Silsilah Pembahasan Kitabut Tauhid Bagian 1

Hamzah
24 February 2020 - 12:36


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

الحمد لله الذي جعل التوحيد قاعدة الإسلام وأصله ورأسه، أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله، وصلى الله وسلم عليه وعلى آله وصحبه ومن اهتدى بهديه. أما بعد 

Tauhid adalah pegangan pokok dan sangat menentukan bagi kehidupan manusia, karena Tauhid menjadi landasan bagi setiap amal yang dilakukan. Hanya amal yang dilandasi dengan *Tauhidullah*, dan menurut tuntunan Islam[1], yang akan menghantarkan manusia kepada kehidupan yang baik dan kebahagiaan yang hakiki di alam akhirat nanti.

Berikut adalah silsilah pembahasan yang kita susun dari (Syarah-syarah) Kitabut Tauhid Alladzi Huwa Haqqullah Alal Ibad (yang kemidian lebih dikenal denagn nama Kitab Tauhid) dari kitab yang ditulis oleh seorang ulama yang giat dan tekun dalam berda’wah kepada Tauhidullah. Beliau adalah Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi -rahimahullah- yang dilahirkan di Uyainah, tahun 1115 H dan wafat di Diriyyah (Saudi Arabia) tahun 1206 H -rahimahullah-. Dan melalui Kitab ini, Beliau berusaha untuk menjelaskan hakekat Tauhid, dan penerapannya dalam kehidupan seorang muslim. Pada Kitabut Tauhid ini terdiri dari 65 bab, dan disetiap bab Penulis -rahimahullah- hanya menyebutkan ayat-ayat Al Qur’an dan hadits-hadits serta pendapat-pendapat dari ulama Salaf, kemudian Beliau -rahimahullah- menjabarkan bab-bab itu dengan menyebutkan permasalahan-permasalahan penting yang terkandung dan tersirat dari dalil-dalil tersebut. Misal-nya pada kitab ini dalam bab I, penulis menjelaskan hakekat Tauhid Dan Kedudukannya ; dalam bab 2 dan 3 menerangkan tentang keistimewaan Tauhid dan pahala yang diperoleh darinya ; kemudian dalam bab 4 penulis -rahimahullah- mengingatkan kepada umat ini agar takut terhadap perbuatan yang bertentangan dengan Tauhid, serta membatalkannya, yaitu Syirik akbar, serta perbuatan yang mengurangi kesempurnaan Tauhid, yaitu syirik ashghar ; dalam bab 5 menjelaskan tentang kewajiban berda’wah kepada Tauhid ; dan dalam bab 6 menjelaskan tentang makna/Tafsir Tauhid dan syahadat la Ilaha Illallah, dan Pada bab 7 (inilah bab pertama) dalam menjelaskan apa-apa yang bisa mengurangi hak Allah ﷻ bahkan merampas Hak Allah ﷻ tersebut. 

Dan Semoga Silsilah pembahasan ini bermanfaat bagi kita dalam usaha mewujudkan ibadah kepada Allah ﷻ dengan semurni-murninya. Hanya kepada Allah ﷻ kita menghambakan diri, dan hanya kepada-Nya kita memohon pertolongan. Semoga shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad ﷺ , keluarga dan para shahabat-nya -radhiyallahu ‘anhuma ajma’in-.

Wabillahi Taufiq 

 

كِتَابُ التَّوْحِيْدِ

KITAB TAUHID[2]

KEWAJIBAN BERTAUHID

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْأِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُون

“Tidak-lah Aku ciptakan jin[3] dan manusia melainkan hanya untuk beribadah[4] kepada-Ku.” (Adz Dzariyat : 56).

 

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوت

 

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul[5]pada setiap umat (untuk menyerukan) “Beribadalah kepada Allah (saja) dan jauhilah thaghut”[6]. (An Nahl : 36).

 

وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُوا إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلاً كَرِيمًا وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

 

“Dan Rabb-mu telah memerintahkan supaya kamu jangan beribadah kecuali hanya kepada-Nya, dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu-bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan, dan ucapkanlah : “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil” (Al Isra’ : 23-24).

 

قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلاَّ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَلاَ تَقْتُلُوا أَوْلاَدَكُمْ مِنْ إِمْلاَقٍ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ وَلاَ تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَلاَ تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ وَلاَ تَقْرَبُوا مَالَ الْيَتِيمِ إِلاَّ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ حَتَّى يَبْلُغَ أَشُدَّهُ وَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ لاَ نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا وَإِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُوا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَى وَبِعَهْدِ اللَّهِ أَوْفُوا ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

 

“Katakanlah (Muhammad) marilah kubacakan apa yang diharamkan[7] kepadamu oleh Rabb-mu, yaitu “Janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang tuamu, dan janganlah kamu membunuh anak anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rizki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan perbuatan yang keji, baik yang nampak diantaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar. Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami(nya). Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, kendatipun dia adalah kerabat(mu). Dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat. Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.” (Al An’am, 151-153).

 

Ibnu Mas’ud -radhiallahu ’anhu- berkata : “Barang siapa yang ingin melihat wasiat Muhammad yang tertera di atasnya cincin stempel milik beliau, maka supaya membaca firman Allah Subhanahu wa Ta’ala : “Katakanlah (Muhammad ﷺ) marilah kubacakan apa yang diharamkan kepadamu oleh Tuhanmu, yaitu “Janganlah kamu berbuat syirik sedikitpun kepada-Nya, dan “Sungguh inilah jalan-Ku berada dalam keadaan lurus, maka ikutilah jalan tersebut, dan janganlah kalian ikuti jalan-jalan yang lain.”

 

Mu’adz bin Jabal -radhiallahu ’anhu- berkata :

 

كنت رديف النبي على حمار، فقال لي :” يا معاذ، أتدري ما حق الله على العباد، وما حق العباد على الله ؟ قلت : الله ورسوله أعلم، قال : حق الله على العباد أن يعبدوه ولا يشركوا به شيئا، وحق العباد على الله أن لا يعذب من لا يشرك به شيئا، قلت : يا رسول الله، أفلا أبشر الناس ؟ قال : ” لا تبشرهم فيتكلوا “.

 

“Aku pernah diboncengkan Nabi ﷺ di atas keledai, kemudian Beliau berkata kepadaku : “ wahai muadz, tahukah kamu apakah hak Allah yang harus dipenuhi oleh hamba-hambaNya, dan apa hak hamba-hamba-Nya yang pasti dipenuhi oleh Allah?, Aku menjawab : “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”, kemudian beliau bersabda : “Hak Allah yang harus dipenuhi oleh hamba-hamba-Nya ialah hendaknya mereka beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatupun[7], sedangkan hak hamba yang pasti dipenuhi oleh Allah ialah bahwa Allah tidak akan menyiksa orang orang yang tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun, lalu aku bertanya : ya Rasulullah, bolehkah aku menyampaikan berita gembira ini kepada orang-orang?, beliau menjawab : “Jangan engkau lakukan itu, karena Khawatir mereka nanti bersikap pasrah” (Diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari, Muslim).

 

Pelajaran Penting Yang Terkandung Dalam Bab Ini :

 

Pertama; Hikmah diciptakannya jin dan manusia oleh Allah Ta’ala[8].

 

Kedua; Ibadah adalah hakekat (tauhid), sebab pertentangan yang terjadi antara Rasulullah ﷺ dengan kaumnya adalah dalam masalah tauhid ini[9].

 

Ketiga; Barang siapa yang belum merealisasikan tauhid ini dalam hidupnya, maka ia belum beribadah (menghamba) kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala[10] inilah sebenarnya makna firman Allah :

 

ولا أنتم عابدون ما أعب

 

“Dan sekali-kali kamu sekalian bukanlah penyembah (Tuhan) yang aku sembah” (Al Kafirun, 3)

 

Keempat; Hikmah diutusnya para Rasul [adalah untuk menyeru kepada tauhid, dan melarang kemusyrikan].

 

Kelima; Misi diutusnya para Rasul itu untuk seluruh umat

 

Keenam; Ajaran para Nabi adalah satu, yaitu Tauhid[11]

 

Ketujuh; Masalah yang sangat penting adalah : bahwa ibadah kepada Allah Subhanahu wa Subhanahu wa Ta’ala tidak akan terealisasi dengan benar kecuali dengan adanya pengingkaran terhadap thaghut.

 

Dan inilah maksud dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

 

فمن يكفر بالطاغوت ويؤمن بالله فقد استمسك بالعروة الوثقى

 

“Barang siapa yang mengingkari thaghut dan beriman kepada Allah, maka ia benar benar telah berpegang teguh kepada tali yang paling kuat” (Al Baqarah : 256).

 

Kedelapan; Pengertian thaghut bersifat umum, mencakup semua yang diagungkan selain Allah.

 

Kesembilan; Ketiga ayat muhkamat yang terdapat dalam surat Al An’am menurut para ulama terdahulu penting kedudukannya, didalamnya ada 10 pelajaran penting, yang pertama adalah larangan berbuat kemusyrikan.

 

Kesepuluh; Ayat-ayat muhkamat yang terdapat dalam surat Al Isra’ mengandung 18 masalah, dimulai dengan firman Allah :

 

لا تجعل مع الله إلها آخر فتقعد مذموما مخذولا

 

“Janganlah kamu menjadikan bersama Allah sesembahan yang lain, agar kamu tidak menjadi terhina lagi tercela” (Al Isra’: 22).

 

Dan diakhiri dengan firmanNya :

 

ولا تجعل مع الله إلها آخر فتلقى في جهنم ملوما مدحورا

 

“Dan janganlah kamu menjadikan bersama Allah sesembahan yang lain, sehingga kamu (nantinya) dicampakkan kedalam neraka jahannam dalam keadaan tercela, dijauhkan (dari rahmat Allah)” (Al Isra’: 39).

 

Kesebelas; Dan Allah mengingatkan kita pula tentang pentingnya masalah ini, dengan firman-Nya:

 

ذلك مما أوحى إليك ربك من الحكمة

 

“Itulah sebagian hikmah yang diwahyukan Rabb-mu kepadamu” (Al Isra’, 39).

 

Satu ayat yang terdapat dalam surat An Nisa’, disebutkan didalamnya 10 hak, yang pertama Allah memulainya dengan firmanNya:

 

 واعبدوا الله ولا تشركوا به شيئا 

 

“Beribadahlah kamu sekalian kepada Allah (saja), dan janganlah kamu mempersekutukanNya dengan sesuatu pun.” (An Nisa’, 36).

 

Keduabelas; Perlu diingat wasiat Rasulullah ﷺ di saat akhir hayat beliau.

 

Ketiga belas; Mengetahui hak-hak Allah yang wajib kita laksanakan.

 

Keempat belas;Mengetahui hak-hak hamba yang pasti akan dipenuhi oleh Allah apabila mereka melaksanakannya.

 

Kelima belas; Masalah ini tidak diketahui oleh sebagian besar para shahabat

 

Keenam belas; Boleh merahasiakan ilmu pengetahuan untuk maslahah.

 

Ketujuh belas; Dianjurkan untuk menyampaikan berita yang menggembirakan kepada sesama muslim.

 

Kedelapan belas; Rasulullah ﷺ merasa khawatir terhadap sikap menyandarkan diri kepada keluasan rahmat Allah.

 

Kesembilan belas; Jawaban orang yang ditanya, sedangkan dia tidak mengetahui adalah : “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui[12].

 

Kedua puluh; Diperbolehkan memberikan ilmu kepada orang tertentu saja, tanpa yang lain.

 

Kedua puluh satu; Kerendahan hati Rasulullah (ﷺ), sehingga Beliau (ﷺ) hanya naik keledai, serta mau memboncengkan salah seorang dari shahabatnya[13].

 

Kedua puluh dua; Boleh memboncengkan seseorang diatas binatang, jika memang binatang itu kuat.

 

Kedua puluh tiga; Keutamaan Muadz bin Jabal[14]..

 

Pembahasan:

—————

1 . Al Imam Al Qadhi Iyadh -rahimahulah- berkata:

 

وَقَدْ اِنْعَقَدَ الْإِجْمَاع عَلَى أَنَّ الْكُفَّار لَا تَنْفَعهُمْ أَعْمَالهمْ ، وَلَا يُثَابُونَ عَلَيْهَا بِنَعِيمٍ وَلَا تَخْفِيف عَذَاب ، لَكِنَّ بَعْضهمْ أَشَدّ عَذَابًا مِنْ بَعْض بِحَسَبِ جَرَائِمهمْ

 

“Dan telah terjadi ijmaa’ bahwasannya amal kebaikan orang-orang kafir tidak akan memberikan manfaat bagi mereka, tidak akan diberikan pahala atasnya berupa kenikmatan dan keringanan adzab. Akan tetapi sebagian mereka diberikan adzab yang lebih keras dibandingkan yang lain sesuai dengan kadar kejahatan/dosa mereka” (Syarh Shahiih Muslim, 3/87)

 

Allah ﷻ tidak akan pernah berbuat zhalim terhadap hamba-Nya. Amal kebaikan mereka (orang-orang kafir) akan Allah ﷻ balas di dunia dengan lunas, sedangkan di akhirat mereka tak lagi mempunyai kebaikan untuk dibalas sehingga neraka adalah tempat kembalinya.

 

Allah ﷻ berfirman:

 

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لا يُبْخَسُونَ * أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الآخِرَةِ إِلا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

 

“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan?” (Huud : 15-16)

 

Nabi ﷺ bersabda:

 

إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ مُؤْمِنًا حَسَنَةً يُعْطَى بِهَا فِي الدُّنْيَا، وَيُجْزَى بِهَا فِي الْآخِرَةِ، وَأَمَّا الْكَافِرُ فَيُطْعَمُ بِحَسَنَاتِ مَا عَمِلَ بِهَا لِلَّهِ فِي الدُّنْيَا حَتَّى إِذَا أَفْضَى إِلَى الْآخِرَةِ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَةٌ يُجْزَى بِهَا

 

“Sesungguhnya Allah ﷻ tidak menzhalimi satu kebaikan pun dari seorang mukmin, diberi dengannya di dunia dan dibalas dengannya di akhirat. Adapun orang kafir, ia diberi makan dengan kebaikan yang dilakukannya karena Allah di dunia; hingga apabila tiba di akhirat, dirinya tidak memiliki kebaikan untuk dibalas” (Diriwayatkan oleh Muslim no. 2808).

 

  1. Asy Syaikh Al ‘Allamah Shaleh Al Fauzan -hafizhahullah- mengatakan : “kitab Tauhid ini termasuk karya tulis yang paling berharga dalam Bab Tauhid” (I’aanatul Mustafiid bi Syarhi Kitaabi At Tauhiid, 1/16). Dikarenakan Kitab ini ditulis secara khusus dan secara sistematis serta secara lengkap dan terperinci diantara karya-karya para ulama baik sebelum Beliau seperti Syaikhul Islam Ibnu Tamiyyah dan Ibnul Qayyim -rahimahumullah-, juga salah seorang Ulama Asy Syafiyyah yakni Al Imam Al Miqrizi w. 845 H, dengan kitab-nya Tajriid At Tauhiid Al Mufidah, dan ada Al Imam Muhammad bin Isma’il Ash Shan’ani w. 1182 H, dengan kitab-nya Tathirul i’tiqad An Adranil Ilhad (yang mana Al Imam Ash Shan’ani adalah ulama yang sezaman dengan Syaikhul Islam Al Mujaddid Muhammad bin Abdul Wahhab -rahimahumullah-) dan setelahnya ada Al Imam Asy Syaukani w. 1250 H, dengan kitab-nya Syarhush Shuduri Bitahrimi Raf’il Quburi sebuah kitab yang ditulis ketika Beliau melihat bahwa meninggikan kuburan merupakan pintu/sarana menuju kepada kesyirikan, dan dalam kitab Nailul Authar, Imam Asy Syaukani pada bab Tasliimul Qabri wa Rasysyihi bil Maa’ wa Ta’liimihi li yu’raf, 4/131 dalam kitab ini Beliau menyoroti perbuatan kesyirikan yang banyak terjadi di daerahnya pada masa beliau hidup, *ini* sebagai bantahan kepada Sebagian orang menganggap bahwa pihak yang mengingkari perbuatan-perbuatan kesyirikan itu sebagai wahabi. Dalam kitab Tathirul I’tiqad An Adranil Ilhad karya Al Imam Ash Shan’ani -rahimahullah- 

 

فهذا (تطهير الاعتقاد عن أدران الإلحاد) وجب عليَّ تأليفه، وتعيَّن عليَّ ترصيفه؛ لِمَا رأيته وعلمته يقيناً من اتخاذ العباد الأنداد في الأمصار والقرى وجميع البلاد، من اليمن والشام ومصر ونجد وتهامة وجميع ديار الإسلام وهو الاعتقاد في القبور

 

Inilah kitab (membersihkan aqidah dari kotoran-kotoran kekafiran) wajib atas diriku untuk menulisnya, dan keharusan atas diriku untuk menyusunnya karena apa yang telah aku lihat dan telah aku ketahui dengan yakin tentang menjadikan hamba-hamba sebagai tandingan-tandingan (bagi Allah) yang terjadi di kota-kota, kampung-kampung, dan seluruh negeri, di Yaman, Syam, Mesir, Nejd, Tihamah, dan seluruh negeri Islam, yaitu keyakinan terhadap (para penghuni) kuburan” (Tathirul I’tiqad An Adranil Ilhad, hlm. 2), aoa yang dirasakan dan disaksikan oleh Belaiu sang pemilik kitab Subulus Salam syarh Bulughul Maram juga dirasakan oleh Imam Muhammad bin Abdul wahhab -rahimahumullah- sehingga kondisi ini menjadi faktor pendorong Beliau enulis kitab dalam menjelaskan kesyirikan (dalam Tauhid Ulluhiyyah) yang terjadi dimasa itu sebutsaja kitab ; Kasyf Asy Syubuhat, Tafsir Al Fatihah, Tafsir Syahadah La Ilaha Illah, Mukhtashar Siraturrasul dan kitab yang kita bahas ini yakni Kitab Tauhid Alladzi Huwa Haqqullah Alal Ibad. Bahkan dalam kitab Al Qawa’idul Arba’ (4 Kaedah dalam mengenal Syirik dan Tauhidullah) beliau menegaskan, dengan perkataan belaiu ;

 

أنّ مشركي زماننا أغلظ شركـًا من الأوّلين، لأنّ الأوّلين يُشركون في الرخاء ويُخلصون في الشدّة، ومشركوا زماننا شركهم دائم؛ في الرخاء والشدّة

 

“Sesungguhnya kaum musyrikin di zaman kita lebih parah dibandingkan kaum musyrikin zaman dulu. Kaum musyrikin zaman dahulu berbuat syirik pada saat lapang (bergelimang kenikmatan) dan mereka mengikhlaskan (ibadah kepada Allah semata) ketika berada dalam keadaan sempit (tertimpa musibah). Sedangkan orang-orang musyrik di zaman kita berbuat syirik dalam setiap keadaan, baik ketika lapang maupun sempit” (Al Qawa’idul Arba’, pada kaedah ke empat). Wallahu Musta’an…

 

  1. Al Imam Ibnu Muflih -rahimahullah- berkata : “Para ulama sepakat, jin adalah makhluk yang terbebani syari’at secara umum. Golongan kafir dari jin akan masuk neraka, hal ini disepakati oleh para ulama. Sedangkan golongan beriman di antara mereka akan masuk surga, sebagaimana pendapat Imam Malik dan Imam Syafi’i. Mereka bukanlah menjadi tanah pada hari kiamat sebagaimana hewan ternak akan demikian. Balasan bagi orang beriman tetap adalah selamat dari neraka. Inilah pendapat yang menyelisihi pendapat dari Abu Hanifah, Al Laits bin Sa’ad dan ulama lain yang sepemahaman dengan mereka.”

 

Beliau melanjutkan dengan berkata : ” bahwa jin yang beriman akan berada di surga sesuai kadar balasan mereka sebagaimana yang lainnya. Hal ini berbeda dengan pemahaman Mujahid yang menyatakan bahwa jin tidak makan dan tidak minum. Atau jin dikatakan berada di tempat tersendiri di surga, yaitu di sekitar surga, sebagaimana pendapat dari Umar bin Abdul Aziz. Yang tepat sebagaimana kata Ibnu Hamid dalam kitabnya bahwa jin dan manusia mendapatkan beban syari’at dan juga diperintahkan untuk ibadah. (Lawami’ Al Anwar Al Bahiyyah, 2/222-223)

 

Asy Syaikhul Ibnu Taimiyah -rahimahullah- berkata: “Tidak ragu lagi bahwa jin juga dituntut menjalankan suatu perintah, bukan hanya sekedar tashdiq (beriman). Jin juga dilarang dari sesuatu, bukan hanya sekedar dilarang dari mendustakan ajaran. Sesuai kemampuan mereka, mereka juga diperintah dalam hal ushul (pokok keimanan) dan furu’ (cabang keimanan). Namun prinsipnya, hukuman yang dikenakan tidaklah sama dengan manusia. Juga pada dasarnya tidak sama hal yang diperintah atau dilarang sama dengan manusia dalam hal hukuman. Walakin, jin dan manusia sama-sama diperintah dan dilarang, juga sama-sama dikenai hukum halal dan haram. Intinya, hal ini tidak ditentang sama sekali oleh para ulama kaum muslimin.

 

Begitu pula para ulama tidak berselisih pendapat dalam hal jin yang kafir, fasik dan ahli maksiat diancam siksa neraka. Sebagaimana manusia yang punya sifat demikian berujung sama seperti itu.

 

Yang para ulama bersilang pendapat adalah untuk golongan jin yang beriman. Menurut kalangan jumhur dari ulama Malikiyah, Imam Syafi’i, Ahmad, Abu Yusuf dan Muhammad, mereka berpendapat bahwa jin juga masuk surga. Yaitu dalam riwayat Thobroni disebutkan bahwa jin akan berada di surga di “robadhol jannah” (tempat tersendiri di surga). Sedangkan menurut ulama lainnya di antaranya adalah Imam Abu Hanifah, beliau berpemahaman bahwa jin yang taat akan berubah menjadi tanah (debu) sebagaimana keadaan hewan ternak pada hari kiamat. Balasan bagi mereka adalah selamat dari siksa neraka.” (Majmu’ Al Fatawa, 4: 233-234).

 

  1. Shahabat yang Mulia Ibnu Abbas -radhiyallahu ’anhuma- berkata,

 

كَلُّ مَا وَرَدَ فِي : الْقُرْآنِ مِنَ الْعِبَادَةِ فَمَعْنَاهَا التَّوْحِيدُ

 

“Semua kata ibadah yang terdapat dalam Al Qur’an maknanya adalah tauhid (mengesakan Allah dalam ibadah dan menyalahkan peribadahan kepada selain-Nya).” (Tafsir Al Baghawi, 1/71).

 

  1. Allah ﷻ mengutus para Nabi dan Rasul dari masa ke masa dan di manapun mereka diutus di muka bumi ini dan kepada ummat siapapun, mereka mengawali dan memulai dengan Tauhid!. Tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah.

 

Pertama; Nabi Nuh -‘alaihis salam-

 

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ إِنِّي لَكُمْ نَذِيرٌ مُبِينٌ * أَنْ لا تَعْبُدُوا إِلا اللَّهَ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ أَلِيمٍ

 

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, (dia berkata): “Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang nyata bagi kamu, agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa adzab (pada) hari yang sangat menyedihkan” (Hud : 25-26)

 

Kedua; Dakwah Nabi Hud -‘alaihis salam-

 

وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ

 

“Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Ad saudara mereka, Hud. Ia berkata: ‘Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya” (Al A’raf : 65 dan Hud : 50).

 

Ketiga; Dakwah Nabi Shalih -‘alaihis salam-

 

وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ

 

“Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka, Saleh. Ia berkata. ‘Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya” (Al A’raf : 73 dan Hud : 61).

 

Keempat; Dakwah Nabi Ibrahiim, Isma’il, Ishaq, dan Ya’qub -‘alaihim as salaam-

 

إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

 

“Ketika ia berkata kepada anak-anaknya: ‘Apa yang kamu sembah sepeninggalku?’. Mereka menjawab: ‘Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishak, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya” (Al Baqarah : 133)

 

Kelima; Dakwah Nabi Yuusuf -‘alaihis salaam-

 

يَا صَاحِبَيِ السِّجْنِ أَأَرْبَابٌ مُتَفَرِّقُونَ خَيْرٌ أَمِ اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ * مَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِهِ إِلا أَسْمَاءً سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ إِنِ الْحُكْمُ إِلا لِلَّهِ أَمَرَ أَلا تَعْبُدُوا إِلا إِيَّاهُ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ

 

“Hai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa? Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (Yuusuf : 39-40)

 

Keenam; Dakwah Nabi Syu’aib -‘alaihis salaam-

 

وَإِلَى مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ

 

“Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Madyan saudara mereka, Syuaib. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya” (Al A’raf : 85 dan Hud : 84)

 

Ketujuh; Dakwah Nabi Musa dan Harun -‘alaihimas salam-

Ketika Musa melihat penyimpangan Bani Israil menyembah patung emas anak sapi, (demikian pula tatkala memberi peringatan pada Fir’aun la’natullah), Musa berkata sebagaimana terdapat dalam firman Allah Ta’ala:

 

إِنَّمَا إِلَهُكُمُ اللَّهُ الَّذِي لا إِلَهَ إِلا هُوَ

 

“Sesungguhnya Tuhanmu hanyalah Allah, yang tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia” (Thaha : 98).

 

Kedelapan; Dakwah Nabi ‘Isa -‘alaihis salaam-

 

وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

 

“Padahal Al Masih (sendiri) berkata: ‘Hai Bani Israel, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang lalim itu seorang penolong pun” (Al Maidah : 72).

 

وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِنْ كُنْتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ

 

“Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?” Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahuinya” (Al Maidah : 116).

 

Kesembilan; Dakwah Nabi Muhammad ﷺ

Sebagaimana semua muslimin/mukminin mengetahui dan memahami bahwa Al Qur’an diturunkan kepada Muhammad ﷺ, dan dakwah Al Qur’an adalah dakwah tauhid, yang membebaskan manusia dari segala macam kesyirikan sampai ke akar-akarnya.

 

Rasulullah Muhammad ﷺ telah menyampaikan dakwah Tauhid ini selama 13 tahun berada di Makkah, 11 tahun berada di Madinah, dan juga ke negeri-negeri lain melalui utusan-utusan beliau (para shahabat). Dengan dakwah tauhid terbukalah pintu-pintu negeri-negeri di penjuru dunia ini.

 

Sebagai contoh, berkata Nabi ﷺ :

 

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُولُوا: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، فَمَنْ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَقَدْ عَصَمَ مِنِّي مَالَهُ وَنَفْسَهُ

 

”Aku telah diperintah (oleh Allah) untuk memerangi manusia hingga mereka berkata Laa ilaha illallaah (tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah). Barangsiapa yang mengucapkan Laa ilaha illallaah, sungguh telah terjaga dariku hartanya dan juga jiwanya” (Diriwayatkan oleh Al Bukhari no.6924 dan Muslim no.21).

 

Dari Shahabat Abu Umamah, bahwa Abu Dzar bertanya kepada Nabi ﷺ: “Berapa jumlah persis para nabi.” Beliau ﷺ menjawab:

 

مِائَةُ أَلْفٍ وَأَرْبَعَةٌ وَعِشْرُونَ أَلْفًا الرُّسُلُ مِنْ ذَلِكَ ثَلَاثُ مِائَةٍ وَخَمْسَةَ عَشَرَ جَمًّا غَفِيرًا

 

“Jumlah para nabi 124.000 orang, 315 diantara mereka adalah rasul. Banyak sekali.” (Diriwayatkan oleh Ahmad no. 22288 dan sanadnya dinilai shahih oleh Al Albani dalam Al Misykah).

 

Al Imam Albani memberikan enilain terhadap hadits diatas, kata beliau :

 

وجملة القول: إن عدد الرسل المذكورين في حديث الترجمة صحيح لذاته، وأن عدد الأنبياء المذكورين في أحد طرقه، وفي حديث أبي ذر من ثلاث طرق، فهو صحيح لغيره.

 

Kesimpulannya : jumlah Rasul sebagaimana yang disebutkan pada judul adalah shahih lidzatihi, sedangkan jumlah Nabi sebagaimana disebutkan pada salah satu jalannya dari haditsnya Abu Dzar rodhiyallahu anhu yang terdiri dari 3 jalan, maka statusnya adalah Shahih lighairihi (Ma’ushuu’ah Al Albani fii Al Aqiidah, 8/140).

 

Pada halaman lain beliau berkata :

 

وجملة القول أن الأحاديث في عدد الأنبياء مع ضعف أسانيدها متعارضة. وأما عدد الرسل فحديثه صحيح. كما سبق تحقيقه.

 

Kesimpulannya bahwa hadits jumlah Nabi bersama dengan kedhoifan sanadnya adalah saling menguatkan satu sama lainnya, sedangkan hadits terkait jumlah Rasul adalah shahih sebagaimana tahqiq sebelumnya (Ma’ushuu’ah Al Albani fii Al Aqiidah, 8/141, karya Asy Syaikh Syadi bin Muhammad bin Salim Alu Nu’man).

 

Demikianlah dakwah para Nabi dan Rasul -‘alahis shalatu was salam-, mereka mendakwahkan tauhid dan itulah inti dakwah mereka. Mereka mengajak manusia untuk menyembah Allah semata dan meninggalkan segala bentuk penyembahan kepada selain Allah yakni Tauhid Uluhiyyah!.

 

Dan mereka pun (Para Nabi dan Rasul) mengajarkan manhaj dakwah ini kepada para shahabatnya.

 

6 . Al Imam Al Qurtubi ketika menafsirkan Ayat (وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ) beliau berkata :

 

وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ : أي اتركوا كل معبود دون الله كالشيطان والكاهن والصنم، وكل من دعا إلى الضلال

 

“Ayat : dan jauhilah thaghut’, maknanya : tinggalkanlah segala sesuatu yang diibadahi selain Allah, seperti syaithan, dukun, berhala, dan semua yang menyeru kepada kesesatan” (Tafsir Al Qurthubi, 10/103), dan Al Imam Asy Sya’bi -rahimahullah-: “Thaghut, yaitu syaithan” (Ghariibul Hadiits oleh Abu Ishaq Al Harbi, 2/643), Al Imam Ibnul Jauzi -rahimahullah- menukilkan perkataan Imam Ibnu Qutaibah :

 

وقال ابن قتيبة : كل معبود ؛ من حجر أو صورة أو شيطان : فهو جبتٌ وطاغوتٌ . وكذلك حكى الزجاج عن أهل اللغة

 

“Ibnu Qutaibah berkata : ‘Segala sesuatu yang disembah baik berupa batu, patung, ataupun syaithaan, maka ia adalah jibt dan thaaghuut’. Dan begitulah yang dihikayatkan oleh Az Zujaaj dari para pakar bahasa” dan Imam Sa’id mengatakan: “Thaghut, yaitu dukun (Nuzhatul A’yun An Nawazhir, hlm. 410). Dan Imam Abul Aliyah, bahwasannya ia berkata : “Thaghut, yaitu tukang sihir” (Tafsir Ath Thabari, 4/557), dan Imam Maalik pernah berkata: “Thaghut adalah segala sesuatu yang diibadahi selain Allah” (Tafsir Ibni Abi Hatim, no. 2622), dan Imam Ibnul Manzhur (ahli bahasa) -rahimahullah- berkata :

 

الطاغوتُ ما عُبِدَ من دون الله عز وجل وكلُّ رأْسٍ في الضلالِ طاغوتٌ وقيل الطاغوتُ الأَصْنامُ وقيل الشيطانُ وقيل الكَهَنةُ وقيل مَرَدةُ أَهل الكتاب

 

“Thaghut adalah segala sesuatu yang disembah selain Allah ‘azza wa jalla. Dan segala pemimpin kesesatan adalah thaaghuut. Dikatakan, thaaghuut adalah berhala-berhala. Dikatakan pula : syaithaan dan dukun” (Lisanul Arab, hlm. 2722 – materi kata طوغ), dan Imam Al Fairuz Abadi -rahimahullah- berkata :

 

والطاغوت : اللات , والعزى , والكاهن , والشيطان , وكل رأس ضلال , والأصنام ، وما عبد من دون الله , ومردة أهل الكتاب

 

“Dan thaghut adalah Laata, ‘Uzza, dukun, syaithaan, semua pemimpin kesesatan, berhala, sesuatu yang diibadahi selain Allah, dan orang-orang durhaka dari Ahlul Kitab” (Al Qamus Al Muhiith, 4/400), dan Imam Abu Ja’far Ath Thabari -rahimahullah- mencoba merangkum pendefinisian thaghut, dengan perkataan beliau:

 

والصواب من القول عندي في”الطاغوت”، أنه كل ذي طغيان على الله، فعبد من دونه، إما بقهر منه لمن عبده، وإما بطاعة ممن عبده له، وإنسانا كان ذلك المعبود، أو شيطانا، أو وثنا، أو صنما، أو كائنا ما كان من شيء

 

“Dan yang benar menurutku tentang perkataan thaghut, bahwasannya ia adalah segala sesuatu yang melampaui batas terhadap Allah, lalu diibadahi selain dari-Nya, baik dengan adanya paksaan kepada orang yang beribadah kepadanya, atau dengan ketaatan orang yang beribadah kepadanya. Sesuatu yang diibadahi itu bisa berupa manusia, syaithaan, berhala, patung, atau yang lainnya” (Tafsir Ath Thabari, 5/419), Dan kemudian Imam Ibnul Qayyim -rahimahullah- memberikan definisi yang lebih mencakup dengan perkataannya :

 

والطاغوت كل ما تجاوز به العبد حده من معبود و متبوع أو مطاع فطاغوت كل قوم من يتحاكمون إليه غير الله ورسوله أو يعبدونه من دون الله أو يتبعونه على غير بصيرة من الله أو يطيعونه فيما لا يعلمون أنه طاعة الله

 

“Thaghut adalah segala sesuatu yang menyebabkan seorang hamba melampaui batas; baik sesuatu itu dari hal yang diibadahi, diikuti, atau ditaati. Maka thaghut itu setiap kaum yang berhukum kepadanya selain dari Allah dan Rasul-Nya, atau mereka menyembah selain dari Allah, atau mereka mengikutinya tanpa adanya pentunjuk dari Allah, atau mereka mentaatinya terhadap segala sesuatu yang tidak mereka ketahui bahwasannya hal itu merupakan ketaatan kepada Allah” (I’lamul Muwaqqi’iin, 1/50), bahkan dinar dan dirham dikatakan ia adalah thaghut, sebagaimana dikatakan Asy Syaikhul Ibnu Taimiyyah -rahimahullah- :

 

وهو اسمُ جنسٍ يدخل فيه : الشيطان والوثن والكهان والدرهم والدينار وغير ذلك

 

“Ia (thaghut) merupakan isim jenis yang masuk padanya : syaithan, berhala, dukun, dirham, dinar, dan yang lainnya” (Majmuu’ Al Fatawa, 16/565).

 

7 . Kesyirikan merupakan keharaman pertama yang dilarang oleh Allah ﷻ.

Dan firman-Nya.

 

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَاظَهَرَ مِنْهَا وَمَابَطَنَ وَاْلإِثْمَ وَ الْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَن تُشْرِكُوا بِاللهِ مَالَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللهِ مَالاَ تَعْلَمُونَ

 

Katakanlah:”Rabb-ku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak maupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (dan Rabb-ku mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa saja yang tidak kamu ketahui.” (Al A’raf:33).

 

8 . Hikmah telah Allah ﷻ jelaskan dalam firman-Nya,

 

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

 

“Aku tidaklah menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.” (Adz Dzariyat : 56)

 

Dalam ayat di atas, makna dari:

 

لِيَعْبُدُونِ

 

“beribadah kepada-Ku”, adalah:

 

لِيُوَحِّدُونِ

 

“mentauhidkan Aku.” 

 

Maksudnya, seseorang tidaklah dinilai beribadah kepada Allah Ta’ala sampai dia mentauhidkan Allah ﷻ dalam ibadah tersebut. Yaitu dengan tidak beribadah kepada selain Allah ﷻ. 

 

Jika di satu waktu seseorang beribadah kepada Allah ﷻ, dan di waktu yang lain dia beribadah kepada selain Allah ﷻ, maka dia tidaklah dinilai beribadah kepada Allah Ta’ala. Hal ini karena ibadah dia kepada selain Allah itu akan membatalkan ibadah dia kepada Allah. Dengan kata lain, karena dia tidak mentauhidkan Allah Ta’ala dalam ibadah tersebut. 

 

Oleh karena itu, semakna dengan tafsir di atas adalah memaknai “beribadah kepada-Ku” dengan,

 

يفردوني بالعبادة

 

“Meng-esa-kan-Ku dalam ibadah.” (I’aanatul Mustafiid bi Syarhi Kitaabi At Tauhiid, 1/33, karya Syaikh Shalih Al Fauzan -hafizhahullah-).

 

9 . Perkataan Penulis -rahimahullahu Ta’ala- “Sebab pertentangan yang terjadi antara Rasulullah ﷺ dengan kaumnya adalah dalam masalah tauhid ini yakni: Tauhid Uluhiyyah!. Di kitab Kasyfusy Syubhat penulis (Imam Muhammad bin Abdul Wahhab -rahimahullah-) mengatakan : Orang-orang musyrik yang diperangi oleh Rasulullah ﷺ, mereka mengakui bahwa Allah sebagai satu-satunya pencipta, tidak ada sekutu bagi Allah dalam hal mencipta. Tidak ada yang memberi rezeki kecuali Allah. Tidak ada yang menghidupkan dan mematikan melainkan Allah. Tidak ada yang mengatur urusan di alam ini melainkan Allah. Segala sesuatu yang berada di langit yang tujuh dan bumi yang tujuh, juga yang berada di dalamnya tunduk pada Allah, menjadi hamba, berada di bawah pengaturan dan kuasa Allah.

 

Jika engkau menginginkan dalil bahwa orang musyrik yang Rasulullah ﷺ perangi itu bersaksi akan hal di atas, maka silakan baca firman Allah :

 

Dalil pertama, Allah ﷻ berfirman,

 

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمْ مَنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ

 

“Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka katakanlah “Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?” (Yunus : 31)

 

Dalil kedua, firman Allah ﷻ,

 

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ

 

“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: “Allah”, maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?” (Az Zukhruf : 87)

 

Dalil ketiga, firman Allah ﷻ,

 

لَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ نَزَّلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهَا لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ

 

“Dan sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”, Katakanlah: “Segala puji bagi Allah”, tetapi kebanyakan mereka tidak memahami(nya).” (Al Ankabut: 63)

 

Dalil keempat, firman Allah ﷻ,

 

أَمْ مَنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ أَئِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ

 

“Atau siapakah yang memperkenankan (do’a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo’a kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi ? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya).” (An Naml: 62).

 

Penulis juga di dalam kitab Al Qawa’idul Arba’ pada kaedah pertama, melalui Syarh Al Qawaidul Arba’ karya Asy Syaikh Dr. Shalih Al Fauzan, hlm. 19, mengatakan : “Perkara yang engkau ketahui bahwasanya orang-orang kafir yang diperangi oleh Rasulullah ﷺ mengakui Allah ﷻ adalah Pencipta dan Pengatur (segala urusan), namun pengakuan itu tidak bisa memasukkan mereka ke dalam Islam! Selesai penukilan.

 

Pengakuan ini tidak mencukupi mereka untuk dikatakan muslim dan selamat. Kenapa? Karena mereka mengakui dan beriman pada sifat-sifat Rububiyah Allah saja, namun mereka menyekutukan Allah dalam masalah ibadah. Oleh karena itu, Allah katakan terhadap mereka,

 

وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلَّا وَهُمْ مُشْرِكُونَ

 

“Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain).” (Yusuf : 106)

 

Shahabat Ibnu Abbas -radhiyallahu ‘anhuma- mengatakan, “Di antara keimanan orang-orang musyrik: Jika dikatakan kepada mereka, ‘Siapa yang menciptakan langit, bumi, dan gunung?’ Mereka akan menjawab, ‘Allah’. Sedangkan mereka dalam keadaan berbuat syirik kepada-Nya.”

 

Imam Ikrimah -rahimahullah- (salah seorang murid Shahabat Ibnu Abbas) mengatakan ; “Jika kamu menanyakan kepada orang-orang musyrik: siapa yang menciptakan langit dan bumi? Mereka akan menjawab: Allah. Demikianlah keimanan mereka kepada Allah, namun mereka menyembah selain-Nya juga.” (Al Mukhtashar Al Mufid, hlm. 10-11).

 

Al Imam Ibnu Abi Zamanain Al Maliki -rahimahullah- berkata:

 

وما يؤمن أكثرهم بالله إلا وهم مشركون تفسير قتادة قال إيمانهم أنك لا تسأل أحدا منهم إلا أنباك أن الله ربه وهو في ذلك مشرك في عبادته

 

“Tafsir ayat “Dan sebahagian besar dari mereka (manusia) tidak beriman.. (Yusuf: 106), menurut tafsir Imam Qatadah: Iman mereka adalah bahwa tidaklah kamu bertanya kepada seorang pun di antara mereka kecuali dia akan menjawab bahwa Allah adalah Rabbnya (yakni ; bertauhid Rububiyah-pent). tetapi dia berbuat syirik dalam ibadah kepada-Nya (yakni: syirik Uluhiyah-pent).” (Tafsir Al Quranil Aziz li Ibni Abi Zamanain, 1/312).

 

Allah ﷻ juga berfirman:

 

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ

 

“Dan orang orang yang mengambil pelindung selain Dia (berkata), “Kami tidak beribadah kepada mereka melainkan (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat dekatnya.” Sungguh, Allah akan memberi putusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan.” (Az Zumar: 3).

 

Al Allamah Muhammad Al Khathib Asy Syarbini Asy Syafi’i -rahimahullah- berkata:

 

وذلك أنهم كانوا إذا قيل لهم من ربكم ومن خلقكم ومن خلق السموات والأرض قالوا: الله فيقال: فما عبادتكم لهم قالوا: ليقربونا إلى الله زلفى أي: قربى، وهو اسم أقيم مقام المصدر كأنهم قالوا: إلا ليقربونا إلى الله تعالى تقريباً حسناً سهلاً وتشفع لنا عند الله تعالى

 

“Yang demikian karena mereka jika ditanya: “Siapakah Rabb kalian? Siapakah Pencipta kalian? Siapakah Pencipta langit dan bumi?” Maka mereka akan menjawab: “Allah.” (yakni: mereka bertauhid Rububiyah,-pent). Kemudian jika ditanya: “Apa maksud ibadah kalian kepada mereka?” Maka mereka menjawab: “Agar mereka mendekatkan kami (menjadi wasilah-pent) kepada Allah dengan pendekatan yang baik dan mudah dan mereka memberikan syafaat kepada kami di sisi Allah ﷻ…dst.” (As Sirajul Munir fil I’anah ala Ma’rifati Ba’dhi Ma’ani Kalam Rabbinal Hakimil Khabir, hlm. 3741).

 

Bahkan Dikatakan Seseorang yang telah Mentauhidkan Allah ﷻ secara Rububiyah diwajibkan untuk mentauhidkan-Nya secara Uluhiyah. Allah ﷻ berfirman:

 

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

 

“Hai manusia, sembahlah Tuhan kalian Yang telah menciptakan kalian dan orang-orang yang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.” (Al Baqarah : 21).

 

Al Qadhi Nashiruddin Al Baidhawi Asy Syafi’i -rahimahullah- berkata:

 

وإنما قال : { ربكم } تنبيها على أن الموجب للعبادة هي الربوبية

 

“Allah ﷻ hanyalah menyatakan kata ‘Rabb kalian’ dalam rangka memperingatkan bahwa perkara yang mewajibkan ibadah (baca: Tauhid Uluhiyah, pen) adalah Tauhid Rububiyah.” (Anwarut Tanzil wa Asrarut Ta’wil: 1/54 dan As Sirajul Munir fil I’anah ala Ma’rifati Kalam Rabbina Ar Hakim AlKhabir: 67).

 

Dan Al Allamah Syihabuddin Al Qasthalani Asy Syafi’i -rahimahullah-. Beliau berkata:

 

وتوحيد الربوبية حجة ملزمة وبرهان موجب توحيد الألوهية

 

Tauhid Rububiyah itu menjadi Hujah yang mengharuskan dan dalil yang mewajibkan atas Tauhid Uluhiyah.” (Irsyadus Sari li Syarh Shahihil Bukhari: 10/484).

 

Sehingga dikatakan seseorang yang telah mengenal bahwa Allah ﷻ adalah pencipta dan pengaturnya, wajib beribadah kepada-Nya Mentauhidkan Allah ﷻ dalam Uluhiyah-Nya.

 

Pembahasan : Kaum Musyrikin juga ada mengingkari Tauhid Asma wa Shifat Allah ﷻ, sebagaimana firman Allah ﷻ : 

 

وَهُمْ يَكْفُرُونَ بِالرَّحْمَنِ

 

“Padahal mereka kafir kepada Ar-Rahman (Dzat yang Maha Penyayang).” (Ar Ra’du : 30)

 

Ar Rahmaan adalah salah satu dari nama Allah ﷻ. Sebab turunnya ayat di atas adalah ketika Nabi ﷺ hendak menulis perjanjian damai antara kaum muslimin dan kaum musyrikin di Hudaibiyyah, datanglah Suhail bin Amr. Suhail berkata: “Marilah kita tulis perjanjian antara kami dan kalian.”

 

Nabi ﷺ lalu memanggil juru tulis Beliau (ﷺ). Nabi ﷺ bersabda :

 

اكْتُبْ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 

“Tulislah Bismillaahi Ar Rahmaan Ar Rahiim.”

 

Suhail berkata, “Adapun nama Allah Ar Rahmaan, maka demi Allah, aku tidak mengenal siapa dia.”

 

Mereka (orang-orang musyrik) berkata, “Kami tidaklah mengenal nama Ar Rahman, kecuali Rahmaan Al Yamaamah.” (Diriwayatkan Bukhari no. 2731, 2732, dan kita nukil secara ringkas).

 

Al Qadhi Nashiruddin Al Baidhawi Asy Syafi’i -rahimahullah- juga menjelaskan bahwa ‘Tauhid Al Asma’ wash Shifat’ membawa konsekuensi kepada ‘Tauhid Uluhiyah’. Beliau berkata:

 

ذلِكُمُ اللَّهُ أي الموصوف بتلك الصفات المقتضية للألوهية والربوبية. رَبَّكُمُ لا غير إذ لا يشاركه أحد في شيء من ذلك. فَاعْبُدُوهُ وحدوه بالعبادة.

 

 “Maksud ayat “Dzat yang demikian adalah Allah” adalah bahwa Dzat yang disifati dengan sifat-sifat tersebut yang memberikan konsekuensi pada sifat Uluhiyah dan Rububiyah adalah Rabb kalian bukan yang lain, karena tidak ada sesuatu pun yang bersekutu dengan-Nya dalam hal itu. Maksud “Maka beribadahlah kepada-Nya” adalah tauhidkanlah Dia dengan ibadah.” (Anwarut Tanzil wa Asrarut Ta’wil, 3/104-105).

 

Dan Al Imam Abu Hayyan Al Andalusi -rahimahullah- berkata:

 

ثم أمر بعبادته لأن من استجمعت فيه هذه الصفات كان جديراً بالعبادة وأن يفرد بها فلا يتخذ معه شريك

 

“Kemudian Allah memerintahkan untuk beribadah kepada-Nya, karena Dzat yang mengumpulkan sifat-sifat ini pantas untuk diibadahi dan diesakan. Sehingga tidak boleh dijadikan sekutu bersama-Nya.” (Al Bahrul Muhith fit Tafsir, 5/222).

 

Dan Al Imam Al Khazin (beliau adalah ; Allamah Ala’uddin Asy Syihi Asy Syafi’i -rahimahullah- menerangkan alasan wajibnya beribadah kepada Allah yang mempunyai shifat yang luhur lagi sempurna. Beliau berkata:

 

لأنه لا يستحق العبادة إلا من هو قادر على من في السموات والأرض ، عالم بجميع المعلومات يعني إن الذي يستحق العبادة هو الله العزيز الغالب القاهر الذي لا يغالب ولا يدافع

 

“Ini karena tidaklah berhak diibadahi kecuali Tuhan yang menguasai segala apa yang ada di langit dan di bumi, yang mengetahui segala pengetahuan. Maksudnya adalah bahwa Tuhan yang berhak diibadahi adalah Allah, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Menang dan Yang Maha Memaksa, yang tidak dikalahkan dan tidak ditolak..dst.” (Lubabut Ta’wil fi Ma’anit Tanzil, 3/344).

 

Ringkasnya Mentauhidkan Allah ﷻ harus meliputi tiga hal;

Pertama: Tauhid Rububiyah, yaitu mengesakan Allah ﷻ di dalam penciptaan alam semesta, 

Kedua: Tauhid Uluhiyah, yaitu mengesakan Allah ta’ala di dalam ibadah dan ketundukan, dan,

Ketiga: Tauhid Al Asma’ wash Shifat, yaitu mengesakan-Nya di dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya.

 

Al Imam Ibnu Abil Izz Al Hanafi w. 792 H -rahimahullah- berkata:

 

فَإِنَّ التَّوْحِيدَ يَتَضَمَّنُ ثَلَاثَ أَنْوَاعٍ: أَحَدُهَا: الْكَلَامُ فِي الصِّفَاتِ. وَالثَّانِي: تَوْحِيدُ الرُّبُوبِيَّةِ، وَبَيَانُ أَنَّ اللَّهَ وَحْدَهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ. وَالثَّالِثُ: تَوْحِيدُ الْإِلَهِيَّةِ، وَهُوَ اسْتِحْقَاقُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنْ يُعْبَدَ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ.

 

“Sesungguhnya tauhid itu meliputi tiga macam. 

Pertama: Membicarakan sifat-sifat Allah ﷻ. 

Kedua: Tauhid Rububiyah dan menjelaskan bahwa Allah ﷻ adalah Pencipta segala sesuatu. 

Ketiga: Tauhid Ilahiyah, yaitu bahwa Allah ﷻ berhak diibadahi dengan tanpa sekutu bagi-Nya.” (Syarh Al Aqidah Ath Thahawiyah, tahqiq Syuaib Al Arna’uth, 1/24).

 

Dan Al Imam Muhammad Amin Asy Syinqithi -rahimahullah- berkata:

 

وقد دل استقراء القرآن العظيم على أن توحيد الله ينقسم إلى ثلاثة أقسام:

 

الأول ـ توحيده في ربوبيته، وهذا النوع من التوحيد جبلت عليه فطر العقلاء…الخ

 

الثاني ـ توحيده جلَّ وعلا في عبادته. وضابط هذا النوع من التوحيد هو تحقيق معنى «لا إله إلاَّ الله» …الخ

 

النوع الثالث ـ توحيده جلَّ وعلا في أسمائه وصفاته.

 

“Metode ‘Istiqra’ dari Al Quran menunjukkan bahwa ‘Mengesakan Allah’ itu dibagi tiga macam:

 

Pertama: Mengesakan Allah ﷻ di dalam perkara Rububiyah. Tauhid ini sudah ditanamkan di dalam fitrah orang-orang yang berakal..dst.

 

Kedua: Mengesakan Allah ﷻ di dalam perkara Ibadah. Batasan dari Tauhid ini adalah merealisasikan makna kalimat ‘Laa Ilaha illallah’..dst.

 

Ketiga: Mengesakan Allah ﷻ di dalam nama-nama dan sifat-Nya.” (Adhwa’ul Bayan fi Idhahil Quran bil Quran, 18/27-30).

 

  1. Perkataan penulis -rahimahullah- “Barang siapa yang belum merealisasikan Tauhid ini (yakni : Uluhiyyah) dalam hidupnya, maka ia belum beribadah (menghamba) kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala” dan Asy Syaikh Shalih bin Abdul Aziz alu Syaikh menjelaskan: bahwa kata Uluhiyah berasal darialaha – ya’lahu – ilahah – uluhah yang bermakna ‘menyembah dengan disertai rasa cinta dan pengagungan’. Sehingga kata ta’alluh diartikan penyembahan yang disertai dengan kecintaan dan pengagungan (At Tam-hid li Syarh Kitab At Tauhid, hlm. 6 dan 74-76, Al Mufradat fi Gharib Al Qur’an, 1/26, karya Imam Ar Raghib Al Ashfahani).

 

  1. Nabi ﷺ menegaskan bahwa agama para nabi itu sama,

 

الْأَنْبِيَاءُ إِخْوَةٌ لِعَلَّاتٍ ، أُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى وَدِينُهُمْ وَاحِدٌ

 

Para nabi itu ibarat saudara seibu. Ibu mereka berbeda-beda, agama mereka adalah satu.” (Diriwayatkan oleh Al Bukhari no. 3443 dan Muslim no. 2365).

 

Al Imam Al Hafidz Ibnu Hajar -rahinahullah- menjelaskan hadits ini, kata beliau;

 

معنى الحديث أن أصل دينهم واحد وهو التوحيد وإن اختلفت فروع الشرائع

 

“Makna hadis, bahwa prinsip agama para nabi itu sama, yaitu tauhid. Meskipun rincian syariatnya berbeda-beda.” (Fathul Bari, 6/489).

 

Perkataan penulis -rahimahullah- : “Perkataan orang yang ditanya tentang permasalahan yang tidak ia ketahui adalah : Allaahu wa Rasuuluhu a’lam (Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui)” Ringkasnya : Terjadi silang pendapat mengenai hukum ucapan seseorang ‘Allaahu wa Rasuuluhu a’lam (Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui)’, Sebagian ulama melarangnya, karena menurut mereka asal dari perkataan dalam permasalahan ini adalah Allaahu a’lam saja, sedangkan Rasulullah ﷺ hanyalah mengetahui sesuatu yang diberitahukan Allah kepadanya saja. Oleh karena itu, perkataan ‘Allaahu wa Rasuuluhu a’lam’ hanya disyari’atkan diucapkan saat Beliau ﷺ masih hidup. Perkataan ‘Allaahu wa Rasuuluhu a’lam’ merupakan adab para shahabat saat berinteraksi dengan Rasulullah ﷺ. 

 

Asy Syaikh Ibnu Baz -rahimahullah- ketika masih memimoin Lajnah Daaimah, berkata: 

 

وقوله: “الله ورسوله أعلم” يجوز في حياة الرسول صلى الله عليه وسلم، أما بعد وفاته فيقول: الله أعلم؛ لأن الرسول صلى الله عليه وسلم بعد وفاته لا يعلم ما يحدث بعد وفاته

 

“Dan perkataan ‘Allaahu wa Rasuuluhu a’lam’ boleh diucapkan sewaktu Rasulullah ﷺ masih hidup. Adapun setelah meninggal, maka hendaklah mengatakan : ‘Allaahu a’lam’, karena Rasulullah ﷺ tidak mengetahui apa yang terjadi setelah wafatnya” (Fatawaa Al Lajnah Ad Daaimah, 3/241), demikian juga Asy Syaikh Al Albani -rahimahullah- dalam Ashlu Shifatu Shalatin Nabi 3/1019, dan Asy Syaikh Shalih Al Fauzan -hafidhahulla- dalam I’aanatul Mustafiidh bi Syarh Kitaabit Tauhiid, 1/ 403). Mereka berdalil dengan ayat:

 

وَلَوْ كُنتُ أَعْلَمُ الغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ

 

“Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudaratan” (Al A’raf : 188).

 

Sementara para Ulama membolehkannya. Mereka berdalil dengan keumuman dalil jawaban para shahabat ketika ditanya Rasulullah ﷺ dalam permasalahan yang tidak mereka ketahui.

 

Al Imam Adz Dzahabi -rahimahullah- berkata:

 

وإن من العلم أن تقول لما لا تعلم: الله ورسوله أعلم

 

“Dan sesungguhnya termasuk bagian dari ilmu adalah engkau mengatakan terhadap sesuatu yang tidak engkau ketahui: ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui” (Al Ulluw, hlm. 120).

 

Al Imam Ibnul Qayyim -rahimahullah- berkata:

 

والله أعلم بالمراد بقوله — ورسوله المبعوث بالفرقان

 

“Dan Allah lebih mengetahui maksud firman-Nya – dan Rasul-Nya diutus dengan Al Furqaan” (An Nuuniyyah, melalui Mu’jamul Manaahiyyil Lafdhiyyah oleh Asy Syaikh Bakr Abu Zaid, hlm. 128).

 

Asy Syaikh Abdurrahmaan bin Hasan Alusy Syaikh -rahimahumullah- mengomentari hadits Mu’aadz:

 

قوله: “قلت: الله ورسوله أعلم” فيه حسن الأدب من المتعلم، وأنه ينبغي لمن سئل عما لا يعلم أن يقول ذلك، بخلاف أكثر المتكلفين

 

“Perkataan Mu’adz: ‘Aku berkata: Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui’, padanya terdapat pelajaran tentang baiknya adab dari seorang pelajar. Dan hendaknya bagi seseorang yang ditanya tentang sesuatu yang tidak ia ketahui untuk menjawab dengan jawaban itu. Berbeda halnya dengan kebanyakan orang yang memaksakan diri (untuk menjawab. (Fathul Majid Syarah Kitabut Tauhid, hlm. 27).

 

Kemudian Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin -rahimahullah- menjamak/mengkompromikan ke-dua pendapat di atas dengan perincian:

 

قوله : ( الله ورسوله أعلم ) جائزٌ ، وذلك لأن علم الرسول من علم الله ؛ فالله – تعالى – هو الذي يعلمه ما لا يدركه البشر ، ولهذا تأتي بالواو.

وكذلك في المسائل الشرعية ، يقال : الله ورسوله أعلم ، لأن – صلى الله عليه وسلم – أعلم الخلق بشريعة الله ، وعلمه بها من علم الله الذي علمه ، كما قال تعالى : ” وأنزل عليك الكتاب والحكمة وعلمك ما لم تكن تعلم ” [ النساء 113 ] ، وليس هذا كقوله : ما شاء الله وشئت ، لأن هذا في باب القدرة والمشيئة ، ولا يمكن أن يجعل الرسول – صلى الله عليه وسلم – مشاركاً لله فيها.

ففي الأمور الشرعية يقال : الله ورسوله أعلم ، وفي الأمور الكونية : لا يقال ذلك.

ومن هنا نعرف خطأ وجهل من يكتب الآن على بعض الأعمال {وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ} لأن رسول الله، صلى الله عليه وسلم، لا يرى العمل بعد موته.

 

“Perkataan shahabat : ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui’ diperbolehkan. Hal itu karena ilmu Rasulullah ﷺ berasal dari ilmu Allah. Dan Allah ﷻ adalah Yang mengajarkan kepada beliau apa-apa yang tidak dapat dicapai oleh manusia. Oleh karenanya, perkataan itu disambung dengan huruf wawu.

 

Begitu juga dalam permasalahan syari’at, boleh dikatakan: ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui’, karena Beliau ﷺ adalah makhluk yang paling mengetahui tentang syari’at Allah, dan ilmu Beliau (ﷺ) tentang hal itu berasal dari ilmu Allah yang diajarkan kepada Beliau (ﷺ) sebagaimana firman-Nya ﷻ: ‘Dan (juga karena) Allah telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu, dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui’ (An Nisaa’: 118). Hal ini tidaklah seperti perkataan: *‘Maa syaa-Allah wa syi’ta* (atas kehendak Allah dan kehendakmu), karena perkataan ini masuk dalam bab kemampuan dan kehendak (sehingga dilarang). Tidak mungkin menjadikan Rasulullah ﷺ sebagai tandingan bagi Allah padanya.

 

Dalam perkara-perkara syari’at, boleh dikatakan: ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui’, namun dalam perkara-perkara kauniyyah, tidak boleh dikatakan hal itu.

Oleh karena itu dari sini kita dapat mengetahui kekeliruan dan kebodohan orang yang menuliskan sebagian amal-amal mereka dewasa ini ayat : ‘Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya akan melihat pekerjaanmu itu’ (At Taubah : 105), karena Rasulullah ﷻ tidak dapat melihat amal mereka setelah wafat Beliau (ﷺ)” (Al Manahiyyul Lafzhiyyah, pertanyaan no. 17).

 

Dan juga Asy Syaikh Bakr Abu Zaid -rahimahullah- mengatakan bahwa para ulama yang membolehkan ucapan ‘Allaahu dan Rasul-Nya lebih mengetahui’ sepeninggal Nabi ﷺ dibawa maknanya pada perkara-perkara syari’at selain dari perkara *Ghaib dan keduniaan* – kecuali yang Allah nampakkan pengetahuannya kepada Beliau ﷺ berdasarkan dalil (Mu’jamul Manahiyyil Lafdhiyyah, hlm. 128). Karena perkara Ghaib Mutlak maka Hanya Allah yang Maha Mengetahui, berdasatkan Firman-Nya :

 

وَلَوْ كُنتُ أَعْلَمُ الغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ

 

“Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudaratan” (Al A’raf : 188).

 

 Dan perkara kedunian, Beliau ﷺ pernah bersabda ;

 

 أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ

 

“Kamu lebih mengetahui urusan duniamu.” (Diriwayatkan oleh Muslim, no. 2363, dari Shahabat Anas bin Malik -radhiyallahu ‘anhu-).

 

  1. Al Imam Al Hagizh Ibnu Hajar menyebutkan bahwa Imam Ibnu Mandah -rahimahumullah- telah menulis tentang nama-nama para shahabat yang pernah dibonceng oleh Nabi ﷺ dan jumlahnya lebih dari 30 shahabat (dan salah satunya Muadz bin Jabal-pent) (Fathul Bari,10/398)

 

  1. Perkataan penulis -rahimahullah-; “Keutamaan shahabat Muadz bin Jabal -radhiyallahi ‘anhu- diantaranya :

 

Pertama; Yang paling mengetahui tentang halal dan haram

 

Dari Anas bin Malik -radhiyallahu ‘anhu-; Rasulullah ﷺ bersabda:

 

«أَرْحَمُ أُمَّتِي بِأُمَّتِي أَبُو بَكْرٍ، وَأَشَدُّهُمْ فِي أَمْرِ اللَّهِ عُمَرُ، وَأَصْدَقُهُمْ حَيَاءً عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ، وَأَعْلَمُهُمْ بِالحَلَالِ وَالحَرَامِ مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ، وَأَفْرَضُهُمْ زَيْدُ بْنُ ثَابِتٍ، وَأَقْرَؤُهُمْ أُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَمِينٌ وَأَمِينُ هَذِهِ الأُمَّةِ أَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الجَرَّاحِ

 

“Diantara ummatku yang paling belas kasih terhadap ummatku (yang lain) adalah Abu Bakr, sedangkan yang paling tegas terhadap perintah Allah adalah Umar, yang paling pemalu adalah Utsman, yang paling mengetahui halal haram adalah Mu’adz bin Jabal, dan yang paling mengetahui tentang fara’idh (ilmu tentang pembagian harta waris) adalah Zaid bin Tsabit, serta yang paling bagus bacaannya adalah Ubay bin Ka’ab, dan setiap ummat memiliki orang kepercayaan, sedangkan orang kepercayaan ummat ini adalah Abu Ubaidah bin Jarrah.” (Diriwayatkan oleh Imam Abu Isa At Tirmidzi falam Sunan-nya no. no. 3790, dan di-shahih-kan oleh Al Albani -rahimahillah-).

 

Kedua; Nabi Kita Muhammad bin Abdillah ﷺ mencintainya :

 

Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah ﷺ menggandeng tangannya dan berkata:

 

«يَا مُعَاذُ، وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ، وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ»

 

“Wahai Mu’adz, demi Allah, aku mencintaimu.”

Kemudian Beliau (ﷺ) berkata:

 

 أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ لَا تَدَعَنَّ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ تَقُولُ: اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ ” 

 

“Aku wasiatkan kepadamu wahai Mu’adz, janganlah engkau tinggalkan setiap selesai shalat untuk mengucapkan: Ya Allah, bantulah aku untuk berdzikir dan bersyukur kepada-Mu serta beribadah kepada-Mu dengan baik”. (Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud falam Sunan-nya no. 1522 dan di-shahih-kan oleh Al Albani).

 

Ketiga; Nabi memberi isyarat kepada umatnya untuk mengambil ilmu Al Qur’an darinya (sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al Bukhari no: 3758. Muslim no: 2464)

 

Keempat; Shahabat Muadz sangat benci kepada berhala. Patung gundul botak sedekap plontos bisu. Dan Ia berhasil (dengab hidayah dan Taufiq dari Allah) mengislamkan beberapa orang shahabat yang terkemuka seperti misalnya Amru bin Al Jamuh.

 

Sama-sama pemuda seusianya yang bertetangga dari suku bani Salamah. Ibnu Jamuh punya tuhan berhala di depan rumahnya. Tiap malam oleh Mu’adz dicuri dan kepala patung tersebut dicelupkan ke tahi dan kotoran. Setiap pagi Amru bin Jamuh memandikan berhalanya, meminyakinya dengan wangi-wangian, dan mengganti pakaian. Dan hal itu terjadi setiap hari. Hingga hari kelima Amru jengkel. Berkata : “Kalau kamu memang tuhan, ini pedang saya siapkan di tanganmu. Nanti malam kalau ada yang mengganggumu bunuh saja dia”. Begitu pagi merekah, patungnya ditemukan terikat dengan bangkai anjing busuk menggantung kecebur ke dalam sumur. Dari peristiwa itu dia masuk Islam dari asbab Mu’adz bin Jabal. (Disadur dari Biografi Mu’adz dalam kitab Al Ishabah, no. 8.039 karya Ibnu Hajar Al Asqalani dan Thabaqat Ibn Sa’ad, 3/2,120), dan masih banyak keutamaan dari shahabat Muadz, kita cukupkan pada empat point saja insya Allah mewakili.

 

Semoga tulisan ringkas ini bisa menambah ilmu dan keimanan kita.

 

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ