; dihasankan oleh Al Albani dalam Shahiihul Jaami’ no. 1206).

13. Al Hummah adalah setiap sengatan berbisa seperti sengatan ular, kalajengking, dan yang lainnya (An Nihayah fii Ghariibil Hadits oleh Ibnul Atsir 5/120).

14. Ibnu Abbas adalah seorang shahabat yang mulia, Abdullah bin Abbas bin Abdul Muththalib, anak paman Rasulullah ﷺ. Nabi pernah mendoakan beliau dengan, “Ya Allah pahamkanlah ia tentang agamanya dan ajarkanlah ia tafsir.” Oleh karena itu, jadilah beliau sebagaimana doa Rasulullah (ﷺ). Beliau meninggal di Thaif pada 68 H.

15. Darisini kita faham bahwasanya Banyaknya jumlah manusia yang mengikuti bukan parameter sebuah kebenaran. Al Haq adalah yang berdiri diatas petunjuk Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, bukan di ukur dengan jumlah manusia.

Karena Sesungguhnya orang-orang jahiliah dahulu punya anggapan bahwa yang banyak itulah yang benar, adapun yang menyelisihinya, yang jumlahnya sedikit maka itulah yang sesat.

Dan Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab -rahimahullah- berkata : “Di antara prinsip jahiliyyah, mereka percaya bahwa standar kebenaran adalah jika banyak yang menganutnya. Itulah yang jadi dalil pembenaran. Sedangkan kebatilan atau sesatnya sesuatu dilihat dari keterasingan dan pengikutnya yang sedikit. Ini lawan dari prinsip yang disebutkan di awal. Padahal prinsip semacam ini bertolak belakang dengan ajaran yang disebutkan dalam Al Quran.” (inukil melauli kitab Syarh Masailil Jahiliyyah, hlm. 38, Al ‘Allamah Shaleh Fauzan -hafizhahullah-).

Allah Ta’ala berfirman :

.

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ

.

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)”. (Al An’am: 116)

Simak dan Renungkan Wahai Para Pengikut Kebenaran

Amru bin Maimun Al Audi berkata: “Aku menyertai Mu’adz di Yaman -radhiyallahu ‘anhu-, dan aku tidak meninggalkannya hingga aku memakamkan jenazahnya di Syam. Kemudian sesudah itu aku menyertai orang yang paling faqih, Abdullah bin Mas’ud -radhiyallahu ‘anhu-. Aku mendengar Beliau mengatakan, hendaklah kalian memegang teguh Jama’ah. Karena tangan Allah di atas Jama’ah. Kemudian suatu hari aku mendengar Beliau (-radhiyallahu ‘anhu-) berkata, nanti kalian akan diperintah oleh para penguasa yang mengakhirkan shalat dari waktunya. Shalatlah kalian tepat pada waktunya, itulah shalat fardhu bagi kalian, lalu shalatlah bersama mereka, dan itu menjadi shalat sunnat bagi kalian,”

maka aku berkata: “Wahai shahabat Rasulullah (ﷺ), aku belum paham apa yang engkau sampaikan itu”.

“Apa itu?” -selidik- Beliau.

Aku berkata, Engkau suruh aku mengikuti jama’ah dan menganjurkanku kepadanya. Kemudian engkau katakan, Shalatlah sendiri di awal waktu, dan itu menjadi shalat wajib bagi kalian. Lalu shalatlah bersama Jama’ah, dan itu menjadi shalat sunnat.”

Maka Ibnu Mas’ud (-radhiyallahu ‘anhu-) berkata: “Wahai Amru bin Maimun! Tadinya aku kira engkau adalah orang yang paling paham di kampung ini. Tahukah engkau, apa itu Jama’ah?”

Aku menjawab: “Tidak!”

Beliau berkata: “Sesungguhnya mayoritas manusia itulah yang menyelisihi jama’ah. Sesungguhnya Jama’ah itu adalah yang sesuai dengan kebenaran, walaupun engkau seorang diri” (Syarah Ushul I’tiqad Ahlus Sunnah oleh Imam Al Laalika-i, no. 160).

Asy Syaikh Al ‘Allamah Shaleh Fauzan -hafizhahullah- mengatakan ; “Bahwa yang wajib adalah mengikuti kebenaran, meskipun jumlah pengikut (kebenaran) itu sedikit. (Al Mulakhkhash Fi Syarh Kitab At Tauhid, hlm. 39)

16. Nabi kita Muhammad ﷺ mengenali Umat nya dengan tanda dari bekas Ghurrah dan tahjiil disebabkan bekas air wudhu, sebagaimana riwayat berikut;

لَكُمْ سِيمَا لَيْسَتْ لِأَحَدٍ مِنَ الْأُمَمِ تَرِدُونَ عَلَيَّ غُرًّا، مُحَجَّلِينَ مِنْ أَثَرِ الْوُضُوءِ

“Kalian memiliki tanda yang tidak dimiliki oleh umat-umat lain. Kalian muncul dalam keadaan memiliki ghurrah dan tahjiil disebabkan bekas air wudhu.” (Diriwayatkan oleh Muslim no. 247).

Al Imam Al Hafizh Abu Zakaria An Nawawi Asy Syafi’i -rahimahullah- menjelaskan tentang makna : ghurrah dan tahjiil?

Beliau – rahimahullahberkata,

قال أهل اللغة الغرة بياض في جبهة الفرس والتحجيل بياض في يديها ورجليها قال العلماء سمي النور الذي يكون على مواضع الوضوء يوم القيامة غرة وتحجيلا تشبيها بغرة الفرس

“Ahli bahasa berkata : “Ghurrah adalah tanda putih di dahi kuda. Sedangkan tahjiil adalah tanda putih di kedua tangan dan kaki kuda.” Para ulama berkata, “Cahaya yang terdapat pada anggota wudhu pada hari kiamat disebut ghurrah dan tahjiil, karena menyerupai ghurrah yang dimiliki kuda.”” (Syarh Shahih Muslim, 3/135)

Adapun Al Imam Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalani Asy Syafi’i -rahimahullah- ketika menjelaskan ghurrah dan tahjiil, kata beliau ;

وأصل الغرة لمعة بيضاء تكون في جبهة الفرس

“Makna asal dari ghurrah adalah tanda berwarna putih yang terdapat di dahi kuda.” (Fathul Baari, 1/236)

Beliau – rahimahullah- juga berkata :

والمراد بها هنا النور الكائن في وجوه أمة محمد صلى الله عليه وسلم

“Yang dimaksud (dengan ghurrah) adalah cahaya putih yang terdapat pada wajah umat Muhammad ﷺ.” (Fathul Baari, 1/236).

✓ Lalu bagaimnan dengan ; orang yang sengaja meninggalkan shalat dan anak-anak kecil, dapat dikenali dengan ciri apa? (Karna dari Hadits diatas dari air Wudhu-lah yang menyebabkan membekasnya Ghurrah dan tahjiil pada anggota wudhu?!

Maka pertanyaan semisal ini telah dijawab oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullah- dalam Majmu’ Al Fataawa, 21/171, kata beliau ;

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، هَذَا الْحَدِيثُ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّهُ إنَّمَا يُعْرَفُ مَنْ كَانَ أَغَرَّ مُحَجَّلًا وَهُمْ الَّذِينَ يَتَوَضَّؤُونَ لِلصَّلَاةِ. وَأَمَّا الْأَطْفَالُ فَهُمْ تَبَعٌ لِلرَّجُلِ. وَأَمَّا مَنْ لَمْ يَتَوَضَّأْ قَطُّ وَلَمْ يُصَلِّ: فَإِنَّهُ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّهُ لَا يُعْرَفُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Hadits ini adalah dalil bahwa yang dikenali hanyalah yang memiliki ghurrah dan tahjiil, yaitu orang-orang yang berwudhu untuk mendirikan shalat. Adapun anak-anak kecil, maka mereka mengikuti laki-laki dewasa. Sedangkan orang-orang yang tidak berwudhu sama sekali dan tidak shalat sama sekali, maka hadits ini dalil bahwa mereka tidak akan dikenali pada hari kiamat.” selesai nukilan dan dengan di ringakas.

17. Telah Shaih pula dalam riwayat-riwayat lain, penyebutan bahwa, pada setiap kelipatan seribu dari tujuh puluh ribu orang tersebut, Allah Ta’ala menambahkan tujuh puluh ribu lagi sehingga semuanya berjumlah empat juta sembilan ratus ribu. Di antara riwayat tersebut adalah hadits Abu Umamah Al Bahili -radhiyallahu ‘anhu- bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

وَعَدَنِي رَبِّي سُبْحَانَهُ أَنْ يُدْخِلَ الْجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِي سَبْعِينَ أَلْفًا، لَا حِسَابَ عَلَيْهِمْ، وَلَا عَذَابَ، مَعَ كُلِّ أَلْفٍ سَبْعُونَ أَلْفًا، وَثَلَاثُ حَثَيَاتٍ مِنْ حَثَيَاتِ رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ

“Rabb-ku Subhanahu menjanjikan kepadaku untuk memasukkan tujuh puluh ribu umatku ke dalam surga tanpa ada hisab dan adzab terhadap mereka, bersama dengan tujuh puluh ribu orang setiap seribu orang, dan tiga kali dari cidukan Rabb-ku ‘Azza wa Jalla.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 11/32 no. 32247, Ahmad 5/268, At Tirmidzi no. 2442, Ibnu Majah no. 4286, Ibnu Abi Ashim dalam As Sunnah no. 589, Ath-Thabarany dalam Musnad Asy Syamiyyin 2/7-8 no. 820, Al Mahamili dalam Al Amali (riwayat Ibnu Yahya Al Bayyi’) no. 260, Ad Daraquthni dalam Ash Shifat no. 50-51, Mu`ammal bin Ahmad dalam Fawa`id-nya (Majmu Fihi Asyarah Ajza Haditsiyyah) no. 44 hlm. 341, Al Baihaqi dalam Al Asma` wa Ash Shifat no. 723 dan Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam An Nubala 16/459-460. Semuanya dari jalur Ismail bin Ayyasy, dari Muhammad bin Ziyad Al Alhani, dari Abu Umamah -radhiyallahu ‘anhu-, dari Nabi ﷺ. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Ash Shahihah no. 2179, bahwa beliau menyebutkan jalur-jalur lain dari Abu Umamah selain dari jalur yang disebutkan di atas. Beliau juga menyebut beberapa pendukung untuk hadits Abu Umamah dari beberapa orang shahabat lain.

Untuk riwayat-riwayat pendukung lainnya, bisa dilihat lebih luas dalam Ithaf Al Hirah Al Maharah Bi Zawa`id Al Masanid Al Asyarah 8/244-258 karya Al Bushiri. Wallahu A’lam.

18. (بِلَا حِسَابٍ وَلَا عَذَابٍ) ‘tanpa hisab dan tanpa adzab’: artinya mereka tidak dihisab dan tidak diadzab sebelum masuk surga karena mereka menahqiq tauhid dengan sebenar-benarnya. (Al Mulakhkhash Fi Syarh Kitab At Tauhid, hlm. 37)

19. Telah berlalu penjelasan tentang hukum Meminta di Ruqyah pada point-ke 8 [diatas-red]

20.. At Tathayyur” secara bahasa, adalah mashdar dari (kata) – ‎تَطَيَّرَ – (Tathayyara)- asal mulanya diambil dari kata – ‎الطَّيْرُ – (Ath-Thairu) (yang berarti burung), karena bangsa Arab (sebelum datangnya Islam menentukan nasib sial dan nasib baik dengan menggunakan burung-burung, melalui cara yang telah mereka ketahui, yaitu dengan melepaskan seekor burung, kemudian dilihat apakah burung tersebut terbang ke kanan, ke kiri, ataukah terbang ke arah yang mendekati (kanan atau kiri). Jika (burung tersebut) terbang ke arah kanan dia pun berangkat (maju), (dan jika) terbang ke arah kiri, maka dia pun mundur (menahan diri untuk berangkat).

Adapun (“At Tathayyur”) dalam istilah (syari’at) adalah merasa bernasib sial disebabkan karena sesuatu yang dilihat atau didengar, atau karena sesuatu yang diketahui (selain dari yang dilihat atau didengar). (Al Qaulul Mufid ala Kitabut Tauhid ”, Bab: “Ma Ja-a fit-Tathayyur”, 1/348). Insya Allah akan kita rinci pada Bab-nya.

21. Kay adalah ;

الكَيُّ: معروف إِحراقُ الجلد بحديدة ونحوها

“Kay adalah adalah menempelkan (membakar) dengan besi panas (pada daerah yang sakit atau terluka) atau sejenisnya.” (Diriwayatkan oleh Al Bukhari, no : 5680).

Hukum pengobatan dengan kay diperselisihkan oleh ulama. Ada yang mengharamkan, memakruhkan, dan membolehkan jika ada keperluan dan tidak ada lagi pengobatan yang lain didapatkan selain pengobatan kay.

Al Imam Al ‘Allamah Ibnul Qayyim Al Jauziyah -rahimahullah- menjelaskan beberapa hadits terkait dengan pengobatan kay. Beliau berkata ;

فقد تضمنت أحاديث الكي أربعة أنواع أحدها : فعله والثاني : عدم محبته له والثالث الثناء على من تركه والرابع النهي عنه ولا تعارض بينها بحمد الله تعالى فإن فعله يدل على جوازه وعدم محبته له لا يدل على المنع منه . وأما الثناء على تاركه فيدل على أن تركه أولى وأفضل . وأما النهي عنه فعلى سبيل الاختيار والكراهة أو عن النوع الذي لا يحتاج إليه بل يفعل خوفا من حدوث الداء

Hadist-hadist tentang Kay mengandung empat hal:

Yang pertama: bahwa Rasulullah ﷺ menggunakan Kay,

Hadits yang diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah -radhiyallahu ‘anhu-, bahwasanya ia berkata :

رُمِي سعد بن معاذ في أَكْحَلِه فحَسَمَه رسولُ الله ـ صلى الله عليه وسلم ـ بيده بمِشْقَص، ثم وَرِمَتْ فحَسَمَه الثانية

“Sa’ad bin Mu’adz pernah kena bidikan panah di urat tangannya, kemudian Rasulullah ﷺ membedahnya dengan tombak yang dipanasi dengan api, setelah itu luka-luka itu membengkak, kemudian dibedahnya lagi.”

Yang kedua: Beliau ﷺ tidak menyukainya ;

Yang ketiga: memuji orang yang bisa meninggalkannya ;

Rasulullah ﷺ Bersabda ;

إِنْ كَانَ فِي شَيْءٍ مِنْ أَدْوِيَتِكُمْ أَوْ يَكُونُ فِي شَيْءٍ مِنْ أَدْوِيَتِكُمْ خَيْرٌ فَفِي شَرْطَةِ مِحْجَمٍ أَوْ شَرْبَةِ عَسَلٍ أَوْ لَذْعَةٍ بِنَار وَمَا أُحِبُّ أَنْ أَكْتَوِيَ

“Apabila ada kebaikan dalam pengobatan yang kalian lakukan, maka kebaikan itu ada pada berbekam, minum madu, dan sengatan api panas (terapi dengan menempelkan besi panas di daerah yang luka), namun aku tidak menyukai kay.”

Yang kempat: larangan beliau terhadap penggunaan Kay ;

Nabi ﷺ bersabda ;

الشِّفَاءُ فِي ثَلَاثَةٍ فِي شَرْطَةِ مِحْجَمٍ أَوْ شَرْبَةِ عَسَلٍ أَوْ كَيَّةٍ بِنَارٍ وَأَنَا أَنْهَى أُمَّتِي عَنْ الْكَيِّ

“Terapi pengobatan itu ada tiga cara, yaitu; berbekam, minum madu, dan kay. Adapun aku melarang ummatku berobat dengan kay.” (Diriwayatkan oleh Al Bukhari, no, 5704 dan Muslim, no. 2205).

Keempat hal tersebut tidaklah bertentangan satu dengan yang lainnya -segala puji bagi Allah. Adapun perbuataannya menggunakan kay, menunjukkan kebolehannya, sedangkan ketidaksenangan Beliau (ﷺ) tidak menunjukkan larangan, adapaun pujian Beliau (ﷺ) kepada orang yang meninggalkannya menunjukkan bahwa meninggalkan pengobatan dengan kay adalah lebih baik, sedangkan larangan beliau itu berlaku jika memang ada pilihan lain, atau maksudnya makruh, atau menggunakannya untuk hal-hal yang tidak diperlukan, seperti takut terjadi sesuatu penyakit pada dirinya.” (Zaad Al Ma’ad 4/ 58). Selesai nukilan

Dan Al Imam Abu Zakaria An Nawawi -rahimahullah- menjelaskan pengobatan kay adalah pilihan terakhir karena menimbulkan rasa sakit yang sangat. Beliau menjelaskan;

وقوله صلى الله عليه و سلم ما أحب أن أكتوى إشارة إلى تأخير العلاج بالكى حتى يضطر إليه لما فيه من استعمال الألم الشديد فى دفع ألم قد يكون أضعف من ألم الكى

“Sabda Rasulullah ﷺ, saya tidak menyukai kay adalah isyarat agar mengakhirkan berobat dengan kay hingga terpaksa. Karena menggunakan kay akan menimbulkan rasa sakit yang sangat. Terkadang sakit (karena penyakit) lebih ringan dari sakit yang ditimbulkan oleh kay.” (Syarh Shahih Muslim 14/139).

22. (عَلَى رَبِّهُم يَتَوَكّلُونَ) ‘mereka bertawakkal kepada Rabb-nya’: yaitu mereka bersandar dalam segala urusan hanya kepada Allah dan tidak kepada selain-Nya, serta menyerahkan semua perkara mereka kepada-Nya. (Al Mulakhkhash Fi Syarh Kitab At Tauhid, hlm. 37).

23. Ukkasyah adalah Ukkasyah bin Mihshan bin Hurtsan Al Asadi, termasuk orang yang awal masuk Islam. Beliau ikut berhijrah dan perang Badr. Beliau mati syahid dalam peperangan menumpas orang-orang yang murtad bersama Khalid bin Walid pada 12 H.

Faedah : Boleh dengan mentasydid huruf kaf (عُكَّاشَةُ: Ukkasyah), boleh juga tanpa mentasydid (Ukasyah). Namun, dengan mentasydid adalah lebih masyhur. (Lihat Tahdzib Al Asma Wa Al Lughat karya Al Imam Abu Zakaria An Nawawi).

25. (Diriwayatkan oleh Al Bukhari, no. 5705, dan Muslim, no. 220).

26, 27. Perhatikan : Dialoq diatas ketika seorang Imam dari kalangan Tabiut Tabiin (sekaligus Salah seorang Murid dari Imam Asy Sya’bi -seorang Tabi’in Tsiqah-) yakni Hushain -rahimahumullah- menyebutkan satu hadits dari Rasulullah ﷺ tentang bolehnya ruqyah, dan Sa’id membenarkan Hushain yang telah beramal dengan dalil… Selanjutnya, Sa’id menyebutkan keadaan yang lebih baik daripada (usaha)yang telah Hushain lakukan, yaitu meningkat ke arah kesempurnaan pelaksanaan tauhid dengan meninggalkan perkara-perkara makruh, meskipun seseorang memerlukan (perkara) tersebut, sebagai sikap tawakkal kepada Allah sebagaimana keadaan tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab, yang Rasulullah ﷺ menyifati mereka bahwa mereka adalah orang-orang yang meninggalkan ruqyah dan pengobatan dengan kay, sebagai realisasi tauhid, dengan mengambil sebab yang lebih kuat, yaitu bertawakkal kepada Allah dan tidak meminta untuk di-ruqyah atau lebih dari itu kepada seorang pun. (Al Mulakhkhash Fi Syarh Kitab At Tauhid, hlm. 37-38).

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم