Silsilah Pembahasan Kitabut Tauhid bagian 2

Hamzah
24 February 2020 - 12:36


Silsilah Pembahasan Kitabut Tauhid bagian 2

BAB 2 [1]

KEISTIMEWAAN TAUHID[2] DAN DOSA-DOSA YANG DIAMPUNI KARENANYA[3]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

الذين آمنوا ولم يلبسوا إيمانهم بظلم أولئك لهم الأمن وهم مهتدون

“Orang-orang yang beriman dan tidak menodai keimanan mereka dengan ke-zhaliman[4] mereka itulah orang-orang yang mendapat ketentraman dan mereka itulah orang-orang yang mendapat jalan hidayah”, (Al An’am, 82).

Ubadah bin Shamit -radhiyallahu ’anhu- menuturkan : Rasulullah ﷺ bersabda :

” من شهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأن محمدا عبده ورسوله، وأن عيسى عبد الله ورسوله، وكلمته ألقاها إلى مريم وروح منه والجنة حق والنار حق أدخله الله الجنة على ما كان من العمل ” أخرجاه

“Barang siapa yang bersyahadat bahwa tidak ada sesembahan yang hak (benar) selain Allah saja, tiada sekutu bagi-Nya, dan Muhammad adalah hamba [5] dan Rasul-Nya, dan bahwa Isa adalah hamba dan Rasul-Nya, dan kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam, serta Ruh dari pada-Nya, dan surga itu benar adanya, neraka juga benar adanya, maka Allah pasti memasukkanya ke dalam surga, betapapun amal yang telah diperbuatnya”. (Diriwayatkan oleh Al Bukhari & Muslim)[6]

Al Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan pula hadits dari Itban -radhiyallahu ’anhu- bahwa Rasulullah ﷺ bersabda :

” فإن الله حرم على النار من قال لا إله إلا الله يبتغي بذلك وجه الله “

“Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengharamkan neraka bagi orang-orang yang mengucapkan لا إله إلا الله dengan ikhlas[7] dan hanya mengharapkan wajah Allah”. [8]

Diriwayatkan dari Abu Said Al Khudri -radhiyallahu ’anhu- bahwa Rasulullah ﷺ bersabda :

” قال موسى يا رب، علمني شيئا أذكرك وأدعوك به، قال : قل يا موسى : لا إله إلا الله، قال : يا رب كل عبادك يقولون هذا، قال موسى : لو أن السموات السبع وعامرهن – غيري – والأرضين السبع في كفة، ولا إله إلا الله في كفـة، مالت بهـن لا إله إلا الله ” (رواه ابن حبان والحاكم وصححه)

“Musa berkata : “Ya Rabb, ajarkanlah kepadaku sesuatu untuk mengingat-Mu dan berdoa kepada-Mu”, Allah berfirman :”Ucapkan wahai Musa لا إله إلا الله ”, Musa berkata : “Ya Rabb, semua hamba-Mu mengucapkan itu”, Allah menjawab :” Hai Musa, seandainya ketujuh langit serta seluruh penghuninya[9], selain Aku, dan ketujuh bumi diletakkan dalam satu timbangan[10] dan kalimat لا إله إلا الله diletakkan dalam timbangan yang lain, niscaya kalimat لا إله إلا الله lebih berat timbangannya.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban, dan Imam Hakim, sekaligus menshahihkannya).[11]

Imam Tirmidzi meriwayatkan hadits (yang menurut penilaiannya hadits itu hasan) dari Anas bin Malik -radhiyallahu ’anhu- ia berkata aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda :

” قال الله تعالى : يا ابن آدم، لو أتيتني بقراب الأرض خطايا، ثم لقيتني لا تشرك بي شيئا، لأتيتك بقرابها مغفرة “

“Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “Hai anak Adam jika engkau datang kepada-Ku dengan membawa dosa sejagat raya, dan engkau ketika mati dalam keadaan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatupun[12], pasti Aku akan datang kepadamu dengan membawa ampunan sejagat raya pula”. [13]

Kandungan bab ini :

Pertama : Luasnya karunia Allah.

Kedua : Besarnya pahala Tauhid di sisi Allah.

Ketiga : Dan Tauhid juga dapat menghapus dosa.

Keempat : Penjelasan tentang ayat yang ada dalam surat Al An’am.

Kelima : Perhatikan kelima masalah yang ada dalam hadits Ubadah.

Keenam : Jika anda memadukan antara hadits Ubadah, hadits Itban dan hadits sesudahnya, maka akan jelas bagi anda pengertian kalimat Laa Ilaha Illallah, juga kesalahan orang-orang yang tersesat karena hawa nafsunya.

Ketujuh: Perlu diperhatikan syarat-syarat yang disebutkan dalam hadits Itban, (yaitu ikhlas semata-mata karena Allah, dan tidak menyekutukan-Nya).

Kedelapan : Para Nabi pun perlu diingatkan akan keistimewaan Laa Ilaha Illallah. [14]

Kesembilan : Penjelasan bahwa kalimat Laa Ilaha Illallah berat timbangannya mengungguli berat timbangan seluruh makhluk, padahal banyak orang yang mengucapkan kalimat tersebut.

Sepuluh : Pernyataan bahwa bumi itu tujuh lapis seperti halnya langit.

Kesebelas : Langit dan bumi itu ada penghuninya.

Keduabelas : Menetapkan sifat sifat Allah apa adanya[15], berbeda dengan pendapat Asy’ariyah[16].

Ketigabelas : Jika anda memahami hadits Anas, maka anda akan mengetahui bahwa sabda Rasul yang ada dalam hadits Itban : “Sesungguhnya Allah mengharamkan masuk neraka bagi orang-orang yang mengucapkan لا إله إلا الله dengan penuh ikhlas karena Allah, dan tidak menyekutukan-Nya”, maksudnya adalah tidak menyekutukan Allah dengan sesuatupun, bukan hanya mengucapkan kalimat tersebut dengan lisan saja.

keempat belas : Nabi Muhammad dan Nabi Isa adalah sama-sama hamba Allah dan Rasul-Nya.

Kelima belas : Mengetahui keistimewaan Nabi Isa, sebagai Kalimat Allah.

Keenam belas : Mengetahui bahwa Nabi Isa adalah ruh diantara ruh-ruh yang diciptakan Allah.

Ketujuh belas : Mengetahui keistimewaan iman kepada kebenaran adanya surga dan neraka.

Kelapan belas : Memahami sabda Rasul : “betapapun amal yang telah dikerjakannya”.

Kesembilan belas : Mengetahui bahwa timbangan itu mempunyai dua daun.

Kedua puluh : Mengetahui kebenaran adanya wajah bagi Allah

Pembahasan :

—————-

1. Asy Syaikh Al ‘Allamah Shaleh Al Fauzan -hafizhahullah- menjelaskan dalam Al Mulakhkhash Fi Syarh Kitabut Tauhid, hlm. 21, kata Beliau ; –Hubungan Bab ini dengan Bab sebelumnya– setelah Penulis -rahimahullah- menjelasjan akan Kewajiban Untuk men-Taudid-kan Allah (yakni Mengesakan Allah dalam Ibadah-pent), serta makna-nya, maka penulis -rahimahullah- Pada Bab ini akan menjelaskan dari (Keutamaan Ber-Tauhid dan Dosa-dosa yang Digugurkan (karena Tauhid)) agar memotivasi untuk mempelajari dan menerapkan Tauhid.

2. Keutamaan Tauhid :

Pertama; Tauhid merupakan sebab mendapatkan keamanan dan hidayah di dunia dan akhirat

Perhatikan! Ayat yang dibawakan oleh Penulis -rahimahullah- dalam Surah Al An’am, Allah Ta’ala berfirman :

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman, mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Al An’am : 82)

Keamanan itu berada di tangan Allah Ta’ala dan tidak akan Allah Ta’ala berikan kecuali kepada orang-orang yang bertauhid (muwahhid) yang mengikhlaskan ibadah mereka kepada Allah Ta’ala.

Ketika ayat ini turun, para shahabat merasa berat sehingga mereka pun mendatangi Nabi ﷺ. Mereka pun bertanya :

أَيُّنَا لَمْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ؟

“Wahai Rasulullah (ﷺ) siapakah di antara kita yang tidak menzhalimi dirinya sendiri?”

Maksudnya, semua orang pasti menzhalimi dirinya sendiri –(begitu juga para Shahabat tidak terlepas dari yang namanya Zhalim -baik kezhaliman hamba terhadap dirinya, kezhaliman terhadap sesama, dan kezhaliman terhadap Allah)– . Sedangkan dalam ayat di atas, adanya Syarat datang-nya keamanan dan hidayah itu hanya Allah Ta’ala berikan kepada orang-orang yang tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman. Sehingga mereka merasa berat karena menyangka bahwa mereka tidak akan mendapatkan keamanan dan hidayah sama sekali. (Penjelasan tentang makna Zhalim insya Allah kita paparkan di catatan kaki no. 3).

Pendekatan makna: Disini para shahabat memahami secara bahasa bahwasanya lafal ظُلْم dalam ayat بِظُلْمٍ adalah:

✓ Isim nakirah (tanwin), dan dalam konteks kalimat penafian maka memberi memberikan faidah keumuman yakni ; 3 jenis makna (ظُلْم) Zhalim (kezhaliman hamba terhadap dirinya, kezhaliman terhadap sesama, dan kezhaliman terhadap Allah).

Sehingga para Shahabat -mereka- memahami bahwa yang dimaksud dengan kezhaliman dalam ayat adalah yabg bersifat umum (yakni dari sisi Lughah). Dan Nabi (ﷺ) tidak menyalahkan pemahaman mereka secara lughawi (secara penunjukan bahasa) bahwasanya nakirah jika dalam konteks kalimat penafian maka memberikan faidah keumuman. Allahu wa Rasuluhu A’lam.

Maka Nabi ﷺ menjelaskan kepada para shahabat bahwa keumuman (yaitu kezhaliman yang mereka fahami) dalam ayat ini dimaksudkan adalah makna kekhususan. Yaitu, adalah salah satu dari tiga jenis kezhaliman, yaitu kezhaliman seorang hamba terhadap hak Rabb-nya dengan berbuat kesyirikan terhadap Allah Ta’ala!

Nabi ﷺ menjawab :

لَيْسَ كَمَا تَظُنُّونَ، إِنَّمَا هُوَ كَمَا قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ: يَا بُنَيَّ لاَ تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Maksud ayat itu tidak seperti yang kalian sangka. Hanyalah yang dimaksud ayat itu adalah sebagaimana perkataan Luqman kepada anaknya (yang artinya), “Wahai anakku, janganlah berbuat syirik kepada Allah. Sesungguhnya syirik adalah kedzaliman yang besar.” (Luqman : 13)”.” (Diriwayatakan oleh Al Bukhari no. 3429 dan Muslim no. 124).

Tafsir Surah Al An’am ayat ke 82:

Berkata Al Imam Al Hafizh Ibnu Katsir Asy Syafi’i -rahimahullah- : “Orang-orang yang mengikhlaskan ibadah mereka hanya untuk Allah saja dan mereka tidak menyekutukan Allah sedikitpun, mereka itu akan mendapatkan keamanan pada hari kiamat dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk di dunia dan akhirat.” (dinukil Fathul Majid Syarh Kittabut Tauhid, hlm. 36).

Kedua : Tauhid merupakan sebab mendapatkan kehidupan yang baik dan dihilangkannya kesedihan dan kesulitan dari seseorang :

Allah Ta’ala berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً

“Barangsiapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman (bertauhid-pent), maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (An Nahl: 97). Al Imam Ibnul Qayyim -rahimahullah- menjelaskan : Ini adalah balasan bagi orang mukmin (yakni: muwahiddin-pent) di dunia, yaitu akan mendapatkan kehidupan yang baik.

وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Lanjutan ayat :… “Dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An Nahl: 97). Sedangkan dalam ayat ini adalah balasan di akhirat, yakni alam barzakh. (Kita sadur dari kitab Shahih Al Wabilush Shayyib, hlm. 91-96)

Ketiga : Tauhid merupakan sebab mendapatkan kemenangan dan kejayaan

Allah Ta’ala berfirman:

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Dan Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal shalih, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan mengubah (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap beribadah kepada-Ku dengan tidak mempersekutukan Aku dengan sesuatu apapun. Tetapi barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. (An Nur:55). Lihat juga surat Al A’raf ayat 96.

Al Imam Al ‘Allamah As Si’di -rahimahullah- mengatakan:

“(Janji Allah dalam ayat ini) akan senantiasa berlaku sampai hari kiamat, selama mereka (kaum muslimin) menegakkan iman dan amal shalih. Diraihnya apa yang telah dijanjikan Allah, adalah sebuah kepastian. Kemenangan orang-orang kafir dan munafik pada sebagian masa, serta berkuasanya mereka di atas kaum muslimin, tidak lain disebabkan oleh pelanggaran kaum muslimin dalam iman dan amal shalih.” (Taisir Karimurr Rahman, hlm. 544). Ketika kita mampu menegakkan tauhid di muka bumi ini niscaya Allah akan menurunkan ke jayaan terhadap umat ini.

Maka dari itu Al Imam Malik -rahimahullah- berkata:

لَنْ يُصْلِحَ آخِرَ هَذِهِ اْلأُمَّةِ إِلاَّ مَا أَصْلَحَ أَوَّلَهَا.

Tidak akan dapat memperbaiki ummat ini, melainkan dengan apa yang telah membuat baik generasi pertama ummat ini (At Tamhid, karya Ibnu Abdil Barr 17/292). Karena Para Shahabat telah di Tazkiyah oleh Nabi kita Muhammad bin Abdillah (ﷺ) sebagai ; Sebaik-baik manusia ialah pada generasiku (sebagaimana Riwayat Al Imam Al Bukhari, no. 3651, dan Muslim, no. 2533), Dan Allah Ta’ala telah menyebut mereka sebagai Mukminin dalam surah An Nisa’ ayat ke 115.

Keempat : Ketika ada (seseorang atau sebagian atau sekelompok) melakukan kesyirikan, maka inilah penyebab Allah memasukkan rasa takut kepada kita! Inilah yang membuat umat mundur dan muncul rasa takut dalam diri mereka!

Allah Ta’ala berfirman :

سَنُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُوا الرُّعْبَ بِمَا أَشْرَكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَاناً

“Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut/gentar (menghadapi orang-orang beriman), disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu.” (Ali Imran: 151).

Al Imam Al Mufassir Al Qurthubi -rahimahullah- menjelaskan tafsirnya, berkata :

أي كان سبب إلقاء الرعب في قلوبهم إشراكهم

“Yaitu sebab dimasukkan rasa takut dalam hati mereka adalah karena perbuatan syirik mereka.” (Tafsir Al Qurthubi 4/223).

Sisi pendalilan : Ayat diatas sangat jelas, bahwa sebab rasa takut tersebut adalah kesiyirikan -menyekutukan- Allah sebagaimana ditimpakan kepada orang kafir

Kalau umat ini jauh dari tauhid dan tidak menegakkan hak utama Allah dalam Tauhid serta masih banyak praktek kesyirikan serta perdukunan dan praktek-praktek sihir yang melanggar hak Allah. Maka Allah akan timpakan Rasa takut kepada kita (terhadap musuh) sebagaimana Allah Ta’ala Timpakan kepada kaum Musyrikin karena Kesyirikan mereka!

Maka Solusi utamanya adalah mengembalikan umat kepada Tauhid Dan Aqidah yang Haq -untuk- menunaikan hak Allah, kemudian mengembalikan umat Islam ke masjid-masjid Allah untuk mempelajari ilmu agama dan memupuk iman mereka. Lihat-lah Sejarah telah membuktikan bahwa Islam berjaya dengan kekuatan Tauhid dan Aqidah. Belum pernah tercatat dalam sejarah dunia, dalam waktu 30 tahun masa pemerintahan khulafa Rasiyidin, Islam hampir menguasai sepertiga dunia. Padahal saat itu sedang ada dua negara adidaya yang berkuasa yaitu Rowami dan Persia, sedangkan Islam yang berasal dari tanah Arab tidak diperhitungkan karena miskin, kering dan terbelakang. Ternyata dengan kekuatan tauhid dan aqidah Islam –atas izin Allah- Islam mampu menunjukkan kejayaannya. (Disadur dari beberapa kitab Tarikh dan Sirah-red).

Sebaliknya, jika kita -bisa- melihat sejarah bagaimana -ketika- kaum muslimin yang mulai menjauh dari agama mereka. Mereka dikuasai oleh musuh sebagaimana sejarah jatuhnya kota Bagdad dan Andulusia. Padahal saat itu kaum muslimin sedang berada dipuncak kejayaan dunia, dari segi kekayaan, ekonomi dan politik. –mengembalikan (tentunya dengan Dakwah kepda Tauhid) umat kepada Tauhid Dan Aqidah yang Haq -untuk- menunaikan hak Allah yang terbesar (yakni Tauhid) adalah tugas kita bersama, sesuai dengan kemampuan dan ilmu yang kita miliki. (Insya Allah akan datang Bab Dakwah kepada Tauhid).

Kelima : Kita sadurkan dari Kitab-nya Imam Ibnul Qayyim -rahimahhllah- Zadul Ma’ad, 3/269-272 pada kisah perang Khandaq (Perang Ahzab), dikisahkan para tokoh-tokoh Yahudi tadi menuju Ghathafan dan beberapa kabilah Arab lainnya untuk menghasut mereka. Maka disambutlah hasutan itu oleh mereka yang menerimanya. Kemudian, keluarlah Quraisy yang dipimpin Abu Sufyan dengan 4.000 personil, diikuti Bani Salim, Bani Asad, Bani Fazarah, Bani Asyja’, dan Bani Murrah. Orang-orang Ghthafan juga keluar dipimpin Uyainah bin Hishn. Mereka bertolak menuju Madinah dengan kekuatan 10.000 orang, dan Al Imam Ibnul Qayyim -rahimahullah- merajihkan/menguatkan (pendapat) bahwa peristiwa ini terjadi (bulan Syawwal -kita nukil dari As Sratun Nabawiyah, kary Al Imam Ibnu Katsir, 3/180-) tahun kelima hijriyah.

Sisi pendalilan kita adalah : Lihatlah para shahabat -radhiyallahu ‘anhum ajma’in- yang dididik dengan Tauhid selama kurang-lebih 15 tahun, dengan Tauhid yang begitu kokoh dan mengakar kuat, sampai-sampai dikatakan kepada para shahabat waktu itu (guna menakuti para shahabat dikarenakan pasukan kaum Muslimin hanya berjumlah tiga ribu saja dan bisa jadi jumlah musuh melebihi jumlah seluruh Madinah kala itu (di sadur dari kitab Asi Siratun Nabawiyah fi Dhau’il Mashâdiril Ashliyyah, hlm. 445, dan Ar Rahiqul Makhtum, hlm. 303) (itu mereka) Orang-orang (Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka, ini sebagaimana Allah Ta’ala Firmankan :

اَلَّذِيْنَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ اِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوْا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ اِيْمَانًاۖ وَّقَالُوْا حَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ

(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang ketika ada orang-orang mengatakan kepadanya, “Orang-orang (Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka,” ternyata (ucapan) itu menambah (kuat) iman mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung.” (Ali Imran : 173). Inilah buah dari Tauhidullah.

3. Diantara keutamaan Tauhid juga adalah digugurkannya dosa-dosa (selama Taihidnya Tidak batal! Yakni melakukan Syirik Akbar kepada Allah dan pelaku tidak bertaubat sebelum mati, maka batal Tauhid-nya Lihat penjelasannya Kitab Aqidatut Tauhid, Asy Syaikh Fauzan -hafizhahullah- hlm. 95), berdasarkan sebuah Hadits Qudsi, dari Anas bin Malik -radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda ; Allah Yang Mahasuci dan Mahatinggi berfirman:

…يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ اْلأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيْتَنِي لاَ تُشْرِكُ بِي شَيْئاً لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً.

‘…Wahai bani Adam, seandainya engkau datang kepada-Ku dengan dosa sepenuh bumi, sedangkan engkau ketika mati tidak menyekutukan Aku sedikit pun juga, pasti Aku akan berikan kepadamu ampunan sepenuh bumi pula. (Diriwayatkan oleh At Tirmidzi no. 354, Ad Darimi no. 2791, Ahmad 5/172, dan di-hasankan oleh Al Albani -rahimahumullah- dalam Shahihul Jami’ no. 4337, dan dalam Silsilah Ash Shahihah no. 127).

Abu Ya’la no. 1393, Ibnu Hibban no. 2324, Al Hakim 1/527-529, Abu Nu’aim dalam Al Hilyah, no. 7/327-328, An Nasa’-i dalam Amalul Ya’um wal Lailah, no. 734,

✓ Jadi dosa bisa lebur tidak hanya dengan Taubat, istighfar, dijelaskan juga bahwasanya ; Amalan kebaikan sebagai juga bisa melebur dosa, Do’a sesama orang beriman kepada lainnya seperti melalui shalat jenazah, Amalan kebaikan yang ditujukan untuk mayit, Syafa’at Nabi ﷺ dan yang lainnya pada pelaku (dosa besar) di hari kiamat kelak, Musibah di dunia yang menjadi sebab terhapusnya dosa.Ujian di alam kubur, juga siksaan dan kenikmatan yang menjadi sebab terhapusnya dosa-dosanya, Kengerian dan kesulitan pada hari kiamat, Rahmat dan ampunan dari Allah tanpa sebab yang dilakukan oleh hamba. (Disadur dan diringkas dari Majmu’ Al Fatawa ,7/487-501 oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah).

4. Zhalim secara bahasa maknanya adalah meletakan sesuatu bukan pada tempatnya ;

وضع الشي ءِ في غيى موضعه

(wadh’usy syai-i fi ghairi maudhi’ihi). Asy Syaikh Al ‘Allamah Al Fauzan -hafizhahullah- menjelaskan kenapa Syirik dinamakan Kezhaliman terbesar?! : Karena : pelaku Syirik telah meletak Ibadah bukan pada tempatnya, dan (telah-pent) memalingkan Ibadah kepada yang tidak berhaq (menerima peribadahan tersebut-pent). (Al Mulakhkhash Fi Syarh Kitabut Tauhid, hlm. 22)

Sedangkan Lawan katanya adalah adil. Yakni meletakkan sesuatu pada tempatnya (wadh’usy syai-i fi maudhi’ihi).

Asy Syaikh Al ‘Allamah Abdurrahman As Si’di -rahimahullah- ketika menjelaskan ayat dalan surah Al An’am, 82 ; Kenapa syirik disebut sejelek-jelek kezhaliiman?!

Kata Beliau -rahimahullah- Karena orang yang berbuat syirik telah menyamakan makhluk yang dicipta dari tanah dengan Malik, Raja semesta alam, yaitu Allah Ta’ala. Ia pun telah menyamakan sesuatu yang tidak memiliki sesuatu pun di muka bumi dengan Allah yang memiliki segala sesuatu. Makhluk yang penuh kekurangan dari segala sisi dan begitu fakir disamakan dengan Allah yang Maha Sempurna dari segala sisi dan Maha Kaya. Makhluk yang tidak dapat menciptakan dan memberi nikmat sebesar dzarrah (yang kecil semisal semut) disamakan dengan Allah yang Maha Pencipta dan Maha Pemberi nikmat, yaitu nikmat agama, dunia, akhirat, hati, badan, semua nikmat ini hanya berasal dari Allah. Tidak ada pula yang dapat mencabut nikmat-nikmat tadi selain Allah. Apakah ini bukan sejelek-jelek kezhaliman?! (Taisir Al Karimir Rahman, hlm. 648).

Al Imam Qutaibah, dari Jarir, dari Al A’masy, dari Ibrahim, dari Alqamah, dari Abdullah -radhiyallahu ‘anhu-, Beliau ﷺ membacakan ayat :

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman” (Al An’am: 82). Ketika disebutkan ayat ini, para shahabat pun menjadi khawatir dan merasa berat sehingga mereka pun mendatangi Nabi ﷺ. Mereka pun bertanya :

أَيُّنَا لَمْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ؟

“Wahai Rasulullah (ﷺ) siapakah di antara kita yang tidak menzhalimi dirinya sendiri?”

Maka Nabi ﷺ menjawab (yakni Tafsir makna Zhalim dalam ayat tersebut-red):

لَيْسَ كَمَا تَظُنُّونَ، إِنَّمَا هُوَ كَمَا قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ: يَا بُنَيَّ لاَ تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Maksud ayat itu tidak seperti yang kalian sangka. Hanyalah yang dimaksud ayat itu adalah sebagaimana perkataan Luqman kepada anaknya (yang artinya), “Wahai anakku, janganlah berbuat syirik kepada Allah. Sesungguhnya syirik adalah kedzaliman yang besar.” (Luqman : 13)”.” (Diriwayatakan oleh Al Bukhari no. 3429 dan Muslim no. 124).

(ظُلْم) Zhalim disisi Para ulama di-bagi zhalim menjadi 3 bagian. Sebagaimana dikatakan oleh ulama salaf.

Al Imam Qatadah dan Hasan (Al Bashri) -rahimahumallah-:

الظلم ثلاثة : ظلم لا يغفر وظلم لا يترك وظلم يغفر فأما الظلم الذي لا يغفر فالشرك بالله وأما الظلم الذي لا يترك فظلم الناس بعضهم بعضا وأما الظلم الذي يغفر فظلم العبد نفسه فيما بينه وبين ربه

“Zhalim itu ada tiga yakni;

Pertama; Zhalim yang tidak diampuni,

Kedua; zhalim yang tidak ditinggalkan begitu saja, dan

Ketiga; zhalim yang diampuni.

Adapun zalim yang tidak diampuni adalah menyekutukan Allah,

Sedangkan zhalim yang tidak ditinggalkan adalah kezhaliman manusia antara yang satu dengan yang lainnya,

adapun zhalim yang diampuni adalah kezhaliman seorang hamba terhadap dirinya, antara dirinya dan Rabbnya.” (Diriwayatkan oleh Imam Abdurrazaq dalam Al Mushannaf, no. 20276).

5. Nabi kita Muhammad ﷺ adalah utusan Allah Azza wa Jalla . Maka, umat Islam wajib mengagungkan dan memuliakan Beliau ﷺ dengan cara-cara yang di-syari’at-kan, serta jauh dari tindakan-tindakan yang melewati batas. Sebab, Beliau ﷺ juga sebagai manusia biasa. Allah Ta’ala berfirman :

قُلْ اِنَّمَآ اَنَا۠ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوْحٰٓى ࣖ

Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu,…” (Al Kahfi : 110).

Beliau seorang hamba Allah Azza wa Jalla . Beliau ﷺ tidak memiliki hak rububiyah dan hak uluhiyah (diibadahi/disembah) sedikitpun, bahkan tindakan Ghuluw terhadap Beliau ﷺ, dan Beliau telah bersabda ;

لاَ تُطْرُوْنِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ، فَقُوْلُوْا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ.

“Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku, sebagai-mana orang-orang Nasrani telah berlebih-lebihan memuji ‘Isa putera Maryam. Aku hanyalah hamba-Nya, maka kata-kanlah, ‘‘Abdullaah wa Rasuuluhu (hamba Allah dan Rasul-Nya).” (Diriwayatkan oleh Al Bukhari, no. 3445, At Tirmidzi dalam Mukhtasharusy Syamaa-il al-Muhammadiyyah, no. 284, Ahmad 1/23, 24, 47, 55, Ad Darimi, 2/320, dan yang lainnya, dari shahabat Umar bin Al Khaththab -radhiyallahu ‘anhu-). Dan Rasulullah ﷺ berkata memperingatkan umatnya dari perbuatan ghuluw:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ فَإِنَّهُ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمُ الْغُلُوُّ فِي الدِّينِ

“Wahai manusia, hati-hati kalian dari perbuatan ghuluw dalam agama, karena sesungguhnya yang telah membinasakan umat sebelum kalian adalah ghuluw dalam beragama.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dalam Al Musnad, 1/215 dan 347, Ibnu Majah no. 3064, An Nasa-i dalam Al Mujtaba, 5/268, Ibnu Abu Ashim dalam As Sunnah, no. 98, dan selain mereka. Di-shhihkan oleh Syaikh Al Albani -rahimahullah- di dalam Zhilalul Jannah, hlm. 63 hadits no. 98, beliau mengatakan, “Telah disahihkan oleh Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Al Hakim, Adz Dzahabi, An Nawawi, dan Ibnu Taimiyah -rahimahumullah-.” Beliau juga mensahihkannya dalam Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah no. 1283).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -rahimahullah- berkata: “(Peringatan) ini umum mencakup segala jenis ghuluw, baik dalam masalah keyakinan ataupun amalan.”

Asy Syaikh Al ‘Allamah Ibnu Utsaimin -rahimahillah- berkata: “Dalam hadits ini, Rasulullah ﷺ memperingatkan umatnya dari ghuluw dan menjelaskan bahwa ghuluw adalah sebab kebinasaan. Karena ghuluw adalah perbuatan yang menyelisihi syariat dan telah membinasakan umat terdahulu. Sehingga diambil faedah dari hadits ini tentang haramnya ghuluw dari dua sisi:

1. Peringatan dari Rasulullah ﷺ

2. Ghuluw adalah sebab kebinasaan umat sebagaimana umat sebelum kita.

(Al Qaulul Mufid Syarh Kitabit Tauhid, hlm. 1/379)

Adapun Pengertian Ghuluw adalah :

Asy Syaikh Shaleh Fauzan -hafizhahullah- mengatakan, secara syariat ghuluw berarti berlebihan dalam mengangkat seseorang lebih dari kedudukan yang sepantasnya, seperti mengangkat seorang nabi atau orang-orang saleh ke martabat rububiyyah dan uluhiyyah (ketuhanan). (Syarah Masail Al Jahiliah, hlm. 85).

Adapun Asy Syaikh Al ‘Allamah Ibnu Utsaimin -rahimahillah- dalam Qaulul Mufid, 1/466 memberikan definisi yang semakna dengan apa yang dinyatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -rahimahullah- dalam Iqtidha Ash Shirathil Mustaqim, 1/289,

Yanh mendefinisikan: Ghuluw afalah : “Melampaui batas dalam memuji dan mencerca, dengan cara menambahkan apa yang tidak sepantasnya.” selesai nukilan. (Insya Allah akan datang Bab ke 17 ; Di Antara Sebab-Sebab Kekufuran Bani Adam dan Sikap Meninggalkan Agama oleh Mereka, adalah Berlebih-lebihan dalam Menyikapi Orang-Orang Shaleh).

Asy Syaikh Abdurrahman Alusy Syaikh -rahimahullah- berkata: “Seorang muslim harus bersaksi bahwa Isa -alaihis salaam- adalah hamba Allah Ta’ala dan utusan-Nya, dengan ilmu dan keyakinan bahwa dia adalah (hamba) milik Allah Ta’ala, yang Allah Tabaraka wa Ta’ala ciptakan dari seorang wanita tanpa laki-laki.

Allah Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah. Kemudian Allah berfirman kepadanya: ‘Jadilah (seorang manusia).’ Maka jadilah ia.” (Ali ‘Imran: 59)

(Isa adalah makhluk) bukan Rabb dan bukan pula sesembahan. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sekutukan. Allah Ta’ala berfirman:

“Maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata: ‘Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih di dalam ayunan?’ Isa berkata: ‘Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan dia menjadikan aku seorang nabi’.” (Maryam: 29-30)

Allah Ta’ala berfirman :

“Al Masih sekali-kali tidak enggan menjadi hamba bagi Allah, dan tidak (pula) malaikat-malaikat yang terdekat (kepada Allah). Barangsiapa yang enggan dari menyembah-Nya dan menyombongkan diri, nanti Allah akan mengumpulkan mereka semua kepada-Nya.” (An Nisa`: 172)

Seorang mukmin juga bersaksi akan batilnya ucapan musuhnya dari kalangan Yahudi –laknat Allah Ta’ala atas mereka– yang menyatakan bahwa Isa adalah anak pelacur. Tidaklah benar keislaman seseorang sampai dia berlepas diri dari ucapan dua kelompok ini terhadap Isa serta meyakini apa yang Allah Ta’ala firmankan, bahwa Isa adalah hamba Allah Ta’ala dan utusan-Nya.” (Fathul Majid Syarh Kitabut Tauhid, hlm. 40). dari sini kita pun paham akan pentingnya mengetahui Tauhid dan Aqidah yang benar, agar kita selamat dari sekian keyakinan yang menyimpang dari tuntunan Rasulullah ﷺ, seperti terjatuhnya kaum Shufi dalam perbuatan ghuluw kepada Rasulullah ﷺ. Seperti Ghuluw-nya seorang Shufi Tulen Al Bushiri (Muhammad bin Sa’id bin Hammad bin Muhsin bin Abdillah Ash Shanhaji Al Bushiri salah pentolan yang sangat getol dalam pembelaannya terhadap tarikat Syadziliyah. W. 695 H) yang mengatakan dalam Qashidahnya (Al Burdah) yang sesat dan menyesatkan ;

وَكَيْفَ تَدْعُوْ إِلَى الدُّنْيَا ضَرُوْرَة مَنْ لَوْلاَهُ لَمْ تُخْرَجِ الدُّنْيَا مِنَ الْعَدَمِ

Bagaimana engkau menyeru kepada dunia

Padahal kalau bukan karenanya (Nabi) dia tiada tercipta

وَكَيْفَ تَدْعُوْ إِلَى الدُّنْيَا ضَرُوْرَة مَنْ لَوْلاَهُ لَمْ تُخْرَجِ الدُّنْيَا مِنَ الْعَدَمِ

Bagaimana engkau menyeru kepada dunia

Padahal kalau bukan karenanya (Nabi) dia tiada tercipta

Padahal Allah Rabbuna Tabaraka wa Ta’ala berfirman:

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku. (Adz Dzariyat: 56) (dinukil Qawaidih Aqdiyyah fi Burdah Bushiri oleh Dr. Abdul Aziz bin Muhammad dan Muqaddimah Dr. Ali bin Muhammad Al Ajlan terhadap kitab Ar Radd Ala Burdah karya Abdullah Abu Buthain).

Disana juga ada Kitab Al Barzanji yang juga sesat dan menyesatkan yang ditulis oleh Ja’far Al Barjanzi Al Madani w. 1177 H, seorang penganut paham tasawwuf yang bermadzhab Syiah! Juga sebagai khathib di Masjidilharam dan seorang mufti dari kalangan Syâf’iyyah (Al Munjid fî al A’lam, hlm. 125). Diantara kesesatan yang sangat nyata dalam kitab Al Barzanji afalah :

يا بشير يا نذير

فأغثني و أجرني يا مجير من السعير

يا ولي الحسنات يا رفيع الدرجات

كفر عني الذنوب و اغفر عني السيأت

Wahai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan

Tolonglah aku dan selamatkan aku, wahai penyelamat dari neraka Sa’ir

Wahai pemilik kebaikan-kebaikan dan pemilik derajat-derajat

Hapuskanlah dosa-dosa dariku dan ampunilah kesalahan-kesalahanku

Sub-hanallahi ‘amma yusyrikun, padahal Allah Ta’ala berfirman :

قُلْ إِنَّمَا أَدْعُو رَبِّي وَلَا أُشْرِكُ بِهِ أَحَدًا,قُلْ إِنِّي لَا أَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَلَا رَشَدًا,قُلْ إِنِّي لَنْ يُجِيرَنِي مِنَ اللَّهِ أَحَدٌ وَلَنْ أَجِدَ مِنْ دُونِهِ مُلْتَحَدًا

“Katakanlah: “Sesungguhnya Aku hanya menyembah Rabb-ku dan akau tidak mempersekutukan sesuatupun dengan-Nya.” Katakanlah: “Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan suatu kemudharatan pun kepadamu dan tidak pula suatu kemanfaatan.” Katakanlah: “Sesungguhnya aku sekali-kali tiada seorangpun dapat melindungiku dari (adzab) Allah dan sekali-kali aku tidak akan memperoleh tempat berlindung selain daripada-Nya.” (Al Jin: 20-22)

Asy Syaikh Abdurrahman Alusy Syaikh -rahimahullah- menjelasskan: “Demikianlah setan menampakkan kesyirikan yang besar di hadapan mereka dengan bentuk cinta kepada Rasul ﷺ dan pengagungan kepadanya, serta (bagi-pent) menampakkan ketauhidan dan keikhlasan (seolah-olah) sebagai bentuk mengurangi serta meremehkan (haq) Beliau (ﷺ)” (Fathul Majid, Syarh Kitabut Tauhid, 1/381)

6. Diriwayatkan oleh Al Imam Al Bukhari no. 3435, dan Muslim no. 28.

7. Amal yang besar bisa jadi kecil karena niat yang kurang ikhlas dan sebaliknya, amal yang kecil jadi besar karena niat yang sangat ikhlas.

Al Imam Ibnul Mubarak -rahimahullah- pernah mengatakan :

رب عمل صغير تعظمه النية، ورب عمل كبير تصغره النية

“Betapa banyak amalan yang kecil menjadi besar (pahalanya) karena sebab niat. Dan betapa banyak amalan yang besar menjadi kecil (pahalanya) karena sebab niat.” (Ta’thirul Anfas Min Haditsil Ikhlas, hlm. 73).

8. Hadits dari Itban -radhiyallahu ’anhu- ini adalah sebagai syarat dari salah satu syarat Laa ilaaha illallah, yakni syarat ke-enam Ikhash. (Lihat Kitab Aqidatut Tauhid Syaikh Fauzan -hafizhahullah- hlm. 56, serta akan datang penjelasan Tafsiri Tauhid Bab ke 6, insya Allah).

” فإن الله حرم على النار من قال لا إله إلا الله يبتغي بذلك وجه الله “

“Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengharamkan neraka bagi orang-orang yang mengucapkan لا إله إلا الله dengan ikhlas dan hanya mengharapkan wajah Allah”. (Diriwayatkan oleh Al Imam Al Bukhari no. 425 dan Muslim 33/263).

9. Allah berada di atas langit sebagamana para malaikat di langit. Hanya saja malaikat membutuhkan langit adapun Allah tidak membutuhkan langit, justru langit yang membutuhkan Allah.

إِنَّ اللَّهَ يُمْسِكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ أَنْ تَزُولَا وَلَئِنْ زَالَتَا إِنْ أَمْسَكَهُمَا مِنْ أَحَدٍ مِنْ بَعْدِهِ

“Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorangpun yang dapat menahan keduanya selain Allah”. (Fathir : 41)

Dan Di langit lapis pertama, Beliau ﷺ bertemu Adam. Di langit lapis kedua, beliau bertemu Yahya dan ‘Isa. Di lapis langit ketiga, beliau bertemu Yusuf. Di lapis langit keempat, Beliau ﷺ bertemu Idris. Di lapis langit kelima, beliau bertemu Harun. Di lapis langit keenam, beliau bertemu Musa. Dan di lapis langit ketujuh beliau bertemu Ibrahim. Dan nabi-nabi lainnya, tidak disebut-sebut.

Diriwayatkan oleh Al Bukhari no. 349 Kitab Shalat, Bab : “Bagaimana Shalat Difardhukan pada Malam Isra’”, hadits dari Anas bin Malik radliyallaahu ‘anhu. Diriwayatkan oleh Muslim no. 259, Kitab Iman, Bab : “Isra’ Rasulullah ﷺ ke Langit dan Diwajibkannya Shalat”, hadits dari Anas bin Malik radliyallaahu ‘anhu. Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Al Musnad 3/148,149, hadits dari Shahabat Anas bin Malik -radhiyallahu ‘anhu-.

10. Makna Mizan; Mizan secara etimologi (bahasa) adalah alat yang digunakan untuk mengukur (bobot) segala sesuatu, sehingga benda tersebut dapat diketahui beratnya.

Adapun makna mizan menurut syariat adalah timbangan yang Allah Ta’ala letakkan pada hari kiamat nanti untuk menimbang amalan para hamba-Nya. (Syarh Lum’atul I’tiqad hlm. 120)

Dan mizan ini sangat akurat dalam menimbang, tidak lebih dan tidak kurang sedikitpun. Allah Ta’ala berfirman:

وَنَضَعُ الْمَوَازِيْنَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلاَ تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا وَكَفَى بِنَا حَاسِبِيْن

“Dan Kami akan tegakkan timbangan yang adil pada hari Kiamat, sehingga tidak seorang pun yang dirugikan walaupun sedikit. Jika amalan itu hanya seberat biji sawipun, pasti Kami akan mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.” (Al Anbiya’: 47)

Mizan ini memiliki dua daun timbangan sebagaimana diceritakan dalam hadits tentang kartu (bithoqah). Lalu, apakah yang ditimbang di hari Kiamat kelak? Para ulama kita berbeda pendapat tentang apa yang ditimbang di hari Kiamat. Ada tiga pendapat dalam masalah ini.

Pendapat Pertama, Yang Ditimbang Adalah Amal

Pendapat ini didukung oleh hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:

كَلِمَتَانِ خَفِيْفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ، ثَقِيْلَتَانِ فِي الْمِيْزَانِ، حَبِيْبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ: سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ

“Ada dua kalimat yang ringan diucapkan oleh lisan, tetapi berat dalam timbangan (pada hari Kiamat), dan dicintai oleh ar-Rahman (Allah Yang Maha Pengasih): Subhaanallahi wa bihamdihi dan Subhanallahil ‘Azhim.” (Diriwayatkan oleh Al Bukhari, no. 6406, 6682, dan Muslim, 2694).

Pendapat ini yang dipilih oleh Al Imam Ibnu Hajar -rahimahullah-. Beliau berpendapat bahwa yang ditimbang adalah amal, karena Nabi ﷺ bersabda:

مَا مِنْ شَيْءٍ فِي الْمِيْزَانِ أَثْقَلُ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ

“Tidak ada sesuatu yang lebih berat ketika ditimbang (di hari Kiamat) daripada akhlak yang mulia.” (Diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam kitab Al Adabul Mufrad, no. 270 dan dinilai shahih oleh Al Albani dalam Shahiih Al Adab AL Mufrad, no. 204)

Pendapat Kedua, Yang Ditimbang Adalah Orangnya

Ada beberapa hadits yang menunjukkan bahwa yang ditimbang adalah orangnya. Berat atau ringannya timbangan tergantung pada keimanannya, bukan berdasarkan ukuran tubuh, berat badannya, atau banyaknya daging yang ada di tubuh mereka. Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّهُ لَيَأْتِي الرَّجُلُ الْعَظِيْمُ السَّمِيْنُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لاَ يَزِنُ عِنْدَ اللهِ جَنَاحَ بَعُوْضَةٍ

“Sesungguhnya pada hari Kiamat nanti ada seorang laki-laki yang besar dan gemuk, tetapi ketika ditimbang di sisi Allah, tidak sampai seberat sayap nyamuk.” Lalu Nabi ﷺ: ”Bacalah..

فَلاَ نُقِيْمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا

“Dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari Kiamat.” (Al Kahfi: 105). (Diriwayatkan oleh Al Bukhari, no. 4729 dan Muslim, no. 2785)

Abdullah ibnu Mas’ud -radhiyallahu ‘anhu- adalah seorang sahabat betisnya kecil. Tatkala ia mengambil ranting pohon untuk siwak, tiba-tiba angin berhembus dengan sangat kencang dan menyingkap pakaiannya, sehingga terlihatlah kedua telapak kaki dan betisnya yang kecil. Para shahabat yang melihatnya pun tertawa. Maka Rasulullah ﷺ bertanya: “Apa yang sedang kalian tertawakan?” Para shahabat menjawab, “Kedua betisnya yang kecil, wahai Nabiyullah.” Nabi ﷺ bersabda:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَهُمَا أَثْقَلُ فِي الْمِيْزَانِ مِنْ أُحُدٍ

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kedua betisnya itu di mizan nanti lebih berat dari pada gunung uhud.” (Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnad-nya, 1/420-421 dan Ath Thabrani dalam Al Kabiir, 9/75. Hadits ini dinilai shahih oleh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shahihah, no. 3192).

Pendapat Ketiga, Yang Ditimbang Adalah Lembaran Catatan Amal

Sebagaimana Hadits Bitaqah yang Diriwayatkan oleh At Tirmidzi, no. 2639, Ibnu Majah, no. 4300, Al Hakim, 1/6, 529, dan Ahmad, no. 2/213. Hadits ini dinilai shahih oleh Al Albani dalam Silsilah Ahaadiits Ash Shahiihah, no. 135).

Pendapat terakhir inilah yang dipilih oleh Imam Al Qurthubi. Beliau -rahimahulllah- mengatakan, “Yang benar, mizan menimbang berat atau ringannya buku-buku yang berisikan catatan amal…” (At Tadzkirah, hlm. 313)

Kesimpulan

Tiga pendapat di atas tidak saling bertentangan satu sama lain.

Asy Syaikh Al ‘Allamah Al Faqih Muhammad bin shalih Utsaimin -rahimahullah- mengatakan bahwa secara umum yang ditimbang adalah amal perbuatannya, karena kebanyakan dalil-dalil menunjukkan bahwa yang ditimbang adalah amal perbuatan. Adapun timbangan buku catatan amal dan pelakunya, maka itu khusus untuk sebagian orang saja. (Syarah Al Aqidah Al Wasithiyyah, hlm. 390).

11. Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Shahih-nya, no. 6218 dan Al Mawaarid no. 2324, serta Al Hakim dalam Al Mustadrak 1/528, Diriwayatkan juga oleh Abu Nu’aim dalam Al Hilyah 8/327-328, An Nasa-i dalam Amalul Yaum wal Lailah no. 834, 1141, Al Baihaqi dalam Al Asma’ wash Shifat, hlm. 102-103, dan yang lainnya.

Sanad hadits ini dha’if karena perawi yang bernama (دَرَّاج بْنُ سَمْعَانَ أَبُو السَّمْحِ) Darraaj bin Sam’aan. Al Imam Ahmad berkata : “Hadits-hadits Darraj dari (أَبُو الْهَيْثَمِ) Abu Al Haitsam, dari Abu Sa’id Al Khudri adalah lemah”. (Taqriib At Tahdziib, hlm. 310, juga Tahdziib At Tahdziib, 3/180-181).

Walhasil Hadits ini di-dha’if-kan oleh Asy Syaikh Al Albani dalam At Ta’liqaatul Hisaan 9/54-55 no. 6185, Asy Syaikh Muqbil Al Wadi’i dalam At Tatabbu’ 1/718 no. 1988, dan Asy Syaikh Syu’aib Al Arna’uth dalam Takhrij Shahih Ibni Hibban, no. 6218. Al Imam Al Hafizh Ibnu Katsir -rahimahullah- berkata tentang hadits permintaan Musa -‘alaihis salam- وَيَشْهَدُ لِهَذَا الْحَدِيثِ حَدِيثُ الْبِطَاقَةِ “Hadits ini dikuatkan oleh hadits Al Bitaqah” dalam Al Bidaayah wa an Nihaayah 2/161. Adapun hadits Al Bithaqah (الْبِطَاقَة : kartu laa ilaaha illallah). yaitu sabda Nabi ﷺ;

يُصَاحُ بِرَجُلٍ مِنْ أُمَّتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رُؤوسِ الْخَلَائِقِ، فَيُنْشَرُ علَيه تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ سِجِلًّا، كُلُّ سِجِلٍّ مَدُّ الْبَصَرِ، ثُمَّ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: هَلْ تُنْكِرُ مِنْ هَذَا شَيْئًا؟ فَيَقُولُ: لَا يَا رَبِّ. فَيَقُولُ: أَظَلَمَتْكَ كَتَبَتِي الْحَافِظُونَ؟ [فيقول: لا، يا رب]، ثُمَّ يَقُولُ: أَلَكَ عُذْرٌ، أَلَكَ حَسَنَةٌ؟ فَيَهَابُ الرَّجُلُ، فَيَقُولُ: لَا. فَيَقُولُ: بَلَى، إِنَّ لَكَ عِنْدَنَا حَسَنَاتٍ، وَإِنَّهُ لَا ظُلْمَ عَلَيْكَ الْيَوْمَ، فَتُخْرَجُ لَهُ بِطَاقَةٌ، فِيهَا: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، قَالَ: فَيَقُولُ: يَا رَبِّ، مَا هَذِهِ الْبِطَاقَةُ مَعَ هَذِهِ السِّجِلَّاتِ. فَيَقُولُ: إِنَّكَ لَا تُظْلَمُ. فَتُوضَعُ السِّجِلَّاتُ فِي كِفَّةٍ وَالْبِطَاقَةُ فِي كِفَّةٍ، فَطَاشَتْ السِّجِلَّاتُ، وَثَقُلَتْ الْبِطَاقَةُ

Dipanggil dengan suara keras seorang dari umatku pada hari kiamat di hadapan keramaian manusia. Lalu dibukakan atasnya 99 catatan, setiap catatan sejauh jarak mata memandang. Lalu Allah berkata, “Apakah ada yang kau ingkari dari catatan ini?”. Ia berkata, “Tidak wahai Rabb-ku”. Allah berkata, “Apakah para malaikat pencatat amal telah menzalimimu (dalam catatan ini)?”. Ia berkata, “Tidak wahai Rabb-ku”. Lalu Allah berkata, “Apakah engkau punya udzur?, apakah engkau memiliki kebaikan?”. Maka orang itupun ketakutan, lalu ia berkata, “Tidak ada, wahai Rabb-ku”. Allah berkata, “Ada, sesungguhnya di sisi Kami engkau memiliki kebaikan-kebaikan. Dan sesungguhnya engkau tidak akan dizalimi pada hari ini”. Lalu dikeluarkan baginya sebuah kartu yang bertuliskan “Aku bersaksi bahwasanya tidak ada yang berhak disembah melainkan Allah dan bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusanNya”. Ia berkata, “Ya Rabb-ku, apa nilai kartu ini dibandingkan dengan catatan-catatan keburukanku itu?”. Allah berkata, “Kau tidak akan dizhalimi”. Lalu diletakan kartu tersebut di daun timbangan dan diletakan catatan-catatan keburukan di daun timbangan yang lain maka ternyata catatan-catatan keburukan menjadi ringan dan lebih berat kartu tersebut” (Diriwayatkan oleh Ibnu Maajah no. 4300, At Tirmidzi no. 2639, Ahmad no 6994, Al Hakim no. 9 dan Ibnu Hibban no. 225).

Al Imam Al Hafizh Ibnu Katsir -rahimahullah- dalam Al Bidayah wa An Nihayah 2/161, juga menyebutkan syahid (hadits penguat) yang lain yang menguatkan hadits permintaan nabi Musa -alaihis salaam-. Yaitu sabda Nabi ﷺ :

وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِي: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Sebaik-baik apa yang aku dan para nabi sebelumku ucapkan adalah : Laa ilaaha illallahu…dst” (Diriwayatkan oleh At Tirmidzi no. 3585)

Kesimpulannya hadits ini adalah hadits yang hasan atau shahih li ghairihi. (Hadits ini dinyatakan shahih oleh Al Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Baari 11/208, dan juga Ibnu Katsir).

12. Barangsiapa yang bertemu dengan Allah (yaitu ia meninggal dunia dalam keadaan berbuat kemusyrikan maka pasti ia masuk neraka) maka ia akan masuk neraka. Sebagaimana Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim no. 93/152, dari Shahabat Jabir -radhiallahu ‘anhu- bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ لَقِيَ اللهَ لاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ لَقِيَهُ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا دَخَلَ النَّارَ

“Barangsiapa yang menemui Allah (mati) dalam keadaan tidak berbuat syirik kepada-Nya, pasti ia masuk surga, dan barangsiapa yang menemui-Nya (mati) dalam keadaan berbuat kemusyrikan maka pasti ia masuk neraka”.

13 Diantara rahmat Allah ternyata dihapuskannya dosa-dosa bukan hanya dengan taubat saja, akan tetapi disana masih ada pintu-pintu yang lain. Diantaranya adalah pintu Tauhid. Seorang jika Tauhidnya kuat maka dosa-dosanya bisa dihapuskan oleh Allah meskipun ia tidak sempat bertaubat. Syaikhil Islma Ibnu Taimiyyah -rahimahullah- menyebutkan ada sekitar 10 sebab digugurkannya dosa-dosa (Majmu’ Al Fataawa 7/487-501, dan beliau menjelaskan di berbagai tembpat dalam Majmu’ Fatawa-nya diantaranya pada: 3/ 230, 406, 4/474, 484, 7/678, 10/6, 11/185, 299, 596, 20/280, 287, 22 / 305, 24 / 375, 27/ 474, 475, juga pada 35/67, 69). (Lihat catagan kaki ke tiga diatas).

14. Shahanat Abu Dzar -radhiyallahu ‘anhu- juga pernah di ajarkan oleh Nabi ﷺ dan di ingatkan keistimewaannya, beliau Abu Dzar -radhiyallahu ‘anhu- menuturkan :

قُلْتُ ياَ رَسُوْلَ اللهِ كَلِّمْنِي بِعَمَلٍ يُقَرِّبُنِي مِنَ الجَنَّةِ وَيُبَاعِدُنِي مِنَ النَّارِ، قَالَ إِذاَ عَمَلْتَ سَيِّئَةً فَاعْمَلْ حَسَنَةً فَإِنَّهَا عَشْرَ أَمْثَالِهَا، قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مِنَ الْحَسَنَاتِ ، قَالَ هِيَ أَحْسَنُ الحَسَنَاتِ وَهِيَ تَمْحُوْ الذُّنُوْبَ وَالْخَطَايَا

”Katakanlah padaku wahai Rasulullah, ajarilah aku amalan yang dapat mendekatkanku pada surga dan menjauhkanku dari neraka.” Nabi ﷺ bersabda: “Apabila engkau melakukan kejelekan (dosa), maka lakukanlah kebaikan karena dengan melakukan kebaikan itu engkau akan mendapatkan sepuluh yang semisal.” Lalu Abu Dzar berkata lagi,”Wahai Rasulullah, apakah ’laa ilaha illallah’ merupakan kebaikan?” Nabi ﷺ bersabda,”Kalimat itu (laa ilaha illallah-pent) merupakan kebaikan yang paling utama. Kalimat itu dapat menghapuskan berbagai dosa dan kesalahan.” (Dinilai hasan oleh Syaikh Al Albani dalam tahqiq beliau terhadap Kalimatul Ikhlas, hlm. 55, dan Tafsir Ibnu Rajab Al Hambali 2/279).

15. Berikut kita sadurkan ringkasan Kaidah-Kaidah Memahami Asma’ dan Sifat Allah dari kitab Al Quwa’idul Mutsla Fi Sifatillahi Wa Asma’il Husna, dan Syarh lum’atul I’tiqad, keduanya karya Asy Syaikh Al ‘Allamah Ibnu Al Utsaimin -rahimahullah- :

Pertama : Nama Allah semuanya “Husna” mencapai puncak kebaikan/sempurna!.

Keluar dari Kaedah ini apabila tidak husna, bukan nama Allah!

Kedia : Nama Allah tidak terbatas, hanya Allah yang tahu jumlahnya.

Ketiga : Nama Allah Taufiqiyah yakni : berdasarkan Nash dari Al Quran dan As Sunnah yang Shahih, tidak boleh dibuat-buat.

Keempat : Setiap nama Allah pasti mengandung sifat, sedangkan sifat Allah belum tentu menjadi nama Allah.

Dan dalam Dalam sifat Allah maka tidak boleh:

Di; Tamtsil: menyerupakan dengan makhluknya, misal: tangan Allah seperti tangan raksasa

Di ; Takyif: mengumpamakan dengan sesatu yang tidak ada bandingannya, misal berkhayal tangan Allah seperti ini seperti itu.

Di ; Tafwidh: menyerahkan pada Allah, tidak menetapkan dan tidak pula menafikkan. Contoh: ketika ditanya, “Apakah Allah punya tangan?” jawabannya: “Wallahu a’lam, saya tidak tahu, kita serahkan saja kepada Allah”.

Di ; Tahrif: menyelewengkan maknanya

Di ; Ta’til: meniadakan nama maupun salah satu sifat Allah. Selesai nukilan.

16. Asy’ariyah berbeda dengan akidah Abul Hasan Al Asy’ari -rahimahullah-, berikut kita paparkan perbedaan antara mereka yang ngaku mengukiti Imam Abul Hasan Al Asy’ari -rahimahullah- dengan sang Imam yang diikuti ;

Pertama : Al Imam Abul Hasan -rahimahullah- menyatakan Allah Ta’ala memiliki wajah, tangan, dan dua mata yang sesuai dengan kemuliaan-Nya.

Sedangkan kaum Asy’ariyah menafikannya, mereka melakukan takwil dalam memaknakan nash-nash yang ada tentang masalah tersebut. (Darut Ta’arudh, 7/97, Ta’kidat Musalamat, hlm. 21)

Kedua : Al Imam Abul Hasan -rahimahullah- mengimani bahwa Allah Ta’ala di atas Arsy-Nya.

Sedangkan kaum Asy’ariyah, kebanyakan mereka menyatakan Allah Ta’ala ada di mana-mana.

Ketiga : Al Imam Abul Hasan -rahimahullah- berkata membenarkan hadits-hadits yang menyebutkan Allah Tabaraka wa Ta’ala turun ke langit dunia.”

Sedangkan kaum Asy’ariyah, mereka tidak menetapkan sifat-sifat fi’liyah (perbuatan).

Keempat : Al Imam Abul Hasan -rahimahullah- menetapkan sifat istiwa’ bagi Allah.

Sedanhkan kaum Asy’ariyah tidak menetapkan sifat istiwa’. Mereka menakwilnya menjadi kekuasaan, sebagaimana dilakukan Ar Razi dan Al Amidi.

Kelima : Al Imam Abul Hasan -rahimahullah- berkata, “Mereka (Ahlus Sunnah) ijma’ bahwa Allah l datang di hari kiamat dalam keadaan malaikat bershaf-shaf.”

Sedangkan kaum Asy’ariyah tidak menetapkannya, mereka menakwilnya dengan takwilan bathil.

Inilah sebagian penyelisihan Asy’ariyah terhadap Al mam Abul Hasan Al Asy’ari -rahimahullahu Ta’ala-. (Majmu Al Fatawa, 12/203).

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم